Balada Komuter

Pas di tingkat akhir kuliah saya punya 2 pantangan terkait pilihan kerja. Pertama, saya mau kerja di manapun kecuali Jakarta. Menurut saya, kultur dan pace kerja di Jakarta bikin orang cenderung memperhatikan duit daripada sisi lain hidup. Kedua, saya nggak mau komuter. Bolak-balik menempuh belasan kilometer dari rumah ke tempat kerja. Harus sampe segitu banget kah menghabiskan waktu di jalan demi penghasilan? Itu pikir saya.

komuter-2

Mengantri untuk kembali ke rumah bareng ratusan, atau ribuan, komuter lain.

Nyatanya 2 pantangan itu langsung rontok ketika saya diterima kerja di Tangerang, tapi juga harus ke Jakarta tiap beberapa hari. Sebelum menyadarinya, tiba-tiba saya sudah keringatan di angkot, berdesakan di KRL, atau ketiduran di bus. Karena kantor kerja ada di Tangerang dan Jakarta , mau tidak mau saya jadi komuter juga seperti jutaan orang lain. btw, saya baru tahu kalo ada kantor di Jakarta setelah masuk kerja. Jadi misuh-misuh dalam hati juga kalau menurut jobdesc bakal sering ke Jakarta.

Sudah sebulan berkomuter Tangerang-Jakarta, saya menyadari beberapa hal setelah berpikir. Sempat mikir? Ya, soalnya di dalam kendaraan mayoritas waktu nampaknya habis untuk main hape, tidur, atau merenungi nasib (CMIIW please, fellow commuters). Saya punya pantangan kerja karena punya persepsi buruk soal kerja komuter atau kerja di Jakarta. Saya meremehkannya.

Jadi bagi saya ini semacam ujian dari AllahΒ (sungguh, cuma kuasa-Nya yang bisa ngepasin apa yang saya nggak suka terjadi pada diri saya). Ada satu hal langka yang jadi sumber semangat, namanya kesempatan (opportunity). Tidak banyak orang yang dapat kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang memuaskan. Maka dari itu menempuh belasan kilometer pun rela demi meraih kesempatan. Nyatanya juga tak ada seorang pun yang suka berdesakan di kendaraan umum atau terjebak macet di mobil sendiri. Semuanya demi meraih secuil kesempatan.

Makin lama di daerah Jabodetabek, saya merasa tempat ini makin menarik. Bukan berarti suka sama suasana ini sih hahaha. Ada pengalaman baru yang layak untuk jadi pelajaran. Ada orang baru yang menarik untuk ditemui. Ada kisah baru yang tak terbayang sebelumnya. Dan memang itulah yang saya cari sejak awal ketika memutuskan kerja di Jabodetabek.

Iklan

19 thoughts on “Balada Komuter

  1. Itulah yang namanya nasib mas. Kadang-kadang Tuhan punya rencana lain buat kita. Kayak saya. Dulu cita-cita mau jadi guru eh ternyata nasib membuat saya harus menjalani hidup sebagai penjual buah kwa ha ha ha

    Suka

  2. Gara berkata:

    Wah, sekarang ada di Jakarta? Ayo sekali-sekali kita ketemuan Mas :hihi.
    Saya menganggap para penglaju sebagai orang-orang yang kuat. Habisnya mereka meski sudah berjibaku di dalam transportasi dengan kualitas yang ‘seperti itu’, masih tetap bisa all-out dan beraktivitas dengan kekuatan yang seolah tiada habis! Dan di sini saya juga belajar: hati-hati dengan harapanmu… :hehe :peace.

    Suka

  3. Ya ampun. Alasan mu nomer 1 itu aku bangeeeeeeet. Sampe temen2 juga ngingetin jangan gitu banget, takutnya malah suatu hari mesti kesana untuk kerja atau tinggal. Iya sih emang ndak boleh gitu, tapi ya gimana, aku nya udah bener2 jatuh cinta sama Bandung. #fasyagakbisamoveon #fasyabandungbanget huahahaha πŸ˜›

    Suka

    • Sampe sekarang juga aku masih kangen Bandung :’)

      Kita memang punya pilihan, tapi random nya nasib bisa diluar dugaan hahaha. Berdoa yg banyak, sya biar tetep di Bandung hihi.

      Suka

    • Emang bener kok. Terutama pas jam pulang kantor tuh. Pantes aja orang di jalan gaada yang mau ngalah, soalnya pada capek semua. Makin rame, bising, makin gampang bikin capek. Tiap dapet duduk di kendaraan umum pasti tidur deh saya.

      Suka

  4. emfatoni berkata:

    Sambut aku yog karena nasibku sama. Udah komat-kamit berdoa biar ga dapet penempatan di Jakarta tapi apa daya sekarang gw di Jakarta Timur.

    Suka

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s