Kita Mendiskriminasi Tarif Turis Asing dan Ini Gawat Bagi Pariwisata Indonesia

Pemerintah Indonesia menggalakkan sektor pariwisata sebagai sumber pemasukan di masa depan. Mengingat kekayaan alam dan budaya Indonesia demikian melimpah, hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Pemerintah kemudian menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memudahkan akses ke tempat wisata tersebut. Dengan begitu, turis lokal maupun mancanegara akan nyaman mengunjungi berbagai tempat wisata Indonesia. So far so good.

Hanya saja, ada satu masalah yang jarang disorot: kesiapan kita, pelaku industri pariwisata dan masyarakat umum, untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata yang menyenangkan. Terutama bagi turis mancanegara. Saya nggak mau muluk-muluk. Kali ini cukup bahas satu hal dulu: tarif.

Kisah Diskriminasi Tarif Turis Asing

Akhir tahun 2016 lalu, saya berwisata ke Banyuwangi bersama istri. Kami menginap di sebuah homestay paling terkenal di Banyuwangi menurut Airbnb. Karena Airbnb itu platform yang berbasis luar negeri, homestay itu dipenuhi dengan turis asing. Tamu dari Indonesia cuma saya dan istri saya loh. Nah, jadilah saya lebih banyak ngobrol dengan turis-turis asing itu. Mereka biasanya berkelompok 4-5 orang atau berpasangan 2 orang. Kita bertukar informasi dan pengalaman menjelajah Banyuwangi. Nah, di antara sekian kelompok yang kami ajak ngobrol, ada sepasang turis dari Cologne, Jerman yang tujuannya sama dengan kami: Kawah Ijen. Namanya Michael dan Barbara. Setelah ngobrol, akhirnya kami sepakat berangkat bersama supaya nggak nyasar.

Setelah perjalanan bersama, kami berempat sampai di pintu masuk wisata Kawah Ijen. Kemudian saya diberi tahu penjaga kalau loket bagi turis asing dan turis lokal dibedakan. Terus saya baru tahu lagi kalau beda harganya jauh. Rp 7.500 untuk turis lokal dan Rp 150.000 untuk turis mancanegara. Sudah begitu, kami (baik yang lokal maupun mancanegara) harus membayar Rp 50.000 untuk masker gas. Begitu tahu informasi tarif itu, Michael protes, “Mengapa kami harus membayar sangat mahal sementara kalian tidak?”

Baca lebih lanjut

Zakat dan Keadilan Ekonomi Masyarakat Islam

Pada akhir bulan Ramadhan, umat Islam selalu diingatkan untuk membayar zakat fitrah.  Sebagian muslim juga menghitung zakat mal yang dikeluarkannya pada bulan Ramadhan. Harta dalam jumlah besar mengalir pada masa seperti ini. Kita, umat muslim, memandang zakat sebagai syarat pembersihan harta sesuai Al-Qur’an dan sunnah. Saya tidak ahli bicara dari sisi dalil, jadi silakan mencari sendiri isinya. Yang bakal saya bahas adalah dampaknya di kehidupan masyarakat.

Seberapa besar harta yang kita bicarakan mengenai zakat ini? Sangat besar. Mari kita lakukan perhitungan kasar. Anggaplah penduduk Indonesia 250 juta jiwa dengan persentase 80% muslim. Itu setara 200 juta jiwa. Herru Widiatmanti lewat situs bppk.kemenkeu.go.id menyatakan kelas menengah Indonesia berjumlah 41,6 juta orang pada tahun 2012. Gaji minimum 3 juta per bulan. Saat ini sudah tahun 2017 dan anggap jumlahnya 50 juta jiwa. Apabila 80% nya muslim berarti ada 40 juta muslim, atau 10 juta keluarga muslim (empat anggota keluarga), yang wajib mengeluarkan zakat di Indonesia. Dengan asumsi harta rata-rata senilai 50 juta per keluarga, estimasi besaran zakat per tahun adalah 2,5% x Rp 50.000.000 x 10.000.000 keluarga wajib pajak = Rp 125.000.000.000. Wow, 125 triliun rupiah per tahun! Menurut Baznas, potensi zakat tahun 2015 mencapai 286 triliun. Saya berpendapat bahwa zakat di Indonesia biasanya dibayarkan per keluarga, sehingga hitungannya berbeda.

Saya sudah pernah bercerita bahwa secara alami, kekayaan di masyarakat tidak terdistribusi secara merata. Selalu ada orang kaya dan orang miskin. Masalahnya adalah seberapa besar kesenjangan antara keduanya. Sistem kapitalisme, yang mengutamakan kebebasan dalam berbisnis, mengakibatkan orang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Kalau kamu miskin itu akibat kebodohanmu sendiri, begitu kira-kira menurut penganut kapitalisme. Tidak ada tanggung jawab terhadap orang miskin. Hal ini menyakiti kehidupan bermasyarakat.

Islam adalah agama yang menekankan penghambaan terhadap Allah dan keadilan dalam bermasyarakat. Begitu banyak hukum yang mengatur urusan antarmanusia. Zakat adalah kombinasi keduanya. Bagi saya, hukum Islam sungguh hebat karena memasukkan konsep ekonomi yang adil. Bahkan, zakat ini begitu penting sampai menjadi pilar utama yaitu rukun Islam. Dalam Islam, harta adalah titipan. Ia kesenangan sekaligus ujian. Kemudian, ada hak orang lain dalam harta yang dititipkan. Konsep ini menimbulkan tanggung jawab ekonomi kepada orang lain. Yang mampu harus membantu yang tidak mampu. Hasilnya adalah dekatnya jarak antara orang kaya dan orang miskin. Ekonomi Islam itu proporsional, tidak melarang untuk mencari rezeki Allah di muka bumi, sekaligus membatasi keserakahan manusia.

Kemudian bayangkan uang 125 triliun tadi untuk kemaslahatan umat. Fakir miskin akan berkurang bebannya, yang terjerat hutang dapat kesempatan kedua, pejuang di jalan Allah akan dimudahkan jalannya. Kalau kita sadar pentingnya membayar zakat, masyarakat Islam akan semakin kuat.

penerimaan baznas

Penerimaan zakat yang tercatat Baznas tahun 2002-2016 (sumber: Outlook Zakat 2017 Puskasbaznas)

Banyak konsep bagus, tapi pelaksanaannya melempem. Zakat di Indonesia, dan mungkin belahan dunia lain, belum dapat dimaksimalkan. Masalah yang paling dasar adalah kurangnya kesadaran berzakat. Hukum Islam secara tegas melaknat muslim yang tidak membayar zakat. Namun tanpa sosialisasi dan peraturan khusus, saya rasa kesadaran itu belum akan muncul. Menurut Badan Amil Zakat Nasional, penerimaan zakat di tahun 2015 ‘hanya’ sebesar 3,7 triliun. Penyalurannya pun hanya terserap 61%. Belum lagi masalah optimalisasi penggunaan dana zakat.

pertumbuhan zakat indonesia

Pertumbuhan penerimaan zakat bertumbuh positif (sumber: Outlook Zakat 2017 Puskasbaznas)

Meskipun di Indonesia jalannya masih panjang, saya yakin zakat bisa menjadi pintu gerbang kemakmuran. Meskipun jauh dari potensinya, penerimaan zakat di Indonesia masih terus bertambah. Jadi, ayo berzakatlah para muslim. Untuk kebersihan harta, kemaslahatan umat, dan amalan di akhirat.

 

Bacaan lanjutan:

Pusat Kajian Strategis Baznas. Outlook Zakat Indonesia 2017. 2016. http://www.puskasbaznas.com/images/outlook/ OUTLOOK_ZAKAT_2017_PUSKASBAZNAS.pdf 

 

 

 

Pancasila: Utopia yang Masih Dicari

Mulai tahun 2017, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa 1 Juni sebagai libur nasional Hari Lahir Pancasila. Keputusan tersebut jelas populer di mata masyarakat (siapa sih yang nggak mau tanggal merahnya tambah?). Niatnya pemerintah baik, mengembalikan kesadaran masyarakat atas nilai Pancasila. Di sisi lain, saya rasa kita perlu telaah lagi makna Pancasila di masyarakat masa kini. Apakah Pancasila, yang bertengger di dinding tiap kelas dan instansi pemerintahan, merupakan dasar yang kita inginkan dan amalkan?

Sekarang begini, kita selalu memahami Pancasila sebagai ideologi bangsa. Simbol dari nilai-nilai pokok yang dipegang bangsa Indonesia. Identitas bangsa. Begitu seterusnya seperti kata buku pelajaran Kewarganegaraan. Lima sila sakti.

Masalahnya, apakah kita semua memahami Pancasila dalam sudut pandang yang sama? Pancasila terlalu umum dan abstrak sehingga setiap orang punya penafsiran sendiri. Hal itu lantas menimbulkan kerancuan. Tidak mungkin bergerak maju sebagai bangsa kalau nilai dasarnya masih rancu. Kita ingin sesuatu yang lebih konkret, dihasilkan dari nilai Pancasila. Nah, sekarang siapa yang berhak menafsirkan Pancasila itu sendiri?

Dalam pidatonya di peringatan Hari Lahir Pancasila, Joko Widodo membentuk UKP-PIP (Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila) berdasarkan Perpres No 54 Tahun 2017. Tugasnya adalah menyusun garis-garis besar haluan ideologi Pancasila dan road map pembinaan ideologi Pancasila. Sebuah usaha untuk menafsirkan Pancasila. Menurut saya, ini inisiatif baik dari pemerintah. Dengan catatan tidak mengulangi kesalahan pemerintah yang telah lalu.

Pada masa Orde Baru, dikenal P4 dan P7 yang juga merupakan usaha penafsiran Pancasila oleh pemerintah masa itu. Letak kesalahannya adalah Pancasila menjadi alat pemerintah untuk membentuk rezim otoriter. Siapapun yang menentang pemerintah artinya menentang Pancasila alias ancaman negara yang harus disingkirkan. Pancasila juga dijadikan pembenaran atas pembantaian PKI, sejarah kelam bangsa ini.

Pada masa Orde Lama, Soekarno pun memelintir sila keempat, mengumumkan perubahan konstitusi, dan mendeklarasikan diri sebagai presiden seumur hidup. Sebuah kontradiksi dimana beliau sendiri yang ikut merumuskan dan membacakan naskah Pancasila.

Pada masa reformasi, rakyat mendapatkan kebebasan politik besar sampai nilai Pancasila (yang masih berasosiasi kuat dengan Orde Baru) perlahan memudar. Kita cenderung ke arah liberal, layaknya negara berkembang yang ekonominya membaik. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah masih belum menampakkan hasil hingga saat ini.

Secara objektif, saya berpendapat bahwa Pancasila rawan penyimpangan tafsir oleh pemerintah. Jawaban ideal tentang siapa yang berhak menafsirkan Pancasila adalah orang yang ahli hukum, sejarah, dan sosial yang diakui secara nasional. Dalam Islam, hal tersebut analog dengan Al-Qur’an yang hanya boleh ditafsirkan oleh ahli bahasa Arab, hukum Islam, dan ilmu terkait serta diakui oleh umat. Apabila pemerintah saat ini mengumpulkan tokoh masyarakat dan para ahli lalu merumuskan tafsir Pancasila yang universal, maka Pancasila bisa sekali lagi menjadi nilai yang kita miliki bersama sebagai bangsa.

Saat ini, Pancasila masih sebuah utopia. Nilai luhur idaman bangsa. Identitas yang diinginkan Indonesia, bukan identitas Indonesia masa kini. Posisinya yang masih bertengger di dinding kelas dan kantor masih belum berpindah ke hati. Tapi kita masih mencari. Ya, kita perlu mencari.

Mempercayai Janji Allah

Ketika sedang makan bersama istri di sebuah restoran, saya melihat ada keluarga kecil duduk tak jauh dari meja kami. Keluarga kecil itu nampak ramai. Ada tiga anak balita, dengan selisih sekitar setahun menurut saya. Sementara orangtuanya pun masih muda. Sang ayah dan ibu masing-masing menggendong satu anak dan anak tertua bermain di sekelilling meja. Sang ayah dengan jenggot lebatnya mencoba menenangkan, sementara sang ibu yang berjilbab penuh tersenyum sambil berkata sesuatu kepada anaknya.
image

Saya tergelitik dan menoleh kepada istri, “lihat di sana. Masih muda anaknya sudah banyak ya.” Lalu istri menjawab, “Iya, loh. Tipe mereka itu biasanya anaknya banyak. Dan sama sekali nggak khawatir kenapa-kenapa,” Saya sahut, “Yang betul?” Dijawab lagi, “Aku pernah tanya kepada teman yang anaknya sudah banyak. Jawabnya, dia nggak khawatir karena rezeki tiap manusia itu sudah dijamin Allah.”

Allah telah menjamin kecukupan rezeki makhluk-Nya*. Ini sepotong jaminan yang mulai dilupakan masyarakat muslim zaman sekarang. Seorang muslim idealnya percaya dulu atas jaminan Allah, baru berusaha untuk meraihnya. Patutlah kita tanya diri sendiri, apakah kita cari rezeki karena yakin sudah dijamin Allah, atau karena kita takut hidup kekurangan?

Keluarga kecil tadi adalah contoh bagus tentang keyakinan atas rezeki Allah. Bayangkan tahun ini berapa biaya persalinan dan kebutuhan sandang pangan anak. Belum lagi biaya sekolah yang mahal. Dikali 3 pula. Secara matematis, kita akan melakukan estimasi berapa gaji minimum yang dibutuhkan. Bisa 7-8 juta angkanya. Padahal gaji riil hanya sepersekian dari estimasi kebutuhan. Memang di atas kertas tidak logis, dan itu yang mendorong sebagian besar keluarga muda untuk beranak sedikit saja. Nyatanya keluarga yang saya lihat tadi nampak berkecukupan (lagipula makan di luar pasti lebih mahal daripada masak sendiri), anak-anaknya nampak sehat dan terawat. Istri saya pun mengonfirmasi hal yang sama dari teman-temannya. Betul bahwa ini berisiko tinggi, tapi dengan percaya atas jaminan rezeki Allah diiringi usaha, keluarga yang banyak anaknya dapat hidup layak.

Jujur saya iri dengan kadar keimanan orang seperti itu. Secara pribadi, pikiran logis masih menghantui saya. Bagaimana kalau tak ada uang buat kebutuhan? Apakah pendapatan saya bisa selalu mencukupi? Tidak jarang pikiran ini menghalangi rasa percaya atas jaminan Allah. Padahal jaminan itu tertera pada kitab suci. Sungguh jempol untuk orang-orang yang percaya akan jaminan Allah.

Sekarang saatnya mulai percaya. Tak mudah untuk yakin, karena sebagai manusia kita benci ketidakpastian apalagi soal rezeki. Tapi sebagai muslim, masihkah kita beriman kalau janji Allah saja kita ragukan? Padahal Dia zat yang Maha Menepati Janji.

Semoga kita semua belajar.

*QS Hud: 6

Tebang Pilih Berita Palsu (Hoax)

Hoax alias berita palsu akhir-akhir ini menjadi senjata berbahaya. Ampuh dalam perang opini di media sosial dan jejaring komunikasi. Pihak-pihak yang berseberangan saling lempar isu untuk menjatuhkan. Sampai tak jelas siapa benar atau salah. Seperti menentukan siapa paling bersih antara dua orang yang bergulat dalam lumpur.

Sebagai manusia, kita punya pilihan untuk menerima atau menolak opini orang lain. Kita juga punya pilihan untuk mendukung pihak yang sesuai dengan diri. Masalahnya, saya lihat di Indonesia, kedua pilihan tersebut tak diiringi dengan nalar sehat. Hanya karena sejalan dengan pemahamannya, lantas orang membela pendapat suatu pihak secara membabi buta. Pihak yang lain malah dicaci. Padahal semuanya sama saja, kasih hoax. Akibatnya adalah tebang pilih hoax/berita bohong.

Hoax yang berasal dari pihaknya sendiri diabaikan. Alasannya, yang penting niatnya baik. Tidak ada sumber validnya tidak apa-apa, yang penting ada pelajaran moral yang menginspirasi. Kalau hoax datang dari pihak lain langsung terpicu. Bilang ini penghinaan, konspirasi, dan semacamnya.

Bukankah bersikap demikian itu tidak adil?

Banyak contohnya bertebaran di linimasa. Perang opini pendukung calon pemimpin daerah, komunitas flat earth lawan komunitas saintifik, pro-NKRI lawan pro-revolusi, muslim garis keras lawan liberal sarkastik, dan beragam lagi. Anda merasa jengah melihat kebodohan merajalela? Saya sih iya.

Membela seseorang bukan berarti menutup mata atas kesalahannya. Toh yang dibela adalah manusia juga. Yang lebih penting adalah sikap objektif atas sebuah peristiwa. Kita boleh saja memihak asalkan adil. Kritik saya dalam postingan ini ada pada inkonsistensi sebagian masyarakat, bukan melarang mendukung dan memihak suatu kubu.

Poin yang ingin saya tekankan, berita palsu ya palsu. Entah kita suka atau tidak. Walaupun isinya bagus, kalau beritanya palsu ya jangan disebarkan. Saya melihat contohnya banyak sekali, terutama di grup WA. Ada kisah nabi atau sahabat yang terdengar sangat indah, namun tidak dicantumkan sumbernya. Setelah dicek ulang, ternyata tidak ada dasar hadist atau kitab. Walau menginspirasi, tetap saja namanya hoax. Kalau suatu saat kebohongan besar mendatangkan bencana dan anda ikut menyebarkannya, anda punya andil dalam mempertanggungjawabkan. Saat ini atau nanti.

Menurut saya ada 2 langkah penting untuk terhindar dari hasutan hoax.
1. Verifikasi atau tabayyun atas segala pemberitaan yang dibaca.
Cara verifikasinya adalah dengan melihat sumber tulisan. Harus terang nama atau instansi. Anda patut ragu kalau ada berita berisi, “menurut penelitian”, “menurut ilmuwan”, “menurut ulama”. Bahkan kalau ada namanya pun harus beserta buku atau publikasi yang jadi rujukan. Atau sekalian konfirmasi kepada sumber tersebut. Seperti yang dilakukan tabiin untuk mengumpulkan dan menyaring hadist Rasulullah yang shahih.
2. Jangan share berita kecuali anda sudah lakukan tahap 1 dan yakin beritanya bermanfaat bagi orang lain yang membaca.
Tombol share itu memungkinkan berita jadi viral dalam hitungan jam. Jadi pastikan anda yakin berita yang ingin anda sebarkan itu benar DAN bermanfaat. Kalau benar tapi tak bermanfaat, disimpan saja dulu. Kalau bohong tapi bermanfaat, tetap saja hoax seperti yang saya jabarkan di atas.

Mulai sekarang, mari berperan aktif menghilangkan hoax. Mari bertabayyun, belajar, dan tetap objektif dalam berpihak dan menyebarkan berita. Hoax adalah senjata, maka hindari.

Mawas Diri Aksi 4 November

When the dust settles, one can only learn.
Ketika situasi kembali tenang, saatnya memetik pelajaran.

Saya tidak demo, tapi mendukung lahir batin saudara muslim yang berdemonstrasi. Kalau tujuannya memproses Ahok secara hukum atas tuduhan penistaan agama, medan perjuangannya ada di jalur penyidikan dan peradilan. Yang saya kagumi adalah niat untuk membela dan menyuarakan Islam berskala besar. Ini belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir!

aksi-4-november-3

Umat dari berbagai penjuru Indonesia datang ke Jakarta

Terlepas dari pemberitaan media manapun, saya bilang demo kemarin berlangsung damai. Umat Islam dari berbagai penjuru berbondong-bondong dalam satu barisan. Bukan FPI saja, bukan HMI saja. Mereka tidak berasal dari satu ormas, tapi seluruh elemen masyarakat. Atasan saya di kantor pun ikutan. Nyatanya tidak ada perselisihan. Begitulah wajah muslim Indonesia sesungguhnya. Islam anarkis hanya kalangan minor yang kebanjiran spotlight media.

Aksi ini mengandung pesan tersirat bahwa Islam itu besar, cinta damai, namun bukan berarti bisa disepelekan. Wajar kalau bereaksi karena ucapan pemimpin yang menghina agama. Walaupun Ahok sudah minta maaf, demo ini tetap penting untuk menunjukkan sikap. “You don’t mess with us, dude.”

Yang lebih penting, demo ini menunjukkan bahwa kita bisa mencapai hal hebat apabila memiliki tujuan sama. Meskipun ada sumber mengatakan aksi ini disubsidi 100 miliar, saya coba pendekatan yang lebih masuk akal. Asumsikan ada 100.000 peserta aksi. Masing-masing memperoleh logistik berupa makan, minum, snack, dan atribut (info dari peserta). Ada juga dukungan transportasi. Dihitung kasar satu orang disubsidi Rp 100.000. Jadi minimal aksi kemarin menghabiskan sepuluh miliar rupiah! Itu untuk satu hari saja. Bayangkan dengan semangat yang sama kita majukan pendidikan, kesehatan, teknologi, dan layanan lain.

aksi-4-november-2

Berdasarkan info di grup WA tertutup, peserta aksi tidak menyadari ada perusakan sampai truk tiba-tiba terbakar. Lalu dengan mudahnya media menambahkan headline yang memojokkan peserta yang tertib.

Tak ada yang menduga aksi sebesar kemarin. Jangan menuding pihak ini salah, pihak itu keliru. Mau salahkan Buni Yani, Habib Rizieq, Ahok, Jokowi, sisa Orde baru, atau pengusaha bayangan, toh semua terjadi. Rasa hormat terbesar saya untuk orang yang berusaha keras menjaga situasi tetap terkendali. TNI/Polri, koordinator aksi yang menjaga satu komando, armada bebersih dari kalangan peserta sendiri, dan netizen yang mencegah berita provokasi. Kesiapsiagaan anda mencegah aksi ini diboncengi pihak perusuh dan perusak kesatuan.

aksi-4-november-1

Hati-hati provokator perusak

Selanjutnya apa? Aksi kemarin mengangkut adanya isu sara. Ini lebih mudah menyebar lewat sosial media dan kehidupan sehari-hari. Jangan sampai aksi ini membuat kita membenci orang yang berbeda keyakinan. Saudaraku yang muslim janganlah terpancing dan mengumpat “c*na” dan “kaf*r” kepada orang lain. Itu hanya merusak citra aksi damai kemarin. Lalu hindarilah 3 hal: rasa takut (fear), amarah (anger), dan ketidakpedulian (ignorance). Ketiganya tidak memperbaiki suasana.

Saya bicara sebagai orang yang murni ingin melihat dan mengamalkan Islam seutuhnya. Masih ada orang-orang yang keinginannya murni untuk memperbaiki Islam dan Indonesia. Diluar permainan politik, saya mengenal orang yang meninggalkan pekerjaan demi menyuarakan keyakinannya kemarin. Ulama dan pemuka yang turut serta pun demikian. Dari tempat itulah saya berpendapat. Orang baik tak boleh diam.

Jakarta, 5 Nov 2016

* **

#Tulisan ini berasal dari status FB pribadi saya dan saya post ulang di blog. Sumber gambar: grup WA tertutup. Semoga bermanfaat.

5 Facebook Page Berhumor Cerdas

PERHATIAN! Perlu diketahui kalau “berhumor cerdas” itu artinya pembaca harus mengerti konteks yang disampaikan. Perlu pikiran terbuka untuk mengapresiasinya. Sebagian bisa saja menganggap “humor cerdas” adalah hujatan yang menyerang pihak mereka. Saya tekankan supaya tidak ada salah paham 🙂

Saya suka humor cerdas karena mengajak untuk berpikir. Bukan sekedar humor yang dipakai untuk mencela. Zaman sekarang, humor cerdas bertebaran di internet, termasuk Facebook. Ada Facebook Page yang memberikan saya dosis tawa tiap harinya. Dalam Facebook page tersebut ada materi yang mungkin sensitif karena berkaitan dengan agama dan paham politik. Tapi humor adalah humor. Jangan diambil hati, ambil hikmahnya.

Ada 5 page yang saya rekomendasikan kepada pembaca. Untuk menuju laman, klik saja judul page warna oranye di bawah 🙂

1. Doraemon Hari Ini

doraemon-hari-ini

Nobita memohon pada Doraemon untuk dipinjami alat, ditafsirkan jadi musyrik. Mungkin kalau dilihat dari ini saja, banyak yang demo supaya Doraemon ditarik dari peredaran.

Doraemon Hari Ini adalah page dengan konten potongan komik Doraemon yang ditafsirkan dalam konteks berbeda. Hasilnya adalah gambar ngawur dengan caption yang super lucu. Ada banyak alasan untuk memilih page Doraemon Hari Ini sebagai pilihan pertama.

  1. Page buatan lokal. Konten dan komunitas semuanya khas Indonesia.
  2. Gaya Bahasa Indonesia arkaik dengan selera humor intelek.
  3. Siapa yang tak tahu Doraemon?

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Page ini mulai rilis pada 2014 dan sayangnya pensiun dalam waktu kurang dari 2 tahun. Alasannya adalah materi komik Doraemon yang terbatas. Walaupun sudah tidak update, cek album foto page tersebut dan anda akan mendapati ratusan post yang menghibur. Dijamin tak mengecewakan.

2. Shit Academics Say

shit-academics-say

Ini adalah page lawak untuk kalangan akademis. Perjuangan mengajar sambil penelitian. Bagaimana begadang sampai pagi demi memenuhi Baca lebih lanjut

Terima Kasih untuk Lebarannya

Mumpung dalam suasana lebaran, pertama saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf apabila ada tulisan saya yang kurang berkenan di hati pembaca sekalian. Mohon maaf juga kalau tulisan baru relatif sedikit. Fokusnya lagi banyak di tempat lain hehehe.

Hari ini sebagian yang mudik sudah kembali. Ada juga malah yang baru mudik. Yang manapun Anda, berbahagialah. Lebih penting lagi, berterimakasihlah.

Saya sudah delapan tahun merantau sejak zaman SMA. Sudah tak asing lagi rasanya mudik. Tapi baru sekarang saya merasakan betapa berartinya mudik, karena kehidupan di Jakarta lebih keras daripada kota lain yang pernah saya tumpangi 😛

Orang lain juga begitu. Mudik demi bertemu keluarga. Mudik demi buka bersama dan halal bi halal. Mudik demi pamer anak, atau sekedar pamer THR dengan bagi-bagi. Banyak orang bisa mudik dengan bahagia. Di sisi lain, pemudik membutuhkan sarana transportasi. Pemudik juga memerlukan sarana pengamanan untuk rumah yang ditinggalkan. Sebagian pemudik juga masih belanja online di berbagai tempat (Salah satu ekspedisi rekrut 2000 tambahan personil selama lebaran)! Orang-orang seperti itu tidak seberuntung para pemudik. Walau terjebak di brexit 20 jam, pemudik masih bisa pulang. Demi memenuhi kebutuhan kita, mereka tidak pulang.

Untuk itu, saya ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang membuat mudik masyarakat Indonesia aman sentosa sehingga kami bisa bertemu dengan keluarga di rumah.

  • Terima kasih untuk TNI/Polri yang membantu mengamankan lingkungan dan jalanan selama mudik
  • Terima kasih untuk dokter dan perawat yang siaga di rumah sakit dan pos kesehatan (saya ada saudara yang masuk RS menjelang lebaran. Tanpa kesiapsiagaan mereka, mungkin saudara saya tak tertolong)
  • Terima kasih untuk satpam, hansip, dan tetangga yang menjaga kantor dan komplek rumah
  • Terima kasih untuk para pembawa kendaraan mudik, dari bus sampai pesawat terbang, yang mengantarkan kami dengan selamat
  • Terima kasih untuk para pengantar logistik yang tetap mengantarkan barang-barang di masa liburan
  • Terima kasih untuk pengelola tempat wisata yang buka sehingga kami bisa main-main dengan keluarga pas lebaran
  • Terima kasih untuk tukang bersih-bersih yang tetap bebersih dalam masa liburan
  • Terima kasih untuk para engineer yang standby sehingga tidak ada koneksi internet putus dan server yang down (orang IT mengerti banget perjuangan yang ini hehe)

Semoga kalian semua mendapat berkah karena membuat orang lain bahagia.

Ditulis dari kantor yang masih sepi di hari pertama kerja 😛

Musik Dangdut Segar ala Libertaria

Sekitar seminggu lalu saya berlibur di Jogja. Dalam satu kesempatan, saya tak sengaja lihat acara TV lokal (tepatnya Jogja TV, dan saya baru tahu kalau ada versi live streaming). Saya lihat seorang dengan muka dicat tengkorak dan polisi berkumis sangar menari dengan absurd. What the…?

Pertama dilihat aneh, tapi musiknya menarik. Dangdut dengan gaya anak muda. Saya coba memperhatikan judul lagunya dari lirik (biasanya judul lagu terletak di potongan reff). Lalu muncul gerakan jingkat-jingkat diiringi ucapan absurd, “wer kewer kewer kewer kewer kewer kewer”. Berbekal informasi itu, Google bisa membantu sisanya.

Ketahuan bahwa ini band bernama Libertaria. Ketahuan juga bahwa mereka belum lama merilis albumnya, Kewer-Kewer. Tepatnya 18 Mei 2016 lalu.

libertaria-album-kewer-kewer-artwork

Cover Album Libertaria – Kewer Kewer

Saya merasa baru menemukan harta karun. Album ini memang bisa dikatakan demikian karena beberapa alasan ini.

1. Album Ini 100% Gratis

Kamu tidak salah baca! Libertaria meluncurkan album ini tanpa memungut pendengarnya sepeser pun. Tinggal klik tautan, album bisa langsung nongkrong di gawai. Bisa juga didengarkan gratis lewat Soundcloud. Ini strategi yang berani dan kreatif di dunia musik Indonesia. Dengan album gratis, tak perlu bergumul dengan masalah pembajakan. Kalau musik sudah dikenal, akan ada fans yang setia dengan karyanya dan ikhlas membayar demi apresiasi. Dan terus terang saya sudah mulai ngefans :D. Sudah bagus, gratis pula.

Tautan unduh album tersedia di bawah. Tetaplah sabar dalam beberapa menit 🙂

2. Genre Baru: Post Dangdut Electronika

Album ini adalah hasil kerja keras Marzuki Mohamad alias Kill The DJ (yang bikin soundtrack AADC 2 Ora Minggir Tabrak) dan Balance. Latar belakangnya adalah musik elektronik, sementara mereka berkolaborasi dengan media dangdut untuk menjangkau semua lapisan masyarakat. Campuran dangdut dan elektronik mereka memberi ciri khas album ini. Saking khasnya sampai saya nggak bisa menyebutkan musik lain yang mirip. Seperti susahnya membayangkan Avicii dangdutan atau Ayu Ting-Ting dalam sentuhan elektronik hehe.

Anyway, campuran itu membuat musik bawaan mereka jadi segar. Tidak kampungan tapi tetap bisa dinikmati semua elemen masyarakat. Kalau sudah pencet tombol play baru ngerti maksud saya deh pokoknya.

3. Muatan Kritik Sosial Kehidupan Modern

Menyajikan lagu yang mewakili suara rakyat tidak mudah. Slank dan Iwan Fals adalah sedikit contoh musisi yang menjadi jelmaan ekspresi rakyat lewat kritik sosial. Kehidupan Indonesia modern sudah berubah. Tatanan sosial tidak sama lagi dengan 10-15 tahun lalu. Libertaria menyajikan kritik sosial dengan baik. Topik seperti korupsi, ketidakadilan sosial, era digital, dan kehidupan rakyat jelata modern mewarnai album ini. Musik elektronik maupun dangdut biasanya dipakai untuk lagu bertema hura-hura, tapi kritik sosial melebur bersama musik Libertaria secara halus. Salut saya sekali lagi.

***

Saya suka sekali dengan album ini. Detail yang ada di dalamnya dibuat dengan apik. Macam-macam aliran dangdut dieksprerimen. Ada lagu dangdut khas pantura di D.N.A (Dangdut Neng jero Ati). Ada dangdut khas organ tunggal nikahan di Mari-Mari. Ada choir dan rap khas Kill The DJ di Rakyat Bergoyang. Kamu akan ingat slogan di bak-bak truk ketika mendengar Jalur Pantura. Lagu dangdut house juga ada. Bahkan lagu dangdut syahdu pun ada di Teruslah Bekerja (feat. Glenn Fredly loh).

Top 3 lagu favorit saya di album ini adalah:

  1. D.N.A (feat. Riris Arista & Brodod) – lagu ini dijamin bikin ngakak dan goyang. Sentuhan dangdut panturanya otentik. Kamu bisa dengar paduan Riris Arista yang halus dan Brodo yang serak dan kocak. Liriknya jauh lebih keren daripada dangdut pantura yang umumnya nakal. Tidak lupa sentuhan ajeb-ajeb elektronika.
  2. Mari-mari (feat. Heruwa & Paksi Raras) – dijamin bikin goyang. Lagu ini harus masuk daftar putar organ tunggal di resepsi nikahan :D. Campuran elektronika dan dangdut electone nya cocok sekali. Ditambah sentuhan ska reggae dari Heruwa, lagu ini enak didengar dan nggak ada kembarannya.
  3. Kewer-kewer (feat. Riris Arista) – lagu Libertaria yang pertama kali saya dengar sekaligus paling berkesan. Lagu ini sepaket dengan goyang Kewer-kewer yang ada di video klipnya. Gabungan antara goyang absurd dan musik asyiknya bikin geleng-geleng. Tapi lama-lama jadi ketagihan juga. Ini harus jadi tren goyang viral berikutnya :D. Kamu wajib lihat videonya di bawah ini.

Jangan mikir lama lagi, cepat tekan play di Soundcloud atau unduh albumnya lewat akun Facebook atau Twitter.

Selamat bergoyang post dangdut electronika.

Prioritas Tempat Duduk: Antara Hak dan Kewajiban

Suatu sore, saya pulang kerja menuju stasiun KRL. Dalam kondisi lelah, lecek, dan habis kena gerimis, saya menunggu kereta jurusan pulang. Beberapa saat kemudian keretanya datang. Pintu dibuka dan saya masuk santai (saya bukan tipe yang menghambur rebutan tempat duduk). Kebetulan ada tempat kosong di kursi biasa (bukan prioritas). Saya pun duduk. Pas punggung menyentuh bantalan kursi, rasanya beban saya terangkat. Jarang-jarang dapat tempat di jam pulang. Secercah surga itu rasanya. Orang-orang yang terbiasa komuter bakal mengerti.

Beberapa stasiun kemudian masuklah ibu-ibu paruh baya di kereta yang sudah penuh. Dia berdiri di depan tempat saya. Sesaat saya tahu kalau ibu ini masih kuat untuk berdiri karena postur bagus, namun tampak juga kalau dia hampir-hampir di kategori “harus diprioritaskan” karena usia. Karena dia berdiri di depan saya, otomatis ada dorongan moral untuk kasih tempat duduk. Di sisi lain, saya capek banget dan belum tentu bisa duduk selama 40 menit ke depan. Lalu, apa yang harusnya saya lakukan?

* * *

Konflik Hak dan Kewajiban

Itu sepenggal kisah yang terjadi belum lama. Saya pun yakin bukan satu-satunya yang merasakan hal sama. Baik di kendaraan atau tempat umum. Saya kepikiran sampai sekarang. Benturan “hak” dan “kewajiban” dalam contoh sederhana sehari-hari. Kenapa dua kata tersebut dikasih tanda petik? Karena dalam konteks ini kita belum punya definisi baku antara hak dan kewajiban. Kita memerlukannya untuk menjawab pertanyaan berikut:

  1. Andai ibu paruh baya masuk kategori prioritas, siapa yang lebih berhak atas tempat duduk, saya atau ibu-ibu tersebut?
  2. Apakah saya wajib memberikan tempat saya? Kalau ya, mengapa? Kalau tidak, siapa yang punya kewajiban itu?

Baca lebih lanjut

Simple Bookbinding: Sketchbook/Notebook DIY with Cable Ties

Dulu saya pernah bikin tutorial coptic bookbinding di blog ini. Tampangnya indah dan fancy. Hanya kekurangannya adalah perlu cukup waktu dan kesabaran untuk membuatnya. Kali ini saya bikin versi yang lebih simpel. Anda bisa buat sketchbook atau notes sendiri dalam setengah jam dengan barang yang tersedia di kantor atau rumah! Ini juga bisa jadi proyek/tugas sederhana untuk menggunakan bahan daur ulang seperti kardus dan kertas bekas.

Kuncinya ada di penggunaan kreatif cable ties. Biasanya untuk mengikat lembaran buku orang memakai lem, benang, atau campuran keduanya (please jangan include stapler, notes pribadi jangan disamakan dengan tugas kuliah hehehe). Bagaimana caranya? Simak tutorial membuat sketchbook atau notebook dengan cable ties berikut.

Alat dan Bahan

Simple Bookbinding Cable Ties (1)

Yang diperlukan adalah sebagai berikut:

  1. Gunting/cutter : untuk memotong kertas dan kardus. Gunakan yang cukup besar. Berdasarkan pengalaman, gunting daging (seperti di gambar) memotong kardus lurus tanpa susah payah. Untuk merapikan potongan kertas/kardus, cutter lebih berguna.
  2. Hole puncher: untuk melubangi kertas dan kardus. Bisa pakai yang satu lubang (seperti di gambar) atau dua lubang yang lebih umum.
  3. Kertas: boleh kertas kosong atau daur ulang. Saya mengambil A4 karena paling banyak tersedia.
  4. Kardus bekas: Untuk kover buku.

Cara Membuat

Simple Bookbinding Cable Ties (2)

1. Tentukan ukuran buku yang diinginkan. Saya rekomendasikan A5 untuk sketchbook dan A6 untuk notebook. Baca lebih lanjut

Jalan-jalan Sore di Masjid Raya Al-Azhom

Minggu sore dan tidak ada yang dilakukan. Kipas angin di kamar menderu sambil mendatangkan sedikit kesejukan. Di luar, matahari menyengat sementara udara lembab. Keringat membuat badan lengket. Karena nggak tahan, saya pun memutuskan keluar. Meskipun tetap berkeringat, penat bisa hilang sambil jalan-jalan.

Saya belum tahu banyak soal Tangerang tapi tidak tertarik eksplorasi. Alasannya ada beberapa:

  1. Panas dan udara kurang menyenangkan
  2. Lalu lintas bikin kesal (meski tak segila Jakarta)
  3. Wisata yang tersedia didominasi nuansa kapitalis seperti mall, water boom, dan sejenisnya. Saya tak suka wisata begitu karena menghabiskan uang hanya untuk hiburan buatan.
  4. Tidak ada makanan khas yang menarik (saya sudah coba laksa Tangerang dan kurang cocok)

Lalu saya ingat ada dua objek yang ingin saya lihat dari dekat di Tangerang: Pintu Air Sepuluh dan Masjid Raya Al-Azhom. Lalu saya melakukan sedikit riset di Google Maps. Di Taman Pintu Air, saya bisa mendapatkan pemandangan Sungai Cisadene yang bagus. Kebetulan tempat itu dekat dengan Masjid Al-Azhom. Saya putuskan berangkat, nanti sekalian sholat ashar di sana.

Ternyata arus lalu lintas yang ditunjukkan Google Maps agak beda dengan kondisi riil. Ini agak tricky, tapi saya berhasil lewat di jalur yang benar. Sayangnya entah mata saya kurang awas atau gimana, Taman Pintu Air gagal saya temukan. Saya lihat daerah rimbun di tepian sungai Cisadene dan banyak angkot ngetem, tapi tak lihat tulisan Taman Pintu Air. Saya malah lihat Taman Pramuka. Karena malas kembali, saya lanjutkan ke Masjid Al Azhom.

Masjid Al-Azhom ini memang tampak megah seperti nampak di foto. Hanya saja halamannya lebih sempit dari yang saya bayangkan. Letaknya berada di pusat pemerintahan Kota Tangerang. Pastinya ramai pada jam kerja, namun Minggu sore ini kebanyakan yang datang adalah keluarga atau pasangan yang mampir sholat dan berfoto ria.

Masjid Al Azhom-outside 1

Terasa megahnya apabila dipotret dari depan begini. Foto dari luar ini diambil lebih sore daripada foto di bagian dalam masjid. Dengan demikian nuansa masjid di kala senja lebih tampak.

 

Masjid Al Azhom-outside

Masjid Raya Tangerang di kala senja

Masjid Al Azhom-outside 2

Pintu masuk utama Masjid Al Azhom

Masjid Al Azhom ini diklaim memiliki kubah masjid terbesar di Asia Tenggara. Benar atau tidak, saya kurang tahu. Cuma, saya bisa bilang kalau kubahnya memang besar. Makin terasa kalau dilihat dari dalam sambil mendongak.

DCIM100MEDIA

Empat kubah kecil di tepi, satu kubah besar di tengah. Seluruhnya berhiaskan kaligrafi keemasan yang mengkilat.

Saya tiba sekitar setengah jam setelah adzan ashar. Sudah ketinggalan jamaah pertama. Tapi gelombang kecil sholat jamaah tak pernah habis di masjid jami seperti ini. Saya tunaikan dulu kewajiban, baru menuntaskan foto-foto. Karena pencahayaan yang menarik, saya bereksperimen foto diri sendiri di salah satu sudut masjid.

DCIM100MEDIA

Jajaran shaf terdepan yang dihiasi tiga jam bandul dan kaligrafi Allah & Muhammad. Tentunya foto ini diambil setelah saya beres sholat 🙂

DCIM100MEDIA

Leyeh-leyeh sore hari di lantai yang dingin sungguh nikmat

DCIM100MEDIA

Sisi masjid dengan pencahayaan yang menarik

 

DCIM100MEDIA

Foto eksperimen. Saya suka pencahayaannya.

Masjid Al Azhom-inside 1

Semakin sore, semakin sepi.

Puas berfoto, saya berkeliling sedikit di pusat pemerintahan. Biasanya di kota/kabupaten dari Serang sampai Banyuwangi tipikalnya sama di pusat kota: pusat pemerintahan, masjid jami, alun-alun. Saya jadi bertanya, apakah di pusat pemerintahan Tangerang ini ada alun-alun? Sebab saya tidak lihat ada hamparan rumput atau taman hijau luas di sekitarnya. Saya cuma lihat area berbentuk persegi dipaving merah dengan ornamen. Terlalu kecil untuk disebut alun-alun sih 😛

Syukurlah bosan saya terusir dengan jalan-jalan ini. Semoga bosan pembaca juga hilang dengan baca postingan dan lihat foto-foto ini.