Terima Kasih untuk Lebarannya

Mumpung dalam suasana lebaran, pertama saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf apabila ada tulisan saya yang kurang berkenan di hati pembaca sekalian. Mohon maaf juga kalau tulisan baru relatif sedikit. Fokusnya lagi banyak di tempat lain hehehe.

Hari ini sebagian yang mudik sudah kembali. Ada juga malah yang baru mudik. Yang manapun Anda, berbahagialah. Lebih penting lagi, berterimakasihlah.

Saya sudah delapan tahun merantau sejak zaman SMA. Sudah tak asing lagi rasanya mudik. Tapi baru sekarang saya merasakan betapa berartinya mudik, karena kehidupan di Jakarta lebih keras daripada kota lain yang pernah saya tumpangi ūüėõ

Orang lain juga begitu. Mudik demi bertemu keluarga. Mudik demi buka bersama dan halal bi halal. Mudik demi pamer anak, atau sekedar pamer THR dengan bagi-bagi. Banyak orang bisa mudik dengan bahagia. Di sisi lain, pemudik membutuhkan sarana transportasi. Pemudik juga memerlukan sarana pengamanan untuk rumah yang ditinggalkan. Sebagian pemudik juga masih belanja online di berbagai tempat (Salah satu ekspedisi rekrut 2000 tambahan personil selama lebaran)! Orang-orang seperti itu tidak seberuntung para pemudik. Walau terjebak di brexit 20 jam, pemudik masih bisa pulang. Demi memenuhi kebutuhan kita, mereka tidak pulang.

Untuk itu, saya ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang membuat mudik masyarakat Indonesia aman sentosa sehingga kami bisa bertemu dengan keluarga di rumah.

  • Terima kasih untuk TNI/Polri¬†yang membantu mengamankan lingkungan dan jalanan selama mudik
  • Terima kasih untuk dokter dan perawat yang siaga di rumah sakit dan pos kesehatan (saya ada saudara yang masuk RS menjelang lebaran. Tanpa kesiapsiagaan mereka, mungkin saudara saya tak tertolong)
  • Terima kasih untuk¬†satpam, hansip, dan tetangga yang menjaga kantor dan komplek rumah
  • Terima kasih untuk para pembawa kendaraan mudik, dari bus sampai pesawat terbang, yang mengantarkan kami dengan selamat
  • Terima kasih untuk para pengantar logistik yang tetap mengantarkan barang-barang di masa liburan
  • Terima kasih untuk pengelola tempat wisata yang buka sehingga kami bisa main-main dengan keluarga pas lebaran
  • Terima kasih untuk tukang bersih-bersih yang tetap bebersih dalam masa liburan
  • Terima kasih untuk para engineer yang standby sehingga tidak ada koneksi internet putus dan server yang down (orang IT mengerti banget perjuangan yang ini hehe)

Semoga kalian semua mendapat berkah karena membuat orang lain bahagia.

Ditulis dari kantor yang masih sepi di hari pertama kerja ūüėõ

Iklan

Prioritas Tempat Duduk: Antara Hak dan Kewajiban

Suatu sore, saya pulang kerja menuju stasiun KRL. Dalam kondisi lelah, lecek, dan habis kena gerimis, saya menunggu kereta jurusan pulang. Beberapa saat kemudian keretanya datang. Pintu dibuka dan saya masuk santai (saya bukan tipe yang menghambur rebutan tempat duduk). Kebetulan ada tempat kosong di kursi biasa (bukan prioritas). Saya pun duduk. Pas punggung menyentuh bantalan kursi, rasanya beban saya terangkat. Jarang-jarang dapat tempat di jam pulang. Secercah surga itu rasanya. Orang-orang yang terbiasa komuter bakal mengerti.

Beberapa stasiun kemudian masuklah ibu-ibu paruh baya di kereta yang sudah penuh. Dia berdiri di depan tempat saya. Sesaat saya tahu kalau ibu ini masih kuat untuk berdiri karena postur bagus, namun tampak juga kalau dia hampir-hampir di kategori “harus diprioritaskan” karena usia. Karena dia berdiri di depan saya, otomatis ada dorongan moral untuk kasih tempat duduk. Di sisi lain, saya capek banget dan belum tentu bisa duduk selama 40 menit¬†ke depan. Lalu, apa yang harusnya¬†saya lakukan?

* * *

Konflik Hak dan Kewajiban

Itu sepenggal kisah yang terjadi belum lama. Saya pun yakin bukan satu-satunya yang merasakan hal sama. Baik di kendaraan atau tempat umum. Saya kepikiran sampai sekarang. Benturan “hak” dan “kewajiban” dalam contoh sederhana sehari-hari. Kenapa dua kata tersebut dikasih tanda petik? Karena dalam konteks ini kita belum punya definisi baku antara hak dan kewajiban. Kita memerlukannya untuk menjawab pertanyaan berikut:

  1. Andai ibu paruh baya masuk kategori prioritas, siapa yang lebih berhak atas tempat duduk, saya atau ibu-ibu tersebut?
  2. Apakah saya wajib memberikan tempat saya? Kalau ya, mengapa? Kalau tidak, siapa yang punya kewajiban itu?

Baca lebih lanjut

Reuni, Beasiswa, dan Musik

Baru tiga bulan berpisah dengan teman kuliah, rasa kangen main bareng sudah menggebu-gebu. Jadi ketika diajak menemui sahabat peraih¬†beasiswa di suatu event spesial, saya iyakan dengan senang hati. Hiburan terbaik yang saya rasakan sejak lulus: berkumpul dengan teman dekat lagi, memperoleh informasi tentang LPDP yang prestisius, plus¬†nonton¬†Calvin Jeremy, Life Cicla, serta Mocca. Semuanya gratis kecuali biaya parkir ūüėõ

Collage-LPDP

Reuni Perantau

Cuma sedikit mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi angkatan saya yang merantau ke Jakarta pasca lulus. Tiga orang diantaranya janjian bertemu di UI. Saya, Fatoni (alias blogger Fiksimen yang bisa kalian kunjungi beres baca ini), dan Gunawan. Walaupun ngomongnya sama-sama merantau ke Jakarta, kita terpisah jauh. Saya di Tangerang, Fatoni di Jatinegara, Gunawan di Slipi. Kita janjian ketemu di Stasiun Duri lalu ke Stasiun Universitas Indonesia. Kagetnya saya, mereka berdua baru pertama kali naik KRL. Saya saja baru dua bulan sudah kemana-mana naik KRL (songong, padahal dulu nggak betah jadi komuter).

Kita bertiga memang niat jalan-jalan sambil mengunjungi teman yang mau merantau sungguhan ke luar negeri. Kalau kita bertiga merantau cari uang, mereka merantau cari ilmu. Eh, tapi di sana biasanya cari uang part-time juga biar bertahan hidup hehehe. Baca lebih lanjut

Dilema Telor Ceplok

Ini adalah postingan (sok) filosofis yang terinspirasi dari obrolan harian saya dan Riri.

“Nanti pas kamu pulang aku bikinin telor ceplok ya. Telor ceplok buatan aku enak lohh,” kata Riri di kanal seberang. Ini terjadi sebelum kita ketemuan pas tahun baru. Obrolan seputar rencana di Ponorogo (selain pergi ke Bendungan Sawoo) menjadi topik seru. Karena LDR nya belum beres juga, kesempatan bertemu itu harus diisi¬†dengan kegiatan yang exciting. Mendengar nada pede dari doi, saya iyakan aja.

Pada pagi hari yang dijanjikan, saya main ke rumahnya. Salim sama bapak ibunya, terus nyelonong ke dapur.

“Jadi apa yang spesial dari telor ceplok bikinan kamu?” saya bertanya macam juri MasterChef.

“Jangan sembarangan ya. Telor ceplok bikinanku itu rasanya asli banget. Minyaknya sedikit, terus apinya kecil. Terus cuma aku beri bumbu garam. Teman-temanku aja pada ketagihan.” jelas Riri ala chef hotel bintang lima.

“Bikin telor ceplok kan memang begitu. Aku juga bisa,” kucoba sedikit mendebat untuk memastikan keyakinan doi atas masakannya.

“Telor ceplok yang sempurna itu bikinnya susah. Kalau kelamaan, nanti tepi putih telor jadi gosong. Kalau kecepetan, kuning telornya nggak matang semua,” bela Riri.

Kalimat yang terakhir itu bikin saya ketawa. Sang juri mengakui kelihaian chef. Sepuluh menit kemudian telor ceplok matang saya lahap ūüėõ

***

Sekarang saya mendekam di kosan daerah Karawaci. Di sela-sela kelelahan kerja dan kesendirian di kosan, otak jadi suka berimajinasi. Dari segudang kesenangan pas pulang, kalimat Riri yang terakhir itu terpatri erat. Saya jadi terinspirasi untuk mencetuskan sebuah istilah: dilema telor ceplok.

DilemaTelor Ceplok

Terlalu niat untuk sebuah imajinasi filosofis liar? Inilah definisi dilema telor ceplok ūüėÄ

Dilema adalah pernyataan dengan dua opsi dimana tidak satupun menjadi alternatif yang lebih tepat. Dilema telor ceplok adalah dilema untuk mengambil keputusan di saat yang tepat, sebab terlalu cepat atau terlalu lambat melakukannya akan memberikan hasil buruk. Layaknya telor ceplok yang dimasak terlalu cepat, kuning telor tidak matang. Sementara kalau dimasak terlalu lama, putih telor jadi gosong.

Kalau sedang rajin berimajinasi, ada saja yang kepikiran. Saya bahkan sampai memikirkan aplikasi nyata dari dilema ini. Bayangkan pasar saham yang diisi fluktuasi harga. Keputusan jual atau beli diperhatikan presisi sampai hitungan menit. Telat jual dua menit, mungkin bisa rugi jutaan. Terlalu awal membeli sebelum harga saham benar-benar turun, bisa juga rugi.

Ini tulisan murni buah pikiran saya. Saya orangnya praktis, kalau diajak ngobrol filosofis yang terlalu dalam malah pusing sendiri. Jadi bahasannya sampai sekian saja :D. Kalau pembaca menemukan istilah spesifik untuk hal seperti ini dan sudah ada namanya, CMIIW ya. Bakal saya muat di tulisan ini.

PS: Telor ceplok buatan Riri paling maknyus ūüėõ

Percayalah, Ada Orang Baik di Atas Sana

Minggu ini berita televisi dihiasi kabar dilantiknya Agus Rahardjo sebagai Ketua KPK dan mundurnya Setya Novanto sebagai Ketua DPR. Saya nggak mau ngomong soal sepak terjang dunia politik di Indonesia. Yang saya tekankan dalam tulisan ini, hasil yang terjadi barusan di panggung depan adalah hasil pertarungan di belakang. Pertarungan antara kepentingan rakyat dan kepentingan ambisi pribadi.

Saya pernah dengar dari orang yang berkutat di urusan begini. Setiap ada urusan pelik seperti ini, selalu ada jalur belakang. Jalur lobi-lobi. Ada yang melobi supaya urusan dimudahkan, namun ada penegak kepentingan rakyat yang mencegahnya. Di sinilah perang sebenarnya antara orang-orang baik dan orang jahat.

Percayalah bahwa di kalangan atas itu banyak orang baik. Mereka memperjuangkan apa yang benar. Siapa mereka? Itulah yang tak kita tahu. Media tak mau menyoroti sebab tak mengandung sensasi. Para orang jahat menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan orang baik. Orang-orang baik disingkirkan dari jabatan, berakhir di penjara, atau menjadi martir.

Dua perubahan di institusi besar Indonesia bagi saya adalah hasil dari perjuangan orang baik. Apakah Indonesia bakal jadi lebih baik? Itu yang kita nantikan. Saya percaya bahwa orang-orang baik yang ingin mmebangun Indonesia masih banyak. Dan kenapa kita nggak menjadi salah satunya? Meskipun banyak martir sepanjang menegakkan kebenaran, harapan takkan padam.

Salam untuk hidup positif.

Quote about commuter

Balada Komuter

Pas di tingkat akhir kuliah saya punya 2 pantangan terkait pilihan kerja. Pertama, saya mau kerja di manapun kecuali Jakarta. Menurut saya, kultur dan pace kerja di Jakarta bikin orang cenderung memperhatikan duit daripada sisi lain hidup. Kedua, saya nggak mau komuter. Bolak-balik menempuh belasan kilometer dari rumah ke tempat kerja. Harus sampe segitu banget kah menghabiskan waktu di jalan demi penghasilan? Itu pikir saya.

komuter-2

Mengantri untuk kembali ke rumah bareng ratusan, atau ribuan, komuter lain.

Nyatanya 2 pantangan itu langsung rontok ketika saya diterima kerja di Tangerang, tapi juga harus ke Jakarta tiap beberapa hari. Sebelum menyadarinya, tiba-tiba saya sudah keringatan di angkot, berdesakan di KRL, atau ketiduran di bus. Karena kantor kerja ada di Tangerang dan Jakarta , mau tidak mau saya jadi komuter juga seperti jutaan orang lain. btw, saya baru tahu kalo ada kantor di Jakarta setelah masuk kerja. Jadi misuh-misuh dalam hati juga kalau menurut jobdesc bakal sering ke Jakarta.

Sudah sebulan berkomuter Tangerang-Jakarta, saya menyadari beberapa hal setelah berpikir. Sempat mikir? Ya, soalnya di dalam kendaraan mayoritas waktu nampaknya habis untuk main hape, tidur, atau merenungi nasib (CMIIW please, fellow commuters). Saya punya pantangan kerja karena punya persepsi buruk soal kerja komuter atau kerja di Jakarta. Saya meremehkannya.

Jadi bagi saya ini semacam ujian dari Allah (sungguh, cuma kuasa-Nya yang bisa ngepasin apa yang saya nggak suka terjadi pada diri saya). Ada satu hal langka yang jadi sumber semangat, namanya kesempatan (opportunity). Tidak banyak orang yang dapat kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang memuaskan. Maka dari itu menempuh belasan kilometer pun rela demi meraih kesempatan. Nyatanya juga tak ada seorang pun yang suka berdesakan di kendaraan umum atau terjebak macet di mobil sendiri. Semuanya demi meraih secuil kesempatan.

Makin lama di daerah Jabodetabek, saya merasa tempat ini makin menarik. Bukan berarti suka sama suasana ini sih hahaha. Ada pengalaman baru yang layak untuk jadi pelajaran. Ada orang baru yang menarik untuk ditemui. Ada kisah baru yang tak terbayang sebelumnya. Dan memang itulah yang saya cari sejak awal ketika memutuskan kerja di Jabodetabek.

Hari Pertama Kerja

Ini postingan singkat yang yang saya bikin menjelang akhir hari.

Ini adalah hari pertama kerja saya di perusahaan teknologi di Karawaci, Tangerang. Ketika saya melepas sepatu pantofel selepas kerja, rasanya macam-macam. Excited karena banyak tantangan menanti. Bingung karena habis direcoki banyak hal yang perlu diingat. Si bos bilang, “Pelan-pelan aja”.

Kipas angin menyala. Saya masih belum terbiasa hawa Tangerang yang seperti sauna raksasa ini. Empat tahun di Bandung terlalu nyaman bagi badan. Sambil berbaring saya berpikir, dunia di depan sudah berbeda, seperti apa ya jadinya?

Teman baru, penghasilan baru, kosan baru, kesempatan baru, risiko baru, tantangan baru. Semuanya menanti di perjalanan. Pasti. Tapi biarlah saya menikmati masa-masa senggang sebelum tak punya waktu lagi. Mau tidur yang enak dulu.

Rules Aren’t Diamonds

rule breaker quote

Alkisah ada seorang saudagar Arab tua yang sakit-sakitan. Menjelang ajal, dia memanggil kedua putranya, “Aku mewariskan hartaku kepada kalian. Syaratnya, kalian harus berlomba balap unta. Yang untanya sampai paling akhir memperoleh bagian harta lebih besar.” Kemudian dua bersaudara itu pun melakukan balap unta. Balap unta itu berlangsung sangat lama sebab tidak seorangpun mau sampai lebih dulu.

Suatu ketika lewatlah seorang tua bijak. Orang bijak tersebut mendatangi dua bersaudara, mendengar kisah mereka, lalu mengatakan sesuatu. Tidak lama berselang, kedua bersaudara memacu unta dengan cepat untuk mencapai garis finish. 

Tahukah anda, apa yang dikatakan si orang bijak kepada dua bersaudara?

Kisah di atas sebenarnya merupakan satu teka-teki terkenal. Saya mengutipnya karena berhubungan dengan postingan kali ini: menyiasati peraturan. Ngomong-ngomong, kalau Anda penasaran dengan teka-teki di atas, jawabannya ada di akhir postingan ini.

Bagi saya, peraturan itu dibuat untuk mengusahakan keadilan bagi semua orang. Peraturan idealya dibuat dengan niat baik, namun tidak semua peraturan itu baik. Kalau Anda dirugikan karena adanya peraturan, sesungguhnya peraturan itu tidak sehat. Misalnya akhir-akhir ini muncul berita bahwa Pemda Aceh mengajukan peraturan jam malam bagi perempuan. Tanpa memberikan judgement, perlu adanya pertimbangan apakah para perempuan itu akan dirugikan? Apakah kerugian tersebut berdampak besar? Misalnya pembatasan tersebut berakibat sebagian perempuan tidak bisa melakukan kegiatan ekonomi. Efeknya adalah penurunan produktivitas. Pendapatan daerah juga berkurang (misalnya saja loh yaa).

Mengikuti peraturan itu bagus. Yang saya tekankan adalah, you don’t have to¬†follow rules when you know it’s stupid. Ini merupakan pola pikir yang banyak dipakai di dunia kreatif. Ketika semua handphone¬†7-8 tahun lalu menggunakan keypad, iPhone menggebrak pakem dengan layar sentuh dan hanya satu tombol sebagai¬†antarmuka. Hasilnya, pamor iPhone melejit sebagai produk paling inovatif. Hal yang sama saya temukan di dunia consulting. Para konsultan bisnis membuat solusi dari mencatat fenomena, kemudian mendobrak asumsi dasar untuk menemukan sesuatu yang baru. Seringkali solusinya datang dari sesuatu sederhana yang diluar asumsi normal. Solusi bisa¬†datang dari mendobrak peraturan.¬†Quote di awal saya kutip dari kantor suatu firma konsultan tersohor.

Peraturan adalah sesuatu buatan manusia. Seperti layaknya semua hal buatan manusia, mereka tak lepas dari cacat. Jadi sikapilah peraturan di sekitar Anda dengan cerdas. Be rebellious yet wise. Rules, unlike eternal diamonds, are subject to change.

NB. Jawaban dari teka-teki di atas yaitu: si orang bijak berkata, “Kalian saling bertukar unta saja.” Kalau Anda mengerti makna solusi ini, berarti 80% isi blog sudah tersampaikan ūüėČ

Sampingan

Catatan Kecil Seorang Pengawas SBMPTN

meme SBMPTN

Setiap tahun puluhan hingga ratusan ribu lulusan SMA dan sederajat bersaing untuk memasuki perguruan tinggi idaman. Ada satu jalur yang digunakan untuk menentukan orang-orang terpilih. Namanya Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Ngeri Negeri alias SBMPTN. Namanya berubah dari generasi ke generasi, namun isinya sama saja. Pertempuran untuk mendapatkan lulusan favorit.

Persepsi saya soal SBMPTN pun berubah. Mulai dari dengar keseramannya dari saudara dan senior, mengalaminya sendiri, sampai kini saya duduk di kursi yang berseberangan dengan para peserta.

Saya jadi pengawas ujian tulis SBMPTN hari ini.

Saya jadi pengawas dengan tujuan melihat perkembangan generasi masa kini (Bohong besar! Asal tahu saja, pengawas SBMPTN itu bagaikan mendapat durian dari langit. Honor yang sangat lumayan untuk kerja sehari. Tapi durian dari langit pasti jadi rebutan banyak orang, jadi berdoalah yang banyak). Dalam sehari itu tampak berbagai ekspresi. Khawatir menjelang ujian, membanting lembaran catatan ke muka, senda gurau bersama teman untuk hilangkan stress, sampai muka setengah ngantuk menghadapi soal. Walaupun cepat bukan berarti tidak ada pengalaman berkesan.

‚čÜ‚čÜ‚čÜ

Ini adalah percakapan di ruang ujian SBMPTN tadi siang.

Bel ujian usai berbunyi dan semua lembar jawab peserta sudah saya kumpulkan.

Me: “Terima kasih telah mengerjakan ujian dengan tenang dan menjaga suasana kondusif.”
Ibu Guru Partner Penjaga Ruang: “Semoga semuanya memperoleh hasil terbaik, sesuai yang diharapkan.”
Peserta: “Amiiin!” (bareng-bareng)

Terus semuanya maju ke depan kelas, salim sama pengawas. Termasuk saya.
“Terima kasih, pak”
Pak…
Pak????

Ini perlu diluruskan.
Me: “Aku masih mahasiswa kok.”

Ternyata tidak berubah. Masih pada salim. Kalimatnya saja yang diubah jadi, “Terima kasih, kak.”

Yah, saya cuma bisa senyum. Semoga Allah membalas kerja keras kalian, pejuang SBMPTN.

‚čÜ‚čÜ‚čÜ

Sebagai tambahan, pengumuman SBMPTN 2015 dapat dilihat di website resminya tanggal 9 Juli 2017 pukul 17:00. Info berharga nih hehehe.

Sumber Gambar: www.itinthed.com, dengan perubahan seenak jidat.

Sampingan

Mobil Camry dan Kuda

DI akhir pekan berkepanjangan kemarin, suatu pagi saya sedang duduk-duduk di gerbang depan ITB. Ceritanya menunggu teman berkumpul untuk melakukan perjalanan ke Subang (bakal segera saya post kisahnya). Hari masih pagi, mentari masih hangat menerpa permukaan bumi. Jalan Ganesa pun belum ramai. Sesekali motor dan angkot lewat. Di tepi jalan segerombol joki membawa tali kekang kuda masing-masing, bersiap mengejar rezeki.

Saya tahu penyedia jasa naik kuda ini sudah datang pagi-pagi. Pernah saya berangkat ke kampus sekitar pukul enam, lalu melihat joki mengendarai kuda di Pasar Simpang. Bayangkan, kuda berkeliaran di jalanan utama Bandung. It’s so swag. Para joki sudah macam koboi. Nah, di Jalan Ganesa ini mereka beroperasi. Ada saja yang mencoba cari hiburan sejak pagi. Ada orangtua yang mengajak anaknya naik kuda. Si anak setengah takut, sementara orangtuanya malah memotreti ekspresi anak.

Belasan menit berlalu. Tiba-tiba muncul mobil Toyota Camry menepi agak sembarangan. Sebelum mobil benar-benar berhenti, dua tiga joki cekatan mendekati mobil tersebut. Lalu dari mobil itu keluar satu keluarga dengan anak kecil. Sang ibu bernegosiasi dengan joki untuk menaiki kuda. Singkat cerita, anaknya pun naik kuda dan diantar joki. Tentu tidak lupa dipotret orangtuanya.

Itu pemandangan normal sebenarnya. Yang mengusik pikiran saya, bisa-bisanya orang yang sudah punya mobil semewah Camry (setara eselon 1 atau menteri loh) rela jauh-jauh ke Jalan Ganesa untuk naik kuda. Sudah punya emas malah cari timah. Mungkin kalau dilihat dari sisi lain, si joki kuda juga mau naik Camry. Bagus kalau bisa saling tukar kendaraan selama beberapa menit ūüėÄ

Ah, manusia memang sulit dibuat puas.

I LOVE Deadline. Do You?

Sudah beberapa hari belakangan saya tidak mempedulikan dunia sekitar. Bukan karena sedang apatis atau galau, melainkan karena sibuk dengan suatu kerjaan. Kompetisi lebih tepatnya. Kompetisi dalam satu kelompok. Yang namanya kompetisi kan pasti ada deadline. Sebagai mahasiswa pula sudah terbiasa dengan deadline. Tapi yang satu ini ceritanya spesial.

Tenggat waktu deadline

Pada pukul segini, saya sedang terjebak mendengar penjelasan pra-UAS.

Deadline pengumpulan berkas dan dokumen lomba adalah hari ini, pukul 12:00 tadi. Karena kesibukan masing-masing anggota, pengerjaan dokumen lomba baru dimulai hari Sabtu. Kita bekerja dengan rajin. Sayangnya entah kenapa yang kita kerjakan panjang sekali. Belum selesai ketika hari sudah berganti Selasa.

Saya tipe orang yang menjadi intense ketika deadline mendekat. Bagi saya, deadline itu sesuai namanya. Past the line and you are dead. Baca lebih lanjut

[EF#8 – Weekly Challenge] A Letter For My Younger Self

This is a response post for EF#8 Weekly Challenge – Write a letter to younger you, where you have to say something to yourself 10 years ago.

Hi, young man.

You don’t know me. but trust me I know you so well. At this time, you’ll enjoy playing PlayStation and studying around. Don’t worry, that’s fine. You will be great person and get admiration for your achievement. One little advice, don’t forget about your family and friends. Even though it looks like you are the one who struggles a lot, their support is irreplaceable. Be thankful by supporting them back, saying gratitude, and giving special attention for people who worked hard¬†for you.

When you face challenge or anything unpleasant, just remember this short advice:

Try harder.

It’s better to be worn out. The pain will lost in time. However regrets won’t leave your mind easily. You better don’t have little regrets disturbing you for not having matters done¬†right.

I don’t have secret intentions on giving this advice. I just hope you could learn something very important in your life earlier.

Yours, always.

You