Jalan-jalan Sore di Masjid Raya Al-Azhom

Minggu sore dan tidak ada yang dilakukan. Kipas angin di kamar menderu sambil mendatangkan sedikit kesejukan. Di luar, matahari menyengat sementara udara lembab. Keringat membuat badan lengket. Karena nggak tahan, saya pun memutuskan keluar. Meskipun tetap berkeringat, penat bisa hilang sambil jalan-jalan.

Saya belum tahu banyak soal Tangerang tapi tidak tertarik eksplorasi. Alasannya ada beberapa:

  1. Panas dan udara kurang menyenangkan
  2. Lalu lintas bikin kesal (meski tak segila Jakarta)
  3. Wisata yang tersedia didominasi nuansa kapitalis seperti mall, water boom, dan sejenisnya. Saya tak suka wisata begitu karena menghabiskan uang hanya untuk hiburan buatan.
  4. Tidak ada makanan khas yang menarik (saya sudah coba laksa Tangerang dan kurang cocok)

Lalu saya ingat ada dua objek yang ingin saya lihat dari dekat di Tangerang: Pintu Air Sepuluh dan Masjid Raya Al-Azhom. Lalu saya melakukan sedikit riset di Google Maps. Di Taman Pintu Air, saya bisa mendapatkan pemandangan Sungai Cisadene yang bagus. Kebetulan tempat itu dekat dengan Masjid Al-Azhom. Saya putuskan berangkat, nanti sekalian sholat ashar di sana.

Ternyata arus lalu lintas yang ditunjukkan Google Maps agak beda dengan kondisi riil. Ini agak tricky, tapi saya berhasil lewat di jalur yang benar. Sayangnya entah mata saya kurang awas atau gimana, Taman Pintu Air gagal saya temukan. Saya lihat daerah rimbun di tepian sungai Cisadene dan banyak angkot ngetem, tapi tak lihat tulisan Taman Pintu Air. Saya malah lihat Taman Pramuka. Karena malas kembali, saya lanjutkan ke Masjid Al Azhom.

Masjid Al-Azhom ini memang tampak megah seperti nampak di foto. Hanya saja halamannya lebih sempit dari yang saya bayangkan. Letaknya berada di pusat pemerintahan Kota Tangerang. Pastinya ramai pada jam kerja, namun Minggu sore ini kebanyakan yang datang adalah keluarga atau pasangan yang mampir sholat dan berfoto ria.

Masjid Al Azhom-outside 1

Terasa megahnya apabila dipotret dari depan begini. Foto dari luar ini diambil lebih sore daripada foto di bagian dalam masjid. Dengan demikian nuansa masjid di kala senja lebih tampak.

 

Masjid Al Azhom-outside

Masjid Raya Tangerang di kala senja

Masjid Al Azhom-outside 2

Pintu masuk utama Masjid Al Azhom

Masjid Al Azhom ini diklaim memiliki kubah masjid terbesar di Asia Tenggara. Benar atau tidak, saya kurang tahu. Cuma, saya bisa bilang kalau kubahnya memang besar. Makin terasa kalau dilihat dari dalam sambil mendongak.

DCIM100MEDIA

Empat kubah kecil di tepi, satu kubah besar di tengah. Seluruhnya berhiaskan kaligrafi keemasan yang mengkilat.

Saya tiba sekitar setengah jam setelah adzan ashar. Sudah ketinggalan jamaah pertama. Tapi gelombang kecil sholat jamaah tak pernah habis di masjid jami seperti ini. Saya tunaikan dulu kewajiban, baru menuntaskan foto-foto. Karena pencahayaan yang menarik, saya bereksperimen foto diri sendiri di salah satu sudut masjid.

DCIM100MEDIA

Jajaran shaf terdepan yang dihiasi tiga jam bandul dan kaligrafi Allah & Muhammad. Tentunya foto ini diambil setelah saya beres sholat 🙂

DCIM100MEDIA

Leyeh-leyeh sore hari di lantai yang dingin sungguh nikmat

DCIM100MEDIA

Sisi masjid dengan pencahayaan yang menarik

 

DCIM100MEDIA

Foto eksperimen. Saya suka pencahayaannya.

Masjid Al Azhom-inside 1

Semakin sore, semakin sepi.

Puas berfoto, saya berkeliling sedikit di pusat pemerintahan. Biasanya di kota/kabupaten dari Serang sampai Banyuwangi tipikalnya sama di pusat kota: pusat pemerintahan, masjid jami, alun-alun. Saya jadi bertanya, apakah di pusat pemerintahan Tangerang ini ada alun-alun? Sebab saya tidak lihat ada hamparan rumput atau taman hijau luas di sekitarnya. Saya cuma lihat area berbentuk persegi dipaving merah dengan ornamen. Terlalu kecil untuk disebut alun-alun sih 😛

Syukurlah bosan saya terusir dengan jalan-jalan ini. Semoga bosan pembaca juga hilang dengan baca postingan dan lihat foto-foto ini.

Bendungan Sawoo: Permata Tersembunyi Ponorogo

Dalam kesempatan tahun baru kemarin saya pulang ke Ponorogo kampung halaman tersayang. Pokoknya bisa pulang itu saja sudah senang. Lebih senang lagi kalau saya diajak bepergian.

Ke mana? ke bendungan.

Seingat saya sih di sini tidak ada bendungan di Ponorogo.

“Karena memang lagi dibikin,” kata pacar saya yang mengajak. Bersama dengan orangtuanya. Jadilah, tanpa banyak mikir saya langsung berangkat. Bisa melihat keindahan alami sebelum ramai orang itu menyenangkan rasanya. Pukul 7 pagi matahari sudah naik di Ponorogo. Saya bawa kamera saku yang batereinya tinggal sedikit.


Bendungan ini berada di kecamatan Sawoo. Sebelah timur dari pusat kabupaten (mau bilang pusat kota tapi kotanya cuma segitu hehehe). Bahkan Mbah Google juga belum tahu tempat ini (lihat peta di atas). Orangtua pacar saya memang penjelajah sejati. Beliau menyusuri jalanan Ponorogo untuk mencari tempat menyenangkan yang masih sepi. Bendungan yang akan dikunjungi ini pun tidak terlalu jauh dari pusat kota. Jalanannya baru saja diaspal. Hitam pekat dan terasa halus dilalui mobil.

Bendungan ini berada di antara bukit yang menjulang indah dari kejauhan. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan sawah yang menghijau. Padi baru ditanam beberapa minggu. Mata terasa segar melihat dataran subur dengan latar belakang perbukitan. Sayangnya kita malah asyik ngobrol jadi saya lupa mengambil foto selama perjalanan.

Karena tempat ini baru dibangun, tidak ada papan petunjuk arah. Bahkan jalan yang kami lalui belum ada lampu jalan ataupun marka. Belum banyak yang mengetahui tempat ini memang. Sisa-sisa tebing yang dikeruk dan tanah di tepi jalan jelas menandakan tempat ini belum lama jadi.

Beberapa kendaraan bermotor telah terparkir di tepi jalan ketika kami sampai di bendungan. Ternyata sudah lumayan ramai tempat ini. Setelah saya lihat lagi, jalan berspal ini buntu di ujung. Yang tampak adalah hamparan perbukitan dengan sungai berdebit kecil di lembahnya. Dari ujung jalan ini kita hanya bisa melihat satu sisi dari bendungan karena tidak ada jalan untuk mengitari sisi lembah. Dengan keterbatasan itu pun, pemandangan ini masih elok dipandang.

Bendungan-2

Lereng yang baru dikeruk dan jalan yang baru diaspal

Bendungan-1

Lembah yang rencananya akan dijadikan bendungan. Kemungkinan besar dusun yang tampak di bawah pun bakal segera dibedoldesakan.

Baca lebih lanjut

Matahari Terbenam di Candi Ijo Yogyakarta

Candi Ijo-6

Di lereng bukit kapur nan hijau, di antara kerasnya bebatuan, berdiri oase peribadatan megah. Orang-orang berkumpul dan menjalankan ritual menghadap matahari terbenam. Bangunan menjulang, arca terpasang, sesajian diletakkan. Khidmat dalam sore yang agung.

Kira-kira begitulah masa kejayaan Candi Ijo berabad silam.

Zaman menggerus Candi Ijo sehingga ia takkan pernah sama. Namun setidaknya, kita-kita saat ini masih bisa menikmati matahari terbenam di tempatnya berdiri. Kali ini saya akan ceritakan pengalaman mencari matahari terbenam di Candi Ijo.

Lokasi

Candi Ijo terletak di Dusun Nglengkong, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Biar lebih gampang tahu, candi ini lokasinya tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan. Kalau dari arah Yogyakarta, terus saja menuju arah Candi Prambanan lewat jalan utama. Ketika mencapai lampu lalu lintas sebelum perbatasan Yogyakarta-Klaten, berbeloklah ke kanan. Bisa juga mencari papan penunjuk jalan yang ke arah Piyungan. Setelah itu lewat jalur Piyungan.

Di jalur Piyungan ini banyak papan penunjuk jalan yang menawarkan wisata candi lain. Contohnya adalah Candi Ratu Boko dan Candi Barong. Namun saya sengaja berangkat sore untuk mencari matahari terbenam di Candi Ijo. Mungkin candi lainnya tak sempat dikunjungi, begitu pikir saya di awal. Ternyata dugaan saya tepat. Jadi kalau mau mengunjungi serangkaian candi yang ada di daerah ini silakan sediakan waktu dari pagi atau siang.

Di Piyungan bakal ada papan penunjuk yang mengarah ke Candi Ijo. Kalau tidak nampak, bisa dicari papan penunjuk ke arah MDS Boarding School. Itu arahnya sama dan saya diberi tahu informasi itu oleh warga sekitar. Sisanya tinggal ikuti jalan. Ciri-ciri jalan yang benar ke Candi Ijo adalah jalur yang semakin menanjak.

Ulangi. Jalan yang makin menanjak sekaligus makin jelek.

Candi Ijo berada di lokasi yang kaya akan batu kapur dan sejenisnya. Setiap hari truk bermuatan barang tambang ini naik-turun, meninggalkan jalan bergelombang dan berlubang. Waktu saya ke sini (awal Oktober 2015), jalanannya sangat parah. Lubang jalan nggak pernah absen. Sudah begitu jalannya mulai berbelok dan makin menanjak. Saran saya perlu hati-hati terutama yang bermobil. Setelah melalui medan, akhirnya nampak kompleks Candi Ijo di kiri jalan.

Saya pergi naik motor dari Yogyakarta dekat UGM. Ditambah macet dan lain-lain, waktu tempuhnya sekitar 40 menit. Rute lebih detail bisa dilihat pada Google Map berikut.

Candi dan Matahari Terbenam

Ternyata mencari matahari terbenam di Candi Ijo sudah menjadi kegiatan mainstream. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung ketika saya sampai. Tapi tak apa-apa. Misi tetap dilanjutkan.

Untuk masuk ke Candi Ijo tidak dikenakan biaya. Pengunjung cukup mengisi buku tamu dan dipersilakan masuk. Di dalam komplek Candi Ijo sendiri ada balai situs untuk berbagai keperluan. Di sampingnya lah baru nampak candi yang sebenarnya. Baca lebih lanjut

Pendakian Semeru 2015 [Part 2: Misi]

Melanjutkan edisi Pendakian Gunung Semeru, kali ini saya menceritakan alasan di balik layar mengapa saya naik Gunung Semeru. Alasan utama ini yang mendorong saya mau bersusah payah cari perlengkapan, akomodasi, sampai berpeluh lelah menaklukkan medan.

Jadi, saya mau naik gunung karena diajak pacar. Panggil saja Nyonya. Ah, lelaki memang sederhana. Tapi permintaan naik Gunung Semeru itu bukan sepele. Banyak yang mesti dipertimbangkan dari biaya, keamanan dan keselamatan, serta bagaimana nasib TA saya (waktu itu lagi kejar tayang Bab 4). Karena tidak punya ketertarikan absolut untuk mencapai puncak, kita berdua mendefinisikan sendiri misi yang harus dicapai di Gunung Semeru: foto pre-pre-wedding. Pre ditulis dua kali, mabok Betadine mas? Memang sengaja, karena ini foto-foto yang ditujukan pas nikahan tapi dengan usaha sendiri sebelum pakai jasa fotografer pro :).

Kita sadar kalau alat dan skill terbatas. Kamera cuma ada kamera pocket sama handphone. Ini prinsip dasar fotografi: kalau ingin memperoleh foto yang bagus, ambil foto yang banyak. Pasti ada minimal satu yang bagus di antaranya. Bahkan fotografer profesional pun demikian. Saya lihat teman saya yang jadi fotografer berulang kali menjepret objek. Bisa 10-15x. Artinya satu dari 10 foto yang dihasilkan memenuhi kriteria memuaskan. Itu sekitar 10%. Karena kita lebih cupu, persentasenya jadi lebih kecil. Mungkin sekitar 1-2%. Jadi harus ambil foto dalam jumlah lebih banyak.

Kegiatan ini pernah kita lakukan di Nglambor dan tempat lain. Lalu kita berencana melakukannya di semua tempat yang bakal dikunjungi bareng 🙂

Karena agak malu-malu buat nunjukin, jadi sebagian saja yaa yang ditaruh di blog ini. Semoga jadi inspirasi tempat pre-wedding.

prewed-1

Syukur kepada Tuhan yang menyebarkan twilight indah di muka bumi.

prewed-2

Di suatu tempat di tepi Ranu Kumbolo

prewed-3

Pasangan bolang (bocah ilang-ilangan)

Ngomong-ngomong, setelah pendakian ini Nyonya langsung menembak target pendakian berikutnya. Aduh, abang lelah dek. Tunggu saja. Segera. Target yang lainnya juga 😉

Pendakian Semeru 2015 [Part 1: Ikhtisar]

Ini kisah dimana seorang pendaki amatir (baca: saya) dengan pengalaman minimum mencoba mengarungi puncak tertinggi Pulau Jawa. Ditemani 7 orang kawan baru yang handal lagi menyenangkan, pengalaman mendaki Semeru menjadi memori manis yang sulit dilupakan.

Foto pemandangan gunung semeru

Siap menaklukkan gunung Semeru?

Postingan soal mendaki Semeru ini terbagi menjadi beberapa part. Yang pertama ini ringkasan perjalanan. Berguna buat para pembaca yang mencari referensi pendakian Semeru tahun 2015. Mengapa dicantumkan tahun? Sebab Gunung Semeru sendiri mengalami perubahan. Rute lama diganti rute baru. Ada pula kebijakan baru menurut relawan. Pendakian saya dan kawan-kawan berlangsung pada tanggal 5-7 Agustus 2015. Jadi harap maklum apabila di masa mendatang ada informasi minor yang berbeda dengan deskripsi saya.

Pada part yang lain bakal saya ceritakan kisah pendakian dari sudut pandang personal.

Anda ingin menaklukkan Semeru? Baca dulu hingga tuntas. Di sini saya sediakan informasi penting.

  1. Informasi terkait kondisi Semeru
  2. Persiapan pokok untuk pendakian
  3. Jalur pendakian yang aktif tahun ini
  4. Estimasi biaya.

Baca lebih lanjut

Pantai Nglambor untuk Snorkeling

Pantai Nglambor: Sensasi Snorkeling di Yogyakarta

Di kampus saya sekarang sudah masa liburan. Sayangnya bagi mahasiswa yang mengerjakan skripsi libur itu terasa sulit dilakukan. Sebenarnya nggak sibuk-sibuk amat, tapi harus ketemu dosen hari ini, lusa ke tempat studi kasus, dan kegiatan lainnya itu menyita waktu. Akhirnya dengan ketetapan hati saya pilih libur (memang ngarep libur, maafkan saya ya Bapak Dosen).

Sebelum pulang, saya sempatkan dulu ke Yogyakarta untuk mengunjungi adik tingkat yang mau ikutan lomba. Sekalian mengunjungi doi setelah sekitar 2 bulan. Niatnya sih santai-santai di Jogja, kemudian si doi mengajak, “Snorkeling yuk.”

“Di mana?”

“Pantai Nglambor. Gunungkidul.”

Terus si doi cerita kalau waktu snorkeling terbatas. Paling cuma bisa pas sore. Jadi pulangnya malam. Saya nggak suka kalau pulangnya malam banget. Tapi demi quality time yang amat berharga, saya mengiyakan.

Dalam hati masih sedikit kepikiran, “Renang aja susah payah. Piye mau snorkeling?”

Ke Gunungkidul

Pantai Nglambor termasuk dalam jajaran pantai di Gunungkidul, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jaraknya sekitar 74 km (lihat di Google Map bawah) dari kota Yogyakarta. Jalannya bagus dari awal hingga akhir. Anda mau ke sana naik motor, mobil, maupun bus tak jadi masalah. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih 2,5 jam (jangan percaya estimasi Mbah Google, soalnya jalannya berkelok naik turun).

Petunjuk yang paling gampang adalah ikuti jalur ke arah Wonosari. Ikuti saja jalan lurus niscaya tidak akan tersesat, literally. Sesampainya di Wonosari, ikuti petunjuk jalan ke arah Baron (Pantai Baron). Mulai dari sini perhatikan penunjuk jalan secara seksama. Akan ada banyak pantai yang bisa dituju dengan jalur bercabang. Cari jalur ke Pantai Siung. Kalau teliti lihat jalan, tidak sulit kok.

Setelah masuk komplek Pantai Siung, Anda bakal bertemu pos penjagaan. Di sini bayar tiket masuk untuk setiap orang dan kendaraan yang dibawa. Baca lebih lanjut

Wana Wisata Grape: Vakansi Kilat Daerah Madiun dan Ponorogo

Setiap warga kota biasanya punya destinasi favorit sebagai tempat untuk melepaskan diri dari hiruk-pikuk rutinitas. Tujuan kesukaan adalah daerah dataran tinggi yang sejuk. Orang Bandung pergi ke Lembang. Orang Jakarta pergi ke Puncak (merambah ke Bogor dan Bandung pula). Orang Jogja pergi ke Kaliurang. Orang Solo pergi ke Tawangmangu. Orang Malang pergi ke Batu. Apa lagi?

Orang Ponorogo dan Madiun biasanya pergi ke Telaga Ngebel atau Telaga Sarangan. Saya yang aslinya Ponorogo pun sudah berkali-kali menyinggahi kedua tempat tersebut sejak kecil. Pikir saya sudah tidak ada tempat dekat yang berhawa sejuk di sekitar Ponorogo. Ternyata saya salah. Masih ada tempat yang demikian. Namanya Grape (baca: gra-pe, bukan grape yang berarti buah anggur, hehehe).

Peta Google di atas menunjukkan jalur menuju Grape dengan patokan Alun-alun Ponorogo. Silakan edit tujuan awal sendiri sesuai kebutuhan. Perlu diketahui bahwa dari kota Ponorogo maupun Madiun tidak ada tanda jalan yang langsung menunjuk Grape. Kalau dari Madiun cari tanda jalan ke Dungus, atau langsung Baca lebih lanjut

Belajar dari Alun-Alun Bandung, Wisata Lokal Idaman

Prolog

Menurut saya ada 4 kriteria tempat wisata lokal yang baik.

  1. Memberikan hiburan bagi masyarakat secara umum
  2. Menyediakan fasilitas dasar memadai (parkir, toilet, tempat sampah, dll)
  3. Terjangkau bagi semua kalangan
  4. Menjamin keamanan dan kenyamanan wisatawan

Karena bicara soal wisata lokal, ya konteksnya berangkat dari yang paling dasar, yaitu sarana rekreasi bagi orang-orang di sekitar tempat wisata. Terus, lingkupnya adalah kebutuhan masyarakat umum. Saya tidak bahas orang-orang dengan jiwa petualang berlebih karena ada satu kebutuhan lain: menjelajah hal baru. Biarpun cuma hal dasar, saya pikir empat syarat tersebut mutlak agar suatu tempat wisata bisa berkembang. Kalau pariwisata di Indonesia mau dimajukan, tempat wisata juga harus nyaman kan?

Ada satu tempat wisata di Bandung yang ingin saya ulas karena memenuhi kriteria di atas. Itulah Alun-Alun Bandung dan Masjid Raya Bandung.

Masjid Raya bandung Propinsi Jawa Barat

Masjid Raya Kota Bandung

Kalau cuma alun-alun dan masjid raya sih, sebagian besar kabupaten juga punya kan? Nyatanya hampir setiap hari tempat itu selalu ramai pengunjung. Baik dari Bandung maupun luar Bandung. Lantas apa istimewanya tempat wisata itu? Untuk menjawabnya, Baca lebih lanjut

Galeri

Pemandangan dari Gunung Api Purba Yogyakarta

Kali ini saya bakal bercerita soal Gunung Api Purba Nglanggeran. Ini adalah satu contoh objek wisata yang cukup oke untuk jadi alternatif wisata alam di Yogyakarta. Letaknya ada di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya mudah dicapai dengan motor maupun mobil. Direkomendasikan memakai kendaraan pribadi atau sewaan sebab tidak ada kendaraan umum.

Jalurnya mengikuti arah ke Kabupaten Gunung Kidul. Kemudian akan muncul petunjuk jalan ke arah Gunung Api Purba. Petunjuknya jelas, asalkan Anda tetap memperhatikan tanda di jalan. Peta jalannya juga bisa dilihat via Google Maps di bawah (asumsi titik start dari Universitas Gajah Mada) 🙂

Harganya tergolong sangat murah. Anda cukup bayar tiket parkir Rp 7000 plus tarif parkir.

Gunung Api Purba ini sekilas nampak seperti bongkahan batu vulkanik raksasa yang muncuat di permukaan. Kalau diperhatikan seksama, daerah sekitar tempat wisata pun dipenuhi bebatuan serupa. Saya bisa membayangkan gunung api purba yang dimaksud itu sebenarnya jauh lebih besar daripada yang tampak saat ini. Sayangnya, karena tidak punya kamera yang memadai untuk memotret kenampakan gunung api dari dekat, saya baru mengambil gambar setelah sudah naik.

Pemandangan di sini menyenangkan. Anda akan menaiki tangga, menyusuri celah batu, hingga bertaut dengan akar pohon agar bisa naik. Ada banyak pilihan daerah yang bisa dipanjat. Kalau sekedar menikmati pemandangan, naik selama 15 menit pun sudah cukup. Kalau menginginkan tantangan lebih, ada banyak jalur yang bisa ditelusuri. Jangan takut tersesat karena banyak papan petunjuk. Btw, papan petunjuk di sini kocak. Mulai dari “semangat”, “Anda luar biasa”, sampai “kawasan keep smile“.

Galeri

Menilik Imlek di Pasar Gede Solo

Ketika Imlek, saya sempat berkunjung sebentar ke Solo. Sayang sekali tidak sempat menikmati malam Tahun Baru Imlek yang katanya penuh dengan lampion dan perayaan suka cita. Sebagai gantinya saya pergi ke Pasar Gede keesokan harinya untuk mengamati keindahan yang tersisa. Yah, nampaknya saya kurang beruntung. Semoga masih ada kesempatan untuk dapat melihat Pasar Gede yang gemerlap dan penuh sesak.

Kota ini memang unik dengan keanekaragamannya. Ragam masyarakat Jawa, Arab, dan Tionghoa membentuk kota Solo yang menyatu.

Selain melihat-lihat hiasan Imlek, saya juga menyempatkan menikmati dawet di Pasar Gede yang legendaris itu. Lumayan sekali buat menyegarkan dahaga. Apalagi matahari pas terik-teriknya.

Tidak banyak lagi yang bisa dilihat. Saya tidak dapat momennya. Tapi semoga pembaca bisa menikmati hasil jepretan yang terbatas ini 🙂

Terakhir, empunya blog juga pengen ikutan mejeng sekali-sekali hehehe.

admin blog ini gaul banget

Empunya blog berfoto di depan lampu sakura

Berburu Puzzle Kayu di Yogyakarta

Puzzle? memangnya dunia ini kurang membuat pusing sampai harus memainkannya? Well, sebagai penyuka puzzle saya pun tak bisa menyangkal pernyataan itu. Saya menyukai tantangan, dan puzzle menyediakan tantangan. Jadi hobi deh. Sampai dimasukkan dalam blog ini juga. Sesederhana itu alasan saya. Tapi ada bedanya juga. Tantangan yang ada dalam puzzle itu dibuat sedemikian rupa sehingga menarik dan membuat penasaran. Jadi memainkannya pun senang (kadang tambah frustrasi).

Karena sudah hobi, otomatis saya pun mengoleksi puzzle. Golongan puzzle utama dalam koleksi saya ada dua: twisty puzzle (keluarga kubus rubik) dan puzzle kayu. Khusus puzzle kayu, saya ada jujugan khusus: Yogyakarta.

Kalau melakukan pencarian lewat Google kadang saya sering sebal karena kata kunci “puzzle kayu” sering dicampuraduk dengan “mainan kayu” yang ditujukan untuk anak-anak. Ada perbedaan definisi puzzle kayu dan mainan kayu. Dalam bahasa Inggris, “wooden puzzle” sudah memberikan hasil yang pas dan berbeda dengan “wooden toys“. Ini contohnya:

Ini puzzle kayu atau wooden puzzle (Sumber: www.brilliantpuzzles.com)

Ini mainan kayu atau wooden toys (Sumber: www.kidsbabydesign.com)

Belum lama ini saya ke Yogyakarta dan berkesempatan untuk belanja sedikit. Otomatis langsung nggak nahan buat beli puzzle. Bahkan urgensinya lebih besar daripada beli baju atau oleh-oleh. Anyway, tempat yang saya tuju adalah Malioboro. Di daerah itu ada tiga target penjual puzzle kayu:

1. Pedagang kaki lima di sepanjang jalan Malioboro

Ini paling gampang ditemui. Banyak pedagang kaki lima menjual puzzle kayu di sepanjang jalan Malioboro. Di sisi lain ada kekurangannya juga. Pertama, harga awal yang ditawarkan pasti tinggi. Tawar sampai setawar-tawarnya. Harga standar untuk puzzle kayu di daerah ini adalah Rp 10.000 sampai Rp 20.000 tergantung kerumitannya. Selanjutnya, pilihan puzzle di sini terbatas. Umumnya hanya jenis paling pasaran saja yang banyak tersedia. Satu lagi, kualitas puzzle yang disediakan beragam. Kadang bagus, kadang tidak presisi (catatan: presisi itu faktor yang sangat mempengaruhi enak tidaknya puzzle kayu dimainkan). Anda harus pandai memilih.

2. Toko Suvenir Trion’s

Banyak toko souvenir di Yogyakarta. Saya menyebut toko Trion’s ini karena mereka menyediakan bagian khusus untuk puzzle! Betapa senangnya diri saya hehehe. Lokasinya di seberang Hotel Mutiara.Tampilannya khas karena benar-benar spesifik menyediakan souvenir berbahan dasar kayu, logam, atau tanah liat.

Harganya cukup terjangkau, kisarannya antara Rp 10.000 hingga 30.000 tergantung tingkat kerumitan puzzle.

3. Mirota Batik

Mungkin ini yang paling terpercaya dan terkenal di kalangan pelancong. Mirota batik memang berisi berbagai benda. Mulai barang bagus, benda antik, sampai menyan. Puzzle kayu pun tentunya ada. Di sini ada harga ada rupa. Tergolong cukup mahal, namun kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Anda nggak bakal menyesal beli sedikit lebih mahal di sini.

Sebenarnya panyak perajin handicraft tersebar di penjuru Yogyakarta. Sayangnya saya belum banyak mengeksplor kemungkinan itu. Lokasinya cukup jauh. Para pembaca yang mengetahui lokasi perajin tersebut boleh berbagi info tentunya 🙂

Ini hasil berburu saya. Beli empat. Totalnya mahal, tapi puas.

Kutipan

From Depth To The Surface

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Depth.”

Talking about depth, I’ll take its literal meaning. The photos were taken from my experience during travel in Sangiran Early Man Site near Solo, Central Java, Indonesia. This site is special. Many fossils from Pleistocene era were found. The most important discovery was fossil of Homo Erectus.

Kondisi sekitar Sangiran

The unique roof of Museum Sangiran can be seen far beyond. Meanwhile, my sister and I are walking around the mound.

It is said that the layer containing fossils were lifted up by geological process. The result is abundant remains of ancient creatures. Mostly shells and bones. I wandered away from the museum and went to nearby settlements. Then I found out a mound where villagers usually find interesting fossils.

Bukit fosil sangiran di antara sawah

The mound among rice fields

Fosil kerang di lapisan tanah sangiran

This is what you’ll see upon closer to the mound. All the soil contains ancient shells.

Fosil kerang di lapisan tanah sangiran

Imagine that this very land was in ocean bed.

Too bad I didn’t find some fossil. Well, can’t hope too much. Archaeological excavation needs months, or even years, to find valuable fossils of Homo Erectus and animals in surrounding area. Still, this is fascinating story about depth. Just imagine the ocean bed had risen up within million years. Leaving history to us in the surface world.