Sering Menatap Layar Gawai? Mendongaklah

I care about my posture. Saya peduli dengan tampilan postur pribadi. Walaupun pendek, yang penting tegap. Ini bukan soal pengen kelihatan gagah atau keren. Ini soal fungsionalitas. Kalau postur bagus, badan bisa digerakkan dengan bebas tanpa merasa atau pegal. Saya nggak suka kalau badan berat atau pegal ketika beraktivitas.

Sayangnya semua berubah ketika negara api menyerang saya mulai bekerja. Kebanyakan aktivitas ya nongkrong di depan laptop. Balas email, buat dokumen, siapkan presentasi. Kalau istirahat siang atau di rumah tetap saja nggak bisa lepas dari smartphone atau tablet. Akibatnya saya merasa nggak segesit pas masa dulu. Satu penyebab yang besar: keseringan melihat layar gawai.

Apakah pembaca merasa keseringan lihat gawai juga? Kalau iya, boleh lah kita perhatikan bersama.

Kalau lagi fokus banget lihatin gawai, otomatis kepala didekatkan ke layar kan? Nah, ketika itu sebenarnya tulang belakang menerima beban berat karena di-stretch ke posisi yang tidak alami. Sedikit-sedikit nggak sadar, tapi kalau berjalan setiap hari efeknya bisa buruk. Untuk mengujinya, cobalah mendongak ke atas. Tahan dagu dengan tangan sampai dagu dan leher hampir vertikal. Kalau kelamaan di depan laptop atau smartphone, biasanya leher terasa kaku dan sakit. Itu karena leher mulai kaku setelah kebanyakan condong ke depan kemudian diarahkan sebaliknya.

Ini adalah reminder ringan buat saya, dan mungkin bisa berguna buat pembaca. Ingatlah buat mendongak sedikit kalau merasa keseringan melihat gawai. Lebih bagus lagi kalau ditindaklanjuti olahraga ringan dan sikap duduk yang betul 🙂

Iklan

Hari Pertama Kerja

Ini postingan singkat yang yang saya bikin menjelang akhir hari.

Ini adalah hari pertama kerja saya di perusahaan teknologi di Karawaci, Tangerang. Ketika saya melepas sepatu pantofel selepas kerja, rasanya macam-macam. Excited karena banyak tantangan menanti. Bingung karena habis direcoki banyak hal yang perlu diingat. Si bos bilang, “Pelan-pelan aja”.

Kipas angin menyala. Saya masih belum terbiasa hawa Tangerang yang seperti sauna raksasa ini. Empat tahun di Bandung terlalu nyaman bagi badan. Sambil berbaring saya berpikir, dunia di depan sudah berbeda, seperti apa ya jadinya?

Teman baru, penghasilan baru, kosan baru, kesempatan baru, risiko baru, tantangan baru. Semuanya menanti di perjalanan. Pasti. Tapi biarlah saya menikmati masa-masa senggang sebelum tak punya waktu lagi. Mau tidur yang enak dulu.

Tips wawancara kerja

Tips Menjawab Pertanyaan Teka-teki Saat Interview

Saya kurang tahu apakah metode rekrutmen seperti ini sudah digunakan di Indonesia. Di perusahaan multinasional, terutama yang berbasis teknologi macam Google dan Microsoft, sudah menerapkannya sejak lama. Jadi ketika diwawancara/interview untuk seleksi masuk perusahaan, sang calon pegawai kadang-kadang diberi pertanyaan yang nyeleneh dan unik. Mirip seperti teka-teki. Ini contohnya:

  1. Berapa jumlah penduduk Indonesia yang bergolongan darah O?
  2. Seandainya Anda punya usaha penyewaan helikopter untuk daerah Jakarta dan sekitarnya, berapa tarif per jam yang Anda kenakan pada konsumen?

Ujian Terselubung

Kalau mendengar pertanyaan seperti itu, tak perlu heran. Tetap saja bersikap tenang. Menurut biginterview.com, pertanyaan teka-teki memiliki maksud untuk menguji kemampuan kandidat Baca lebih lanjut