Pancasila: Utopia yang Masih Dicari

Mulai tahun 2017, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa 1 Juni sebagai libur nasional Hari Lahir Pancasila. Keputusan tersebut jelas populer di mata masyarakat (siapa sih yang nggak mau tanggal merahnya tambah?). Niatnya pemerintah baik, mengembalikan kesadaran masyarakat atas nilai Pancasila. Di sisi lain, saya rasa kita perlu telaah lagi makna Pancasila di masyarakat masa kini. Apakah Pancasila, yang bertengger di dinding tiap kelas dan instansi pemerintahan, merupakan dasar yang kita inginkan dan amalkan?

Sekarang begini, kita selalu memahami Pancasila sebagai ideologi bangsa. Simbol dari nilai-nilai pokok yang dipegang bangsa Indonesia. Identitas bangsa. Begitu seterusnya seperti kata buku pelajaran Kewarganegaraan. Lima sila sakti.

Masalahnya, apakah kita semua memahami Pancasila dalam sudut pandang yang sama? Pancasila terlalu umum dan abstrak sehingga setiap orang punya penafsiran sendiri. Hal itu lantas menimbulkan kerancuan. Tidak mungkin bergerak maju sebagai bangsa kalau nilai dasarnya masih rancu. Kita ingin sesuatu yang lebih konkret, dihasilkan dari nilai Pancasila. Nah, sekarang siapa yang berhak menafsirkan Pancasila itu sendiri?

Dalam pidatonya di peringatan Hari Lahir Pancasila, Joko Widodo membentuk UKP-PIP (Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila) berdasarkan Perpres No 54 Tahun 2017. Tugasnya adalah menyusun garis-garis besar haluan ideologi Pancasila dan road map pembinaan ideologi Pancasila. Sebuah usaha untuk menafsirkan Pancasila. Menurut saya, ini inisiatif baik dari pemerintah. Dengan catatan tidak mengulangi kesalahan pemerintah yang telah lalu.

Pada masa Orde Baru, dikenal P4 dan P7 yang juga merupakan usaha penafsiran Pancasila oleh pemerintah masa itu. Letak kesalahannya adalah Pancasila menjadi alat pemerintah untuk membentuk rezim otoriter. Siapapun yang menentang pemerintah artinya menentang Pancasila alias ancaman negara yang harus disingkirkan. Pancasila juga dijadikan pembenaran atas pembantaian PKI, sejarah kelam bangsa ini.

Pada masa Orde Lama, Soekarno pun memelintir sila keempat, mengumumkan perubahan konstitusi, dan mendeklarasikan diri sebagai presiden seumur hidup. Sebuah kontradiksi dimana beliau sendiri yang ikut merumuskan dan membacakan naskah Pancasila.

Pada masa reformasi, rakyat mendapatkan kebebasan politik besar sampai nilai Pancasila (yang masih berasosiasi kuat dengan Orde Baru) perlahan memudar. Kita cenderung ke arah liberal, layaknya negara berkembang yang ekonominya membaik. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah masih belum menampakkan hasil hingga saat ini.

Secara objektif, saya berpendapat bahwa Pancasila rawan penyimpangan tafsir oleh pemerintah. Jawaban ideal tentang siapa yang berhak menafsirkan Pancasila adalah orang yang ahli hukum, sejarah, dan sosial yang diakui secara nasional. Dalam Islam, hal tersebut analog dengan Al-Qur’an yang hanya boleh ditafsirkan oleh ahli bahasa Arab, hukum Islam, dan ilmu terkait serta diakui oleh umat. Apabila pemerintah saat ini mengumpulkan tokoh masyarakat dan para ahli lalu merumuskan tafsir Pancasila yang universal, maka Pancasila bisa sekali lagi menjadi nilai yang kita miliki bersama sebagai bangsa.

Saat ini, Pancasila masih sebuah utopia. Nilai luhur idaman bangsa. Identitas yang diinginkan Indonesia, bukan identitas Indonesia masa kini. Posisinya yang masih bertengger di dinding kelas dan kantor masih belum berpindah ke hati. Tapi kita masih mencari. Ya, kita perlu mencari.

Mempercayai Janji Allah

Ketika sedang makan bersama istri di sebuah restoran, saya melihat ada keluarga kecil duduk tak jauh dari meja kami. Keluarga kecil itu nampak ramai. Ada tiga anak balita, dengan selisih sekitar setahun menurut saya. Sementara orangtuanya pun masih muda. Sang ayah dan ibu masing-masing menggendong satu anak dan anak tertua bermain di sekelilling meja. Sang ayah dengan jenggot lebatnya mencoba menenangkan, sementara sang ibu yang berjilbab penuh tersenyum sambil berkata sesuatu kepada anaknya.
image

Saya tergelitik dan menoleh kepada istri, “lihat di sana. Masih muda anaknya sudah banyak ya.” Lalu istri menjawab, “Iya, loh. Tipe mereka itu biasanya anaknya banyak. Dan sama sekali nggak khawatir kenapa-kenapa,” Saya sahut, “Yang betul?” Dijawab lagi, “Aku pernah tanya kepada teman yang anaknya sudah banyak. Jawabnya, dia nggak khawatir karena rezeki tiap manusia itu sudah dijamin Allah.”

Allah telah menjamin kecukupan rezeki makhluk-Nya*. Ini sepotong jaminan yang mulai dilupakan masyarakat muslim zaman sekarang. Seorang muslim idealnya percaya dulu atas jaminan Allah, baru berusaha untuk meraihnya. Patutlah kita tanya diri sendiri, apakah kita cari rezeki karena yakin sudah dijamin Allah, atau karena kita takut hidup kekurangan?

Keluarga kecil tadi adalah contoh bagus tentang keyakinan atas rezeki Allah. Bayangkan tahun ini berapa biaya persalinan dan kebutuhan sandang pangan anak. Belum lagi biaya sekolah yang mahal. Dikali 3 pula. Secara matematis, kita akan melakukan estimasi berapa gaji minimum yang dibutuhkan. Bisa 7-8 juta angkanya. Padahal gaji riil hanya sepersekian dari estimasi kebutuhan. Memang di atas kertas tidak logis, dan itu yang mendorong sebagian besar keluarga muda untuk beranak sedikit saja. Nyatanya keluarga yang saya lihat tadi nampak berkecukupan (lagipula makan di luar pasti lebih mahal daripada masak sendiri), anak-anaknya nampak sehat dan terawat. Istri saya pun mengonfirmasi hal yang sama dari teman-temannya. Betul bahwa ini berisiko tinggi, tapi dengan percaya atas jaminan rezeki Allah diiringi usaha, keluarga yang banyak anaknya dapat hidup layak.

Jujur saya iri dengan kadar keimanan orang seperti itu. Secara pribadi, pikiran logis masih menghantui saya. Bagaimana kalau tak ada uang buat kebutuhan? Apakah pendapatan saya bisa selalu mencukupi? Tidak jarang pikiran ini menghalangi rasa percaya atas jaminan Allah. Padahal jaminan itu tertera pada kitab suci. Sungguh jempol untuk orang-orang yang percaya akan jaminan Allah.

Sekarang saatnya mulai percaya. Tak mudah untuk yakin, karena sebagai manusia kita benci ketidakpastian apalagi soal rezeki. Tapi sebagai muslim, masihkah kita beriman kalau janji Allah saja kita ragukan? Padahal Dia zat yang Maha Menepati Janji.

Semoga kita semua belajar.

*QS Hud: 6

Tebang Pilih Berita Palsu (Hoax)

Hoax alias berita palsu akhir-akhir ini menjadi senjata berbahaya. Ampuh dalam perang opini di media sosial dan jejaring komunikasi. Pihak-pihak yang berseberangan saling lempar isu untuk menjatuhkan. Sampai tak jelas siapa benar atau salah. Seperti menentukan siapa paling bersih antara dua orang yang bergulat dalam lumpur.

Sebagai manusia, kita punya pilihan untuk menerima atau menolak opini orang lain. Kita juga punya pilihan untuk mendukung pihak yang sesuai dengan diri. Masalahnya, saya lihat di Indonesia, kedua pilihan tersebut tak diiringi dengan nalar sehat. Hanya karena sejalan dengan pemahamannya, lantas orang membela pendapat suatu pihak secara membabi buta. Pihak yang lain malah dicaci. Padahal semuanya sama saja, kasih hoax. Akibatnya adalah tebang pilih hoax/berita bohong.

Hoax yang berasal dari pihaknya sendiri diabaikan. Alasannya, yang penting niatnya baik. Tidak ada sumber validnya tidak apa-apa, yang penting ada pelajaran moral yang menginspirasi. Kalau hoax datang dari pihak lain langsung terpicu. Bilang ini penghinaan, konspirasi, dan semacamnya.

Bukankah bersikap demikian itu tidak adil?

Banyak contohnya bertebaran di linimasa. Perang opini pendukung calon pemimpin daerah, komunitas flat earth lawan komunitas saintifik, pro-NKRI lawan pro-revolusi, muslim garis keras lawan liberal sarkastik, dan beragam lagi. Anda merasa jengah melihat kebodohan merajalela? Saya sih iya.

Membela seseorang bukan berarti menutup mata atas kesalahannya. Toh yang dibela adalah manusia juga. Yang lebih penting adalah sikap objektif atas sebuah peristiwa. Kita boleh saja memihak asalkan adil. Kritik saya dalam postingan ini ada pada inkonsistensi sebagian masyarakat, bukan melarang mendukung dan memihak suatu kubu.

Poin yang ingin saya tekankan, berita palsu ya palsu. Entah kita suka atau tidak. Walaupun isinya bagus, kalau beritanya palsu ya jangan disebarkan. Saya melihat contohnya banyak sekali, terutama di grup WA. Ada kisah nabi atau sahabat yang terdengar sangat indah, namun tidak dicantumkan sumbernya. Setelah dicek ulang, ternyata tidak ada dasar hadist atau kitab. Walau menginspirasi, tetap saja namanya hoax. Kalau suatu saat kebohongan besar mendatangkan bencana dan anda ikut menyebarkannya, anda punya andil dalam mempertanggungjawabkan. Saat ini atau nanti.

Menurut saya ada 2 langkah penting untuk terhindar dari hasutan hoax.
1. Verifikasi atau tabayyun atas segala pemberitaan yang dibaca.
Cara verifikasinya adalah dengan melihat sumber tulisan. Harus terang nama atau instansi. Anda patut ragu kalau ada berita berisi, “menurut penelitian”, “menurut ilmuwan”, “menurut ulama”. Bahkan kalau ada namanya pun harus beserta buku atau publikasi yang jadi rujukan. Atau sekalian konfirmasi kepada sumber tersebut. Seperti yang dilakukan tabiin untuk mengumpulkan dan menyaring hadist Rasulullah yang shahih.
2. Jangan share berita kecuali anda sudah lakukan tahap 1 dan yakin beritanya bermanfaat bagi orang lain yang membaca.
Tombol share itu memungkinkan berita jadi viral dalam hitungan jam. Jadi pastikan anda yakin berita yang ingin anda sebarkan itu benar DAN bermanfaat. Kalau benar tapi tak bermanfaat, disimpan saja dulu. Kalau bohong tapi bermanfaat, tetap saja hoax seperti yang saya jabarkan di atas.

Mulai sekarang, mari berperan aktif menghilangkan hoax. Mari bertabayyun, belajar, dan tetap objektif dalam berpihak dan menyebarkan berita. Hoax adalah senjata, maka hindari.

UKBI – TOEFL/IELTS untuk Bahasa Indonesia

Saya yakin pembaca blog ini pada tahu TOEFL dan IELTS. Keduanya adalah tes yang menunjukkan kemampuan seseorang dalam bahasa Inggris. Kalau ingin tahu lebih lanjut bisa lihat referensi atau blog Budi Waluyo di Sekolah TOEFL.

Kalau ada tes yang menunjukkan kemampuan Bahasa Inggris, adakah tes serupa untuk kemampuan Bahasa Indonesia? Ternyata ada. Namanya Uji Kemampuan Bahasa Indonesia atau UKBI. Dulu saya sering bertanya-tanya keberadaan tes ini dan kini terjawab.

Jadi apa yang diujikan di dalam UKBI? Di sini ada 5 aspek yang dinilai: membaca, struktur bahasa, mendengarkan, berbicara, dan menulis. Setiap aspek diuji dalam sesi berdurasi 50 menit. Kemudian penilaiannya dikategorikan menjadi beberapa kelompok. Mulai dari tidak mencukupi sampai istimewa. Berikut tercantum rentang hasil seluruh UKBI tahun 2011-2014.

peta_pengujian_2011

peta_pengujian_2012

peta_pengujian_2013

peta_pengujian_2014

UKBI diakui secara sah sebagai alat ukur kecakapan Bahasa Indonesia. UKBI ini dikelola oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Selengkapnya dapat dilihat pada tautan http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/ukbi/v2/index.php/sekilas-ukbi?id=103

Melihat adanya instrumen pengukuran kecakapan Bahasa Indonesia seperti ini muncul beberapa pertanyaan dari saya.
1. Siapa yang harus mengikuti UKBI?
2. Seberapa pentingkah UKBI?
3. Mengapa UKBI belum dikenal masyarakat?

Saya sekedar orang awam yang tertarik berbahasa saja. Jadi pertanyaan di atas saya jawab sebagai orang awam.
1. Menurut website UKBI di atas, UKBI diambil oleh non-Indonesia yang butuh kecakapan Bahasa Indonesia atau warga Indonesia yang perlu kecakapan keahlian Bahasa Indonesia. Tapi apakah semua non-Indonesia yang bekerja di Indonesia perlu UKBI? Saya membandingkan dengan TOEFL dan IELTS dimana mereka diminta untuk keperluan kerja atau sekolah. Hal itu “memaksa” banyak orang mengambil tes.

2. Saya pikir kalau saya WNA dan kerja di Indonesia tanpa ikut UKBI, segalanya bakal berjalan normal. Kebanyakan perusahaan atau institusi tak “memaksa” saya ambil UKBI. Jadi saya tak ambil pusing.

3. Dilihat dari dua jawaban di atas, ada kesamaan poin yaitu paksaan untuk mengikuti UKBI. Mengapa TOEFL dan IELTS terkenal? Karena itu adalah kriteria agar layak bekerja atau sekolah. Sudah begitu mahal dan sulit. Rasanya kalau punya nilai bagus di TOEFL dan IELTS itu pamor diri bertambah hehe.
Di sisi lain bagi saya keduanya berfungsi menyaring individu berkompetensi. Indonesia sangat memerlukan ini, terutama di era MEA. Pekerja asing boleh masuk asal lolos uji. Jadi nanti nggak ada masalah-masalah baru yang bakal muncul.

Jadi begitulah UKBI. Kalau saya tertarik sekedar tahu saya masuk kategori semenjana (kata ini catchy, saya suka) atau di atasnya. Anda bagaimana?