Shock Pengeluaran Ala Metropolitan

Sejak zaman kuliah, saya terbiasa menghitung pemasukan dan pengeluaran uang. Tujuannya supaya bisa mengontrol keuangan dan terbiasa sampai dapat penghasilan sendiri. Biasanya saya pakai aplikasi Financius buat mencatatnya. Soalnya dia mudah dipakai dan tampak indah aja tampilannya ๐Ÿ˜€

Sekarang saya tinggal di Jabodetabek dengan penghasilan sendiri (walau gaji pertama belum turun, sih). Ini pengalaman pertama tinggal di wilayah sebelah ibukota. Dulu sih paling mentok di Bandung pas kuliah. Ada shock yang melanda saya dalam minggu awal tinggal di Jabodetabek. Angka pengeluaran saya menembus 100.000 rupiah per hari! Grafik pengeluaranย di apps Financius pun kaya roller coaster dalam seminggu. Pas minggu pertama itu saya mencoba dengan memenuhi kebutuhan pokok, tapi ya memang segitu keluarnya.

Saya butuh alat makan biar gampang makan di kosan. Keluar sekian.

Keesokan harinya, saya butuh naik ojek/angkot karena pergi ke suatu tempat. Keluar lagi sekian.

Saya harus laundry, potong rambut, keluar lagi sekian.

Biar nutrisi harian cukup, saya perlu beli buah dan vitamin. Lagi-lagi keluar duit.

Saya perlu ke Bandung lagi (ceritanya kangen suasana Bandung bareng temen-temen). Pasti keluar biaya.

expenses-financius

Tampilan pengeluaran bulan November sampai kemarin. Di awal sampai tengah pengeluarannya menggila. Baru dari pertengahan pengeluaran bisa terkontrol.

Pokoknya setiap hari ada saja pengeluaran sampai bikin pusing. Pada minggu pertama di Jabodetabek ini saya betul-betul kepikiran gimana bisa hidup dengan sedemikian pengeluaran. Akhirnya saya me review pengeluaran. Ternyata yang saya beli memang saya butuhkan semua. Terus gimana caranya bisa menekan pengeluaran?

Dalam minggu pertama pertanyaan itu belum terjawab dan saya sedikit tertekan. Pada minggu kedua ini, pengeluaran saya lebih terkontrol. Barulah setelah dua minggu saya sadar penyebab membengkaknya pengeluaran harian.

1. Biaya Pindah Domisili

Saya harus pindah dari Bandung ke Jabodetabek plus memindahkan segala harta saya ke tempat baru atau ke rumah orang tua. Kemudian saya perlu membayar biaya kosan di tempat baru. Sudah begitu saya perlu membeli kebutuhan sehari-hari dari odol sampai perabot. Setengah pengeluaran saya bulan ini adalah untuk keperluan pindahan dan penyesuaian hidup baru.

2. Biaya Transportasi

Di minggu pertama saya ke kantor dengan ngojek atau ngangkot campur jalan kaki. Lalu saya juga bolak-balik ke Bandung buat mengurusi pindahan. Belum lagi kalau harus naik taksi karena tak punya transport. Beruntung setelah minggu kedua, motor dari Bandung sudah sampai kosan baru jadi saya bisa lebih hemat di ongkos transportasi harian. Perlu dicatat lekat-lekat sebagai tips: motor adalah investasi terbaik untuk mengurangi pengeluaran biaya transportasi. Nggak terima? Protes saja pemerintah.

3. Biaya Makan, Minum, dan Jajan

Harga makanan, minuman, dan jajan di sini jelas lebih mahal. Makanya harus pandai cari tempat makan yang enak tapi murah. Lebih oke lagi kalau bisa masak sendiri. Itu yang dikatakan keluarga dan pacar lewat telepon. “Masak aja, bikin tumis daging bla bla bla”, yang saya bikin hanyalah mie, telur rebus, rebusan sayur, dan tempe/tahu goreng. Belanja dan masak memang ribet, tapi it’s worth it. Di minggu kedua ini saya masak sekali dan makan di luar sekali jadi pengeluarannya lebih terkontrol.

Penutupnya, cek selalu pengeluaran harian supaya bisa terdeteksi kalau tiba-tiba membengkak. Saya sarankan pakai apps expense manager yang sudah banyak tersebar. Boleh juga komen kalau ada saran atau uneg-uneg soal shock karena pengeluaran ๐Ÿ˜‰

Ini sedikit sharing dari seorang Yogi yang akhirnya terjun di belantara angkatan kerja. Mohon mangap juga kalau jarang update blog. Mungkin beberapa waktu ke depan topiknya soal hiruk pikuk hidup di dunia yang totally new bagi saya.

Iklan

11 thoughts on “Shock Pengeluaran Ala Metropolitan

      • suamiku selama bertahun2 udah nyoba yg gratisan di App Store, tp YNAB ini yg pualing mantab dan sangat mengakomodir kebutuhan kami berdua. Terbukti setahun ini selalu dipakai; menyelamatkan kondisi keuangan dan pernikahan… nggak lebay tp terbukti hehehe. Aplikasi berbayar memang, tp sama sekali nggak rugi.

        Disukai oleh 1 orang

  1. Hematan bandung yaa haha.

    Selain dari harga kebutuhan pokok yang memang relatif lebih tinggi, menurut gue desire untuk hedon kalau di kota metropolitan akan lebih tinggi, dan otomatis kita bakalan lebih boros. Emang harus ekstra disiplin sih biar tetap bisa nabung.

    Btw kalau pake financius itu berarti harus catet expense tiap hari ya? gue dulu pernah coba pake app macem itu tapi mager buat catat expense harian. Bagi tips dong wkwk

    Suka

    • Betul yang paling males emang kalo ngisi pengeluaran tiap hari.
      Ada mode paling rajin tuh tiap abis keluarin duit langsung buka apps.
      Kalo aku ngrapel harian sambil mikir “hari ini duit keluar apa aja ya?”
      Kadang ngrapel sampe 3 hari. Ini jauh lebih susah ngingetnya. Pokoknya pengeluaran biar kas di akun sama dengan kas di dompet beneran wkwk.

      Tipsnya kalo mau nyoba, dibiasakan selama dua minggu buat nyatet pengeluaran harian. Nanti mulai dapet kebiasaannya. Keep it up.

      Suka

    • Strategi banyak amplop ini banyak aku liat di internet tapi belum pernah nemu keluarga atau temen yang praktekin (atau karena nggak sadar karena baru2 ini ngeh soal keuangan pribadi :P).

      Aku udah terbiasa sejak dikasih uang bulanan buat kuliah sih. Jadi macam ada laporan bulanan gitu ๐Ÿ˜€

      Suka

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s