Mempercayai Janji Allah

Ketika sedang makan bersama istri di sebuah restoran, saya melihat ada keluarga kecil duduk tak jauh dari meja kami. Keluarga kecil itu nampak ramai. Ada tiga anak balita, dengan selisih sekitar setahun menurut saya. Sementara orangtuanya pun masih muda. Sang ayah dan ibu masing-masing menggendong satu anak dan anak tertua bermain di sekelilling meja. Sang ayah dengan jenggot lebatnya mencoba menenangkan, sementara sang ibu yang berjilbab penuh tersenyum sambil berkata sesuatu kepada anaknya.
image

Saya tergelitik dan menoleh kepada istri, “lihat di sana. Masih muda anaknya sudah banyak ya.” Lalu istri menjawab, “Iya, loh. Tipe mereka itu biasanya anaknya banyak. Dan sama sekali nggak khawatir kenapa-kenapa,” Saya sahut, “Yang betul?” Dijawab lagi, “Aku pernah tanya kepada teman yang anaknya sudah banyak. Jawabnya, dia nggak khawatir karena rezeki tiap manusia itu sudah dijamin Allah.”

Allah telah menjamin kecukupan rezeki makhluk-Nya*. Ini sepotong jaminan yang mulai dilupakan masyarakat muslim zaman sekarang. Seorang muslim idealnya percaya dulu atas jaminan Allah, baru berusaha untuk meraihnya. Patutlah kita tanya diri sendiri, apakah kita cari rezeki karena yakin sudah dijamin Allah, atau karena kita takut hidup kekurangan?

Keluarga kecil tadi adalah contoh bagus tentang keyakinan atas rezeki Allah. Bayangkan tahun ini berapa biaya persalinan dan kebutuhan sandang pangan anak. Belum lagi biaya sekolah yang mahal. Dikali 3 pula. Secara matematis, kita akan melakukan estimasi berapa gaji minimum yang dibutuhkan. Bisa 7-8 juta angkanya. Padahal gaji riil hanya sepersekian dari estimasi kebutuhan. Memang di atas kertas tidak logis, dan itu yang mendorong sebagian besar keluarga muda untuk beranak sedikit saja. Nyatanya keluarga yang saya lihat tadi nampak berkecukupan (lagipula makan di luar pasti lebih mahal daripada masak sendiri), anak-anaknya nampak sehat dan terawat. Istri saya pun mengonfirmasi hal yang sama dari teman-temannya. Betul bahwa ini berisiko tinggi, tapi dengan percaya atas jaminan rezeki Allah diiringi usaha, keluarga yang banyak anaknya dapat hidup layak.

Jujur saya iri dengan kadar keimanan orang seperti itu. Secara pribadi, pikiran logis masih menghantui saya. Bagaimana kalau tak ada uang buat kebutuhan? Apakah pendapatan saya bisa selalu mencukupi? Tidak jarang pikiran ini menghalangi rasa percaya atas jaminan Allah. Padahal jaminan itu tertera pada kitab suci. Sungguh jempol untuk orang-orang yang percaya akan jaminan Allah.

Sekarang saatnya mulai percaya. Tak mudah untuk yakin, karena sebagai manusia kita benci ketidakpastian apalagi soal rezeki. Tapi sebagai muslim, masihkah kita beriman kalau janji Allah saja kita ragukan? Padahal Dia zat yang Maha Menepati Janji.

Semoga kita semua belajar.

*QS Hud: 6

Iklan

Tebang Pilih Berita Palsu (Hoax)

Hoax alias berita palsu akhir-akhir ini menjadi senjata berbahaya. Ampuh dalam perang opini di media sosial dan jejaring komunikasi. Pihak-pihak yang berseberangan saling lempar isu untuk menjatuhkan. Sampai tak jelas siapa benar atau salah. Seperti menentukan siapa paling bersih antara dua orang yang bergulat dalam lumpur.

Sebagai manusia, kita punya pilihan untuk menerima atau menolak opini orang lain. Kita juga punya pilihan untuk mendukung pihak yang sesuai dengan diri. Masalahnya, saya lihat di Indonesia, kedua pilihan tersebut tak diiringi dengan nalar sehat. Hanya karena sejalan dengan pemahamannya, lantas orang membela pendapat suatu pihak secara membabi buta. Pihak yang lain malah dicaci. Padahal semuanya sama saja, kasih hoax. Akibatnya adalah tebang pilih hoax/berita bohong.

Hoax yang berasal dari pihaknya sendiri diabaikan. Alasannya, yang penting niatnya baik. Tidak ada sumber validnya tidak apa-apa, yang penting ada pelajaran moral yang menginspirasi. Kalau hoax datang dari pihak lain langsung terpicu. Bilang ini penghinaan, konspirasi, dan semacamnya.

Bukankah bersikap demikian itu tidak adil?

Banyak contohnya bertebaran di linimasa. Perang opini pendukung calon pemimpin daerah, komunitas flat earth lawan komunitas saintifik, pro-NKRI lawan pro-revolusi, muslim garis keras lawan liberal sarkastik, dan beragam lagi. Anda merasa jengah melihat kebodohan merajalela? Saya sih iya.

Membela seseorang bukan berarti menutup mata atas kesalahannya. Toh yang dibela adalah manusia juga. Yang lebih penting adalah sikap objektif atas sebuah peristiwa. Kita boleh saja memihak asalkan adil. Kritik saya dalam postingan ini ada pada inkonsistensi sebagian masyarakat, bukan melarang mendukung dan memihak suatu kubu.

Poin yang ingin saya tekankan, berita palsu ya palsu. Entah kita suka atau tidak. Walaupun isinya bagus, kalau beritanya palsu ya jangan disebarkan. Saya melihat contohnya banyak sekali, terutama di grup WA. Ada kisah nabi atau sahabat yang terdengar sangat indah, namun tidak dicantumkan sumbernya. Setelah dicek ulang, ternyata tidak ada dasar hadist atau kitab. Walau menginspirasi, tetap saja namanya hoax. Kalau suatu saat kebohongan besar mendatangkan bencana dan anda ikut menyebarkannya, anda punya andil dalam mempertanggungjawabkan. Saat ini atau nanti.

Menurut saya ada 2 langkah penting untuk terhindar dari hasutan hoax.
1. Verifikasi atau tabayyun atas segala pemberitaan yang dibaca.
Cara verifikasinya adalah dengan melihat sumber tulisan. Harus terang nama atau instansi. Anda patut ragu kalau ada berita berisi, “menurut penelitian”, “menurut ilmuwan”, “menurut ulama”. Bahkan kalau ada namanya pun harus beserta buku atau publikasi yang jadi rujukan. Atau sekalian konfirmasi kepada sumber tersebut. Seperti yang dilakukan tabiin untuk mengumpulkan dan menyaring hadist Rasulullah yang shahih.
2. Jangan share berita kecuali anda sudah lakukan tahap 1 dan yakin beritanya bermanfaat bagi orang lain yang membaca.
Tombol share itu memungkinkan berita jadi viral dalam hitungan jam. Jadi pastikan anda yakin berita yang ingin anda sebarkan itu benar DAN bermanfaat. Kalau benar tapi tak bermanfaat, disimpan saja dulu. Kalau bohong tapi bermanfaat, tetap saja hoax seperti yang saya jabarkan di atas.

Mulai sekarang, mari berperan aktif menghilangkan hoax. Mari bertabayyun, belajar, dan tetap objektif dalam berpihak dan menyebarkan berita. Hoax adalah senjata, maka hindari.

5 Facebook Page Berhumor Cerdas

PERHATIAN! Perlu diketahui¬†kalau “berhumor cerdas” itu artinya pembaca harus mengerti konteks yang disampaikan. Perlu pikiran terbuka untuk mengapresiasinya. Sebagian bisa saja menganggap “humor cerdas” adalah hujatan yang menyerang pihak mereka. Saya tekankan supaya tidak ada salah paham ūüôā

Saya suka humor cerdas karena mengajak untuk berpikir. Bukan sekedar humor yang dipakai untuk mencela. Zaman sekarang, humor cerdas bertebaran di internet, termasuk Facebook. Ada Facebook Page yang memberikan saya dosis tawa tiap harinya. Dalam Facebook page tersebut ada materi yang mungkin sensitif karena berkaitan dengan agama dan paham politik. Tapi humor adalah humor. Jangan diambil hati, ambil hikmahnya.

Ada 5 page yang saya rekomendasikan kepada pembaca. Untuk menuju laman, klik saja judul page warna oranye di bawah ūüôā

1. Doraemon Hari Ini

doraemon-hari-ini

Nobita memohon pada Doraemon untuk dipinjami alat, ditafsirkan jadi musyrik. Mungkin kalau dilihat dari ini saja, banyak yang demo supaya Doraemon ditarik dari peredaran.

Doraemon Hari Ini adalah page dengan konten potongan komik Doraemon yang ditafsirkan dalam konteks berbeda. Hasilnya adalah gambar ngawur dengan caption yang super lucu. Ada banyak alasan untuk memilih page Doraemon Hari Ini sebagai pilihan pertama.

  1. Page buatan lokal. Konten dan komunitas semuanya khas Indonesia.
  2. Gaya Bahasa Indonesia arkaik dengan selera humor intelek.
  3. Siapa yang tak tahu Doraemon?

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Page ini mulai rilis pada 2014 dan sayangnya pensiun dalam waktu kurang dari 2 tahun. Alasannya adalah materi komik Doraemon yang terbatas. Walaupun sudah tidak update, cek album foto page tersebut dan anda akan mendapati ratusan post yang menghibur. Dijamin tak mengecewakan.

2. Shit Academics Say

shit-academics-say

Ini adalah page lawak untuk kalangan akademis. Perjuangan mengajar sambil penelitian. Bagaimana begadang sampai pagi demi memenuhi Baca lebih lanjut

Proyek Roro Jonggrang

 

Di tempat saya bekerja, ada istilah “proyek roro jonggrang”. Bagi kami, istilah itu melambangkan mimpi buruk. Proyek roro jonggrang adalah simbol¬†kemustahilan dalam sudut pandang manajemen¬†proyek.

kamus-meme-proyek-roro-jonggrang

Mari sini, saya ceritakan lebih lanjut.

Sudah tahu kisah Roro Jonggrang? Singkatnya begini: Dulu, Bandung Bondowoso hendak melamar Roro Jonggrang, namun Roro Jonggrang tidak rela. Jadi Roro Jonggrang mencoba menggagalkan lamaran dengan memberikan syarat membuat 1000 candi dalam 1 malam. Dari segi manajemen proyek, Roro Jonggrang itu adalah klien tak berperikemanusiaan. Mengapa? Mustahil menyelesaikan pekerjaan lingkup besar sementara waktunya sangat singkat. Hal tersebut melanggar hukum keseimbangan segitiga proyek: lingkup, durasi, dan biaya. Hanya dengan keajaiban proyek itu dapat diselesaikan.

Di dunia kerja, kami menyebut proyek roro jonggrang untuk sebuah proyek dengan skala relatif besar dengan waktu sangat pendek. Ketimpangan skala dan durasi proyek itu bisa berlaku hingga tingkat ekstrem. Misalnya untuk melakukan instalasi perangkat di kantor 3 lantai kami membutuhkan waktu 2 bulan. Kemudian hal ini disampaikan kepada klien.

Project Manager (PM): “Pak untuk instalasi ini kami perlu waktu 2 bulan”
Klien (K): “2 bulan terlalu lama pak. Kita akhir September ada peresmian oleh gubernur. Jadikan 3 minggu ya.”
PM: (Mampus. Mana bisa 3 minggu) “Pak ini kan untuk implementasi kita butuh A…B…begini…begitu. Bisa diberi waktu lagi?”

Lanjutannya adalah negosiasi berkepanjangan. Tetap saja, konsumen (Roro Jonggrang sekalipun) adalah bos sebenarnya. Jadilah 3 minggu itu kami berusaha keras untuk melakukan “keajaiban” layaknya Bandung Bondowoso.

Hal yang menyebalkan dari proyek roro jonggrang ada 2:

  1. Mengacaukan alokasi sumber daya
  2. Menguras moral tim proyek

Biasanya alokasi sudah direncanakan dalam pengerjaan proyek. Apabila waktu pengerjaan proyek sangat pendek, yang bisa dilakukan untuk mengimbanginya adalah mengurangi lingkup proyek¬†(yang nyaris mustahil) atau menambah sumber daya. Akibatnya, sumber daya baru harus dialokasikan dari luar tim. Itu “keajaiban” pertama.

Kemudian, “keajaiban” kedua dilakukan dengan memadatkan aktivitas. Hal itu berarti perlunya dedikasi lebih, biasanya berwujud lembur. Setiap hari. Tekanan yang tinggi seperti itu membuat tim cepat lelah dan moral terkuras.

Dari segi klien atau pemiliki proyek pun belum tentu santai-santai. Bedanya dengan Roro Jonggrang, klien ingin proyeknya selesai. Mentang-mentang bayar, lalu santai-santai? Tidak bisa juga. Untuk mengimbangi ritme kerja tim proyek, klien juga harus memberi dukungan. Mengambil keputusan dengan cepat dan mengurangi hambatan birokrasi hanyalah contoh kecil. Hal ini juga melelahkan bagi klien/pemilik proyek.

Jadi, proyek roro jonggrang adalah sesuatu yang baiknya dihindari, baik klien maupun tim proyek.

Manajemen proyek adalah seni menyelesaikan pekerjaan dengan sumber daya terbatas. Ingin postingan lagi soal manajemen proyek? Silakan komentar ya ūüėÄ

Terima kasih.

Buku nonfiksi rekomendasi agustus 2016

Reading List Agustus 2016: Membaca sebagai Investasi

Sekarang saatnya untuk kembali membaca buku. Karena membaca itu menambah wawasan dan sudut pandang. Saya menganggap membaca itu investasi untuk diri sendiri. Yang memetik hasil dari rajin membaca adalah saya nantinya. Kita semua bisa seperti itu. Caranya cukup berkomitmen membaca 1 jam saja. Bisa waktu di kendaraan umum, waktu istirahat, sebelum tidur. Kalau terlalu sibuk membaca, dengar audiobook pun bisa.

Berhubung tema postingan ini adalah membaca sebagai investasi, bulan ini saya cantumkan buku nonfiksi 100% dalam reading list Agustus 2016. Alasannya, buku nonfiksi memiliki nilai berdasarkan dunia nyata. Sehingga pengetahuan yang didapat lebih riil.

Berikut 4 buku yang masuk reading list saya bulan Agustus 2016.

  1. Bangun Industri Desa, Selamatkan Bangsa – Hermen Malik, Ph.D
  2. The History of Hadith: Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa – Prof. Muhammad Abu Zahw
  3. The As If Principle, The Radically New Approach to Changing Your Life – Richard Wiseman
  4. Saladin: The Life, The Legend, and The Islamic Empire – John Man

1. Bangun Industri Desa, Selamatkan Bangsa

Buku Pemberdayaan Industri Desa IPB

Ini buku yang sangat serius. Hasil tesis dari bapak Hermen Malik dari IPB tentang usaha untuk menyejahterakan penduduk rural Indonesia di tengah ancaman kapitalisme. Saya tertarik baca karena saya sedang belajar merancang sociopreneurship berbasis pemberdayaan desa. Pokok bahasannya lengkap layaknya tesis, namun bahasanya sudah dibuat lebih enak.

Buku ini melingkupi kondisi rural/perdesaan di Indonesia, strategi untuk menanggulangi ketimpangan kesejahteraan, hingga praktik pilot project di Bengkulu. Dari cara memodali industri desa sampai manajemen dan pemasaran industri desa dibahas di sini. Menurut saya ini buku acuan penting. Saya percaya di masa depan walau penduduk di desa makin banyak yang pindah ke kota, desa tetap punya cara bertahan hidup modern.

Belum banyak buku yang seperti ini. Bahkan buku ini belum masuk Goodreads. Padahal saya beli buku ini di toko buku terkenal. Saya harap sih tren pemberdayaan desa makin meningkat. Bagi yang tertarik dengan kegiatan CSR, pengabdian masyarakat, dan pemberdayaan desa, buku ini acuan yang bagus.

2. The History of Hadith: Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa

Scan2

Bagi saya, belajar Islam dan sejarah Islam itu sama menariknya. Terutama ketika yang dibicarakan adalah hadits, pondasi syariah setelah Al-Quran. Ketika belajar hadits, ada tingkatan dari shahih sampai dhaif sampai palsu. Kenapa muncul tingkatan seperti itu? Lalu, bagaimana hadits Nabi itu dikumpulkan? Kenapa ada 4 mahzab? Semuanya terbahas dalam buku ini.

Hadits yang kita dengar di majelis, siaran TV, atau baca di internet telah melalui arus zaman. Bukankah menakjubkan? Hadits secara lisan dan tulisan diteruskan dari generasi ke generasi. Sepanjang jalannya ada hal positif dan negatif yang terjadi. Buku yang juga hasil tesis ini menceritakan kisah tersebut.

3. The As If Principle, The Radically New Approach to Changing Your Life

Scan4

Orang yang bahagia biasanya sering tersenyum. Kalau begitu, jika kita membiasakan senyum akankah kita bahagia? Menurut Richard Wiseman, jawabannya iya. Itulah yang disebutnya Prinsip Seolah-olah (As If Principle).

Buku ini punya ide bagus. Satu prinsip menyatakan, kalau kita melakukan sesuatu yang seolah olah mencerminkan suatu sifat/karakter, kita menanamkan sifat/karakter tersebut dalam diri. Orang bisa menjadi rajin cukup dengan membiasakan diri bangun pagi. Orang bisa menjadi kasar dan sombong¬†apabila mempercayai”fakta” bahwa mereka superior. Aksi mempengaruhi prinsip hidup.

Buku ini diceritakan dengan menarik. Ada percobaan psikologi, cerita dari Amerika dan sekitarnya, dan kuesioner. Bagi yang ingin mengubah diri dengan Prinsip Seolah-olah, buku ini juga memberitahukan caranya. Menarik, bukan?

4. Saladin: The Life, The Legend, and The Islamic Empire

Scan3

Salahuddin, atau biasa disebut Saladin oleh orang Barat, adalah jenderal besar dari pasukan Muslim semasa Perang Salib. Dia ditakuti sekaligus disegani. Dia dihormati umat Muslim maupun umat Kristiani. Karena walaupun kuat, Saladin tidak berbuat semena-mena. Dia mengikuti ajaran Islam bahkan dalam kondisi perang tersulit. Aksinya menginspirasi orang, hingga zaman sekarang.

Saya menyukai profil Saladin. Hanya saja sulit mencari biografinya. Saya menemukan biografi Saladin karangan John Man ini di toko buku bandara. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisahnya. Dengan membaca buku ini, saya terinspirasi dan merindukan umat Islam yang bersatu.

Terima Kasih untuk Lebarannya

Mumpung dalam suasana lebaran, pertama saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf apabila ada tulisan saya yang kurang berkenan di hati pembaca sekalian. Mohon maaf juga kalau tulisan baru relatif sedikit. Fokusnya lagi banyak di tempat lain hehehe.

Hari ini sebagian yang mudik sudah kembali. Ada juga malah yang baru mudik. Yang manapun Anda, berbahagialah. Lebih penting lagi, berterimakasihlah.

Saya sudah delapan tahun merantau sejak zaman SMA. Sudah tak asing lagi rasanya mudik. Tapi baru sekarang saya merasakan betapa berartinya mudik, karena kehidupan di Jakarta lebih keras daripada kota lain yang pernah saya tumpangi ūüėõ

Orang lain juga begitu. Mudik demi bertemu keluarga. Mudik demi buka bersama dan halal bi halal. Mudik demi pamer anak, atau sekedar pamer THR dengan bagi-bagi. Banyak orang bisa mudik dengan bahagia. Di sisi lain, pemudik membutuhkan sarana transportasi. Pemudik juga memerlukan sarana pengamanan untuk rumah yang ditinggalkan. Sebagian pemudik juga masih belanja online di berbagai tempat (Salah satu ekspedisi rekrut 2000 tambahan personil selama lebaran)! Orang-orang seperti itu tidak seberuntung para pemudik. Walau terjebak di brexit 20 jam, pemudik masih bisa pulang. Demi memenuhi kebutuhan kita, mereka tidak pulang.

Untuk itu, saya ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang membuat mudik masyarakat Indonesia aman sentosa sehingga kami bisa bertemu dengan keluarga di rumah.

  • Terima kasih untuk TNI/Polri¬†yang membantu mengamankan lingkungan dan jalanan selama mudik
  • Terima kasih untuk dokter dan perawat yang siaga di rumah sakit dan pos kesehatan (saya ada saudara yang masuk RS menjelang lebaran. Tanpa kesiapsiagaan mereka, mungkin saudara saya tak tertolong)
  • Terima kasih untuk¬†satpam, hansip, dan tetangga yang menjaga kantor dan komplek rumah
  • Terima kasih untuk para pembawa kendaraan mudik, dari bus sampai pesawat terbang, yang mengantarkan kami dengan selamat
  • Terima kasih untuk para pengantar logistik yang tetap mengantarkan barang-barang di masa liburan
  • Terima kasih untuk pengelola tempat wisata yang buka sehingga kami bisa main-main dengan keluarga pas lebaran
  • Terima kasih untuk tukang bersih-bersih yang tetap bebersih dalam masa liburan
  • Terima kasih untuk para engineer yang standby sehingga tidak ada koneksi internet putus dan server yang down (orang IT mengerti banget perjuangan yang ini hehe)

Semoga kalian semua mendapat berkah karena membuat orang lain bahagia.

Ditulis dari kantor yang masih sepi di hari pertama kerja ūüėõ

Musik Dangdut Segar ala Libertaria

Sekitar seminggu lalu saya berlibur di Jogja. Dalam satu kesempatan, saya¬†tak sengaja lihat acara TV lokal (tepatnya Jogja TV, dan saya baru tahu kalau ada versi live streaming). Saya lihat seorang dengan muka dicat tengkorak dan polisi berkumis sangar menari dengan absurd. What the…?

Pertama dilihat aneh, tapi musiknya menarik. Dangdut dengan gaya anak muda.¬†Saya coba memperhatikan judul lagunya dari lirik (biasanya judul lagu terletak di potongan reff). Lalu muncul¬†gerakan jingkat-jingkat diiringi ucapan absurd, “wer kewer kewer kewer kewer kewer kewer”. Berbekal informasi itu, Google bisa membantu sisanya.

Ketahuan bahwa ini band bernama Libertaria. Ketahuan juga bahwa mereka belum lama merilis albumnya, Kewer-Kewer. Tepatnya 18 Mei 2016 lalu.

libertaria-album-kewer-kewer-artwork

Cover Album Libertaria – Kewer Kewer

Saya merasa baru menemukan harta karun. Album ini memang bisa dikatakan demikian karena beberapa alasan ini.

1. Album Ini 100% Gratis

Kamu tidak salah baca! Libertaria meluncurkan album ini tanpa memungut pendengarnya sepeser pun. Tinggal klik tautan, album bisa langsung nongkrong di gawai. Bisa juga didengarkan gratis lewat Soundcloud. Ini strategi yang berani dan kreatif di dunia musik Indonesia. Dengan album gratis, tak perlu bergumul dengan masalah pembajakan. Kalau musik sudah dikenal, akan ada fans yang setia dengan karyanya dan ikhlas membayar demi apresiasi. Dan terus terang saya sudah mulai ngefans :D. Sudah bagus, gratis pula.

Tautan unduh album tersedia di bawah. Tetaplah sabar dalam beberapa menit ūüôā

2. Genre Baru: Post Dangdut Electronika

Album ini adalah hasil kerja keras Marzuki Mohamad alias Kill The DJ (yang bikin soundtrack AADC 2 Ora Minggir Tabrak) dan Balance. Latar belakangnya adalah musik elektronik, sementara mereka berkolaborasi dengan media dangdut untuk menjangkau semua lapisan masyarakat. Campuran dangdut dan elektronik mereka memberi ciri khas album ini. Saking khasnya sampai saya nggak bisa menyebutkan musik lain yang mirip. Seperti susahnya membayangkan Avicii dangdutan atau Ayu Ting-Ting dalam sentuhan elektronik hehe.

Anyway, campuran itu membuat musik bawaan mereka jadi segar. Tidak kampungan tapi tetap bisa dinikmati semua elemen masyarakat. Kalau sudah pencet tombol play baru ngerti maksud saya deh pokoknya.

3. Muatan Kritik Sosial Kehidupan Modern

Menyajikan lagu yang mewakili suara rakyat tidak mudah. Slank dan Iwan Fals adalah sedikit contoh musisi yang menjadi jelmaan ekspresi rakyat lewat kritik sosial. Kehidupan Indonesia modern sudah berubah. Tatanan sosial tidak sama lagi dengan 10-15 tahun lalu. Libertaria menyajikan kritik sosial dengan baik. Topik seperti korupsi, ketidakadilan sosial, era digital, dan kehidupan rakyat jelata modern mewarnai album ini. Musik elektronik maupun dangdut biasanya dipakai untuk lagu bertema hura-hura, tapi kritik sosial melebur bersama musik Libertaria secara halus. Salut saya sekali lagi.

***

Saya suka sekali dengan album ini. Detail yang ada di dalamnya dibuat dengan apik. Macam-macam aliran dangdut dieksprerimen. Ada lagu dangdut khas pantura di D.N.A (Dangdut Neng jero Ati). Ada dangdut khas organ tunggal nikahan di Mari-Mari. Ada choir dan rap khas Kill The DJ di Rakyat Bergoyang. Kamu akan ingat slogan di bak-bak truk ketika mendengar Jalur Pantura. Lagu dangdut house juga ada. Bahkan lagu dangdut syahdu pun ada di Teruslah Bekerja (feat. Glenn Fredly loh).

Top 3 lagu favorit saya di album ini adalah:

  1. D.N.A (feat. Riris Arista & Brodod) Рlagu ini dijamin bikin ngakak dan goyang. Sentuhan dangdut panturanya otentik. Kamu bisa dengar paduan Riris Arista yang halus dan Brodo yang serak dan kocak. Liriknya jauh lebih keren daripada dangdut pantura yang umumnya nakal. Tidak lupa sentuhan ajeb-ajeb elektronika.
  2. Mari-mari (feat. Heruwa & Paksi Raras) – dijamin bikin goyang. Lagu ini harus masuk daftar putar organ tunggal di resepsi nikahan :D. Campuran elektronika dan dangdut electone nya cocok sekali. Ditambah sentuhan ska reggae dari Heruwa, lagu ini enak didengar dan nggak ada kembarannya.
  3. Kewer-kewer (feat. Riris Arista) Рlagu Libertaria yang pertama kali saya dengar sekaligus paling berkesan. Lagu ini sepaket dengan goyang Kewer-kewer yang ada di video klipnya. Gabungan antara goyang absurd dan musik asyiknya bikin geleng-geleng. Tapi lama-lama jadi ketagihan juga. Ini harus jadi tren goyang viral berikutnya :D. Kamu wajib lihat videonya di bawah ini.

Jangan mikir lama lagi, cepat tekan play di Soundcloud atau unduh albumnya lewat akun Facebook atau Twitter.

Selamat bergoyang post dangdut electronika.

Jalan-jalan Sore di Masjid Raya Al-Azhom

Minggu sore dan tidak ada yang dilakukan. Kipas angin di kamar menderu sambil mendatangkan sedikit kesejukan. Di luar, matahari menyengat sementara udara lembab. Keringat membuat badan lengket. Karena nggak tahan, saya pun memutuskan keluar. Meskipun tetap berkeringat, penat bisa hilang sambil jalan-jalan.

Saya belum tahu banyak soal Tangerang tapi tidak tertarik eksplorasi. Alasannya ada beberapa:

  1. Panas dan udara kurang menyenangkan
  2. Lalu lintas bikin kesal (meski tak segila Jakarta)
  3. Wisata yang tersedia didominasi nuansa kapitalis seperti mall, water boom, dan sejenisnya. Saya tak suka wisata begitu karena menghabiskan uang hanya untuk hiburan buatan.
  4. Tidak ada makanan khas yang menarik (saya sudah coba laksa Tangerang dan kurang cocok)

Lalu saya ingat ada dua objek yang ingin saya lihat dari dekat di Tangerang: Pintu Air Sepuluh dan Masjid Raya Al-Azhom. Lalu saya melakukan sedikit riset di Google Maps. Di Taman Pintu Air, saya bisa mendapatkan pemandangan Sungai Cisadene yang bagus. Kebetulan tempat itu dekat dengan Masjid Al-Azhom. Saya putuskan berangkat, nanti sekalian sholat ashar di sana.

Ternyata arus lalu lintas yang ditunjukkan Google Maps agak beda dengan kondisi riil. Ini agak tricky, tapi saya berhasil lewat di jalur yang benar. Sayangnya entah mata saya kurang awas atau gimana, Taman Pintu Air gagal saya temukan. Saya lihat daerah rimbun di tepian sungai Cisadene dan banyak angkot ngetem, tapi tak lihat tulisan Taman Pintu Air. Saya malah lihat Taman Pramuka. Karena malas kembali, saya lanjutkan ke Masjid Al Azhom.

Masjid Al-Azhom ini memang tampak megah seperti nampak di foto. Hanya saja halamannya lebih sempit dari yang saya bayangkan. Letaknya berada di pusat pemerintahan Kota Tangerang. Pastinya ramai pada jam kerja, namun Minggu sore ini kebanyakan yang datang adalah keluarga atau pasangan yang mampir sholat dan berfoto ria.

Masjid Al Azhom-outside 1

Terasa megahnya apabila dipotret dari depan begini. Foto dari luar ini diambil lebih sore daripada foto di bagian dalam masjid. Dengan demikian nuansa masjid di kala senja lebih tampak.

 

Masjid Al Azhom-outside

Masjid Raya Tangerang di kala senja

Masjid Al Azhom-outside 2

Pintu masuk utama Masjid Al Azhom

Masjid Al Azhom ini diklaim memiliki kubah masjid terbesar di Asia Tenggara. Benar atau tidak, saya kurang tahu. Cuma, saya bisa bilang kalau kubahnya memang besar. Makin terasa kalau dilihat dari dalam sambil mendongak.

DCIM100MEDIA

Empat kubah kecil di tepi, satu kubah besar di tengah. Seluruhnya berhiaskan kaligrafi keemasan yang mengkilat.

Saya tiba sekitar setengah jam setelah adzan ashar. Sudah ketinggalan jamaah pertama. Tapi gelombang kecil sholat jamaah tak pernah habis di masjid jami seperti ini. Saya tunaikan dulu kewajiban, baru menuntaskan foto-foto. Karena pencahayaan yang menarik, saya bereksperimen foto diri sendiri di salah satu sudut masjid.

DCIM100MEDIA

Jajaran shaf terdepan yang dihiasi tiga jam bandul dan kaligrafi Allah & Muhammad. Tentunya foto ini diambil setelah saya beres sholat ūüôā

DCIM100MEDIA

Leyeh-leyeh sore hari di lantai yang dingin sungguh nikmat

DCIM100MEDIA

Sisi masjid dengan pencahayaan yang menarik

 

DCIM100MEDIA

Foto eksperimen. Saya suka pencahayaannya.

Masjid Al Azhom-inside 1

Semakin sore, semakin sepi.

Puas berfoto, saya berkeliling sedikit di pusat pemerintahan. Biasanya di kota/kabupaten dari Serang sampai Banyuwangi tipikalnya sama di pusat kota: pusat pemerintahan, masjid jami, alun-alun. Saya jadi bertanya, apakah di pusat pemerintahan Tangerang ini ada alun-alun? Sebab saya tidak lihat ada hamparan rumput atau taman hijau luas di sekitarnya.¬†Saya cuma lihat area berbentuk persegi dipaving merah dengan ornamen. Terlalu kecil untuk disebut alun-alun sih ūüėõ

Syukurlah bosan saya terusir dengan jalan-jalan ini. Semoga bosan pembaca juga hilang dengan baca postingan dan lihat foto-foto ini.

Balada bahasa indonesia Yogi Saputro

Uji Kosakata: Anagram [1]

Balada Bahasa Indonesia kembali lagi. Postingan tema ini ditujukan untuk berbagi info tentang berbagai fitur dalam Bahasa Indonesia. Saya sendiri tak mau sok jadi guru Bahasa Indonesia, lha wong ulangan saja nggak pernah diatas 80 :P. Tapi bahasa yang baik menunjukkan kultur baik. Menurut saya, salah satu cara memperbaiki diri adalah memperbaiki cara berbahasa.

Kemudian karena website dan blog yang menjelaskan arti kata sudah banyak, saya coba pendekatan lain. Saya tentang pembaca sekalian buat menjawab Uji Kosakata. Tema Uji Kosakata kali ini adalah anagram. Definisi anagram adalah penyusunan ulang per huruf dari kata/frase untuk dijadikan kata/frase baru.

Contoh anagram

hutan | hantu, tuhan, tahun
batu kali | bakal itu, Ali batuk, buat kail

Tantangan Uji Kosakata

Saya terinspirasi dari sebuah kuis di televisi yang dibawakan Helmi Yahya zaman dulu. Oh ya, saya juga terinspirasi dari soal TPA (Tes Potensi Akademik) yang seperti ini:

Kata manakah yang berbeda dengan yang lain?

Dengan sedikit modifikasi aturan, saya sajikan dalam gambar di bawah. Aturannya sederhana, saya membuat sekelompok kata yang merupakan anagram: hurufnya sama semua, hanya susunannya berbeda. Tugas pembaca adalah menentukan kata mana yang tidak tepat. Hanya ada satu jawaban untuk tiap nomor. Siapkanlah kertas dan pensil lalu tulis jawabannya.

Kunci jawaban ada pada tautan berikut: http://pastebin.com/4w09N887.

Uji Kosakata-Anagram [1]

Saya menambahkan rating supaya ada nilai seperti main Angry Birds atau Candy Crush. Dalam proses seperti ini malah mungkin kita menemukan kata-kata yang ada namun belum terdengar sebelumnya. Di situlah letak kesenangannya ūüôā

Doakanlah saya lancar rezeki. Suatu saat saya berencana membuat kuis seperti ini dengan hadiah sungguhan. Semoga bisa terwujud hahaha.

Mau tahu dan belajar lebih banyak tentang Bahasa Indonesia? Klik Balada Bahasa Indonesia.
Untuk memperoleh lebih banyak Uji Kosakata, klik tag Uji Kosakata.

Salam dan sampai jumpa di Uji Kosakata berikutnya.

Menjawab Spontan dan Berkesan

Beberapa orang menganggap saya pemikir yang masuk akal tapi nyeleneh. Dan saya sadar memang nyeleneh. Bentuk terjelas dari sifat ini adalah jawaban saya kalau ditanya. Biasanya saya menjawab spontan, baik lisan atau tertulis. Nah, spontanitas itulah yang bikin saya geleng-geleng sendiri pas baca riwayat chat di aplikasi.

“Keren juga ya omonganku ini, padahal nggak pakai mikir” #songong

Tapi lewat jawaban spontan dan nyeleneh inilah saya kadang dikenal. Nah, meskipun spontan, saya cenderung punya kekhasan dalam ngomong atau menulis. Bisa dibilang ini tips untuk ngomong nyeleneh tapi masuk ingatan orang lain hehe.

Tiap orang punya karakter dan cara bicara. Tapi dengan sedikit pembelajaran, anda bisa mengeluarkan kalimat yang menarik. Mungkin berguna juga untuk menulis novel. Inilah empat tips menjawab spontan dan berkesan.

  1. Pakai kalimat berima atau berpola
  2. Gunakan Analogi
  3. Gunakan Penyampaian yang Tidak Biasa
  4. Tambahkan Hiperbola Secukupnya

Penasaran? Simaklah cara ngomong spontan dan berkesan ala Yogi.

Kalimat Berima atau Berpola

Saya suka pola. Rima adalah fitur bahasa yang mengikuti pola. Kalau dengar kalimat dengan suku kata sinkron di akhir bikin telinga adem hehe. Karya sastra lama juga ketat dalam aturan rima untuk menciptakan harmoni.

Contoh:

Obrolan saya dan Riri di WhatsApp
Y : Kamu hari ini dari mana?
R : Aku habis dari diskusi di Fisipol, tentang agama perlawanan.
Y : Wah kamu diskusi di Fisipol bisa mumet pol.
R : Hahaha, memang iya.

Saya juga suka kalimat berpola. Tidak harus berima, yang penting mirip di bagian awal dan akhir.

Contoh:

  • Kita harus duduk sepaket supaya sepakat.
  • Scrum di pagi hari, kram di sore hari. (rada lokal, bahasa agile software development)

Baca lebih lanjut

Resensi Buku Spesial: Per[t]empu[r]an

Pertama,¬†saya terangkan dulu alasan kata “spesial” dalam postingan ini. Sekitar sebulan lalu saya di-tag di Facebook tentang peluncuran buku ini. Ditulis oleh Lenang Manggala. Siapa itu? Saya nggak kenal. Tapi setelah dikaji ulang dari¬†profile picture hingga komentar yang muncul, saya sadar kalau itu nama pena dari teman sekolah. Tepatnya teman sebangku masa SMP. Ingat sekali kalau skill terbaiknya adalah bermain kata-kata. Dia yang paling jago ngeles di kelas :D.

Berlalulah waktu dan saya dengar dia berkarya. Menulis dan berkesenian. Mencoba tumbuh. Banyak yang mengapresiasi lewat media sosial. Saya tahu apresiasi yang lebih ampuh: membeli karyanya. Padahal saya cetek soal pemahaman puisi. Buku puisi yang pernah dibaca cuma Aku ini Binatang Jalang dan Hujan Bulan Juni. Habis baca pun geleng-geleng. Bukan karena kagum, lebih ke nggak ngerti :P.

Maka anggaplah ini sebagai review dari seorang teman. Bukan resensi atas aspek-aspek karya sastra. Saya menulis karena ingin melihat teman berkembang. Tulisannya makin dilihat orang kalau dibantu sebarkan. Rada songong, padahal blog juga masih sepi :D.

Markimul, mari kita mulai.

Pertama. Saya bingung ini cara baca judulnya yang praktis gimana. Perempuan? Pertempuran? Pertempuran Perempuan? Penyembuhan (ngawur…)? Yang bagaimanapun itu terserah lah. Saya tulis Per[t]empu[r]an apa adanya. Oh ya, buku ini tergolong tipis dari penampilannya. Ketika dibaca rasanya lebih tipis lagi. Bisa saya selesaikan sebagai pengantar tidur. Ternyata sepertiga dari buku ini berisi potret perempuan sesuai judul dan tema utama. Sekitar seperempatnya adalah cerita. Baru sisanya puisi. Minimal ada jalinan yang mengantarkan saya dari puisi ke puisi. Reaksinya bukan geleng-geleng.

Saripati buku ini bagi saya bisa ditulis dalam 3 kata kunci: cinta, rindu, dan kopi. Obrolan ringan, obrolan berat, dan kegundahan hati tersurat dalam kalimat bersayap Lenang. Karya ini terasa mengalir. Alurnya enak tapi tetap membuat hati rasa teraduk. Seperti ngopi di warung sambil memaki pemerintah atau atasan.

Ada beberapa bait yang jadi kesukaan personal.

Kesepian jangan kau
lawan
Ia bisa memangsamu
Dalam satu kali putaran

Jadilah kawan karib bagi
penantian
Maka kembali adalah
Hutang yang akan tuntas
terbayarkan

———————

Aku mencintaimu
Cukup itu
Dan bagaimana kita ke
depan, adalah seperti
buah dadu yang
dilemparkan

———————

Larungkan Seluruh

———————

Secara personal lagi, buku ini cukup mempengaruhi saya di bagian yang mengekspos tentang kerinduan dan jarak. Kata-katanya cukup mengena pasangan yang sedang berjauhan. Merasa rindu namun tetap terdorong agar kuat.

Overall, saya menikmati membaca Per[t]empu[r]an karya teman sendiri. Di sisi lain saya merasa buku ini tidak terlalu mengena di hati. Kalau diibaratkan, seperti minum secangkir kopi nikmat. Setiap menyesap terasa enak. Lama-lama rasanya pudar juga. yang tersisa adalah senyum mengingat momen menikmatinya. Mungkin suatu saat tertarik untuk mencoba lagi.

Terakhir, saya tahu ada teman-teman di blog atau di manapun yang masih menyimpan keinginan menerbitkan bukunya. Tunggu apa lagi? Berusaha dan terbitkanlah. Saya¬†juga memotivasi teman-teman sekalian untuk mendukung karya dengan membeli kopian buku¬†yang asli. Bisa fisik atau e-book di jalur resmi. Bukan bilang, “Wow keren. Boleh minta PDF nya?” Itu memuji sambil menusuk namanya.

Pasca-akhir, kalau tertarik dengan review buku saya bisa klik di tag Books,  menu Review Buku, atau di laman Goodreads saya.

Dilema Telor Ceplok

Ini adalah postingan (sok) filosofis yang terinspirasi dari obrolan harian saya dan Riri.

“Nanti pas kamu pulang aku bikinin telor ceplok ya. Telor ceplok buatan aku enak lohh,” kata Riri di kanal seberang. Ini terjadi sebelum kita ketemuan pas tahun baru. Obrolan seputar rencana di Ponorogo (selain pergi ke Bendungan Sawoo) menjadi topik seru. Karena LDR nya belum beres juga, kesempatan bertemu itu harus diisi¬†dengan kegiatan yang exciting. Mendengar nada pede dari doi, saya iyakan aja.

Pada pagi hari yang dijanjikan, saya main ke rumahnya. Salim sama bapak ibunya, terus nyelonong ke dapur.

“Jadi apa yang spesial dari telor ceplok bikinan kamu?” saya bertanya macam juri MasterChef.

“Jangan sembarangan ya. Telor ceplok bikinanku itu rasanya asli banget. Minyaknya sedikit, terus apinya kecil. Terus cuma aku beri bumbu garam. Teman-temanku aja pada ketagihan.” jelas Riri ala chef hotel bintang lima.

“Bikin telor ceplok kan memang begitu. Aku juga bisa,” kucoba sedikit mendebat untuk memastikan keyakinan doi atas masakannya.

“Telor ceplok yang sempurna itu bikinnya susah. Kalau kelamaan, nanti tepi putih telor jadi gosong. Kalau kecepetan, kuning telornya nggak matang semua,” bela Riri.

Kalimat yang terakhir itu bikin saya ketawa. Sang juri mengakui kelihaian chef. Sepuluh menit kemudian telor ceplok matang saya lahap ūüėõ

***

Sekarang saya mendekam di kosan daerah Karawaci. Di sela-sela kelelahan kerja dan kesendirian di kosan, otak jadi suka berimajinasi. Dari segudang kesenangan pas pulang, kalimat Riri yang terakhir itu terpatri erat. Saya jadi terinspirasi untuk mencetuskan sebuah istilah: dilema telor ceplok.

DilemaTelor Ceplok

Terlalu niat untuk sebuah imajinasi filosofis liar? Inilah definisi dilema telor ceplok ūüėÄ

Dilema adalah pernyataan dengan dua opsi dimana tidak satupun menjadi alternatif yang lebih tepat. Dilema telor ceplok adalah dilema untuk mengambil keputusan di saat yang tepat, sebab terlalu cepat atau terlalu lambat melakukannya akan memberikan hasil buruk. Layaknya telor ceplok yang dimasak terlalu cepat, kuning telor tidak matang. Sementara kalau dimasak terlalu lama, putih telor jadi gosong.

Kalau sedang rajin berimajinasi, ada saja yang kepikiran. Saya bahkan sampai memikirkan aplikasi nyata dari dilema ini. Bayangkan pasar saham yang diisi fluktuasi harga. Keputusan jual atau beli diperhatikan presisi sampai hitungan menit. Telat jual dua menit, mungkin bisa rugi jutaan. Terlalu awal membeli sebelum harga saham benar-benar turun, bisa juga rugi.

Ini tulisan murni buah pikiran saya. Saya orangnya praktis, kalau diajak ngobrol filosofis yang terlalu dalam malah pusing sendiri. Jadi bahasannya sampai sekian saja :D. Kalau pembaca menemukan istilah spesifik untuk hal seperti ini dan sudah ada namanya, CMIIW ya. Bakal saya muat di tulisan ini.

PS: Telor ceplok buatan Riri paling maknyus ūüėõ