Kita Mendiskriminasi Tarif Turis Asing dan Ini Gawat Bagi Pariwisata Indonesia

Pemerintah Indonesia menggalakkan sektor pariwisata sebagai sumber pemasukan di masa depan. Mengingat kekayaan alam dan budaya Indonesia demikian melimpah, hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Pemerintah kemudian menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memudahkan akses ke tempat wisata tersebut. Dengan begitu, turis lokal maupun mancanegara akan nyaman mengunjungi berbagai tempat wisata Indonesia. So far so good.

Hanya saja, ada satu masalah yang jarang disorot: kesiapan kita, pelaku industri pariwisata dan masyarakat umum, untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata yang menyenangkan. Terutama bagi turis mancanegara. Saya nggak mau muluk-muluk. Kali ini cukup bahas satu hal dulu: tarif.

Kisah Diskriminasi Tarif Turis Asing

Akhir tahun 2016 lalu, saya berwisata ke Banyuwangi bersama istri. Kami menginap di sebuah homestay paling terkenal di Banyuwangi menurut Airbnb. Karena Airbnb itu platform yang berbasis luar negeri, homestay itu dipenuhi dengan turis asing. Tamu dari Indonesia cuma saya dan istri saya loh. Nah, jadilah saya lebih banyak ngobrol dengan turis-turis asing itu. Mereka biasanya berkelompok 4-5 orang atau berpasangan 2 orang. Kita bertukar informasi dan pengalaman menjelajah Banyuwangi. Nah, di antara sekian kelompok yang kami ajak ngobrol, ada sepasang turis dari Cologne, Jerman yang tujuannya sama dengan kami: Kawah Ijen. Namanya Michael dan Barbara. Setelah ngobrol, akhirnya kami sepakat berangkat bersama supaya nggak nyasar.

Setelah perjalanan bersama, kami berempat sampai di pintu masuk wisata Kawah Ijen. Kemudian saya diberi tahu penjaga kalau loket bagi turis asing dan turis lokal dibedakan. Terus saya baru tahu lagi kalau beda harganya jauh. Rp 7.500 untuk turis lokal dan Rp 150.000 untuk turis mancanegara. Sudah begitu, kami (baik yang lokal maupun mancanegara) harus membayar Rp 50.000 untuk masker gas. Begitu tahu informasi tarif itu, Michael protes, “Mengapa kami harus membayar sangat mahal sementara kalian tidak?”

Baca lebih lanjut

Iklan

Proyek Roro Jonggrang

 

Di tempat saya bekerja, ada istilah “proyek roro jonggrang”. Bagi kami, istilah itu melambangkan mimpi buruk. Proyek roro jonggrang adalah simbol kemustahilan dalam sudut pandang manajemen proyek.

kamus-meme-proyek-roro-jonggrang

Mari sini, saya ceritakan lebih lanjut.

Sudah tahu kisah Roro Jonggrang? Singkatnya begini: Dulu, Bandung Bondowoso hendak melamar Roro Jonggrang, namun Roro Jonggrang tidak rela. Jadi Roro Jonggrang mencoba menggagalkan lamaran dengan memberikan syarat membuat 1000 candi dalam 1 malam. Dari segi manajemen proyek, Roro Jonggrang itu adalah klien tak berperikemanusiaan. Mengapa? Mustahil menyelesaikan pekerjaan lingkup besar sementara waktunya sangat singkat. Hal tersebut melanggar hukum keseimbangan segitiga proyek: lingkup, durasi, dan biaya. Hanya dengan keajaiban proyek itu dapat diselesaikan.

Di dunia kerja, kami menyebut proyek roro jonggrang untuk sebuah proyek dengan skala relatif besar dengan waktu sangat pendek. Ketimpangan skala dan durasi proyek itu bisa berlaku hingga tingkat ekstrem. Misalnya untuk melakukan instalasi perangkat di kantor 3 lantai kami membutuhkan waktu 2 bulan. Kemudian hal ini disampaikan kepada klien.

Project Manager (PM): “Pak untuk instalasi ini kami perlu waktu 2 bulan”
Klien (K): “2 bulan terlalu lama pak. Kita akhir September ada peresmian oleh gubernur. Jadikan 3 minggu ya.”
PM: (Mampus. Mana bisa 3 minggu) “Pak ini kan untuk implementasi kita butuh A…B…begini…begitu. Bisa diberi waktu lagi?”

Lanjutannya adalah negosiasi berkepanjangan. Tetap saja, konsumen (Roro Jonggrang sekalipun) adalah bos sebenarnya. Jadilah 3 minggu itu kami berusaha keras untuk melakukan “keajaiban” layaknya Bandung Bondowoso.

Hal yang menyebalkan dari proyek roro jonggrang ada 2:

  1. Mengacaukan alokasi sumber daya
  2. Menguras moral tim proyek

Biasanya alokasi sudah direncanakan dalam pengerjaan proyek. Apabila waktu pengerjaan proyek sangat pendek, yang bisa dilakukan untuk mengimbanginya adalah mengurangi lingkup proyek (yang nyaris mustahil) atau menambah sumber daya. Akibatnya, sumber daya baru harus dialokasikan dari luar tim. Itu “keajaiban” pertama.

Kemudian, “keajaiban” kedua dilakukan dengan memadatkan aktivitas. Hal itu berarti perlunya dedikasi lebih, biasanya berwujud lembur. Setiap hari. Tekanan yang tinggi seperti itu membuat tim cepat lelah dan moral terkuras.

Dari segi klien atau pemiliki proyek pun belum tentu santai-santai. Bedanya dengan Roro Jonggrang, klien ingin proyeknya selesai. Mentang-mentang bayar, lalu santai-santai? Tidak bisa juga. Untuk mengimbangi ritme kerja tim proyek, klien juga harus memberi dukungan. Mengambil keputusan dengan cepat dan mengurangi hambatan birokrasi hanyalah contoh kecil. Hal ini juga melelahkan bagi klien/pemilik proyek.

Jadi, proyek roro jonggrang adalah sesuatu yang baiknya dihindari, baik klien maupun tim proyek.

Manajemen proyek adalah seni menyelesaikan pekerjaan dengan sumber daya terbatas. Ingin postingan lagi soal manajemen proyek? Silakan komentar ya 😀

Terima kasih.

Terima Kasih untuk Lebarannya

Mumpung dalam suasana lebaran, pertama saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf apabila ada tulisan saya yang kurang berkenan di hati pembaca sekalian. Mohon maaf juga kalau tulisan baru relatif sedikit. Fokusnya lagi banyak di tempat lain hehehe.

Hari ini sebagian yang mudik sudah kembali. Ada juga malah yang baru mudik. Yang manapun Anda, berbahagialah. Lebih penting lagi, berterimakasihlah.

Saya sudah delapan tahun merantau sejak zaman SMA. Sudah tak asing lagi rasanya mudik. Tapi baru sekarang saya merasakan betapa berartinya mudik, karena kehidupan di Jakarta lebih keras daripada kota lain yang pernah saya tumpangi 😛

Orang lain juga begitu. Mudik demi bertemu keluarga. Mudik demi buka bersama dan halal bi halal. Mudik demi pamer anak, atau sekedar pamer THR dengan bagi-bagi. Banyak orang bisa mudik dengan bahagia. Di sisi lain, pemudik membutuhkan sarana transportasi. Pemudik juga memerlukan sarana pengamanan untuk rumah yang ditinggalkan. Sebagian pemudik juga masih belanja online di berbagai tempat (Salah satu ekspedisi rekrut 2000 tambahan personil selama lebaran)! Orang-orang seperti itu tidak seberuntung para pemudik. Walau terjebak di brexit 20 jam, pemudik masih bisa pulang. Demi memenuhi kebutuhan kita, mereka tidak pulang.

Untuk itu, saya ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang membuat mudik masyarakat Indonesia aman sentosa sehingga kami bisa bertemu dengan keluarga di rumah.

  • Terima kasih untuk TNI/Polri yang membantu mengamankan lingkungan dan jalanan selama mudik
  • Terima kasih untuk dokter dan perawat yang siaga di rumah sakit dan pos kesehatan (saya ada saudara yang masuk RS menjelang lebaran. Tanpa kesiapsiagaan mereka, mungkin saudara saya tak tertolong)
  • Terima kasih untuk satpam, hansip, dan tetangga yang menjaga kantor dan komplek rumah
  • Terima kasih untuk para pembawa kendaraan mudik, dari bus sampai pesawat terbang, yang mengantarkan kami dengan selamat
  • Terima kasih untuk para pengantar logistik yang tetap mengantarkan barang-barang di masa liburan
  • Terima kasih untuk pengelola tempat wisata yang buka sehingga kami bisa main-main dengan keluarga pas lebaran
  • Terima kasih untuk tukang bersih-bersih yang tetap bebersih dalam masa liburan
  • Terima kasih untuk para engineer yang standby sehingga tidak ada koneksi internet putus dan server yang down (orang IT mengerti banget perjuangan yang ini hehe)

Semoga kalian semua mendapat berkah karena membuat orang lain bahagia.

Ditulis dari kantor yang masih sepi di hari pertama kerja 😛

Prioritas Tempat Duduk: Antara Hak dan Kewajiban

Suatu sore, saya pulang kerja menuju stasiun KRL. Dalam kondisi lelah, lecek, dan habis kena gerimis, saya menunggu kereta jurusan pulang. Beberapa saat kemudian keretanya datang. Pintu dibuka dan saya masuk santai (saya bukan tipe yang menghambur rebutan tempat duduk). Kebetulan ada tempat kosong di kursi biasa (bukan prioritas). Saya pun duduk. Pas punggung menyentuh bantalan kursi, rasanya beban saya terangkat. Jarang-jarang dapat tempat di jam pulang. Secercah surga itu rasanya. Orang-orang yang terbiasa komuter bakal mengerti.

Beberapa stasiun kemudian masuklah ibu-ibu paruh baya di kereta yang sudah penuh. Dia berdiri di depan tempat saya. Sesaat saya tahu kalau ibu ini masih kuat untuk berdiri karena postur bagus, namun tampak juga kalau dia hampir-hampir di kategori “harus diprioritaskan” karena usia. Karena dia berdiri di depan saya, otomatis ada dorongan moral untuk kasih tempat duduk. Di sisi lain, saya capek banget dan belum tentu bisa duduk selama 40 menit ke depan. Lalu, apa yang harusnya saya lakukan?

* * *

Konflik Hak dan Kewajiban

Itu sepenggal kisah yang terjadi belum lama. Saya pun yakin bukan satu-satunya yang merasakan hal sama. Baik di kendaraan atau tempat umum. Saya kepikiran sampai sekarang. Benturan “hak” dan “kewajiban” dalam contoh sederhana sehari-hari. Kenapa dua kata tersebut dikasih tanda petik? Karena dalam konteks ini kita belum punya definisi baku antara hak dan kewajiban. Kita memerlukannya untuk menjawab pertanyaan berikut:

  1. Andai ibu paruh baya masuk kategori prioritas, siapa yang lebih berhak atas tempat duduk, saya atau ibu-ibu tersebut?
  2. Apakah saya wajib memberikan tempat saya? Kalau ya, mengapa? Kalau tidak, siapa yang punya kewajiban itu?

Baca lebih lanjut

Menjawab Spontan dan Berkesan

Beberapa orang menganggap saya pemikir yang masuk akal tapi nyeleneh. Dan saya sadar memang nyeleneh. Bentuk terjelas dari sifat ini adalah jawaban saya kalau ditanya. Biasanya saya menjawab spontan, baik lisan atau tertulis. Nah, spontanitas itulah yang bikin saya geleng-geleng sendiri pas baca riwayat chat di aplikasi.

“Keren juga ya omonganku ini, padahal nggak pakai mikir” #songong

Tapi lewat jawaban spontan dan nyeleneh inilah saya kadang dikenal. Nah, meskipun spontan, saya cenderung punya kekhasan dalam ngomong atau menulis. Bisa dibilang ini tips untuk ngomong nyeleneh tapi masuk ingatan orang lain hehe.

Tiap orang punya karakter dan cara bicara. Tapi dengan sedikit pembelajaran, anda bisa mengeluarkan kalimat yang menarik. Mungkin berguna juga untuk menulis novel. Inilah empat tips menjawab spontan dan berkesan.

  1. Pakai kalimat berima atau berpola
  2. Gunakan Analogi
  3. Gunakan Penyampaian yang Tidak Biasa
  4. Tambahkan Hiperbola Secukupnya

Penasaran? Simaklah cara ngomong spontan dan berkesan ala Yogi.

Kalimat Berima atau Berpola

Saya suka pola. Rima adalah fitur bahasa yang mengikuti pola. Kalau dengar kalimat dengan suku kata sinkron di akhir bikin telinga adem hehe. Karya sastra lama juga ketat dalam aturan rima untuk menciptakan harmoni.

Contoh:

Obrolan saya dan Riri di WhatsApp
Y : Kamu hari ini dari mana?
R : Aku habis dari diskusi di Fisipol, tentang agama perlawanan.
Y : Wah kamu diskusi di Fisipol bisa mumet pol.
R : Hahaha, memang iya.

Saya juga suka kalimat berpola. Tidak harus berima, yang penting mirip di bagian awal dan akhir.

Contoh:

  • Kita harus duduk sepaket supaya sepakat.
  • Scrum di pagi hari, kram di sore hari. (rada lokal, bahasa agile software development)

Baca lebih lanjut

Reuni, Beasiswa, dan Musik

Baru tiga bulan berpisah dengan teman kuliah, rasa kangen main bareng sudah menggebu-gebu. Jadi ketika diajak menemui sahabat peraih beasiswa di suatu event spesial, saya iyakan dengan senang hati. Hiburan terbaik yang saya rasakan sejak lulus: berkumpul dengan teman dekat lagi, memperoleh informasi tentang LPDP yang prestisius, plus nonton Calvin Jeremy, Life Cicla, serta Mocca. Semuanya gratis kecuali biaya parkir 😛

Collage-LPDP

Reuni Perantau

Cuma sedikit mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi angkatan saya yang merantau ke Jakarta pasca lulus. Tiga orang diantaranya janjian bertemu di UI. Saya, Fatoni (alias blogger Fiksimen yang bisa kalian kunjungi beres baca ini), dan Gunawan. Walaupun ngomongnya sama-sama merantau ke Jakarta, kita terpisah jauh. Saya di Tangerang, Fatoni di Jatinegara, Gunawan di Slipi. Kita janjian ketemu di Stasiun Duri lalu ke Stasiun Universitas Indonesia. Kagetnya saya, mereka berdua baru pertama kali naik KRL. Saya saja baru dua bulan sudah kemana-mana naik KRL (songong, padahal dulu nggak betah jadi komuter).

Kita bertiga memang niat jalan-jalan sambil mengunjungi teman yang mau merantau sungguhan ke luar negeri. Kalau kita bertiga merantau cari uang, mereka merantau cari ilmu. Eh, tapi di sana biasanya cari uang part-time juga biar bertahan hidup hehehe. Baca lebih lanjut

Bendungan Sawoo: Permata Tersembunyi Ponorogo

Dalam kesempatan tahun baru kemarin saya pulang ke Ponorogo kampung halaman tersayang. Pokoknya bisa pulang itu saja sudah senang. Lebih senang lagi kalau saya diajak bepergian.

Ke mana? ke bendungan.

Seingat saya sih di sini tidak ada bendungan di Ponorogo.

“Karena memang lagi dibikin,” kata pacar saya yang mengajak. Bersama dengan orangtuanya. Jadilah, tanpa banyak mikir saya langsung berangkat. Bisa melihat keindahan alami sebelum ramai orang itu menyenangkan rasanya. Pukul 7 pagi matahari sudah naik di Ponorogo. Saya bawa kamera saku yang batereinya tinggal sedikit.


Bendungan ini berada di kecamatan Sawoo. Sebelah timur dari pusat kabupaten (mau bilang pusat kota tapi kotanya cuma segitu hehehe). Bahkan Mbah Google juga belum tahu tempat ini (lihat peta di atas). Orangtua pacar saya memang penjelajah sejati. Beliau menyusuri jalanan Ponorogo untuk mencari tempat menyenangkan yang masih sepi. Bendungan yang akan dikunjungi ini pun tidak terlalu jauh dari pusat kota. Jalanannya baru saja diaspal. Hitam pekat dan terasa halus dilalui mobil.

Bendungan ini berada di antara bukit yang menjulang indah dari kejauhan. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan sawah yang menghijau. Padi baru ditanam beberapa minggu. Mata terasa segar melihat dataran subur dengan latar belakang perbukitan. Sayangnya kita malah asyik ngobrol jadi saya lupa mengambil foto selama perjalanan.

Karena tempat ini baru dibangun, tidak ada papan petunjuk arah. Bahkan jalan yang kami lalui belum ada lampu jalan ataupun marka. Belum banyak yang mengetahui tempat ini memang. Sisa-sisa tebing yang dikeruk dan tanah di tepi jalan jelas menandakan tempat ini belum lama jadi.

Beberapa kendaraan bermotor telah terparkir di tepi jalan ketika kami sampai di bendungan. Ternyata sudah lumayan ramai tempat ini. Setelah saya lihat lagi, jalan berspal ini buntu di ujung. Yang tampak adalah hamparan perbukitan dengan sungai berdebit kecil di lembahnya. Dari ujung jalan ini kita hanya bisa melihat satu sisi dari bendungan karena tidak ada jalan untuk mengitari sisi lembah. Dengan keterbatasan itu pun, pemandangan ini masih elok dipandang.

Bendungan-2

Lereng yang baru dikeruk dan jalan yang baru diaspal

Bendungan-1

Lembah yang rencananya akan dijadikan bendungan. Kemungkinan besar dusun yang tampak di bawah pun bakal segera dibedoldesakan.

Baca lebih lanjut

Quote about commuter

Balada Komuter

Pas di tingkat akhir kuliah saya punya 2 pantangan terkait pilihan kerja. Pertama, saya mau kerja di manapun kecuali Jakarta. Menurut saya, kultur dan pace kerja di Jakarta bikin orang cenderung memperhatikan duit daripada sisi lain hidup. Kedua, saya nggak mau komuter. Bolak-balik menempuh belasan kilometer dari rumah ke tempat kerja. Harus sampe segitu banget kah menghabiskan waktu di jalan demi penghasilan? Itu pikir saya.

komuter-2

Mengantri untuk kembali ke rumah bareng ratusan, atau ribuan, komuter lain.

Nyatanya 2 pantangan itu langsung rontok ketika saya diterima kerja di Tangerang, tapi juga harus ke Jakarta tiap beberapa hari. Sebelum menyadarinya, tiba-tiba saya sudah keringatan di angkot, berdesakan di KRL, atau ketiduran di bus. Karena kantor kerja ada di Tangerang dan Jakarta , mau tidak mau saya jadi komuter juga seperti jutaan orang lain. btw, saya baru tahu kalo ada kantor di Jakarta setelah masuk kerja. Jadi misuh-misuh dalam hati juga kalau menurut jobdesc bakal sering ke Jakarta.

Sudah sebulan berkomuter Tangerang-Jakarta, saya menyadari beberapa hal setelah berpikir. Sempat mikir? Ya, soalnya di dalam kendaraan mayoritas waktu nampaknya habis untuk main hape, tidur, atau merenungi nasib (CMIIW please, fellow commuters). Saya punya pantangan kerja karena punya persepsi buruk soal kerja komuter atau kerja di Jakarta. Saya meremehkannya.

Jadi bagi saya ini semacam ujian dari Allah (sungguh, cuma kuasa-Nya yang bisa ngepasin apa yang saya nggak suka terjadi pada diri saya). Ada satu hal langka yang jadi sumber semangat, namanya kesempatan (opportunity). Tidak banyak orang yang dapat kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang memuaskan. Maka dari itu menempuh belasan kilometer pun rela demi meraih kesempatan. Nyatanya juga tak ada seorang pun yang suka berdesakan di kendaraan umum atau terjebak macet di mobil sendiri. Semuanya demi meraih secuil kesempatan.

Makin lama di daerah Jabodetabek, saya merasa tempat ini makin menarik. Bukan berarti suka sama suasana ini sih hahaha. Ada pengalaman baru yang layak untuk jadi pelajaran. Ada orang baru yang menarik untuk ditemui. Ada kisah baru yang tak terbayang sebelumnya. Dan memang itulah yang saya cari sejak awal ketika memutuskan kerja di Jabodetabek.

Shock Pengeluaran Ala Metropolitan

Sejak zaman kuliah, saya terbiasa menghitung pemasukan dan pengeluaran uang. Tujuannya supaya bisa mengontrol keuangan dan terbiasa sampai dapat penghasilan sendiri. Biasanya saya pakai aplikasi Financius buat mencatatnya. Soalnya dia mudah dipakai dan tampak indah aja tampilannya 😀

Sekarang saya tinggal di Jabodetabek dengan penghasilan sendiri (walau gaji pertama belum turun, sih). Ini pengalaman pertama tinggal di wilayah sebelah ibukota. Dulu sih paling mentok di Bandung pas kuliah. Ada shock yang melanda saya dalam minggu awal tinggal di Jabodetabek. Angka pengeluaran saya menembus 100.000 rupiah per hari! Grafik pengeluaran di apps Financius pun kaya roller coaster dalam seminggu. Pas minggu pertama itu saya mencoba dengan memenuhi kebutuhan pokok, tapi ya memang segitu keluarnya.

Saya butuh alat makan biar gampang makan di kosan. Keluar sekian.

Keesokan harinya, saya butuh naik ojek/angkot karena pergi ke suatu tempat. Keluar lagi sekian.

Saya harus laundry, potong rambut, keluar lagi sekian.

Biar nutrisi harian cukup, saya perlu beli buah dan vitamin. Lagi-lagi keluar duit.

Saya perlu ke Bandung lagi (ceritanya kangen suasana Bandung bareng temen-temen). Pasti keluar biaya.

expenses-financius

Tampilan pengeluaran bulan November sampai kemarin. Di awal sampai tengah pengeluarannya menggila. Baru dari pertengahan pengeluaran bisa terkontrol.

Pokoknya setiap hari ada saja pengeluaran sampai bikin pusing. Pada minggu pertama di Jabodetabek ini saya betul-betul kepikiran gimana bisa hidup dengan sedemikian pengeluaran. Akhirnya saya me review pengeluaran. Ternyata yang saya beli memang saya butuhkan semua. Terus gimana caranya bisa menekan pengeluaran?

Dalam minggu pertama pertanyaan itu belum terjawab dan saya sedikit tertekan. Pada minggu kedua ini, pengeluaran saya lebih terkontrol. Barulah setelah dua minggu saya sadar penyebab membengkaknya pengeluaran harian.

1. Biaya Pindah Domisili

Saya harus pindah dari Bandung ke Jabodetabek plus memindahkan segala harta saya ke tempat baru atau ke rumah orang tua. Kemudian saya perlu membayar biaya kosan di tempat baru. Sudah begitu saya perlu membeli kebutuhan sehari-hari dari odol sampai perabot. Setengah pengeluaran saya bulan ini adalah untuk keperluan pindahan dan penyesuaian hidup baru.

2. Biaya Transportasi

Di minggu pertama saya ke kantor dengan ngojek atau ngangkot campur jalan kaki. Lalu saya juga bolak-balik ke Bandung buat mengurusi pindahan. Belum lagi kalau harus naik taksi karena tak punya transport. Beruntung setelah minggu kedua, motor dari Bandung sudah sampai kosan baru jadi saya bisa lebih hemat di ongkos transportasi harian. Perlu dicatat lekat-lekat sebagai tips: motor adalah investasi terbaik untuk mengurangi pengeluaran biaya transportasi. Nggak terima? Protes saja pemerintah.

3. Biaya Makan, Minum, dan Jajan

Harga makanan, minuman, dan jajan di sini jelas lebih mahal. Makanya harus pandai cari tempat makan yang enak tapi murah. Lebih oke lagi kalau bisa masak sendiri. Itu yang dikatakan keluarga dan pacar lewat telepon. “Masak aja, bikin tumis daging bla bla bla”, yang saya bikin hanyalah mie, telur rebus, rebusan sayur, dan tempe/tahu goreng. Belanja dan masak memang ribet, tapi it’s worth it. Di minggu kedua ini saya masak sekali dan makan di luar sekali jadi pengeluarannya lebih terkontrol.

Penutupnya, cek selalu pengeluaran harian supaya bisa terdeteksi kalau tiba-tiba membengkak. Saya sarankan pakai apps expense manager yang sudah banyak tersebar. Boleh juga komen kalau ada saran atau uneg-uneg soal shock karena pengeluaran 😉

Ini sedikit sharing dari seorang Yogi yang akhirnya terjun di belantara angkatan kerja. Mohon mangap juga kalau jarang update blog. Mungkin beberapa waktu ke depan topiknya soal hiruk pikuk hidup di dunia yang totally new bagi saya.

Hari Pertama Kerja

Ini postingan singkat yang yang saya bikin menjelang akhir hari.

Ini adalah hari pertama kerja saya di perusahaan teknologi di Karawaci, Tangerang. Ketika saya melepas sepatu pantofel selepas kerja, rasanya macam-macam. Excited karena banyak tantangan menanti. Bingung karena habis direcoki banyak hal yang perlu diingat. Si bos bilang, “Pelan-pelan aja”.

Kipas angin menyala. Saya masih belum terbiasa hawa Tangerang yang seperti sauna raksasa ini. Empat tahun di Bandung terlalu nyaman bagi badan. Sambil berbaring saya berpikir, dunia di depan sudah berbeda, seperti apa ya jadinya?

Teman baru, penghasilan baru, kosan baru, kesempatan baru, risiko baru, tantangan baru. Semuanya menanti di perjalanan. Pasti. Tapi biarlah saya menikmati masa-masa senggang sebelum tak punya waktu lagi. Mau tidur yang enak dulu.

Saya tidak menggunakan Path karena

Saya Keluar dari Jalan (Path)

Sudah hampir seminggu hari ini saya uninstall aplikasi jejaring Path di handphone. Sebenarnya sudah lebih dari sebulan saya tidak membukanya. Sudah keputusan bulat bagi saya buat pergi dari Path meskipun harus mengorbankan diri jadi nggak update lagi.

Tapi kenapa?

Alasannya sih sederhana: Path error terus dipakai di hape saya.

Unfortunately path has stopped

Pesan yang selalu muncul sesaat setelah membuka Path

Kan kzl.

Sudah sejak dua bulan, kalau coba pasang foto atau check-in di suatu tempat, pesan error muncul. Jadinya saya cuma bisa scroll ke bawah pakai jempol. Lihat-lihat kisah hidup teman yang tampak serba senang. Satu bulan yang lalu, malah buat scroll beberapa kali ke bawah saja langsung pesan error muncul lagi. Diulangi lagi, muncul juga. Malah hape makin lelet dan harus di-restart. Aplkasi sudah di perbarui di Google Playstore masih muncul pesan error yang sama. Akhirnya mau nggak mau uninstall juga.

Bagi saya nggak perlu repot-repot browsing di internet untuk mencari tahu penyebab malapetaka ini. Jawabannya sudah jelas: beban komputasi terlalu tinggi. Aplikasi ini minta banyak memori sementara jatahnya sedikit (RAM punya saya cuma 1 GB). Akibatnya sistem langsung hentikan si aplikasi rakus itu. Satu-satunya jalan cuma ganti handphone. Kalau nambah RAM nggak mungkin. Ini bukan komputer kantoran. Di sisi lain saya merasa hape saya masih baik-baik saja (yah meskipun kalau lagi lelet pengennya banting hehehe). “Kalau masih bisa dipakai nggak perlu ganti,” Begitu nasihat kakek dulu.

Kesimpulannya saya ogah beli smartphone baru. Biarlah ketinggalan berita terbaru. Sebenarnya nggak ada Path hidup saya baik-baik saja. Nggak ada handphone sama internet juga masih hidup. Tapi kenapa jari-jari tangan gatal begini ya? Hehe. Memang sulit membayangkan hidup zaman sekarang kalau di genggaman nggak ada smartphone.

Pembaca sekalian ada pengalaman pengen out dari media sosial? Boleh di share yah 🙂

Matahari Terbenam di Candi Ijo Yogyakarta

Candi Ijo-6

Di lereng bukit kapur nan hijau, di antara kerasnya bebatuan, berdiri oase peribadatan megah. Orang-orang berkumpul dan menjalankan ritual menghadap matahari terbenam. Bangunan menjulang, arca terpasang, sesajian diletakkan. Khidmat dalam sore yang agung.

Kira-kira begitulah masa kejayaan Candi Ijo berabad silam.

Zaman menggerus Candi Ijo sehingga ia takkan pernah sama. Namun setidaknya, kita-kita saat ini masih bisa menikmati matahari terbenam di tempatnya berdiri. Kali ini saya akan ceritakan pengalaman mencari matahari terbenam di Candi Ijo.

Lokasi

Candi Ijo terletak di Dusun Nglengkong, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Biar lebih gampang tahu, candi ini lokasinya tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan. Kalau dari arah Yogyakarta, terus saja menuju arah Candi Prambanan lewat jalan utama. Ketika mencapai lampu lalu lintas sebelum perbatasan Yogyakarta-Klaten, berbeloklah ke kanan. Bisa juga mencari papan penunjuk jalan yang ke arah Piyungan. Setelah itu lewat jalur Piyungan.

Di jalur Piyungan ini banyak papan penunjuk jalan yang menawarkan wisata candi lain. Contohnya adalah Candi Ratu Boko dan Candi Barong. Namun saya sengaja berangkat sore untuk mencari matahari terbenam di Candi Ijo. Mungkin candi lainnya tak sempat dikunjungi, begitu pikir saya di awal. Ternyata dugaan saya tepat. Jadi kalau mau mengunjungi serangkaian candi yang ada di daerah ini silakan sediakan waktu dari pagi atau siang.

Di Piyungan bakal ada papan penunjuk yang mengarah ke Candi Ijo. Kalau tidak nampak, bisa dicari papan penunjuk ke arah MDS Boarding School. Itu arahnya sama dan saya diberi tahu informasi itu oleh warga sekitar. Sisanya tinggal ikuti jalan. Ciri-ciri jalan yang benar ke Candi Ijo adalah jalur yang semakin menanjak.

Ulangi. Jalan yang makin menanjak sekaligus makin jelek.

Candi Ijo berada di lokasi yang kaya akan batu kapur dan sejenisnya. Setiap hari truk bermuatan barang tambang ini naik-turun, meninggalkan jalan bergelombang dan berlubang. Waktu saya ke sini (awal Oktober 2015), jalanannya sangat parah. Lubang jalan nggak pernah absen. Sudah begitu jalannya mulai berbelok dan makin menanjak. Saran saya perlu hati-hati terutama yang bermobil. Setelah melalui medan, akhirnya nampak kompleks Candi Ijo di kiri jalan.

Saya pergi naik motor dari Yogyakarta dekat UGM. Ditambah macet dan lain-lain, waktu tempuhnya sekitar 40 menit. Rute lebih detail bisa dilihat pada Google Map berikut.

Candi dan Matahari Terbenam

Ternyata mencari matahari terbenam di Candi Ijo sudah menjadi kegiatan mainstream. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung ketika saya sampai. Tapi tak apa-apa. Misi tetap dilanjutkan.

Untuk masuk ke Candi Ijo tidak dikenakan biaya. Pengunjung cukup mengisi buku tamu dan dipersilakan masuk. Di dalam komplek Candi Ijo sendiri ada balai situs untuk berbagai keperluan. Di sampingnya lah baru nampak candi yang sebenarnya. Baca lebih lanjut