Mawas Diri Aksi 4 November

When the dust settles, one can only learn.
Ketika situasi kembali tenang, saatnya memetik pelajaran.

Saya tidak demo, tapi mendukung lahir batin saudara muslim yang berdemonstrasi. Kalau tujuannya memproses Ahok secara hukum atas tuduhan penistaan agama, medan perjuangannya ada di jalur penyidikan dan peradilan. Yang saya kagumi adalah niat untuk membela dan menyuarakan Islam berskala besar. Ini belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir!

aksi-4-november-3

Umat dari berbagai penjuru Indonesia datang ke Jakarta

Terlepas dari pemberitaan media manapun, saya bilang demo kemarin berlangsung damai. Umat Islam dari berbagai penjuru berbondong-bondong dalam satu barisan. Bukan FPI saja, bukan HMI saja. Mereka tidak berasal dari satu ormas, tapi seluruh elemen masyarakat. Atasan saya di kantor pun ikutan. Nyatanya tidak ada perselisihan. Begitulah wajah muslim Indonesia sesungguhnya. Islam anarkis hanya kalangan minor yang kebanjiran spotlight media.

Aksi ini mengandung pesan tersirat bahwa Islam itu besar, cinta damai, namun bukan berarti bisa disepelekan. Wajar kalau bereaksi karena ucapan pemimpin yang menghina agama. Walaupun Ahok sudah minta maaf, demo ini tetap penting untuk menunjukkan sikap. “You don’t mess with us, dude.”

Yang lebih penting, demo ini menunjukkan bahwa kita bisa mencapai hal hebat apabila memiliki tujuan sama. Meskipun ada sumber mengatakan aksi ini disubsidi 100 miliar, saya coba pendekatan yang lebih masuk akal. Asumsikan ada 100.000 peserta aksi. Masing-masing memperoleh logistik berupa makan, minum, snack, dan atribut (info dari peserta). Ada juga dukungan transportasi. Dihitung kasar satu orang disubsidi Rp 100.000. Jadi minimal aksi kemarin menghabiskan sepuluh miliar rupiah! Itu untuk satu hari saja. Bayangkan dengan semangat yang sama kita majukan pendidikan, kesehatan, teknologi, dan layanan lain.

aksi-4-november-2

Berdasarkan info di grup WA tertutup, peserta aksi tidak menyadari ada perusakan sampai truk tiba-tiba terbakar. Lalu dengan mudahnya media menambahkan headline yang memojokkan peserta yang tertib.

Tak ada yang menduga aksi sebesar kemarin. Jangan menuding pihak ini salah, pihak itu keliru. Mau salahkan Buni Yani, Habib Rizieq, Ahok, Jokowi, sisa Orde baru, atau pengusaha bayangan, toh semua terjadi. Rasa hormat terbesar saya untuk orang yang berusaha keras menjaga situasi tetap terkendali. TNI/Polri, koordinator aksi yang menjaga satu komando, armada bebersih dari kalangan peserta sendiri, dan netizen yang mencegah berita provokasi. Kesiapsiagaan anda mencegah aksi ini diboncengi pihak perusuh dan perusak kesatuan.

aksi-4-november-1

Hati-hati provokator perusak

Selanjutnya apa? Aksi kemarin mengangkut adanya isu sara. Ini lebih mudah menyebar lewat sosial media dan kehidupan sehari-hari. Jangan sampai aksi ini membuat kita membenci orang yang berbeda keyakinan. Saudaraku yang muslim janganlah terpancing dan mengumpat “c*na” dan “kaf*r” kepada orang lain. Itu hanya merusak citra aksi damai kemarin. Lalu hindarilah 3 hal: rasa takut (fear), amarah (anger), dan ketidakpedulian (ignorance). Ketiganya tidak memperbaiki suasana.

Saya bicara sebagai orang yang murni ingin melihat dan mengamalkan Islam seutuhnya. Masih ada orang-orang yang keinginannya murni untuk memperbaiki Islam dan Indonesia. Diluar permainan politik, saya mengenal orang yang meninggalkan pekerjaan demi menyuarakan keyakinannya kemarin. Ulama dan pemuka yang turut serta pun demikian. Dari tempat itulah saya berpendapat. Orang baik tak boleh diam.

Jakarta, 5 Nov 2016

* **

#Tulisan ini berasal dari status FB pribadi saya dan saya post ulang di blog. Sumber gambar: grup WA tertutup. Semoga bermanfaat.

Iklan

Reuni, Beasiswa, dan Musik

Baru tiga bulan berpisah dengan teman kuliah, rasa kangen main bareng sudah menggebu-gebu. Jadi ketika diajak menemui sahabat peraih beasiswa di suatu event spesial, saya iyakan dengan senang hati. Hiburan terbaik yang saya rasakan sejak lulus: berkumpul dengan teman dekat lagi, memperoleh informasi tentang LPDP yang prestisius, plus nonton Calvin Jeremy, Life Cicla, serta Mocca. Semuanya gratis kecuali biaya parkir 😛

Collage-LPDP

Reuni Perantau

Cuma sedikit mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi angkatan saya yang merantau ke Jakarta pasca lulus. Tiga orang diantaranya janjian bertemu di UI. Saya, Fatoni (alias blogger Fiksimen yang bisa kalian kunjungi beres baca ini), dan Gunawan. Walaupun ngomongnya sama-sama merantau ke Jakarta, kita terpisah jauh. Saya di Tangerang, Fatoni di Jatinegara, Gunawan di Slipi. Kita janjian ketemu di Stasiun Duri lalu ke Stasiun Universitas Indonesia. Kagetnya saya, mereka berdua baru pertama kali naik KRL. Saya saja baru dua bulan sudah kemana-mana naik KRL (songong, padahal dulu nggak betah jadi komuter).

Kita bertiga memang niat jalan-jalan sambil mengunjungi teman yang mau merantau sungguhan ke luar negeri. Kalau kita bertiga merantau cari uang, mereka merantau cari ilmu. Eh, tapi di sana biasanya cari uang part-time juga biar bertahan hidup hehehe. Baca lebih lanjut

Kutipan

Wall of Old Batavian Bar

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Wall.”

Foto Kota Tua Jakarta Batavia

Old bar in Old Batavia. The old signs on the wall are classic. The bar is not operating anymore, though.

This is a wall of building in Old Batavia or Kota Tua Jakarta. The place used to be capital of Dutch Colonial Government. Old Batavia was busy with port activities. Life was hard. Fortunately, bar always brought cheers to people. Time had flown away. Now only the building and signs (at least most of them) remained. Indonesian flags are waving.

Other submissions for Weekly Photo Challenges: Wall are here.

NB: I tried to edit my old submission, but the connection was unstable. Then my earlier post went wrong and I can’t fix it. Sorry.

Kutipan

Bajaj in Jakarta

This is my first post of Daily Post’s weekly photo challenge: “Gone, But Not Forgotten.”

This theme is almost nostalgic for me. I went looking up for some old photos and finally found one:

Bajaj in Jakarta

Bajaj, almost extinct public transportation species in Jakarta

The photo was taken in early 2010. All bajaj in Jakarta are imported from India (Bajaj is actually name of motorcycle manufacture company in India). It became one alternative for public transportation. This fancy three-wheeled vehicle was good choice for mobility: swift, can take you anywhere in the city, at negotiable price (you have to bargain from the beginning). However it’s also loud and somewhat uncomfortable.

There was time when street of Jakarta turned orange due to vast number of bajaj. Then local government decided to create more sophisticated means of transportation. Bajaj were imported as product without service. They survived for decades by dedicated local mechanics, and still running on streets. Still, most bajaj are old. Old vehicles should be replaced, government said.

As a result, bajaj are continuously declining in numbers. I don’t know how many left in Jakarta. They are (mostly) gone. But they will not be forgotten, especially by citizens of Jakarta.