Pendakian Semeru 2015 [Part 2: Misi]

Melanjutkan edisi Pendakian Gunung Semeru, kali ini saya menceritakan alasan di balik layar mengapa saya naik Gunung Semeru. Alasan utama ini yang mendorong saya mau bersusah payah cari perlengkapan, akomodasi, sampai berpeluh lelah menaklukkan medan.

Jadi, saya mau naik gunung karena diajak pacar. Panggil saja Nyonya. Ah, lelaki memang sederhana. Tapi permintaan naik Gunung Semeru itu bukan sepele. Banyak yang mesti dipertimbangkan dari biaya, keamanan dan keselamatan, serta bagaimana nasib TA saya (waktu itu lagi kejar tayang Bab 4). Karena tidak punya ketertarikan absolut untuk mencapai puncak, kita berdua mendefinisikan sendiri misi yang harus dicapai di Gunung Semeru: foto pre-pre-wedding. Pre ditulis dua kali, mabok Betadine mas? Memang sengaja, karena ini foto-foto yang ditujukan pas nikahan tapi dengan usaha sendiri sebelum pakai jasa fotografer pro :).

Kita sadar kalau alat dan skill terbatas. Kamera cuma ada kamera pocket sama handphone. Ini prinsip dasar fotografi: kalau ingin memperoleh foto yang bagus, ambil foto yang banyak. Pasti ada minimal satu yang bagus di antaranya. Bahkan fotografer profesional pun demikian. Saya lihat teman saya yang jadi fotografer berulang kali menjepret objek. Bisa 10-15x. Artinya satu dari 10 foto yang dihasilkan memenuhi kriteria memuaskan. Itu sekitar 10%. Karena kita lebih cupu, persentasenya jadi lebih kecil. Mungkin sekitar 1-2%. Jadi harus ambil foto dalam jumlah lebih banyak.

Kegiatan ini pernah kita lakukan di Nglambor dan tempat lain. Lalu kita berencana melakukannya di semua tempat yang bakal dikunjungi bareng 🙂

Karena agak malu-malu buat nunjukin, jadi sebagian saja yaa yang ditaruh di blog ini. Semoga jadi inspirasi tempat pre-wedding.

prewed-1

Syukur kepada Tuhan yang menyebarkan twilight indah di muka bumi.

prewed-2

Di suatu tempat di tepi Ranu Kumbolo

prewed-3

Pasangan bolang (bocah ilang-ilangan)

Ngomong-ngomong, setelah pendakian ini Nyonya langsung menembak target pendakian berikutnya. Aduh, abang lelah dek. Tunggu saja. Segera. Target yang lainnya juga 😉

Iklan

Pendakian Semeru 2015 [Part 1: Ikhtisar]

Ini kisah dimana seorang pendaki amatir (baca: saya) dengan pengalaman minimum mencoba mengarungi puncak tertinggi Pulau Jawa. Ditemani 7 orang kawan baru yang handal lagi menyenangkan, pengalaman mendaki Semeru menjadi memori manis yang sulit dilupakan.

Foto pemandangan gunung semeru

Siap menaklukkan gunung Semeru?

Postingan soal mendaki Semeru ini terbagi menjadi beberapa part. Yang pertama ini ringkasan perjalanan. Berguna buat para pembaca yang mencari referensi pendakian Semeru tahun 2015. Mengapa dicantumkan tahun? Sebab Gunung Semeru sendiri mengalami perubahan. Rute lama diganti rute baru. Ada pula kebijakan baru menurut relawan. Pendakian saya dan kawan-kawan berlangsung pada tanggal 5-7 Agustus 2015. Jadi harap maklum apabila di masa mendatang ada informasi minor yang berbeda dengan deskripsi saya.

Pada part yang lain bakal saya ceritakan kisah pendakian dari sudut pandang personal.

Anda ingin menaklukkan Semeru? Baca dulu hingga tuntas. Di sini saya sediakan informasi penting.

  1. Informasi terkait kondisi Semeru
  2. Persiapan pokok untuk pendakian
  3. Jalur pendakian yang aktif tahun ini
  4. Estimasi biaya.

Baca lebih lanjut

Galeri

Pemandangan dari Gunung Api Purba Yogyakarta

Kali ini saya bakal bercerita soal Gunung Api Purba Nglanggeran. Ini adalah satu contoh objek wisata yang cukup oke untuk jadi alternatif wisata alam di Yogyakarta. Letaknya ada di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya mudah dicapai dengan motor maupun mobil. Direkomendasikan memakai kendaraan pribadi atau sewaan sebab tidak ada kendaraan umum.

Jalurnya mengikuti arah ke Kabupaten Gunung Kidul. Kemudian akan muncul petunjuk jalan ke arah Gunung Api Purba. Petunjuknya jelas, asalkan Anda tetap memperhatikan tanda di jalan. Peta jalannya juga bisa dilihat via Google Maps di bawah (asumsi titik start dari Universitas Gajah Mada) 🙂

Harganya tergolong sangat murah. Anda cukup bayar tiket parkir Rp 7000 plus tarif parkir.

Gunung Api Purba ini sekilas nampak seperti bongkahan batu vulkanik raksasa yang muncuat di permukaan. Kalau diperhatikan seksama, daerah sekitar tempat wisata pun dipenuhi bebatuan serupa. Saya bisa membayangkan gunung api purba yang dimaksud itu sebenarnya jauh lebih besar daripada yang tampak saat ini. Sayangnya, karena tidak punya kamera yang memadai untuk memotret kenampakan gunung api dari dekat, saya baru mengambil gambar setelah sudah naik.

Pemandangan di sini menyenangkan. Anda akan menaiki tangga, menyusuri celah batu, hingga bertaut dengan akar pohon agar bisa naik. Ada banyak pilihan daerah yang bisa dipanjat. Kalau sekedar menikmati pemandangan, naik selama 15 menit pun sudah cukup. Kalau menginginkan tantangan lebih, ada banyak jalur yang bisa ditelusuri. Jangan takut tersesat karena banyak papan petunjuk. Btw, papan petunjuk di sini kocak. Mulai dari “semangat”, “Anda luar biasa”, sampai “kawasan keep smile“.

One Day Hiking di Manglayang Tersayang

Wacana yang Terlaksana

“Gampang kok naik Manglayang, sehari juga nyampe.” demikian kata teman-teman saat kita mulai berwacana mendaki Gunung Manglayang. Itu seminggu sebelum hari-H. Pembicaraan dilanjutkan lagi H-1. Masih belum fix. Baru pas hari-H jadi dipikir betul-betul. Dari awalnya saja sudah pendakian dadakan.

Saya sendiri sebagai pencari informasi langsung browsing di internet dan menemukan tiga blog yang berguna:

Blog 1: http://ilhamridhwan.blogspot.com/2014/06/Manglayang-1818-mdpl.html

Blog 2: https://galuhsunandar.wordpress.com/pendakian-gunung/pendakian-1-818-mdpl-gunung-manglayang/

Blog 3: http://www.arifsetiawan.com/2014/04/pendakian-gunung-manglayang-1818-mdpl.html

Persiapan dan Perjalanan

Persiapan dilakukan bersama dengan spek ringan untuk hiking satu hari. Perlengkapan pribadi meliputi ponco, air minum, baju ganti, jaket, makanan, dan obat. Sementara untuk kelompok kami membawa gula batu, tolak angin, senter, dan madu. Tidak lupa briefing dan berdoa sebelum berangkat.

Jalur menuju puncak Manglayang ada dua jalur: Batu Kuda atau Barubereum. Dengan pertimbangan jarak lebih dekat, kami pilih jalur dari Batu Kuda.

Jalur menuju puncak Manglayang

Jalur menuju puncak Manglayang (Sumber: www.arifsetiawan.com)

Kami berangkat bersama naik sepeda motor. Penggunaan sepeda motor ini sangat menguntungkan terutama karena jalan menuju Batu Kuda tidak terjamah kendaraan umum dan medannya cukup curam. Alternatif kendaraan menuju Batu Kuda adalah carter angkot atau mobil pribadi. Jalur menuju Batu Kuda berbelok-belok. Meskipun demikian tak perlu takut tersesat karena ada penunjuk jalan “Daerah Wisata Batu Kuda” di tiap belokan.

Berdasarkan Google Map di atas. Perjalanan menuju Kuda Batu dapat ditempuh sekitar 45 menit dari Bandung (pakai ITB sebagai acuan).

Mulai Pendakian

Sesampainya di Batu Kuda dapat dijumpai pos. Di sini tempat membeli tiket masuk seharga Rp 5.000. Sementara parkir dikenakan biaya tambahan Rp 5.000 per motor. Menurut saya biayanya cukup sepadan dengan fasilitas yang ditawarkan. MCK dan musholanya bersih dengan air yang segarnya menembus kalbu (baca: dingin banget).

Warung juga tersedia di Batu Kuda

Warung juga tersedia di Batu Kuda

Inilah hutan pinus yang dijumpai begitu masuk Batu Kuda.

Inilah hutan pinus yang dijumpai begitu masuk Batu Kuda. Tampak pula papan penunjuk jarak objek-objek menarik.

Berangkat dari Kuda Batu sekitar pukul setengah sebelas pagi, kami langsung dihadapkan dengan tanjakan curam Baca lebih lanjut