Galeri

Menilik Imlek di Pasar Gede Solo

Ketika Imlek, saya sempat berkunjung sebentar ke Solo. Sayang sekali tidak sempat menikmati malam Tahun Baru Imlek yang katanya penuh dengan lampion dan perayaan suka cita. Sebagai gantinya saya pergi ke Pasar Gede keesokan harinya untuk mengamati keindahan yang tersisa. Yah, nampaknya saya kurang beruntung. Semoga masih ada kesempatan untuk dapat melihat Pasar Gede yang gemerlap dan penuh sesak.

Kota ini memang unik dengan keanekaragamannya. Ragam masyarakat Jawa, Arab, dan Tionghoa membentuk kota Solo yang menyatu.

Selain melihat-lihat hiasan Imlek, saya juga menyempatkan menikmati dawet di Pasar Gede yang legendaris itu. Lumayan sekali buat menyegarkan dahaga. Apalagi matahari pas terik-teriknya.

Tidak banyak lagi yang bisa dilihat. Saya tidak dapat momennya. Tapi semoga pembaca bisa menikmati hasil jepretan yang terbatas ini 🙂

Terakhir, empunya blog juga pengen ikutan mejeng sekali-sekali hehehe.

admin blog ini gaul banget

Empunya blog berfoto di depan lampu sakura

Iklan
Tarian singobarong di panggung utama

Galeri Grebeg Suro 2014 di Ponorogo

Grebeg Suro merupakan festival tahunan untuk menyambut ulang tahun Ponorogo sekaligus tahun baru Hijriyah. Saya lihat Ponorogo sudah berulang tahun ke-518. Saya perlu mengakui penjagaan tradisi ini luar biasa. Lalu acara yang dilaksanakan pun beraneka macam. Ada kirab pusaka sepanjang jalan utama Ponorogo (lewat depan rumah saya juga. Jadi saya nggak pernah melewatkan hehe), larungan di Telaga Ngebel, Festival Reyog Nasional, pasar malam, dan banyak lagi. Ini bukan sembarang festival bagi warga Ponorogo. Setiap orang menyambut dengan suka cita. Yang dari kampung pelosok pun datang berbondong-bondong dengan minibus atau truk. Pusat kota penuh sesak dengan manusia. Mungkin hampir ratusan ribu. Untuk sebuah kabupaten yang rada sepi (ini bicara berdasarkan pengalaman), Grebeg Suro adalah selebrasi terbesar.

Sekarang saya cukup sedih karena sudah bertahun-tahun tidak menonton Grebeg Suro. Merantau di Bandung adalah sebabnya. Suasana ramai dan hingar bingar itu benar-benar saya rindukan. Orangtua kemarin sudah menelepon apakah saya mau pulang. Tapi bahkan kemarin saya baru ingat kalau hari ini adalah tahun baru Hijriyah. Begini rupanya efek tidak punya kalender di kosan.

Alhasil yang bisa saya lakukan untuk mengobati kerinduan adalah lewat teknologi. Berita berkembang cepat. Baru sehari berselang saja sudah banyak foto Grebeg Suro 2014. Saya kumpulkan dalam post ini supaya bisa dapat feeling selebrasinya. Nah, bagi yang tertarik boleh juga lihat-lihat. Bisa jalan-jalan ke Ponorogo tahun depan buat melihatnya.

Sumber foto

The Panasdalam di Ulang Tahun bandung

Sabtu Refresing, Part 2: HUT Bandung

(Lanjutan dari Part 1)

Betul saja dugaan saya. Dago dan sekitarnya padat nggak tertolong. Niatnya parkir di ITB dari arah Jl. Tamansari. Ternyata lalu lintas dibelokkan ke jalan layang Pasupati. Jadi kami mengambil jalan di bawah jalan layang, memotong keramaian. Akhirnya berhasil sampai di ITB dengan selamat.

Kami sholat isya dan istirahat di Masjid Salman sampai menjelang pukul 10 malam. Setelah itu jalan-jalan di Dago yang penuh sesak karena Car Free Night. Seperti biasanya banyak terdapat stand makanan, minuman, barang-barang aneh. Di ujung selatan Car Free Night terdapat panggung utama. Dimanapun berada, tempat ini benar-benar padat dengan manusia.

Pukul 11 malam kembang api diluncurkan. Itu saya akui benar-benar besar kembang apinya. Mungkin bisa terlihat dari Jl. Soekarno Hatta. Sayangnya hanya sebentar. Setelah itu saya kira sudah selesai. Ternyata di panggung utama masih ada performance: The Panas Dalam.

Ini band ngasal banget pokoknya. Isinya ngebodor. Beberapa contoh selingan yang kocak diantara penampilan mereka:

Akulah utusan Firaun! Kalau pengen jadi Tuhan, pastikan kalian bisa berenang. Supaya tidak tenggelam pas di laut.

Kata nenekku, setiap lelaki hidup mengendarai burung. Mereka mencari wanita yang menyediakan sarang. Maka carilah sarang yang baik untuk meletakkan kedua telur burung.

Enak jadi wanita. Tinggal membuka aurat saja. Sementara laki-laki…harus berjuang untuk mendapatkan itu semua

*Selesai nyanyi* Anjir rokok gue jatuh (diterjemahkan dari Bahasa Sunda)

Pukul 12 semuanya selesai dan kita bubar ke kandang masing-masing.

NB: Featured Image diambil dari Facebook Kang Pidi Baiq. Nuhun kang, konsernya luar binasa.