Musik Dangdut Segar ala Libertaria

Sekitar seminggu lalu saya berlibur di Jogja. Dalam satu kesempatan, saya tak sengaja lihat acara TV lokal (tepatnya Jogja TV, dan saya baru tahu kalau ada versi live streaming). Saya lihat seorang dengan muka dicat tengkorak dan polisi berkumis sangar menari dengan absurd. What the…?

Pertama dilihat aneh, tapi musiknya menarik. Dangdut dengan gaya anak muda. Saya coba memperhatikan judul lagunya dari lirik (biasanya judul lagu terletak di potongan reff). Lalu muncul gerakan jingkat-jingkat diiringi ucapan absurd, “wer kewer kewer kewer kewer kewer kewer”. Berbekal informasi itu, Google bisa membantu sisanya.

Ketahuan bahwa ini band bernama Libertaria. Ketahuan juga bahwa mereka belum lama merilis albumnya, Kewer-Kewer. Tepatnya 18 Mei 2016 lalu.

libertaria-album-kewer-kewer-artwork

Cover Album Libertaria – Kewer Kewer

Saya merasa baru menemukan harta karun. Album ini memang bisa dikatakan demikian karena beberapa alasan ini.

1. Album Ini 100% Gratis

Kamu tidak salah baca! Libertaria meluncurkan album ini tanpa memungut pendengarnya sepeser pun. Tinggal klik tautan, album bisa langsung nongkrong di gawai. Bisa juga didengarkan gratis lewat Soundcloud. Ini strategi yang berani dan kreatif di dunia musik Indonesia. Dengan album gratis, tak perlu bergumul dengan masalah pembajakan. Kalau musik sudah dikenal, akan ada fans yang setia dengan karyanya dan ikhlas membayar demi apresiasi. Dan terus terang saya sudah mulai ngefans :D. Sudah bagus, gratis pula.

Tautan unduh album tersedia di bawah. Tetaplah sabar dalam beberapa menit 🙂

2. Genre Baru: Post Dangdut Electronika

Album ini adalah hasil kerja keras Marzuki Mohamad alias Kill The DJ (yang bikin soundtrack AADC 2 Ora Minggir Tabrak) dan Balance. Latar belakangnya adalah musik elektronik, sementara mereka berkolaborasi dengan media dangdut untuk menjangkau semua lapisan masyarakat. Campuran dangdut dan elektronik mereka memberi ciri khas album ini. Saking khasnya sampai saya nggak bisa menyebutkan musik lain yang mirip. Seperti susahnya membayangkan Avicii dangdutan atau Ayu Ting-Ting dalam sentuhan elektronik hehe.

Anyway, campuran itu membuat musik bawaan mereka jadi segar. Tidak kampungan tapi tetap bisa dinikmati semua elemen masyarakat. Kalau sudah pencet tombol play baru ngerti maksud saya deh pokoknya.

3. Muatan Kritik Sosial Kehidupan Modern

Menyajikan lagu yang mewakili suara rakyat tidak mudah. Slank dan Iwan Fals adalah sedikit contoh musisi yang menjadi jelmaan ekspresi rakyat lewat kritik sosial. Kehidupan Indonesia modern sudah berubah. Tatanan sosial tidak sama lagi dengan 10-15 tahun lalu. Libertaria menyajikan kritik sosial dengan baik. Topik seperti korupsi, ketidakadilan sosial, era digital, dan kehidupan rakyat jelata modern mewarnai album ini. Musik elektronik maupun dangdut biasanya dipakai untuk lagu bertema hura-hura, tapi kritik sosial melebur bersama musik Libertaria secara halus. Salut saya sekali lagi.

***

Saya suka sekali dengan album ini. Detail yang ada di dalamnya dibuat dengan apik. Macam-macam aliran dangdut dieksprerimen. Ada lagu dangdut khas pantura di D.N.A (Dangdut Neng jero Ati). Ada dangdut khas organ tunggal nikahan di Mari-Mari. Ada choir dan rap khas Kill The DJ di Rakyat Bergoyang. Kamu akan ingat slogan di bak-bak truk ketika mendengar Jalur Pantura. Lagu dangdut house juga ada. Bahkan lagu dangdut syahdu pun ada di Teruslah Bekerja (feat. Glenn Fredly loh).

Top 3 lagu favorit saya di album ini adalah:

  1. D.N.A (feat. Riris Arista & Brodod) – lagu ini dijamin bikin ngakak dan goyang. Sentuhan dangdut panturanya otentik. Kamu bisa dengar paduan Riris Arista yang halus dan Brodo yang serak dan kocak. Liriknya jauh lebih keren daripada dangdut pantura yang umumnya nakal. Tidak lupa sentuhan ajeb-ajeb elektronika.
  2. Mari-mari (feat. Heruwa & Paksi Raras) – dijamin bikin goyang. Lagu ini harus masuk daftar putar organ tunggal di resepsi nikahan :D. Campuran elektronika dan dangdut electone nya cocok sekali. Ditambah sentuhan ska reggae dari Heruwa, lagu ini enak didengar dan nggak ada kembarannya.
  3. Kewer-kewer (feat. Riris Arista) – lagu Libertaria yang pertama kali saya dengar sekaligus paling berkesan. Lagu ini sepaket dengan goyang Kewer-kewer yang ada di video klipnya. Gabungan antara goyang absurd dan musik asyiknya bikin geleng-geleng. Tapi lama-lama jadi ketagihan juga. Ini harus jadi tren goyang viral berikutnya :D. Kamu wajib lihat videonya di bawah ini.

Jangan mikir lama lagi, cepat tekan play di Soundcloud atau unduh albumnya lewat akun Facebook atau Twitter.

Selamat bergoyang post dangdut electronika.

Iklan

Reuni, Beasiswa, dan Musik

Baru tiga bulan berpisah dengan teman kuliah, rasa kangen main bareng sudah menggebu-gebu. Jadi ketika diajak menemui sahabat peraih beasiswa di suatu event spesial, saya iyakan dengan senang hati. Hiburan terbaik yang saya rasakan sejak lulus: berkumpul dengan teman dekat lagi, memperoleh informasi tentang LPDP yang prestisius, plus nonton Calvin Jeremy, Life Cicla, serta Mocca. Semuanya gratis kecuali biaya parkir 😛

Collage-LPDP

Reuni Perantau

Cuma sedikit mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi angkatan saya yang merantau ke Jakarta pasca lulus. Tiga orang diantaranya janjian bertemu di UI. Saya, Fatoni (alias blogger Fiksimen yang bisa kalian kunjungi beres baca ini), dan Gunawan. Walaupun ngomongnya sama-sama merantau ke Jakarta, kita terpisah jauh. Saya di Tangerang, Fatoni di Jatinegara, Gunawan di Slipi. Kita janjian ketemu di Stasiun Duri lalu ke Stasiun Universitas Indonesia. Kagetnya saya, mereka berdua baru pertama kali naik KRL. Saya saja baru dua bulan sudah kemana-mana naik KRL (songong, padahal dulu nggak betah jadi komuter).

Kita bertiga memang niat jalan-jalan sambil mengunjungi teman yang mau merantau sungguhan ke luar negeri. Kalau kita bertiga merantau cari uang, mereka merantau cari ilmu. Eh, tapi di sana biasanya cari uang part-time juga biar bertahan hidup hehehe. Baca lebih lanjut

Konser Gratis, Foto Gratis

Kemarin Rabu saya secara random diajak oleh Khairani dan Rifki ke Braga City Walk buat nonton konser Mocca gratis. Iya, gratis. Dengan pertimbangan (disertai intuisi tentunya) bahwa sesuatu menarik akan terjadi, saya langsung bilang oke – yang mengejutkan dua orang itu. Meh, saya harus akui bisa cepat mengambil keputusan.

Di tengah hujan yang mulai mengguyur dan macet yang menghadang, kita sampai dengan selamat pukul empat sore. Acaranya masih lama, jadi makan dulu. Lanjut, pergi ke panggung. Sedang ada kuis, tiba-tiba saya ditunjuk.

Ditanyain nama personil Mocca…Waduh mana saya paham?

Menyerah, akhirnya ditanyain siapa yang perform di panggung pada hari itu. Karena ingat poster (dan bantuan contekan) akhirnya bisa jawab juga.

It was hilarious.

Kang saya nggak ngerti nih, ditanyain mulu

Kang saya nggak ngerti nih, ditanyain mulu

Akhirnya mulai juga penampilan Mocca. Atau lebih tepatnya Arina (vokalis Mocca) beserta Kelas Mocca yang menyanyikan lagu Mocca. Doesn’t matter, lagunya enak semua (walau saya nggak tahu judul dan liriknya).

Arina dan Kelas Mocca (btw yang kelihatan main gitar itu Kak Lio)

Arina dan Kelas Mocca (btw yang kelihatan main gitar itu Kak Lio)

Reni dan Kiki udah ngebet banget mau foto bareng. Dengan semangat menggebu dan bantuan dari Kak Lio, akhirnya berhasil dapet foto bareng Arina. Kyaaa :3 (ini excitednya ketularan para cewek).

Jos

Jos