Sering Menatap Layar Gawai? Mendongaklah

I care about my posture. Saya peduli dengan tampilan postur pribadi. Walaupun pendek, yang penting tegap. Ini bukan soal pengen kelihatan gagah atau keren. Ini soal fungsionalitas. Kalau postur bagus, badan bisa digerakkan dengan bebas tanpa merasa atau pegal. Saya nggak suka kalau badan berat atau pegal ketika beraktivitas.

Sayangnya semua berubah ketika negara api menyerang saya mulai bekerja. Kebanyakan aktivitas ya nongkrong di depan laptop. Balas email, buat dokumen, siapkan presentasi. Kalau istirahat siang atau di rumah tetap saja nggak bisa lepas dari smartphone atau tablet. Akibatnya saya merasa nggak segesit pas masa dulu. Satu penyebab yang besar: keseringan melihat layar gawai.

Apakah pembaca merasa keseringan lihat gawai juga? Kalau iya, boleh lah kita perhatikan bersama.

Kalau lagi fokus banget lihatin gawai, otomatis kepala didekatkan ke layar kan? Nah, ketika itu sebenarnya tulang belakang menerima beban berat karena di-stretch ke posisi yang tidak alami. Sedikit-sedikit nggak sadar, tapi kalau berjalan setiap hari efeknya bisa buruk. Untuk mengujinya, cobalah mendongak ke atas. Tahan dagu dengan tangan sampai dagu dan leher hampir vertikal. Kalau kelamaan di depan laptop atau smartphone, biasanya leher terasa kaku dan sakit. Itu karena leher mulai kaku setelah kebanyakan condong ke depan kemudian diarahkan sebaliknya.

Ini adalah reminder ringan buat saya, dan mungkin bisa berguna buat pembaca. Ingatlah buat mendongak sedikit kalau merasa keseringan melihat gawai. Lebih bagus lagi kalau ditindaklanjuti olahraga ringan dan sikap duduk yang betul 🙂

Quote about commuter

Balada Komuter

Pas di tingkat akhir kuliah saya punya 2 pantangan terkait pilihan kerja. Pertama, saya mau kerja di manapun kecuali Jakarta. Menurut saya, kultur dan pace kerja di Jakarta bikin orang cenderung memperhatikan duit daripada sisi lain hidup. Kedua, saya nggak mau komuter. Bolak-balik menempuh belasan kilometer dari rumah ke tempat kerja. Harus sampe segitu banget kah menghabiskan waktu di jalan demi penghasilan? Itu pikir saya.

komuter-2

Mengantri untuk kembali ke rumah bareng ratusan, atau ribuan, komuter lain.

Nyatanya 2 pantangan itu langsung rontok ketika saya diterima kerja di Tangerang, tapi juga harus ke Jakarta tiap beberapa hari. Sebelum menyadarinya, tiba-tiba saya sudah keringatan di angkot, berdesakan di KRL, atau ketiduran di bus. Karena kantor kerja ada di Tangerang dan Jakarta , mau tidak mau saya jadi komuter juga seperti jutaan orang lain. btw, saya baru tahu kalo ada kantor di Jakarta setelah masuk kerja. Jadi misuh-misuh dalam hati juga kalau menurut jobdesc bakal sering ke Jakarta.

Sudah sebulan berkomuter Tangerang-Jakarta, saya menyadari beberapa hal setelah berpikir. Sempat mikir? Ya, soalnya di dalam kendaraan mayoritas waktu nampaknya habis untuk main hape, tidur, atau merenungi nasib (CMIIW please, fellow commuters). Saya punya pantangan kerja karena punya persepsi buruk soal kerja komuter atau kerja di Jakarta. Saya meremehkannya.

Jadi bagi saya ini semacam ujian dari Allah (sungguh, cuma kuasa-Nya yang bisa ngepasin apa yang saya nggak suka terjadi pada diri saya). Ada satu hal langka yang jadi sumber semangat, namanya kesempatan (opportunity). Tidak banyak orang yang dapat kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang memuaskan. Maka dari itu menempuh belasan kilometer pun rela demi meraih kesempatan. Nyatanya juga tak ada seorang pun yang suka berdesakan di kendaraan umum atau terjebak macet di mobil sendiri. Semuanya demi meraih secuil kesempatan.

Makin lama di daerah Jabodetabek, saya merasa tempat ini makin menarik. Bukan berarti suka sama suasana ini sih hahaha. Ada pengalaman baru yang layak untuk jadi pelajaran. Ada orang baru yang menarik untuk ditemui. Ada kisah baru yang tak terbayang sebelumnya. Dan memang itulah yang saya cari sejak awal ketika memutuskan kerja di Jabodetabek.

Shock Pengeluaran Ala Metropolitan

Sejak zaman kuliah, saya terbiasa menghitung pemasukan dan pengeluaran uang. Tujuannya supaya bisa mengontrol keuangan dan terbiasa sampai dapat penghasilan sendiri. Biasanya saya pakai aplikasi Financius buat mencatatnya. Soalnya dia mudah dipakai dan tampak indah aja tampilannya 😀

Sekarang saya tinggal di Jabodetabek dengan penghasilan sendiri (walau gaji pertama belum turun, sih). Ini pengalaman pertama tinggal di wilayah sebelah ibukota. Dulu sih paling mentok di Bandung pas kuliah. Ada shock yang melanda saya dalam minggu awal tinggal di Jabodetabek. Angka pengeluaran saya menembus 100.000 rupiah per hari! Grafik pengeluaran di apps Financius pun kaya roller coaster dalam seminggu. Pas minggu pertama itu saya mencoba dengan memenuhi kebutuhan pokok, tapi ya memang segitu keluarnya.

Saya butuh alat makan biar gampang makan di kosan. Keluar sekian.

Keesokan harinya, saya butuh naik ojek/angkot karena pergi ke suatu tempat. Keluar lagi sekian.

Saya harus laundry, potong rambut, keluar lagi sekian.

Biar nutrisi harian cukup, saya perlu beli buah dan vitamin. Lagi-lagi keluar duit.

Saya perlu ke Bandung lagi (ceritanya kangen suasana Bandung bareng temen-temen). Pasti keluar biaya.

expenses-financius

Tampilan pengeluaran bulan November sampai kemarin. Di awal sampai tengah pengeluarannya menggila. Baru dari pertengahan pengeluaran bisa terkontrol.

Pokoknya setiap hari ada saja pengeluaran sampai bikin pusing. Pada minggu pertama di Jabodetabek ini saya betul-betul kepikiran gimana bisa hidup dengan sedemikian pengeluaran. Akhirnya saya me review pengeluaran. Ternyata yang saya beli memang saya butuhkan semua. Terus gimana caranya bisa menekan pengeluaran?

Dalam minggu pertama pertanyaan itu belum terjawab dan saya sedikit tertekan. Pada minggu kedua ini, pengeluaran saya lebih terkontrol. Barulah setelah dua minggu saya sadar penyebab membengkaknya pengeluaran harian.

1. Biaya Pindah Domisili

Saya harus pindah dari Bandung ke Jabodetabek plus memindahkan segala harta saya ke tempat baru atau ke rumah orang tua. Kemudian saya perlu membayar biaya kosan di tempat baru. Sudah begitu saya perlu membeli kebutuhan sehari-hari dari odol sampai perabot. Setengah pengeluaran saya bulan ini adalah untuk keperluan pindahan dan penyesuaian hidup baru.

2. Biaya Transportasi

Di minggu pertama saya ke kantor dengan ngojek atau ngangkot campur jalan kaki. Lalu saya juga bolak-balik ke Bandung buat mengurusi pindahan. Belum lagi kalau harus naik taksi karena tak punya transport. Beruntung setelah minggu kedua, motor dari Bandung sudah sampai kosan baru jadi saya bisa lebih hemat di ongkos transportasi harian. Perlu dicatat lekat-lekat sebagai tips: motor adalah investasi terbaik untuk mengurangi pengeluaran biaya transportasi. Nggak terima? Protes saja pemerintah.

3. Biaya Makan, Minum, dan Jajan

Harga makanan, minuman, dan jajan di sini jelas lebih mahal. Makanya harus pandai cari tempat makan yang enak tapi murah. Lebih oke lagi kalau bisa masak sendiri. Itu yang dikatakan keluarga dan pacar lewat telepon. “Masak aja, bikin tumis daging bla bla bla”, yang saya bikin hanyalah mie, telur rebus, rebusan sayur, dan tempe/tahu goreng. Belanja dan masak memang ribet, tapi it’s worth it. Di minggu kedua ini saya masak sekali dan makan di luar sekali jadi pengeluarannya lebih terkontrol.

Penutupnya, cek selalu pengeluaran harian supaya bisa terdeteksi kalau tiba-tiba membengkak. Saya sarankan pakai apps expense manager yang sudah banyak tersebar. Boleh juga komen kalau ada saran atau uneg-uneg soal shock karena pengeluaran 😉

Ini sedikit sharing dari seorang Yogi yang akhirnya terjun di belantara angkatan kerja. Mohon mangap juga kalau jarang update blog. Mungkin beberapa waktu ke depan topiknya soal hiruk pikuk hidup di dunia yang totally new bagi saya.

Hari Pertama Kerja

Ini postingan singkat yang yang saya bikin menjelang akhir hari.

Ini adalah hari pertama kerja saya di perusahaan teknologi di Karawaci, Tangerang. Ketika saya melepas sepatu pantofel selepas kerja, rasanya macam-macam. Excited karena banyak tantangan menanti. Bingung karena habis direcoki banyak hal yang perlu diingat. Si bos bilang, “Pelan-pelan aja”.

Kipas angin menyala. Saya masih belum terbiasa hawa Tangerang yang seperti sauna raksasa ini. Empat tahun di Bandung terlalu nyaman bagi badan. Sambil berbaring saya berpikir, dunia di depan sudah berbeda, seperti apa ya jadinya?

Teman baru, penghasilan baru, kosan baru, kesempatan baru, risiko baru, tantangan baru. Semuanya menanti di perjalanan. Pasti. Tapi biarlah saya menikmati masa-masa senggang sebelum tak punya waktu lagi. Mau tidur yang enak dulu.

Hidup Adalah Rangkaian Kebingungan

Kebingungan menghinggapi hidup manusia. Selalu berganti tanpa henti. Lepas satu kebingungan, muncul kebingungan lain. Jadinya dalam hidup selalu ada saja yang dibingungkan.

Waktu bayi, manusia bingung cara bertahan hidup. Jadinya cuma bisa menangis, menunggu ayah ibunya memberi perhatian.

Jadi bocah bingungnya waktu bola tersangkut di atap atau mainannya terselip di kolong kasur. Kalau bocah zaman sekarang bisa juga bingung pas baterai smartphone orangtuanya habis.

Mulai masuk sekolah bingungnya karena menghadapi dunia baru dengan ruang kelas, guru, dan teman sebaya.

Makin lama sekolah makin bingung karena pelajaran makin sulit dan tugas makin banyak.

Menjelang akhir sekolah bingung karena harus belajar supaya lulus ujian nasional dan ujian sekolah.

Setelah dinyatakan lulus, kini bingung mau melanjutkan sekolah ke mana. Dari SD sampai SMA kebingungan itu berulang-ulang.

Yang pendidikannya tidak selesai bingung bagaimana harus melanjutkan hidup dan memenuhi kebutuhan.

Yang pendidikannya sampai SMA selesai pun masih bingung menentukan mau kuliah di mana.

Mencoba masuk kuliah pun bingung karena ujian masuk sulit dan biayanya tidak murah.

Yang sudah berhasil diterima di perguruan tinggi bingung karena tugas lebih banyak dan standar hidup menurun.

Yang sudah lama berkuliah bingung karena skripsi tak kunjung selesai.

Yang baru lulus bingung menentukan masa depan. Bingung menentukan karir apa yang diinginkan.

Makin lama kerja muncul kebingungan karena muncul keinginan mencari pasangan hidup.

Setelah menikah muncul kebingungan bagaimana membayar tagihan, cicilan rumah, dan memenuhi tuntutan sosial. Tidak lupa kebingungan menantikan datangnya keturunan.

Setelah anggota keluarga bertambah, muncul kebingungan membagi waktu untuk kerja dan keluarga.

Setelah anak-anak makin besar, muncul kebingungan bagaimana mencukupi kebutuhan yang makin bertambah.

Mulai memasuki usia pensiun, bingung bagaimana jaminan kehidupannya kelak.

Ketika kesehatan menurun karena pengaruh usia, bingung dengan rasa sakit yang diderita.

Ketika sudah menjadi uzur, akhirnya orang sadar: mengapa hidupku aku gunakan buat memikirkan perkara hidup yang tak habis-habis? Terlalu banyak waktu dihabiskan untuk bingung. Tak sempat menikmati hidup sampai akhirnya terlambat. Tak sempat berbuat manfaat dalam hidup sampai akhirnya tak lagi kuat.

Masalah akan mendatangi setiap insan. Tantangan hidup tak ada selesainya. Wajarlah kalau menganggap hidup ini kesulitan. Tapi setelah kesulitan selalu ada kemudahan. Kalau percaya akan hal tersebut, tak perlu memikirkan kebingungan hidup.

Bagi saya, hidup selalu ada tantangannya. Seperti kalau bertinju, bersiaplah untuk dipukul. Setidaknya tidak bakal bingung ketika pukulan itu datang. Bingung hanya menghabiskan energi dan membuat diri kehilangan sisi positif hidup. Kalau bingung, jangan hidup. Kalau hidup, jangan bingung.

NB: Postingan ini didedikasikan untuk diri sendiri dan teman-teman sekampus ITB yang baru diwisuda menjadi sarjana. Semangat semuanya.

opini Bela negara

Sebuah Opini: Perlukah Wajib Bela Negara?

Hangatnya berita soal wajib bela negara bagi penduduk Indonesia membuat saya tertarik. Benarkah Indonesia membutuhkan program bela negara? Lewat tulisan ini, saya mengupas aktivitas yang dilakukan dalam bela negara dan relevansinya dengan masalah yang dihadapi bangsa ini.

Pendahuluan

Bela negara berbeda dengan wajib militer meskipun dasarnya sama. Konsep induk keduanya adalah melindungi eksistensi negara. Wajib militer merupakan usaha untuk memperoleh dukungan militer dari rakyat sipil. Apabila negara dalam kondisi darurat (misalnya perang), rakyat sipil yang telah terlatih dapat diterjunkan untuk kepentingan militer. Israel, Korea Selatan, dan Singapura menerapkan kebijakan ini untuk melindungi negara mereka. Sementara bela negara lebih menekankan pada sikap dan kesadaran untuk menjaga eksistensi suatu bangsa.

Ryamirzad, Menteri Pertahanan RI, menyatakan bahwa kesadaran masyarakat terhadap Pancasila sudah menurun. Hal tersebut membuat kesadaran berbangsa menjadi lemah. Indonesia dipandang rentan dari berbagai segi. Untuk itu beliau merumuskan program wajib bela negara sebagai bentuk penguatan bangsa Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, beliau menargetkan Indonesia memiliki 100 juta kader bela negara dalam jangka 10 tahun.

Piramida penduduk Indonesia 2015

Untuk mencapai 100 juta kader bela negara, warga negara di bawah umur 50 tahun diwajibkan ikut. Piramida ini menunjukkan betapa besar elemen tersebut. (Gambar: Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 [Bappenas])

Pro dan Kontra

Kalau dilihat dari niat memperkuat negara Indonesia, alasan program ini nampak logis. Tapi memangnya sedemikian rentan terhadap ancaman sampai memerlukan 100 juta kader bela negara? Bukankah dalam bela negara cuma ada latihan baris-berbaris, pengetahuan pancasila, dan dasar kemiliteran? Padahal ancaman masa kini lebih banyak dari segi ekonomi, budaya, informasi, dan sebagainya. Berarti bela negara kan tidak relevan untuk kehidupan zaman ini.

Paragraf di atas adalah contoh argumentasi pihak yang kontra terhadap bela negara. Saya bilang, nanti dulu. Mari kita menyelami apa yang sesungguhnya bakal dipelajari dalam bela negara. Baca lebih lanjut

Saya tidak menggunakan Path karena

Saya Keluar dari Jalan (Path)

Sudah hampir seminggu hari ini saya uninstall aplikasi jejaring Path di handphone. Sebenarnya sudah lebih dari sebulan saya tidak membukanya. Sudah keputusan bulat bagi saya buat pergi dari Path meskipun harus mengorbankan diri jadi nggak update lagi.

Tapi kenapa?

Alasannya sih sederhana: Path error terus dipakai di hape saya.

Unfortunately path has stopped

Pesan yang selalu muncul sesaat setelah membuka Path

Kan kzl.

Sudah sejak dua bulan, kalau coba pasang foto atau check-in di suatu tempat, pesan error muncul. Jadinya saya cuma bisa scroll ke bawah pakai jempol. Lihat-lihat kisah hidup teman yang tampak serba senang. Satu bulan yang lalu, malah buat scroll beberapa kali ke bawah saja langsung pesan error muncul lagi. Diulangi lagi, muncul juga. Malah hape makin lelet dan harus di-restart. Aplkasi sudah di perbarui di Google Playstore masih muncul pesan error yang sama. Akhirnya mau nggak mau uninstall juga.

Bagi saya nggak perlu repot-repot browsing di internet untuk mencari tahu penyebab malapetaka ini. Jawabannya sudah jelas: beban komputasi terlalu tinggi. Aplikasi ini minta banyak memori sementara jatahnya sedikit (RAM punya saya cuma 1 GB). Akibatnya sistem langsung hentikan si aplikasi rakus itu. Satu-satunya jalan cuma ganti handphone. Kalau nambah RAM nggak mungkin. Ini bukan komputer kantoran. Di sisi lain saya merasa hape saya masih baik-baik saja (yah meskipun kalau lagi lelet pengennya banting hehehe). “Kalau masih bisa dipakai nggak perlu ganti,” Begitu nasihat kakek dulu.

Kesimpulannya saya ogah beli smartphone baru. Biarlah ketinggalan berita terbaru. Sebenarnya nggak ada Path hidup saya baik-baik saja. Nggak ada handphone sama internet juga masih hidup. Tapi kenapa jari-jari tangan gatal begini ya? Hehe. Memang sulit membayangkan hidup zaman sekarang kalau di genggaman nggak ada smartphone.

Pembaca sekalian ada pengalaman pengen out dari media sosial? Boleh di share yah 🙂

Menilik Kebijaksanaan HAMKA

Ngomong-ngomong, mengapa nama HAMKA ditulis kapital semua? Sebab HAMKA itu singkatan nama beliau yang panjang: Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beberapa menyebut Buya Hamka. Buya adalah gelar yang diberikan kepada ulama besar. Memang tidak salah. Beliau adalah ulama besar sekaligus penulis jempolan. Lewat goresan pena beliau pemikiran-pemikiran utama menyebar. Dan di kesempatan postingan ini saya bakal meneruskan pemikiran beliau, tapi dengan jalan yang kekinian.

Quotes. Cara kekinian memberi inspirasi.

Kata-kata buya hamka dalam karya Hamka berjudul Falsafah Hidup

Kata-kata buya hamka dalam karya Hamka berjudul Falsafah Hidup

Kata-kata buya hamka dalam karya Hamka berjudul Falsafah Hidup

Kata-kata buya hamka dalam karya Hamka berjudul Falsafah Hidup

Kata-kata HAMKA ini saya peroleh setelah membaca buku beliau yang berjudul Falsafah Hidup. Buku ini pertama kali ditulis pada tahun 1940 dan mengalami beberapa kali revisi sampai sekarang. Hebatnya, tulisan beliau tidak lekang setelah 75 tahun. Mungkin malah makin relevan. Saya juga ingin tahu mana favorit pembaca sekalian.

Jangan ragu-ragu untuk share di media sosial terdekat 😀

Sampingan

Mobil Camry dan Kuda

DI akhir pekan berkepanjangan kemarin, suatu pagi saya sedang duduk-duduk di gerbang depan ITB. Ceritanya menunggu teman berkumpul untuk melakukan perjalanan ke Subang (bakal segera saya post kisahnya). Hari masih pagi, mentari masih hangat menerpa permukaan bumi. Jalan Ganesa pun belum ramai. Sesekali motor dan angkot lewat. Di tepi jalan segerombol joki membawa tali kekang kuda masing-masing, bersiap mengejar rezeki.

Saya tahu penyedia jasa naik kuda ini sudah datang pagi-pagi. Pernah saya berangkat ke kampus sekitar pukul enam, lalu melihat joki mengendarai kuda di Pasar Simpang. Bayangkan, kuda berkeliaran di jalanan utama Bandung. It’s so swag. Para joki sudah macam koboi. Nah, di Jalan Ganesa ini mereka beroperasi. Ada saja yang mencoba cari hiburan sejak pagi. Ada orangtua yang mengajak anaknya naik kuda. Si anak setengah takut, sementara orangtuanya malah memotreti ekspresi anak.

Belasan menit berlalu. Tiba-tiba muncul mobil Toyota Camry menepi agak sembarangan. Sebelum mobil benar-benar berhenti, dua tiga joki cekatan mendekati mobil tersebut. Lalu dari mobil itu keluar satu keluarga dengan anak kecil. Sang ibu bernegosiasi dengan joki untuk menaiki kuda. Singkat cerita, anaknya pun naik kuda dan diantar joki. Tentu tidak lupa dipotret orangtuanya.

Itu pemandangan normal sebenarnya. Yang mengusik pikiran saya, bisa-bisanya orang yang sudah punya mobil semewah Camry (setara eselon 1 atau menteri loh) rela jauh-jauh ke Jalan Ganesa untuk naik kuda. Sudah punya emas malah cari timah. Mungkin kalau dilihat dari sisi lain, si joki kuda juga mau naik Camry. Bagus kalau bisa saling tukar kendaraan selama beberapa menit 😀

Ah, manusia memang sulit dibuat puas.

Ayo melek hukum

Ayo Melek Hukum

Tulisan ini muncul karena dalam dua minggu terakhir banyak bikin makalah soal konflik sosial yang berujung pada ranah hukum. Saya bukan orang hukum, jadi nggak mengerti seluk-beluk secara detail. Yang saya pahami, kalau kita sebagai individu sudah sadar hukum sejak dini, kesiapan menghadapi tuntutan hukum bakal meningkat.

Kalau di Amerika, orang sangat melek hukum nampaknya. Dari nonton berbagai jenis series soal detektif dan kriminal, saya tahu hal pertama yang diminta tersangka, “I want my lawyer.” Kalau di Indonesia? Sepertinya masih jauh. Mental sok kuasa aparat dan sogokan bicara duluan.

Di dunia ini ternyata ada saja pihak yang punya niat jahat untuk menjerumuskan seseorang. Contohnya sering nampak di KPK sekarang. Banyak penyidik KPK ditahan. Banyak pula yang dituntut tapi bisa lepas dari pemrosesan hukum. Tapi yah, itu soal lain. Sekarang yang saya bahas, bagaimana cara mempertahankan diri apabila terkena jerat hukum.

Dalam makalah yang saya bahas ada masyarakat petani melawan perusahaan perkebunan. Hal yang dipermasalahkan adalah sengketa tanah. Yang parah, dari zaman Hindia Belanda sampai sekarang, para petani selalu ada dalam posisi yang lemah (baca novel Bumi Manusia untuk mengetahui peradilan yang tak memihak pribumi). Yang bisa mereka lakukan cuma blokade jalur transportasi, protes di gerbang perusahaan, dan aksi kekerasan. Miris rasanya kalau mereka tidak tahu strategi. Pada akhirnya sebagian bakal ditangkap karena melakukan aksi kekerasan. Yang lain pun takut sampai aksi protes meredup. Apakah itu berarti perusahaan perkebunan adalah orang yang licik? Entahlah. Yang jelas mereka menang.

Ini perlu diingat: kita tidak dapat mempertahankan diri dari tuntutan hukum kecuali dengan melek hukum. Supaya melek hukum, tidak perlu menghapal pasal-pasal yang rumit. Cukup menanamkan di pikiran bahwa jalur hukum itu ada untuk mewujudkan keadilan. Selain itu, pahami pula bahwa kita sebagai warga negara memiliki hak yang tidak dapat diganggu orang lain. Kalau memang tidak bersalah, jangan takut menghadapi jalur hukum. Yang terakhir, kita perlu mengetahui akses terhadap bantuan hukum. Setahu saya saat ini ada LBH (Lembaga Bantuan Hukum) yang berperan membantu rakyat biasa mendapat dukungan untuk melalui proses hukum.

Dengan melek hukum, tidak perlu takut dengan ancaman tuntutan hukum. Keadilan bakal terkuak kalau diperjuangkan.

Hobi Lama, Puzzle Baru: Kongming Lock

Saya suka puzzle seperti anak-anak suka angpau saat hari raya. Sebabnya sederhana, saya suka tantangan. Terutama yang berkaitan dengan pikiran. Puzzle itu bagai makanan pikiran. Sekali menyelesaikan sebuah teka-teki rasanya neuron baru tersambung dalam kepala. Tentu diiringi rasa puas setelah dirundung frustasi. Sekarang saya posting tentang ini karena baru saja dapat satu koleksi puzzle baru.

Pas belanja di sebuah supermarket, saya nemu bagian penjualan barang sisa. Yah, macam clearance sale gitu. Menjual barang yang sudah nggak laku bertahun-tahun. Salah satunya ada puzzle bertipe kongming lock atau burr. Buatan Cina, bahan dari plastik. Saya ingat setahun  lalu ada mainan yang sama tergantung di rak. Harganya waktu itu Rp 42.000. Dulu saya sudah keinginan untuk membelinya. Namun harganya serasa tidak sebanding. Kini harganya tinggal Rp 22.500. Itu setara uang makan 2x bagi mahasiswa. Setelah menimbang sepersekian detik, saya sambar saja puzzle yang kurang laku itu (nggak heran juga kenapa puzzle dijual sedikit. Bagi orang sini, buat apa membayar barang yang akan bikin pusing diri sendiri?).

Puzzle ini masuk kategori burr. Namanya tidak diketahui karena bertuliskan huruf kanji

Puzzle ini masuk kategori burr. Namanya tidak diketahui karena bertuliskan huruf kanji

Begitu selesai belanja langsung saya buka. Jelas kalau ini barang dari plastik. Namun kualitasnya tidak mengecewakan. Dan saya merasa beruntung bisa membawa pulang puzzle ini dengan harga miring. Asal tahu saja, puzzle jenis burr atau kongming lock ini biasanya terbuat dari kayu atau plastik. Harganya bisa bikin mahasiswa puasa satu minggu.

Contoh puzzle serupa dari kayu (Sumber: Rob’s Puzzle Page)

Ternyata ini tantangan yang gampang. Saya berhasil melepas semua bagiannya kurang dari 10 menit. Namun membongkar lebih mudah daripada memasang. Saya akhirnya pakai contekan kunci jawaban untuk memasang bagian-bagian puzzle menjadi utuh kembali.

Warna-warni

Warna-warni

Menyenangkan? Bagi saya tentu saja. Namanya juga hobi.

Video

Zangief Theme Song: A Nostalgia

Dulu pas zaman kecil, saya hampir setiap hari main PS. Sempat menjadi game favorit salah satunya Marvel VS Capcom. Di game itu, salah satu hal yang selalu terngiang di kepala saya adalah lagu background saat memainkan Zangief dari Street Fighter. Sekian tahun berlalu, tiba-tiba saya nemu lagunya di Youtube. It was nostalgic when I heard it again.

Saking senangnya, lagu yang sudah looping ini saya looping lagi. Hahaha.