Kutipan

Broken Sugar Cane Lorries

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Broken.”

More about my WPC submission here

Kereta lori pabrik gula pagotan madiun

Home of sugar cane lorry

Behind broken fences
of Sugar Factory of Pagotan, East Java
lies a century old lorries
stand still, collecting rust
waiting for special moment
carrying sugar cane during harvest
throughout the rail track
on hectares of sugar field
some lorries aren’t lucky enough
got broken with age
maybe they will be missed

or maybe not

Lori pabrik gula pagotan

Broken lorries

Iklan
Lampu lalu lintas kota

Lucky Streak Lampu Hijau

Lucky streak merupakan istilah yang berarti keberuntungan secara beruntun. Biasanya dipakai dalam istilah perjudian untuk menandakan kemenangan secara berturut-turut dan dapat uang banyak. Bukan berarti saya berjudi nih. Hanya saja beberapa waktu lalu saya mengalami hal menarik yang berkaitan dengan hoki ini.

Ceritanya Sabtu kemarin sanak keluarga main ke Bandung. Katanya tiba di Stasiun Bandung pukul 06:40. Karena ada sedikit hambatan, saya baru bisa berangkat pukul 06:30. Pasti terlambat, begitu pikir saya. Makanya begitu di atas motor langsung geber saja mumpung lalu lintas masih sepi. Begitu sampai di lampu merah Gasibu, alhamdulilah lampunya pas berubah hijau. Nggak ada halangan. Kemudian menuju lampu merah perempatan Taman Dago. Eh, nggak tahunya sedang hijau juga. Sampai saat itu saya senang karena lagi hoki. Yang bikin heran, setiap saya lalui lampu lalu lintas pagi itu, keadaannya selalu lampu hijau. Totalnya lima kali. Lima kali lampu hijau!

Anda mengerti betapa mejik pengalaman itu? Kalau disuruh mengulangi, saya nggak tahu kapan bisa terjadi lagi. Biar lebih paham, hitungan persentase kemungkinannya sebagai berikut.

Asumsikan rata-rata perbandingan waktu lampu hijau dan lampu merah adalah 1:2. Dengan demikian, kemungkinan kita datang di perempatan pas lampu sedang hijau adalah 1/3. Kalau dapat dua lampu hijau berturut-turut, kemungkinannya adalah 1/3 x 1/3 = 1/9 = 11,1%. Sementara lima lampu hijau berturut kemungkinannya adalah 1/3 x 1/3 x 1/3 x 1/3 x 1/3 = 1/243 = 0,41%. Satu dari dua ratus empat puluh tiga kali percobaan.

Ada dua kemungkinan apabila saya mendapatkan hoki di saat saya membutuhkannya:

  1. Saya jago hacking lampu lalu lintas macam game Watchdogs
  2. Perjalanan saya diridhoi
Game watchdogs hacking elektronik

Enak kalau bisa hacking ala Watchdogs, lampu lalu lintas jadi hijau semua (Sumber: venturebeat.com)

Nomor 1 mustahil di Bandung. Koneksi laptop aja gampang-gampang susah. Apalagi lampu lalu lintas 😛

Akibat kemacetan yang minim dan lampu lalu lintas yang hijau terus, saya bisa sampai dalam 15 menit (biasanya 20-30 menit). Tidak terlalu terlambat untuk menjemput keluarga. Mungkin lucky streak seperti ini terjadi karena tujuan yang mulia, jadi perjalanannya barokah 😀

Kesimpulan: Berdoa sebelum berangkat naik kendaraan. Luruskan niat yang barokah. Siapa tahu hoki.

Kereta api melintas

Tips Naik Kereta Api dengan Nyaman

Musim liburan tiba! Di akhir tahun ini paling enak pulang kampung atau pergi berlibur ke luar kota. Salah satu mode transportasi yang dapat diandalkan saat ini adalah kereta api. Dengan ketepatan waktu dan kenyamanan yang semakin baik, sekarang naik kereta api makin enjoyable. Bukan promosi loh. Saya naik kereta api puluhan kali dalam empat tahun terakhir. Tiketnya selalu saya simpan. Banyaknya sudah menyaingi bukti pengiriman recommended seller di FJB online hehehe.

Beberapa tahun belakangan PT.KAI selaku pelaksana operasional kereta api sangat rajin berbenah. Di Stasiun Bandung misalnya, setiap saya datang untuk berangkat atau pulang selalu saja ada sesuatu yang baru. Secara keseluruhan pelayanan pun berubah. Pengalaman buat naik kereta pun jadi berbeda. Namun di sisi lain ada hal yang perlu diketahui. Misalnya di dalam kereta dilarang merokok, pengantar dilarang masuk peron, dan sebagainya.

Di sini saya membatasi tips untuk bepergian jarak jauh. Kalau naik komuter atau KRD, anjuran bertahan hidupnya lain lagi. Nah, berikut tips dari saya.

1. Pesan Tiket di Channel Alternatif Lebih Cepat Daripada Antri di Loket

PT.KAI membuka channel penjualan tiketnya untuk mempermudah pelanggan. Kita bisa membeli tiket lewat agen, minimarket, online ticketing, hingga aplikasi mobile. Kelebihan menggunakan channel alternatif tersebut antara lain:

Lebih cepat: Antriannya sedikit. Kalau di loket stasiun besar, rata-rata saya perlu waktu 30 menit dari ambil nomor antrian sampai memperoleh tiket.

Lebih murah: Serius? Ya. Sejak Agustus 2014 kemarin biaya channel alternatif dibuat lebih murah (meskipun selisihnya dipakai buat keuntungan agen atau biaya transfer juga). Yang jelas itu masih menguntungkan bagi pelanggan. Kita bisa memperoleh layanan lebih cepat dengan harga bersaing.

Pilihan Sama Bebas: Siapa bilang kita tidak bisa menentukan pilihan kelas, tempat duduk dekat jendela? Di channel alternatif hal tersebut masih mungkin dilakukan. Dalam online ticketing dan aplikasi mobile bahkan disediakan denah gerbong dan tempat duduk yang tersedia. Kita bisa memilih tempat duduk seperti saat mau nonton di bioskop.

Kekurangan memesan dengan channel alternatif adalah kita tidak langsung memperoleh tiket, melainkan diberi kode booking. Nanti di stasiun kode booking ini dapat diberikan kepada loket atau ditulis sendiri di CTM (Cetak Tiket Mandiri) untuk dicetak jadi tiket. Perlu diperhatikan bahwa tiket harus dicetak paling lambat 30 menit sebelum keberangkatan. Menurut saya alasan utamanya supaya aman saja. Sering ada kasus dimana saat libur seperti ini stasiun penuh orang sehingga mencetak tiket perlu waktu lama. Kan nggak lucu kalau batal berangkat karena tiket belum dicetak.

2. Makin Awal Sampai di Stasiun, Makin Baik

Ini anjuran terutama untuk orang yang harus mencetak tiket dulu (lihat penjelasan nomor (1). Di samping itu, kereta api sekarang punya catatan ketepatan waktu makin baik. Biasanya waktu keberangkatan akan sama dengan yang tertera pada tiket. Toleransinya paling lama 5 menit jika tidak ada masalah. Jadi lebih baik datang lebih awal daripada mepet waktu keberangkatan.

Apabila datang dari stasiun awal keberangkatan kereta, datang awal bisa memastikan bagasi kita terjamin di tempat semestinya. Kasus yang sering terjadi, terutama di kelas ekonomi, adalah ruang bagasi di atas tempat duduk selalu penuh oleh kardus dan tas segala macam.

3. Cek Ulang ketika Sampai Di Stasiun

Jangan lupa bawa tiket. Jangan lupa bawa identitas. Untuk melihat kondisi terkini kereta yang akan Anda naiki, lihat pada layar yang terdapat di stasiun. Di situ umumnya tertampang kereta apa sekarang sedang berada di mana, perkiraan sampai stasiun pukul berapa, serta statusnya (on time atau delayed). Kemudian untuk mengetahui kereta Anda pada jalur mana, bertanyalah pada petugas saat pemeriksaan tiket dan identitas.

4. Bawa Bantal dan Bekal Sendiri di Kereta

Saya bisa bilang kalau kursi kereta api kelas bisnis dan ekonomi nggak enak. Buat duduk apalagi tiduran. Cuma kursi eksekutif yang betul-betul nyaman (dengan harga yang betul-betul mahal). Bantal disewakan di dalam kereta. Sama saja, masih nggak enak. Saya sarankan bawa bantal leher sendiri kalau mau menyandarkan kepala dengan nyaman.

Kemudian ada satu kebijakan yang harus disikapi dengan bijak. Jadi pedagang asongan sudah dilarang untuk berjualan. Di stasiun maupun dalam kereta. Di satu sisi hal tersebut membuat layanan lebih cepat, rapi, dan bersih. Sementara itu berarti kita sebagai penumpang cuma bisa mengandalkan bekal sendiri atau PT. KAI sendiri sebagai penyedia makanan di kereta (tentunya mahal, apa yang Anda harapkan?). Memang di beberapa stasiun terdapat beberapa pengasong yang bandel dan tetap berjualan. Namun ada baiknya kalau Anda sudah berbekal makan dan minum dari awal. Bisa lebih terjamin dan murah.

Selain bekal makan dan minum, sebaiknya Anda bersiap bekal untuk menghabiskan waktu selama di kereta. Saya terbiasa bepergian 11-12 jam. Saya menghabiskan sebagian besarnya dengan membaca, mendengar musik, menikmati pemandangan, ngobrol dengan penumpang lain, dan tidur. Anda bisa berbekal seperti saya, atau lain-lain yang Anda perlukan. yang jelas hindarkan diri dari rasa bosan dalam perjalanan panjang.

5. Mengobrol dengan Penumpang Lain Sangat Dianjurkan

Kalau Anda bepergian dalam kelompok, tidak ada masalah dengan tips pada nomor ini. Anda bisa mengobrol dan bercanda sampai tak terasa sudah sampai tujuan. Namun kalau Anda pergi sendiri dan berada di gerbong ekonomi, tips ini sangat berguna (kelas bisnis dan eksekutif memberi ruang interaksi lebih sedikit). Anda bisa ngobrol banyak hal. Cukup untuk mengisi sebagian perjalanan. Perasaan juga lebih nyaman karena Anda tidak asing dengan sekitar. Kemudian mereka bisa memberitahu Anda jika kereta sudah mencapai stasiun tujuan. Kadang-kadang bisa juga saling berbagi makanan. Melaksanakan tips ini mayoritas berdampak positif.

6. Kalau Beruntung, Manfaatkan Kursi Ekstra

Tips ini bekerja untuk kelas ekonomi dan bisnis. Kalau Anda bepergian pada hari kerja atau sedang hoki, banyak kursi kosong di dalam kereta. Manfaatkan, sebelum dimanfaatkan orang lain hahaha. Jarang-jarang bisa duduk selonjoran sendiri.

7. Sempatkan Meluruskan Kaki saat Kereta Berhenti di Stasiun

Menghabiskan perjalanan jauh sambil duduk diam itu bikin badan pegal. Kalau naik kereta, Anda bisa jalan-jalan di gerbong. Saat berhenti di stasiun pun Anda bisa turun dari kereta sesaat. Asal hati-hati saja nanti tempat duduk Anda tidak disambar (kasus biasa kalau di kelas ekonomi)

8. Gunakan Jasa Porter Bila Bawaan Anda Banyak

Porter di kereta api yang resmi itu berseragam. Mereka dapat mudah ditemui begitu Anda turun dari kereta. Apalagi kalau Anda nampak kerepotan, biasanya si porter yang mendatangi. Gunakan saja jasa mereka. Jangan lupa memberikan uang tip. Besarnya kira-kira Rp 20.000.

Saya pernah mendengar kisah dari teman saya yang menggunakan jasa porter. Sebagai tanda terima kasih (niatnya bener-bener tanda terima kasih, bukan buat bayar), dia memberi uang Rp 15.000. Ketika menerima uang, si porter berkata, “Kurang lima ribu, pak.” Teman saya ini jadi kaget, ternyata ada tarif pokoknya.

9. Manfaatkan Layanan Gratis di Stasiun

Sekarang di stasiun fasilitasnya cukup lengkap dan menyenangkan. Ada Wifi (kadang gratis kadang nggak), colokan untuk charger, toilet bersih, mushola. Bahkan di dalam kereta pun toiletnya sudah bagus. Pakai septic tank (kan kalau dulu langsung bolong ke jalan rel). Di dalam kereta juga ada colokannya. Semua fasilitas itu bagi penumpang sangat berguna.

10. Bertanya Jalan Kepada Petugas

Biasanya begitu keluar dari stasiun, Anda akan didatangi tukang becak, sopir taksi, ojeg, dan jasa transportasi lain berbondong-bondong. Kalau tidak tahu triknya bisa-bisa harus bayar mahal. Kalau misalnya Anda sampai di suatu daerah dan belum tahu jalan, tanyalah kepada petugas di dalam stasiun. Dari situ Anda bisa tanya juga berapa harga rata-rata transportasi. Begitu bertemu dengan orang yang menawarkan macam-macam transportasi, Anda langsung tawar harganya.

Bepergian jauh dengan kereta itu menyenangkan. Tips dari pengalaman ini sangat ampuh bagi saya. Semoga bisa berguna buat Anda juga. Selamat bepergian 🙂

Kutipan

Bajaj in Jakarta

This is my first post of Daily Post’s weekly photo challenge: “Gone, But Not Forgotten.”

This theme is almost nostalgic for me. I went looking up for some old photos and finally found one:

Bajaj in Jakarta

Bajaj, almost extinct public transportation species in Jakarta

The photo was taken in early 2010. All bajaj in Jakarta are imported from India (Bajaj is actually name of motorcycle manufacture company in India). It became one alternative for public transportation. This fancy three-wheeled vehicle was good choice for mobility: swift, can take you anywhere in the city, at negotiable price (you have to bargain from the beginning). However it’s also loud and somewhat uncomfortable.

There was time when street of Jakarta turned orange due to vast number of bajaj. Then local government decided to create more sophisticated means of transportation. Bajaj were imported as product without service. They survived for decades by dedicated local mechanics, and still running on streets. Still, most bajaj are old. Old vehicles should be replaced, government said.

As a result, bajaj are continuously declining in numbers. I don’t know how many left in Jakarta. They are (mostly) gone. But they will not be forgotten, especially by citizens of Jakarta.