Tarian singobarong di panggung utama

Galeri Grebeg Suro 2014 di Ponorogo

Grebeg Suro merupakan festival tahunan untuk menyambut ulang tahun Ponorogo sekaligus tahun baru Hijriyah. Saya lihat Ponorogo sudah berulang tahun ke-518. Saya perlu mengakui penjagaan tradisi ini luar biasa. Lalu acara yang dilaksanakan pun beraneka macam. Ada kirab pusaka sepanjang jalan utama Ponorogo (lewat depan rumah saya juga. Jadi saya nggak pernah melewatkan hehe), larungan di Telaga Ngebel, Festival Reyog Nasional, pasar malam, dan banyak lagi. Ini bukan sembarang festival bagi warga Ponorogo. Setiap orang menyambut dengan suka cita. Yang dari kampung pelosok pun datang berbondong-bondong dengan minibus atau truk. Pusat kota penuh sesak dengan manusia. Mungkin hampir ratusan ribu. Untuk sebuah kabupaten yang rada sepi (ini bicara berdasarkan pengalaman), Grebeg Suro adalah selebrasi terbesar.

Sekarang saya cukup sedih karena sudah bertahun-tahun tidak menonton Grebeg Suro. Merantau di Bandung adalah sebabnya. Suasana ramai dan hingar bingar itu benar-benar saya rindukan. Orangtua kemarin sudah menelepon apakah saya mau pulang. Tapi bahkan kemarin saya baru ingat kalau hari ini adalah tahun baru Hijriyah. Begini rupanya efek tidak punya kalender di kosan.

Alhasil yang bisa saya lakukan untuk mengobati kerinduan adalah lewat teknologi. Berita berkembang cepat. Baru sehari berselang saja sudah banyak foto Grebeg Suro 2014. Saya kumpulkan dalam post ini supaya bisa dapat feeling selebrasinya. Nah, bagi yang tertarik boleh juga lihat-lihat. Bisa jalan-jalan ke Ponorogo tahun depan buat melihatnya.

Sumber foto

Iklan
Jokowi Presiden Indonesia 2014-2019

Jokowi, Presiden Baru Kami

Hari ini mungkin bakal tercatat dalam sejarah. Sebuah selebrasi besar oleh rakyat, bergembira atas didaulatnya presiden baru untuk Nusantara. Dialah Joko Widodo. Kesederhanaannya adalah cerminan rakyat. Senyumnya adalah adalah kebahagiaan rakyat. Tekadnya adalah harapan rakyat. Kami semua berseru, “Engkaulah pemimpin yang lahir dari rakyat”.

Ah, Pak Jokowi. Serangkaian euforia ini bagai kembang api meledak sesaat saja. Setelah ini dua ratus juta lebih kepala minta dikelola. Banyak yang masih lapar dan menganggur. Mental rentenir datang, rakyat menagih janjimu. Belum lagi pihak besar di balik bayang-bayang, minta jatah dari negerimu. Di belahan bumi lain, semua mata melihat aksimu. Ah, sungguh berat.

Semoga engkau diberi kekuatan dan jalan untuk membimbing negeri ini menuju status yang lebih tinggi. Awas dirundung stress, keriput engkau akan bermunculan lebih cepat. Kami mempercayakan sepersekian nasib kami di tanganmu.

Hidup Pemimpin Baru, Hidup Indonesia.

30 September, Tanggal Istimewa

Bukan karena saya memperingati kejadian G30S/PKI. Tentu saja periwtiwa itu bersejarah. Namun kalau mau jujur, relevansinya dengan kehidupan saya saat ini kecil sekali. Bagi saya tanggal 30 September itu istimewa karena bertepatan dengan tanggal lahir ibu saya.

Selamat ulang tahun, ibuku tercinta.

Semoga engkau senantiasa sehat dan dalam perlindungan-Nya.

Semoga engkau selalu penuh kasih sayang untuk dicurahkan kepada keluarga dan masyarakat.

Semoga kemuliaan hatimu selalu terjaga serta dijauhkan dari pengaruh negatif harta dunia.

Semoga anak-anakmu ini selalu dapat mengikuti jalan kebaikan yang telah engkau tunjukkan semasa kami kecil.

Terima kasih, ibu. Doa dan ketaatan yang kutunjukkan tentu tidak sebanding dengan besarnya pengorbanan yang telah engkau berikan. Namun semoga hal kecil ini dapat berarti.

The Panasdalam di Ulang Tahun bandung

Sabtu Refresing, Part 2: HUT Bandung

(Lanjutan dari Part 1)

Betul saja dugaan saya. Dago dan sekitarnya padat nggak tertolong. Niatnya parkir di ITB dari arah Jl. Tamansari. Ternyata lalu lintas dibelokkan ke jalan layang Pasupati. Jadi kami mengambil jalan di bawah jalan layang, memotong keramaian. Akhirnya berhasil sampai di ITB dengan selamat.

Kami sholat isya dan istirahat di Masjid Salman sampai menjelang pukul 10 malam. Setelah itu jalan-jalan di Dago yang penuh sesak karena Car Free Night. Seperti biasanya banyak terdapat stand makanan, minuman, barang-barang aneh. Di ujung selatan Car Free Night terdapat panggung utama. Dimanapun berada, tempat ini benar-benar padat dengan manusia.

Pukul 11 malam kembang api diluncurkan. Itu saya akui benar-benar besar kembang apinya. Mungkin bisa terlihat dari Jl. Soekarno Hatta. Sayangnya hanya sebentar. Setelah itu saya kira sudah selesai. Ternyata di panggung utama masih ada performance: The Panas Dalam.

Ini band ngasal banget pokoknya. Isinya ngebodor. Beberapa contoh selingan yang kocak diantara penampilan mereka:

Akulah utusan Firaun! Kalau pengen jadi Tuhan, pastikan kalian bisa berenang. Supaya tidak tenggelam pas di laut.

Kata nenekku, setiap lelaki hidup mengendarai burung. Mereka mencari wanita yang menyediakan sarang. Maka carilah sarang yang baik untuk meletakkan kedua telur burung.

Enak jadi wanita. Tinggal membuka aurat saja. Sementara laki-laki…harus berjuang untuk mendapatkan itu semua

*Selesai nyanyi* Anjir rokok gue jatuh (diterjemahkan dari Bahasa Sunda)

Pukul 12 semuanya selesai dan kita bubar ke kandang masing-masing.

NB: Featured Image diambil dari Facebook Kang Pidi Baiq. Nuhun kang, konsernya luar binasa.