Pancasila: Utopia yang Masih Dicari

Mulai tahun 2017, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa 1 Juni sebagai libur nasional Hari Lahir Pancasila. Keputusan tersebut jelas populer di mata masyarakat (siapa sih yang nggak mau tanggal merahnya tambah?). Niatnya pemerintah baik, mengembalikan kesadaran masyarakat atas nilai Pancasila. Di sisi lain, saya rasa kita perlu telaah lagi makna Pancasila di masyarakat masa kini. Apakah Pancasila, yang bertengger di dinding tiap kelas dan instansi pemerintahan, merupakan dasar yang kita inginkan dan amalkan?

Sekarang begini, kita selalu memahami Pancasila sebagai ideologi bangsa. Simbol dari nilai-nilai pokok yang dipegang bangsa Indonesia. Identitas bangsa. Begitu seterusnya seperti kata buku pelajaran Kewarganegaraan. Lima sila sakti.

Masalahnya, apakah kita semua memahami Pancasila dalam sudut pandang yang sama? Pancasila terlalu umum dan abstrak sehingga setiap orang punya penafsiran sendiri. Hal itu lantas menimbulkan kerancuan. Tidak mungkin bergerak maju sebagai bangsa kalau nilai dasarnya masih rancu. Kita ingin sesuatu yang lebih konkret, dihasilkan dari nilai Pancasila. Nah, sekarang siapa yang berhak menafsirkan Pancasila itu sendiri?

Dalam pidatonya di peringatan Hari Lahir Pancasila, Joko Widodo membentuk UKP-PIP (Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila) berdasarkan Perpres No 54 Tahun 2017. Tugasnya adalah menyusun garis-garis besar haluan ideologi Pancasila dan road map pembinaan ideologi Pancasila. Sebuah usaha untuk menafsirkan Pancasila. Menurut saya, ini inisiatif baik dari pemerintah. Dengan catatan tidak mengulangi kesalahan pemerintah yang telah lalu.

Pada masa Orde Baru, dikenal P4 dan P7 yang juga merupakan usaha penafsiran Pancasila oleh pemerintah masa itu. Letak kesalahannya adalah Pancasila menjadi alat pemerintah untuk membentuk rezim otoriter. Siapapun yang menentang pemerintah artinya menentang Pancasila alias ancaman negara yang harus disingkirkan. Pancasila juga dijadikan pembenaran atas pembantaian PKI, sejarah kelam bangsa ini.

Pada masa Orde Lama, Soekarno pun memelintir sila keempat, mengumumkan perubahan konstitusi, dan mendeklarasikan diri sebagai presiden seumur hidup. Sebuah kontradiksi dimana beliau sendiri yang ikut merumuskan dan membacakan naskah Pancasila.

Pada masa reformasi, rakyat mendapatkan kebebasan politik besar sampai nilai Pancasila (yang masih berasosiasi kuat dengan Orde Baru) perlahan memudar. Kita cenderung ke arah liberal, layaknya negara berkembang yang ekonominya membaik. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah masih belum menampakkan hasil hingga saat ini.

Secara objektif, saya berpendapat bahwa Pancasila rawan penyimpangan tafsir oleh pemerintah. Jawaban ideal tentang siapa yang berhak menafsirkan Pancasila adalah orang yang ahli hukum, sejarah, dan sosial yang diakui secara nasional. Dalam Islam, hal tersebut analog dengan Al-Qur’an yang hanya boleh ditafsirkan oleh ahli bahasa Arab, hukum Islam, dan ilmu terkait serta diakui oleh umat. Apabila pemerintah saat ini mengumpulkan tokoh masyarakat dan para ahli lalu merumuskan tafsir Pancasila yang universal, maka Pancasila bisa sekali lagi menjadi nilai yang kita miliki bersama sebagai bangsa.

Saat ini, Pancasila masih sebuah utopia. Nilai luhur idaman bangsa. Identitas yang diinginkan Indonesia, bukan identitas Indonesia masa kini. Posisinya yang masih bertengger di dinding kelas dan kantor masih belum berpindah ke hati. Tapi kita masih mencari. Ya, kita perlu mencari.

Tebang Pilih Berita Palsu (Hoax)

Hoax alias berita palsu akhir-akhir ini menjadi senjata berbahaya. Ampuh dalam perang opini di media sosial dan jejaring komunikasi. Pihak-pihak yang berseberangan saling lempar isu untuk menjatuhkan. Sampai tak jelas siapa benar atau salah. Seperti menentukan siapa paling bersih antara dua orang yang bergulat dalam lumpur.

Sebagai manusia, kita punya pilihan untuk menerima atau menolak opini orang lain. Kita juga punya pilihan untuk mendukung pihak yang sesuai dengan diri. Masalahnya, saya lihat di Indonesia, kedua pilihan tersebut tak diiringi dengan nalar sehat. Hanya karena sejalan dengan pemahamannya, lantas orang membela pendapat suatu pihak secara membabi buta. Pihak yang lain malah dicaci. Padahal semuanya sama saja, kasih hoax. Akibatnya adalah tebang pilih hoax/berita bohong.

Hoax yang berasal dari pihaknya sendiri diabaikan. Alasannya, yang penting niatnya baik. Tidak ada sumber validnya tidak apa-apa, yang penting ada pelajaran moral yang menginspirasi. Kalau hoax datang dari pihak lain langsung terpicu. Bilang ini penghinaan, konspirasi, dan semacamnya.

Bukankah bersikap demikian itu tidak adil?

Banyak contohnya bertebaran di linimasa. Perang opini pendukung calon pemimpin daerah, komunitas flat earth lawan komunitas saintifik, pro-NKRI lawan pro-revolusi, muslim garis keras lawan liberal sarkastik, dan beragam lagi. Anda merasa jengah melihat kebodohan merajalela? Saya sih iya.

Membela seseorang bukan berarti menutup mata atas kesalahannya. Toh yang dibela adalah manusia juga. Yang lebih penting adalah sikap objektif atas sebuah peristiwa. Kita boleh saja memihak asalkan adil. Kritik saya dalam postingan ini ada pada inkonsistensi sebagian masyarakat, bukan melarang mendukung dan memihak suatu kubu.

Poin yang ingin saya tekankan, berita palsu ya palsu. Entah kita suka atau tidak. Walaupun isinya bagus, kalau beritanya palsu ya jangan disebarkan. Saya melihat contohnya banyak sekali, terutama di grup WA. Ada kisah nabi atau sahabat yang terdengar sangat indah, namun tidak dicantumkan sumbernya. Setelah dicek ulang, ternyata tidak ada dasar hadist atau kitab. Walau menginspirasi, tetap saja namanya hoax. Kalau suatu saat kebohongan besar mendatangkan bencana dan anda ikut menyebarkannya, anda punya andil dalam mempertanggungjawabkan. Saat ini atau nanti.

Menurut saya ada 2 langkah penting untuk terhindar dari hasutan hoax.
1. Verifikasi atau tabayyun atas segala pemberitaan yang dibaca.
Cara verifikasinya adalah dengan melihat sumber tulisan. Harus terang nama atau instansi. Anda patut ragu kalau ada berita berisi, “menurut penelitian”, “menurut ilmuwan”, “menurut ulama”. Bahkan kalau ada namanya pun harus beserta buku atau publikasi yang jadi rujukan. Atau sekalian konfirmasi kepada sumber tersebut. Seperti yang dilakukan tabiin untuk mengumpulkan dan menyaring hadist Rasulullah yang shahih.
2. Jangan share berita kecuali anda sudah lakukan tahap 1 dan yakin beritanya bermanfaat bagi orang lain yang membaca.
Tombol share itu memungkinkan berita jadi viral dalam hitungan jam. Jadi pastikan anda yakin berita yang ingin anda sebarkan itu benar DAN bermanfaat. Kalau benar tapi tak bermanfaat, disimpan saja dulu. Kalau bohong tapi bermanfaat, tetap saja hoax seperti yang saya jabarkan di atas.

Mulai sekarang, mari berperan aktif menghilangkan hoax. Mari bertabayyun, belajar, dan tetap objektif dalam berpihak dan menyebarkan berita. Hoax adalah senjata, maka hindari.

Mawas Diri Aksi 4 November

When the dust settles, one can only learn.
Ketika situasi kembali tenang, saatnya memetik pelajaran.

Saya tidak demo, tapi mendukung lahir batin saudara muslim yang berdemonstrasi. Kalau tujuannya memproses Ahok secara hukum atas tuduhan penistaan agama, medan perjuangannya ada di jalur penyidikan dan peradilan. Yang saya kagumi adalah niat untuk membela dan menyuarakan Islam berskala besar. Ini belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir!

aksi-4-november-3

Umat dari berbagai penjuru Indonesia datang ke Jakarta

Terlepas dari pemberitaan media manapun, saya bilang demo kemarin berlangsung damai. Umat Islam dari berbagai penjuru berbondong-bondong dalam satu barisan. Bukan FPI saja, bukan HMI saja. Mereka tidak berasal dari satu ormas, tapi seluruh elemen masyarakat. Atasan saya di kantor pun ikutan. Nyatanya tidak ada perselisihan. Begitulah wajah muslim Indonesia sesungguhnya. Islam anarkis hanya kalangan minor yang kebanjiran spotlight media.

Aksi ini mengandung pesan tersirat bahwa Islam itu besar, cinta damai, namun bukan berarti bisa disepelekan. Wajar kalau bereaksi karena ucapan pemimpin yang menghina agama. Walaupun Ahok sudah minta maaf, demo ini tetap penting untuk menunjukkan sikap. “You don’t mess with us, dude.”

Yang lebih penting, demo ini menunjukkan bahwa kita bisa mencapai hal hebat apabila memiliki tujuan sama. Meskipun ada sumber mengatakan aksi ini disubsidi 100 miliar, saya coba pendekatan yang lebih masuk akal. Asumsikan ada 100.000 peserta aksi. Masing-masing memperoleh logistik berupa makan, minum, snack, dan atribut (info dari peserta). Ada juga dukungan transportasi. Dihitung kasar satu orang disubsidi Rp 100.000. Jadi minimal aksi kemarin menghabiskan sepuluh miliar rupiah! Itu untuk satu hari saja. Bayangkan dengan semangat yang sama kita majukan pendidikan, kesehatan, teknologi, dan layanan lain.

aksi-4-november-2

Berdasarkan info di grup WA tertutup, peserta aksi tidak menyadari ada perusakan sampai truk tiba-tiba terbakar. Lalu dengan mudahnya media menambahkan headline yang memojokkan peserta yang tertib.

Tak ada yang menduga aksi sebesar kemarin. Jangan menuding pihak ini salah, pihak itu keliru. Mau salahkan Buni Yani, Habib Rizieq, Ahok, Jokowi, sisa Orde baru, atau pengusaha bayangan, toh semua terjadi. Rasa hormat terbesar saya untuk orang yang berusaha keras menjaga situasi tetap terkendali. TNI/Polri, koordinator aksi yang menjaga satu komando, armada bebersih dari kalangan peserta sendiri, dan netizen yang mencegah berita provokasi. Kesiapsiagaan anda mencegah aksi ini diboncengi pihak perusuh dan perusak kesatuan.

aksi-4-november-1

Hati-hati provokator perusak

Selanjutnya apa? Aksi kemarin mengangkut adanya isu sara. Ini lebih mudah menyebar lewat sosial media dan kehidupan sehari-hari. Jangan sampai aksi ini membuat kita membenci orang yang berbeda keyakinan. Saudaraku yang muslim janganlah terpancing dan mengumpat “c*na” dan “kaf*r” kepada orang lain. Itu hanya merusak citra aksi damai kemarin. Lalu hindarilah 3 hal: rasa takut (fear), amarah (anger), dan ketidakpedulian (ignorance). Ketiganya tidak memperbaiki suasana.

Saya bicara sebagai orang yang murni ingin melihat dan mengamalkan Islam seutuhnya. Masih ada orang-orang yang keinginannya murni untuk memperbaiki Islam dan Indonesia. Diluar permainan politik, saya mengenal orang yang meninggalkan pekerjaan demi menyuarakan keyakinannya kemarin. Ulama dan pemuka yang turut serta pun demikian. Dari tempat itulah saya berpendapat. Orang baik tak boleh diam.

Jakarta, 5 Nov 2016

* **

#Tulisan ini berasal dari status FB pribadi saya dan saya post ulang di blog. Sumber gambar: grup WA tertutup. Semoga bermanfaat.

Balada bahasa indonesia Yogi Saputro

Itu Dibaca “Mim”, bukan “Meme”!

Bagi yang rajin berkiprah di dunia maya, istilah “meme” sudah tidak asing lagi. Gambar dengan caption lucu? Itu “meme”. Kutipan film/serial yang diplesetkan? “Meme” juga. Perkembangan “meme” di internet sangat pesat, termasuk di Indonesia. Akibatnya orang terbiasa menyebut “meme” untuk  hal-hal seperti itu. Padahal istilah tersebut merupakan kata serapan, ditulisnya meme (dengan huruf miring). Ini sudah sangat umum terjadi sampai orang mengira itu lazim. Post ini membahas bagaimana penulisan meme dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

tulisan-meme-dalam-bahasa-indonesia

Menurut Pedoman Penyerapan Istilah Wikipedia, kata baku meme dalam Bahasa Indonesia adalah mimema yang diserap dari bahasa Yunani Kuno. Dalam percakapan modern, mimema dapat disingkat menjadi mim. Seperti membaca huruf Arab [ م ]. Dalam Bahasa Inggris, meme pun pengucapannya mim. Kita menuliskan seperti apa yang terdengar, bukan mengikuti tulisan aslinya. Kalaupun mau ditulis sesuai aslinya, pakailah huruf miring sebagai pertanda itu istilah asing.

Dengan demikian, penulisan yang benar adalah sebagai berikut.

Penulisan Status
meme salah
meme benar
mim benar
mimema benar

Yang sudah terlanjur salah adalah masa lalu. Kalau sudah tahu yang benar mari dibiasakan. Bahasa Indonesia yang lurus terwujud kalau kita membiasakan berkalimat benar. Kalau Bahasa Indonesia jadi acak-acakan, itu tanda bahwa kultur kita mulai acak-acakan. Kita tak mau itu terjadi, bukan?

Salam.

Terima Kasih untuk Lebarannya

Mumpung dalam suasana lebaran, pertama saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf apabila ada tulisan saya yang kurang berkenan di hati pembaca sekalian. Mohon maaf juga kalau tulisan baru relatif sedikit. Fokusnya lagi banyak di tempat lain hehehe.

Hari ini sebagian yang mudik sudah kembali. Ada juga malah yang baru mudik. Yang manapun Anda, berbahagialah. Lebih penting lagi, berterimakasihlah.

Saya sudah delapan tahun merantau sejak zaman SMA. Sudah tak asing lagi rasanya mudik. Tapi baru sekarang saya merasakan betapa berartinya mudik, karena kehidupan di Jakarta lebih keras daripada kota lain yang pernah saya tumpangi 😛

Orang lain juga begitu. Mudik demi bertemu keluarga. Mudik demi buka bersama dan halal bi halal. Mudik demi pamer anak, atau sekedar pamer THR dengan bagi-bagi. Banyak orang bisa mudik dengan bahagia. Di sisi lain, pemudik membutuhkan sarana transportasi. Pemudik juga memerlukan sarana pengamanan untuk rumah yang ditinggalkan. Sebagian pemudik juga masih belanja online di berbagai tempat (Salah satu ekspedisi rekrut 2000 tambahan personil selama lebaran)! Orang-orang seperti itu tidak seberuntung para pemudik. Walau terjebak di brexit 20 jam, pemudik masih bisa pulang. Demi memenuhi kebutuhan kita, mereka tidak pulang.

Untuk itu, saya ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang membuat mudik masyarakat Indonesia aman sentosa sehingga kami bisa bertemu dengan keluarga di rumah.

  • Terima kasih untuk TNI/Polri yang membantu mengamankan lingkungan dan jalanan selama mudik
  • Terima kasih untuk dokter dan perawat yang siaga di rumah sakit dan pos kesehatan (saya ada saudara yang masuk RS menjelang lebaran. Tanpa kesiapsiagaan mereka, mungkin saudara saya tak tertolong)
  • Terima kasih untuk satpam, hansip, dan tetangga yang menjaga kantor dan komplek rumah
  • Terima kasih untuk para pembawa kendaraan mudik, dari bus sampai pesawat terbang, yang mengantarkan kami dengan selamat
  • Terima kasih untuk para pengantar logistik yang tetap mengantarkan barang-barang di masa liburan
  • Terima kasih untuk pengelola tempat wisata yang buka sehingga kami bisa main-main dengan keluarga pas lebaran
  • Terima kasih untuk tukang bersih-bersih yang tetap bebersih dalam masa liburan
  • Terima kasih untuk para engineer yang standby sehingga tidak ada koneksi internet putus dan server yang down (orang IT mengerti banget perjuangan yang ini hehe)

Semoga kalian semua mendapat berkah karena membuat orang lain bahagia.

Ditulis dari kantor yang masih sepi di hari pertama kerja 😛

Jalan-jalan Sore di Masjid Raya Al-Azhom

Minggu sore dan tidak ada yang dilakukan. Kipas angin di kamar menderu sambil mendatangkan sedikit kesejukan. Di luar, matahari menyengat sementara udara lembab. Keringat membuat badan lengket. Karena nggak tahan, saya pun memutuskan keluar. Meskipun tetap berkeringat, penat bisa hilang sambil jalan-jalan.

Saya belum tahu banyak soal Tangerang tapi tidak tertarik eksplorasi. Alasannya ada beberapa:

  1. Panas dan udara kurang menyenangkan
  2. Lalu lintas bikin kesal (meski tak segila Jakarta)
  3. Wisata yang tersedia didominasi nuansa kapitalis seperti mall, water boom, dan sejenisnya. Saya tak suka wisata begitu karena menghabiskan uang hanya untuk hiburan buatan.
  4. Tidak ada makanan khas yang menarik (saya sudah coba laksa Tangerang dan kurang cocok)

Lalu saya ingat ada dua objek yang ingin saya lihat dari dekat di Tangerang: Pintu Air Sepuluh dan Masjid Raya Al-Azhom. Lalu saya melakukan sedikit riset di Google Maps. Di Taman Pintu Air, saya bisa mendapatkan pemandangan Sungai Cisadene yang bagus. Kebetulan tempat itu dekat dengan Masjid Al-Azhom. Saya putuskan berangkat, nanti sekalian sholat ashar di sana.

Ternyata arus lalu lintas yang ditunjukkan Google Maps agak beda dengan kondisi riil. Ini agak tricky, tapi saya berhasil lewat di jalur yang benar. Sayangnya entah mata saya kurang awas atau gimana, Taman Pintu Air gagal saya temukan. Saya lihat daerah rimbun di tepian sungai Cisadene dan banyak angkot ngetem, tapi tak lihat tulisan Taman Pintu Air. Saya malah lihat Taman Pramuka. Karena malas kembali, saya lanjutkan ke Masjid Al Azhom.

Masjid Al-Azhom ini memang tampak megah seperti nampak di foto. Hanya saja halamannya lebih sempit dari yang saya bayangkan. Letaknya berada di pusat pemerintahan Kota Tangerang. Pastinya ramai pada jam kerja, namun Minggu sore ini kebanyakan yang datang adalah keluarga atau pasangan yang mampir sholat dan berfoto ria.

Masjid Al Azhom-outside 1

Terasa megahnya apabila dipotret dari depan begini. Foto dari luar ini diambil lebih sore daripada foto di bagian dalam masjid. Dengan demikian nuansa masjid di kala senja lebih tampak.

 

Masjid Al Azhom-outside

Masjid Raya Tangerang di kala senja

Masjid Al Azhom-outside 2

Pintu masuk utama Masjid Al Azhom

Masjid Al Azhom ini diklaim memiliki kubah masjid terbesar di Asia Tenggara. Benar atau tidak, saya kurang tahu. Cuma, saya bisa bilang kalau kubahnya memang besar. Makin terasa kalau dilihat dari dalam sambil mendongak.

DCIM100MEDIA

Empat kubah kecil di tepi, satu kubah besar di tengah. Seluruhnya berhiaskan kaligrafi keemasan yang mengkilat.

Saya tiba sekitar setengah jam setelah adzan ashar. Sudah ketinggalan jamaah pertama. Tapi gelombang kecil sholat jamaah tak pernah habis di masjid jami seperti ini. Saya tunaikan dulu kewajiban, baru menuntaskan foto-foto. Karena pencahayaan yang menarik, saya bereksperimen foto diri sendiri di salah satu sudut masjid.

DCIM100MEDIA

Jajaran shaf terdepan yang dihiasi tiga jam bandul dan kaligrafi Allah & Muhammad. Tentunya foto ini diambil setelah saya beres sholat 🙂

DCIM100MEDIA

Leyeh-leyeh sore hari di lantai yang dingin sungguh nikmat

DCIM100MEDIA

Sisi masjid dengan pencahayaan yang menarik

 

DCIM100MEDIA

Foto eksperimen. Saya suka pencahayaannya.

Masjid Al Azhom-inside 1

Semakin sore, semakin sepi.

Puas berfoto, saya berkeliling sedikit di pusat pemerintahan. Biasanya di kota/kabupaten dari Serang sampai Banyuwangi tipikalnya sama di pusat kota: pusat pemerintahan, masjid jami, alun-alun. Saya jadi bertanya, apakah di pusat pemerintahan Tangerang ini ada alun-alun? Sebab saya tidak lihat ada hamparan rumput atau taman hijau luas di sekitarnya. Saya cuma lihat area berbentuk persegi dipaving merah dengan ornamen. Terlalu kecil untuk disebut alun-alun sih 😛

Syukurlah bosan saya terusir dengan jalan-jalan ini. Semoga bosan pembaca juga hilang dengan baca postingan dan lihat foto-foto ini.

200 Perak untuk Lingkungan Lebih Baik

Mulai 21 Februari 2016 ini, ada perubahan cukup mencolok kalau Anda belanja di Bandung. Telah diberlakukan perda dimana Anda dikenakan biaya tambahan Rp 200 setiap kali memakai kresek plastik untuk belanja. Saya baru sadar pas belanja di salah satu minikarket. Di struk pun dicantumkan biaya untuk kresek plastik.

Menurut saya, ini langkah yang keren dan berani dari pemda/pemkot Bandung. Mengapa? Karena ini adalah cara efektif untuk “memaksa” masyarakat mulai sadar lingkungan. Salah satu sampah yang banyak bertebaran di muka bumi (bahasanya dilebaykan) adalah plastik. Terus dari fanpage Ridwan Kamil yang saya follow, tahulah bahwa pemkot sedang berjuang membuat pengolahan sampah terintegrasi. Itu adalah solusi di hilir atas sampah yang sudah tertimbun. Sementara biaya ini adalah solusi dari hulu. Kalau nggak pakai plastik, tentu tidak menambah sampah plastik 🙂

Boleh saja Anda berpendapat, cuma 200 perak ini. Buat beli gorengan aja nggak cukup :P. Tapi jangan remehkan jumlahnya. Katakanlah Anda belanja pakai plastik 2x sehari. Itu Rp 400. Asumsikan ada satu juta penduduk di Bandung Raya berbelanja dalam sehari, jadi Rp 400.000.000 dalam sehari! Itu untuk apa? Menurut saya idealnya adalah untuk usaha pengolahan sampah itu sendiri. Karena sebetulnya kalau Anda buang sampah sembarangan, ada biaya untuk mendaur ulangnya. Istilah teknisnya environmental cost. Dengan 200 perak Anda telah bertanggungjawab untuk membiayai plastik yang Anda pakai dan buang.

Lama kelamaan orang harusnya berpikir, capek juga saya bayar. Apalagi setelah mengerti environmental cost yang disebut di atas, muncul kesadaran bahwa lebih baik untuk tidak pakai plastik. Apabila efeknya dikalikan dengan jutaan orang, sungguh besar perbaikan yang bisa kita lakukan cuma dengan hal remeh begini. Itulah target akhir dari pemerintah. Makanya saya kagum ketika perda ini benar-benar diberlakukan di tempat belanja.

Saya belum tahu apakah ini juga diberlakukan di toko kelontong, department store, sampe aa’ tukang batagor. Yang jelas saya dukung perda ini. Bagaimana pendapat anda? Terbuka banget untuk diskusi 🙂

Edit 23 Feb: Semua supermarket dan minimarket di Jabodetabek juga memberlakukan peraturan serupa. Bersiap-siaplah untuk membawa plastik sendiri 🙂

Bendungan Sawoo: Permata Tersembunyi Ponorogo

Dalam kesempatan tahun baru kemarin saya pulang ke Ponorogo kampung halaman tersayang. Pokoknya bisa pulang itu saja sudah senang. Lebih senang lagi kalau saya diajak bepergian.

Ke mana? ke bendungan.

Seingat saya sih di sini tidak ada bendungan di Ponorogo.

“Karena memang lagi dibikin,” kata pacar saya yang mengajak. Bersama dengan orangtuanya. Jadilah, tanpa banyak mikir saya langsung berangkat. Bisa melihat keindahan alami sebelum ramai orang itu menyenangkan rasanya. Pukul 7 pagi matahari sudah naik di Ponorogo. Saya bawa kamera saku yang batereinya tinggal sedikit.


Bendungan ini berada di kecamatan Sawoo. Sebelah timur dari pusat kabupaten (mau bilang pusat kota tapi kotanya cuma segitu hehehe). Bahkan Mbah Google juga belum tahu tempat ini (lihat peta di atas). Orangtua pacar saya memang penjelajah sejati. Beliau menyusuri jalanan Ponorogo untuk mencari tempat menyenangkan yang masih sepi. Bendungan yang akan dikunjungi ini pun tidak terlalu jauh dari pusat kota. Jalanannya baru saja diaspal. Hitam pekat dan terasa halus dilalui mobil.

Bendungan ini berada di antara bukit yang menjulang indah dari kejauhan. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan sawah yang menghijau. Padi baru ditanam beberapa minggu. Mata terasa segar melihat dataran subur dengan latar belakang perbukitan. Sayangnya kita malah asyik ngobrol jadi saya lupa mengambil foto selama perjalanan.

Karena tempat ini baru dibangun, tidak ada papan petunjuk arah. Bahkan jalan yang kami lalui belum ada lampu jalan ataupun marka. Belum banyak yang mengetahui tempat ini memang. Sisa-sisa tebing yang dikeruk dan tanah di tepi jalan jelas menandakan tempat ini belum lama jadi.

Beberapa kendaraan bermotor telah terparkir di tepi jalan ketika kami sampai di bendungan. Ternyata sudah lumayan ramai tempat ini. Setelah saya lihat lagi, jalan berspal ini buntu di ujung. Yang tampak adalah hamparan perbukitan dengan sungai berdebit kecil di lembahnya. Dari ujung jalan ini kita hanya bisa melihat satu sisi dari bendungan karena tidak ada jalan untuk mengitari sisi lembah. Dengan keterbatasan itu pun, pemandangan ini masih elok dipandang.

Bendungan-2

Lereng yang baru dikeruk dan jalan yang baru diaspal

Bendungan-1

Lembah yang rencananya akan dijadikan bendungan. Kemungkinan besar dusun yang tampak di bawah pun bakal segera dibedoldesakan.

Baca lebih lanjut

Percayalah, Ada Orang Baik di Atas Sana

Minggu ini berita televisi dihiasi kabar dilantiknya Agus Rahardjo sebagai Ketua KPK dan mundurnya Setya Novanto sebagai Ketua DPR. Saya nggak mau ngomong soal sepak terjang dunia politik di Indonesia. Yang saya tekankan dalam tulisan ini, hasil yang terjadi barusan di panggung depan adalah hasil pertarungan di belakang. Pertarungan antara kepentingan rakyat dan kepentingan ambisi pribadi.

Saya pernah dengar dari orang yang berkutat di urusan begini. Setiap ada urusan pelik seperti ini, selalu ada jalur belakang. Jalur lobi-lobi. Ada yang melobi supaya urusan dimudahkan, namun ada penegak kepentingan rakyat yang mencegahnya. Di sinilah perang sebenarnya antara orang-orang baik dan orang jahat.

Percayalah bahwa di kalangan atas itu banyak orang baik. Mereka memperjuangkan apa yang benar. Siapa mereka? Itulah yang tak kita tahu. Media tak mau menyoroti sebab tak mengandung sensasi. Para orang jahat menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan orang baik. Orang-orang baik disingkirkan dari jabatan, berakhir di penjara, atau menjadi martir.

Dua perubahan di institusi besar Indonesia bagi saya adalah hasil dari perjuangan orang baik. Apakah Indonesia bakal jadi lebih baik? Itu yang kita nantikan. Saya percaya bahwa orang-orang baik yang ingin mmebangun Indonesia masih banyak. Dan kenapa kita nggak menjadi salah satunya? Meskipun banyak martir sepanjang menegakkan kebenaran, harapan takkan padam.

Salam untuk hidup positif.

Kasus Meme Imelda: Tanda Aparatur Negara Kekurangan Selera Humor

Beberapa hari belakangan nama Ponorogo jadi tenar. Kabupaten halaman jadi sorotan nasional, yey :). Sayangnya bukan karena berita baik. Muncul ribut kasus Imelda yang terancam hukuman karena membuat dan menyebarkan meme yang dianggap melecehkan polisi dan melanggar hukum.

Ini bukan pertama kali meme berujung kasus pidana. Beberapa waktu lalu marak juga pernyataan ticak tegas atas meme terkait Presiden Joko Widodo. Ada juga kasus lain yang memiliki kemiripan namun tidak terlalu terkenal. Kasus-kasus itu berdasarkan pengamatan saya ada satu kemiripan: kasusnya menjadi besar ketika meme berkaitan dengan aparat negara.

Di antara banyaknya kasus meme itu, saya mau berfokus kepada kasus Imelda. Ini adalah opini saya tentang kasus penggunaan meme Imelda yang dianggap melanggar hukum. Hitung-hitung membantu wong Ponorogo, kalau-kalau tulisan ini dibaca betul. Homies help homies. Always.

Pelanggaran dan Pasalnya

Soal konten meme yang menjadi masalah, silakan merujuk pada artikel di media online. Saya merujuk pada berita dari sini dan sini. Intinya foto polisi yang sedang berkomunikasi lewat HT diedit dan ditambahkan percakapan soal transfer uang tilang. Sebagai orang yang rajin lihat situs berisi meme, ini adalah postingan yang tipikal menurut saya. Banyak lah yang seperti ini di internet. Tapi ternyata berbuntut panjang karena pihak yang fotonya diambil dan diedit tidak terima karena merasa dilecehkan.

Jadi, pelanggaran apa yang sebenarnya terjadi? Mari kita lihat UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (sumber: kemenag.go.id)

Pasal 27 ayat 3 UU ITE berbunyi sebagai berikut.
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Pasal di atas masuk dalam Bab Perbuatan Yang Dilarang. Kemudian hukuman atas pelanggaran pasal 27 ayat 3 tercantum dalam pasal 45 ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut.
Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Beberapa sumber menyebutkan pelanggaran pasal lain. Saya nggak melek hukum tapi melek IT. Satu-satunya pelanggaran yang mungkin dilakukan Imelda adalah pasal 27 ayat 3 itu. Demikianlah menurut keterangan polisi.

Meme dan Konteksnya

Pertama, meme adalah produk dari pop culture modern. Kedua, meme adalah produk yang dihasilkan budaya Barat. Poin pentingnya adalah: meme merupakan produk dari kebebasan berpendapat. Meme adalah sentilan sebagai bentuk kritik sosial di dunia maya. Di negara-negara Barat, kebebasan berpendapat ini dijunjung tinggi sehingga pendapat orang sepahit apapun tetap ditanggapi secara wajar. Dari warga biasa sampai pemimpin negeri dan institusi raksasa, semua bisa jadi sasaran kritik Baca lebih lanjut

opini Bela negara

Sebuah Opini: Perlukah Wajib Bela Negara?

Hangatnya berita soal wajib bela negara bagi penduduk Indonesia membuat saya tertarik. Benarkah Indonesia membutuhkan program bela negara? Lewat tulisan ini, saya mengupas aktivitas yang dilakukan dalam bela negara dan relevansinya dengan masalah yang dihadapi bangsa ini.

Pendahuluan

Bela negara berbeda dengan wajib militer meskipun dasarnya sama. Konsep induk keduanya adalah melindungi eksistensi negara. Wajib militer merupakan usaha untuk memperoleh dukungan militer dari rakyat sipil. Apabila negara dalam kondisi darurat (misalnya perang), rakyat sipil yang telah terlatih dapat diterjunkan untuk kepentingan militer. Israel, Korea Selatan, dan Singapura menerapkan kebijakan ini untuk melindungi negara mereka. Sementara bela negara lebih menekankan pada sikap dan kesadaran untuk menjaga eksistensi suatu bangsa.

Ryamirzad, Menteri Pertahanan RI, menyatakan bahwa kesadaran masyarakat terhadap Pancasila sudah menurun. Hal tersebut membuat kesadaran berbangsa menjadi lemah. Indonesia dipandang rentan dari berbagai segi. Untuk itu beliau merumuskan program wajib bela negara sebagai bentuk penguatan bangsa Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, beliau menargetkan Indonesia memiliki 100 juta kader bela negara dalam jangka 10 tahun.

Piramida penduduk Indonesia 2015

Untuk mencapai 100 juta kader bela negara, warga negara di bawah umur 50 tahun diwajibkan ikut. Piramida ini menunjukkan betapa besar elemen tersebut. (Gambar: Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 [Bappenas])

Pro dan Kontra

Kalau dilihat dari niat memperkuat negara Indonesia, alasan program ini nampak logis. Tapi memangnya sedemikian rentan terhadap ancaman sampai memerlukan 100 juta kader bela negara? Bukankah dalam bela negara cuma ada latihan baris-berbaris, pengetahuan pancasila, dan dasar kemiliteran? Padahal ancaman masa kini lebih banyak dari segi ekonomi, budaya, informasi, dan sebagainya. Berarti bela negara kan tidak relevan untuk kehidupan zaman ini.

Paragraf di atas adalah contoh argumentasi pihak yang kontra terhadap bela negara. Saya bilang, nanti dulu. Mari kita menyelami apa yang sesungguhnya bakal dipelajari dalam bela negara. Baca lebih lanjut

Matahari Terbenam di Candi Ijo Yogyakarta

Candi Ijo-6

Di lereng bukit kapur nan hijau, di antara kerasnya bebatuan, berdiri oase peribadatan megah. Orang-orang berkumpul dan menjalankan ritual menghadap matahari terbenam. Bangunan menjulang, arca terpasang, sesajian diletakkan. Khidmat dalam sore yang agung.

Kira-kira begitulah masa kejayaan Candi Ijo berabad silam.

Zaman menggerus Candi Ijo sehingga ia takkan pernah sama. Namun setidaknya, kita-kita saat ini masih bisa menikmati matahari terbenam di tempatnya berdiri. Kali ini saya akan ceritakan pengalaman mencari matahari terbenam di Candi Ijo.

Lokasi

Candi Ijo terletak di Dusun Nglengkong, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Biar lebih gampang tahu, candi ini lokasinya tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan. Kalau dari arah Yogyakarta, terus saja menuju arah Candi Prambanan lewat jalan utama. Ketika mencapai lampu lalu lintas sebelum perbatasan Yogyakarta-Klaten, berbeloklah ke kanan. Bisa juga mencari papan penunjuk jalan yang ke arah Piyungan. Setelah itu lewat jalur Piyungan.

Di jalur Piyungan ini banyak papan penunjuk jalan yang menawarkan wisata candi lain. Contohnya adalah Candi Ratu Boko dan Candi Barong. Namun saya sengaja berangkat sore untuk mencari matahari terbenam di Candi Ijo. Mungkin candi lainnya tak sempat dikunjungi, begitu pikir saya di awal. Ternyata dugaan saya tepat. Jadi kalau mau mengunjungi serangkaian candi yang ada di daerah ini silakan sediakan waktu dari pagi atau siang.

Di Piyungan bakal ada papan penunjuk yang mengarah ke Candi Ijo. Kalau tidak nampak, bisa dicari papan penunjuk ke arah MDS Boarding School. Itu arahnya sama dan saya diberi tahu informasi itu oleh warga sekitar. Sisanya tinggal ikuti jalan. Ciri-ciri jalan yang benar ke Candi Ijo adalah jalur yang semakin menanjak.

Ulangi. Jalan yang makin menanjak sekaligus makin jelek.

Candi Ijo berada di lokasi yang kaya akan batu kapur dan sejenisnya. Setiap hari truk bermuatan barang tambang ini naik-turun, meninggalkan jalan bergelombang dan berlubang. Waktu saya ke sini (awal Oktober 2015), jalanannya sangat parah. Lubang jalan nggak pernah absen. Sudah begitu jalannya mulai berbelok dan makin menanjak. Saran saya perlu hati-hati terutama yang bermobil. Setelah melalui medan, akhirnya nampak kompleks Candi Ijo di kiri jalan.

Saya pergi naik motor dari Yogyakarta dekat UGM. Ditambah macet dan lain-lain, waktu tempuhnya sekitar 40 menit. Rute lebih detail bisa dilihat pada Google Map berikut.

Candi dan Matahari Terbenam

Ternyata mencari matahari terbenam di Candi Ijo sudah menjadi kegiatan mainstream. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung ketika saya sampai. Tapi tak apa-apa. Misi tetap dilanjutkan.

Untuk masuk ke Candi Ijo tidak dikenakan biaya. Pengunjung cukup mengisi buku tamu dan dipersilakan masuk. Di dalam komplek Candi Ijo sendiri ada balai situs untuk berbagai keperluan. Di sampingnya lah baru nampak candi yang sebenarnya. Baca lebih lanjut