Sampingan

Saya Kembali ke Alam Blog

Rasanya lama sekali saya meninggalkan blogosphere. Meninggalkan cerita hebat dari sesama blogger. Meninggalkan hasrat menulis ide yang melintas di kepala. Meninggalkan berkomentar dan menjawab komentar. Sedikit menyebalkan meninggalkan itu. Yah, saya harus meninggalkannya sejenak.

Memangnya saya ngapain?

Well, saya perlu memindahkan fokus pikiran ke alam lain. Perlu beberapa minggu intensif untuk menyelesaikan semuanya. But in the end, hard work pays.

Itu masih belum menjawan sebenarnya saya ngapain.

Biarkan foto yang diambil tadi siang bersaksi deh.

sidang TA S1 ITB

Ekspresi pasca sidang Tugas Akhir

Teman-teman yang mendukung

Teman-teman yang mendukung

The Sarjanas: Empat orang bersidang Tugas Akhir di hari yang sama.

The Sarjanas: Empat orang bersidang Tugas Akhir di hari yang sama.

Saya berhasil sidang TA hari ini. Hasilnya lulus dengan revisi dokumen TA. Alhamdulilah, itu sudah umum di kalangan anak-anak STI. Tantangan terbesar yang saya hadapi sebagai mahasiswa sudah terpenuhi. Rasanya lega dan senang pas pertama kali dinyatakan lulus (bersyarat) oleh dosen penguji. Teman-teman pun langsung memberi selamat.

Sekarang rasa girang masih tersisa, namun ada satu perasaan yang mendominasi. Seperti ada kekosongan setelah berhasil menapaki puncak akademik. Dalam kekosongan itu, suara hati berbisik: sekarang mau apa?

Pertanyaan itu mungkin bakal menyertai selama beberapa hari ke depan. Ya sudahlah, yang penting dengan berlalunya masa pengerjaan dan sidang TA itu saya bisa beralih lagi ke alam blog 🙂

Iklan
Sampingan

Catatan Kecil Seorang Pengawas SBMPTN

meme SBMPTN

Setiap tahun puluhan hingga ratusan ribu lulusan SMA dan sederajat bersaing untuk memasuki perguruan tinggi idaman. Ada satu jalur yang digunakan untuk menentukan orang-orang terpilih. Namanya Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Ngeri Negeri alias SBMPTN. Namanya berubah dari generasi ke generasi, namun isinya sama saja. Pertempuran untuk mendapatkan lulusan favorit.

Persepsi saya soal SBMPTN pun berubah. Mulai dari dengar keseramannya dari saudara dan senior, mengalaminya sendiri, sampai kini saya duduk di kursi yang berseberangan dengan para peserta.

Saya jadi pengawas ujian tulis SBMPTN hari ini.

Saya jadi pengawas dengan tujuan melihat perkembangan generasi masa kini (Bohong besar! Asal tahu saja, pengawas SBMPTN itu bagaikan mendapat durian dari langit. Honor yang sangat lumayan untuk kerja sehari. Tapi durian dari langit pasti jadi rebutan banyak orang, jadi berdoalah yang banyak). Dalam sehari itu tampak berbagai ekspresi. Khawatir menjelang ujian, membanting lembaran catatan ke muka, senda gurau bersama teman untuk hilangkan stress, sampai muka setengah ngantuk menghadapi soal. Walaupun cepat bukan berarti tidak ada pengalaman berkesan.

⋆⋆⋆

Ini adalah percakapan di ruang ujian SBMPTN tadi siang.

Bel ujian usai berbunyi dan semua lembar jawab peserta sudah saya kumpulkan.

Me: “Terima kasih telah mengerjakan ujian dengan tenang dan menjaga suasana kondusif.”
Ibu Guru Partner Penjaga Ruang: “Semoga semuanya memperoleh hasil terbaik, sesuai yang diharapkan.”
Peserta: “Amiiin!” (bareng-bareng)

Terus semuanya maju ke depan kelas, salim sama pengawas. Termasuk saya.
“Terima kasih, pak”
Pak…
Pak????

Ini perlu diluruskan.
Me: “Aku masih mahasiswa kok.”

Ternyata tidak berubah. Masih pada salim. Kalimatnya saja yang diubah jadi, “Terima kasih, kak.”

Yah, saya cuma bisa senyum. Semoga Allah membalas kerja keras kalian, pejuang SBMPTN.

⋆⋆⋆

Sebagai tambahan, pengumuman SBMPTN 2015 dapat dilihat di website resminya tanggal 9 Juli 2017 pukul 17:00. Info berharga nih hehehe.

Sumber Gambar: www.itinthed.com, dengan perubahan seenak jidat.

Sampingan

Mobil Camry dan Kuda

DI akhir pekan berkepanjangan kemarin, suatu pagi saya sedang duduk-duduk di gerbang depan ITB. Ceritanya menunggu teman berkumpul untuk melakukan perjalanan ke Subang (bakal segera saya post kisahnya). Hari masih pagi, mentari masih hangat menerpa permukaan bumi. Jalan Ganesa pun belum ramai. Sesekali motor dan angkot lewat. Di tepi jalan segerombol joki membawa tali kekang kuda masing-masing, bersiap mengejar rezeki.

Saya tahu penyedia jasa naik kuda ini sudah datang pagi-pagi. Pernah saya berangkat ke kampus sekitar pukul enam, lalu melihat joki mengendarai kuda di Pasar Simpang. Bayangkan, kuda berkeliaran di jalanan utama Bandung. It’s so swag. Para joki sudah macam koboi. Nah, di Jalan Ganesa ini mereka beroperasi. Ada saja yang mencoba cari hiburan sejak pagi. Ada orangtua yang mengajak anaknya naik kuda. Si anak setengah takut, sementara orangtuanya malah memotreti ekspresi anak.

Belasan menit berlalu. Tiba-tiba muncul mobil Toyota Camry menepi agak sembarangan. Sebelum mobil benar-benar berhenti, dua tiga joki cekatan mendekati mobil tersebut. Lalu dari mobil itu keluar satu keluarga dengan anak kecil. Sang ibu bernegosiasi dengan joki untuk menaiki kuda. Singkat cerita, anaknya pun naik kuda dan diantar joki. Tentu tidak lupa dipotret orangtuanya.

Itu pemandangan normal sebenarnya. Yang mengusik pikiran saya, bisa-bisanya orang yang sudah punya mobil semewah Camry (setara eselon 1 atau menteri loh) rela jauh-jauh ke Jalan Ganesa untuk naik kuda. Sudah punya emas malah cari timah. Mungkin kalau dilihat dari sisi lain, si joki kuda juga mau naik Camry. Bagus kalau bisa saling tukar kendaraan selama beberapa menit 😀

Ah, manusia memang sulit dibuat puas.

Sampingan

Infografis 5 Bulan Pemerintahan Jokowi

Infografik pemerintahan Indonesia Jokowi

Infografis kinerja pemerintahan Jokowi berjudul “Indonesia Sejak 20 Oktober 2014”, diterbitkan oleh Keluarga Mahasiswa ITB

Keluarga Mahasiswa ITB atau KM-ITB baru-baru ini menerbitkan infografis (atau infografik?). Infografis di atas menggambarkan kinerja pemerintahan Joko Widodo dan Kabinet Indonesia Hebat sejak Oktober 2014 hingga Maret 2015 (klik gambarnya untuk melihat lebih jelas). Tak semuanya dilingkupi dalam infografis ini. Setidaknya kita dapat gambaran mengenai perkembangan di Indonesia. Kebijakan yang disorot KM-ITB antara lain:

  • Fluktuasi harga BBM dan perbandingannya dengan harga minyak global
  • Nilai tukar rupiah
  • Tarif tol dan subsidi KA
  • Jaksa Agung Indonesia
  • Blok Mahakam
  • Harga Beras

Namanya juga infografis, semua yang ditampilkan di sini berdasarkan data dan fakta. TIdak ada penarikan kesimpulan yang menjatuhkan pihak manapun. Mari ditanggapi dengan bijak.

Sampingan

Ucapan Terima Kasih untuk Blogging101

Selama kurang lebih 1 bulan saya mengikuti event Blogging101 yang dilaksanakan oleh WordPress. Secara ringkas Blogging101 adalah sejenis kelas atau workshop untuk memulai menulis blog secara berkelanjutan. Format kelasnya sangat fleksibel, lebih mirip komunitas malah. Setiap hari moderator akan memberikan tugas kepada peserta. Tugasnya meliputi teknik dan metode membangun blog dengan fondasi kuat. Kemudian peserta bisa mengerjakannya, kemudian memposting hasilnya secara online. Feedback diberikan saat itu juga. Bentuk yang interaktif dan fleksibel ini sangat membantu pengembangan blog, dengan syarat diri sendirilah yang harus aktif.

Saya akui pelajarannya masih dasar. Namun lingkungan yang ada dalam kelas Blogging101 ini sangat friendly dan terbuka. Semuanya belajar dan mengunjungi satu sama lain. Pelajaran itulah yang menurut saya paling penting. Mengembangkan komunitas dimana kita bisa menulis apapun yang kita suka, serta membaca tulisan pilihan sendiri. Blog adalah media yang kuat. Tulisan, foto, suara, video, semuanya berkolaborasi dalam rangka menyalurkan pengalaman dan pikiran ke seluruh jagat internet.

Terima kasih Blogging 101.

Balada bahasa indonesia Yogi Saputro
Sampingan

Balada Bahasa Indonesia: Jagawana

Siapa pernah mendengar kata jagawana? Jangan kecil hati kalau tidak pernah. Saya sendiri baru tahu konteks penggunaannya ketika membaca buku Collapse: Runtuhnya Peradaban-peradaban Dunia karangan Jared Diamond. Bukan kata yang sering dipakai dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Jagawana adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang paling mendekati kata ranger dalam Bahasa Inggris. Menurut KBBI, demikian definisi jagawana:

ja·ga·wa·na [n] orang yg pekerjaannya menjaga atau mengawasi hutan

Jagawana berakar dari dua kata: jaga yang berarti melindungi dan wana yang berarti hutan. Maka artinya pun jelas, orang yang melindungi hutan. Demikianlah asal-usul definisi jagawana.

Arti kata jagawana

Sampingan

Progres Setiap Hari

Pencerahan dan motivasi kadangkala tidak terduga dari mana datangnya. Bayangkan sebuah keinginan muncul dari dalam. Keinginan tersebut begitu kuat sehingga mengakibatkan kita bergerak. Itulah yang terjadi pada saya. Semacam keajaiban. Siapapun yang sudah mendoakan, saya doain lagi semoga diberi kekuatan juga 😀

Biar saya bicara lebih jelas. AKhir-akhir ini entah kenapa saya jadi bersemangat untuk mengerjakan kewajiban – tugas akhir/skripsi, tugas biasa, kewajiban organisasi. Tidak ada rasa beban dalam mengerjakan. Yang ada justru sebaliknya, saya merasa kurang produktif kalau terlewat mengerjakan sesuatu. Maka yang penting bagi saya kini adalah membuat progres setiap hari. Sekecil apapun usaha yang kita buat dalam sehari, hasilnya akan berlipat jika dilaksanakan secara konsisten.

Di sisi lain saya sendiri terbantu dengan cara kerja seperti ini. Pas ngerjain tugas akhir/skripsi misalnya. Pengetahuan yang saya baca tiap hari akan berkembang, membantu saya memahami topik bahasan lebih jauh. Penumpukan pengetahuan secara proporsional akan terekam lebih baik dalam otak. Hebatnya lagi, saya tidak merasa stres memikirkan materi yang sedemikian banyak. Asalkan ada alokasi waktu, pasti akan selesai. Masalahnya tinggal melaksanakan hehehe.

Jadi, progres apa yang Anda buat hari ini?

Sampingan

Humor Lokal Mahasiswa IT

Kisah ini terjadi Jumat lalu saat lomba ISCC yang diadakan Binus International University di Jakarta. Rombongan peserta disediakan akomodasi penginapan di Binus Square. Panitia memberikan keycard kamar kepada kami. Kelompok teman saya, sebut saja A sama D, memperoleh kamar nomor 403 dan 404.

A : Wah kamar kita 404, not found dong hahaha

D : Ntar pas dicari ke atas nggak ketemu hahaha

Kita semua ketawa

Y : Terus yang 403 forbidden

A : Apes banget kita dapet kamar. Yang satu nggak ketemu, yang satu nggak boleh masuk

Kita ketawa lebih ngakak lagi.

Kopi Aroma Bandung
Sampingan

Secercah Sejarah Bandung dari Kopi Aroma

(Photo credit: http://kopiherbal.co.id/kopi-aroma-bandung/)

“Kamu mau dibawain apa kalau aku ke sana?”

“Kopi Aroma aja ya kalau ada, tapi terserah kamu deh”

“Okee” (Bertanya-tanya…apaan tuh Kopi Aroma)

(Googling)

(Ooh, ada beginian di Bandung)

Setelah dapat info yang cukup, akhirnya saya ke Kopi Aroma di Jl. Banceuy No.51 (Jl. Asia Afrika, habis Alun-alun langsung belok kanan). Di antara bengkel dan toko spare part kendaraan, terdapat bangunan lawas yang terawat. Di atasnya terdapat tulisan “Aroma, Paberik Kopi”. Saya akui dari impresi luar saja sudah luar biasa.

Makin dekat sudah tercium aroma kopi yang harum. Dari jendela luar nampak mesin-mesin vintage berputar menggiling kopi dalam kendali pegawai terlatih. Langsung saja saya mengantri untuk beli kopi. Waktu itu di depan saya ada beberapa bule antri beli kopi. Cukup kaget juga, ternyata sudah melegenda sedemikian kuat Kopi Aroma ini.

Kopi Aroma: Robusta & Arabica

Kopi Aroma: Robusta & Arabica

Sesaat kemudian di tangan saya sudah terdapat dua bungkus Kopi Aroma, robusta dan arabica. Harganya terjangkau. Hanya Rp 17.500 per 250 gram. Mungkin kalau saya pulang ke rumah bakal beli lagi.

Sampingan

Memandang Kekolotan dari Sisi Lain

Untuk memberikan dukungan kepada pacar yang sedang skripsi, saya menawarkan diri menjadi reviewer untuk materi yang telah dia baca. Maklum saja, tuntutan referensi di Fakultas Ilmu Budaya sangat banyak. Rencananya setiap hari dia akan membaca buku. Setelah selesai, dia serahkan summary hasil baca kepada saya. Gampangnya seperti setoran hafalan Al-Quran. Bedanya, guru yang disetor hafalan Al-Quran sudah hafal isinya di luar kepala. Sementara saya yang sehari-hari cuma mengurusi sistem informasi ini cetek sekali soal ilmu budaya. Namun inilah satu-satunya cara yang kami temukan agar tetap saling support ketika kesibukan masing-masing telah menunggu.

Sekarang kembali ke topik. Karena menjadi reviewer, saya tambah pengetahuan soal ilmu budaya. Tulisan pertama membahas akulturasi. Tahu kan, yang berkaitan dengan pergeseran budaya akibat pengaruh budaya baru. Ada hal yang paling menarik bagi saya. Sebuah statemen:

Individu-individu dalam suatu masyarakat yang bersifat kolot adalah mereka yang sudah mempunyai kedudukan yang baik dalam masyarakat. Sebaliknya, individu yang progresif adalah individu yang belum atau tidak mempunyai kedudukan yang baik.

Selama ini saya mengira kekolotan itu sifat yang ada pada seseorang. Terutama orang tua yang umumnya ingin mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada. Ternyata kekolotan merupakan metode untuk mempertahankan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Sebab proses pergeseran nilai bisa mengubah paradigma masyarakat dan merombak tatanan. Orang tidak mau tahtanya terusir kan?

Itu saja bahasan singkat saya. Kalau ada waktu saya ingin mengaitkannya dengan teori penetrasi pasar.