Proyek Roro Jonggrang

 

Di tempat saya bekerja, ada istilah “proyek roro jonggrang”. Bagi kami, istilah itu melambangkan mimpi buruk. Proyek roro jonggrang adalah simbol kemustahilan dalam sudut pandang manajemen proyek.

kamus-meme-proyek-roro-jonggrang

Mari sini, saya ceritakan lebih lanjut.

Sudah tahu kisah Roro Jonggrang? Singkatnya begini: Dulu, Bandung Bondowoso hendak melamar Roro Jonggrang, namun Roro Jonggrang tidak rela. Jadi Roro Jonggrang mencoba menggagalkan lamaran dengan memberikan syarat membuat 1000 candi dalam 1 malam. Dari segi manajemen proyek, Roro Jonggrang itu adalah klien tak berperikemanusiaan. Mengapa? Mustahil menyelesaikan pekerjaan lingkup besar sementara waktunya sangat singkat. Hal tersebut melanggar hukum keseimbangan segitiga proyek: lingkup, durasi, dan biaya. Hanya dengan keajaiban proyek itu dapat diselesaikan.

Di dunia kerja, kami menyebut proyek roro jonggrang untuk sebuah proyek dengan skala relatif besar dengan waktu sangat pendek. Ketimpangan skala dan durasi proyek itu bisa berlaku hingga tingkat ekstrem. Misalnya untuk melakukan instalasi perangkat di kantor 3 lantai kami membutuhkan waktu 2 bulan. Kemudian hal ini disampaikan kepada klien.

Project Manager (PM): “Pak untuk instalasi ini kami perlu waktu 2 bulan”
Klien (K): “2 bulan terlalu lama pak. Kita akhir September ada peresmian oleh gubernur. Jadikan 3 minggu ya.”
PM: (Mampus. Mana bisa 3 minggu) “Pak ini kan untuk implementasi kita butuh A…B…begini…begitu. Bisa diberi waktu lagi?”

Lanjutannya adalah negosiasi berkepanjangan. Tetap saja, konsumen (Roro Jonggrang sekalipun) adalah bos sebenarnya. Jadilah 3 minggu itu kami berusaha keras untuk melakukan “keajaiban” layaknya Bandung Bondowoso.

Hal yang menyebalkan dari proyek roro jonggrang ada 2:

  1. Mengacaukan alokasi sumber daya
  2. Menguras moral tim proyek

Biasanya alokasi sudah direncanakan dalam pengerjaan proyek. Apabila waktu pengerjaan proyek sangat pendek, yang bisa dilakukan untuk mengimbanginya adalah mengurangi lingkup proyek (yang nyaris mustahil) atau menambah sumber daya. Akibatnya, sumber daya baru harus dialokasikan dari luar tim. Itu “keajaiban” pertama.

Kemudian, “keajaiban” kedua dilakukan dengan memadatkan aktivitas. Hal itu berarti perlunya dedikasi lebih, biasanya berwujud lembur. Setiap hari. Tekanan yang tinggi seperti itu membuat tim cepat lelah dan moral terkuras.

Dari segi klien atau pemiliki proyek pun belum tentu santai-santai. Bedanya dengan Roro Jonggrang, klien ingin proyeknya selesai. Mentang-mentang bayar, lalu santai-santai? Tidak bisa juga. Untuk mengimbangi ritme kerja tim proyek, klien juga harus memberi dukungan. Mengambil keputusan dengan cepat dan mengurangi hambatan birokrasi hanyalah contoh kecil. Hal ini juga melelahkan bagi klien/pemilik proyek.

Jadi, proyek roro jonggrang adalah sesuatu yang baiknya dihindari, baik klien maupun tim proyek.

Manajemen proyek adalah seni menyelesaikan pekerjaan dengan sumber daya terbatas. Ingin postingan lagi soal manajemen proyek? Silakan komentar ya 😀

Terima kasih.

Iklan
Manajemen sosio-ekonomi dalam proyek

Manajemen Sosio-ekonomi dalam Proyek

Tulisan ini merupakan intisari dari kuliah keprofesian STI pada tanggal 2 Desember 2014 di Institut Teknologi Bandung. Kuliah diisi oleh pembicara eksternal, Bapak Teguh Haryono. Beliau saat ini adalah CEO PT. Indika Logistic and Support Services, salah satu perusahaan bidang oil & gas (ITB banget yah). Judul presentasi beliau sama dengan judul postingan ini. Saya dan teman sekelas benar-benar kagum selama kuliah tersebut. Sungguh sangat disayangkan kalau ilmu yang memukau itu tertahan saja di kepala atau dinding kelas. Jadi saya mencoba untuk menyampaikan ulang materi dari Pak Teguh lewat postingan ini. Penjelasannya panjang, tapi saya jamin bermanfaat.

———————————————————————————————–

Apa yang menentukan keberhasilan proyek?

Kalimat tersebut langsung dilontarkan pada awal presentasi. Kami yang sudah belajar manajemen proyek konvensional langsung saja menjawab, “cost, time, scope, quality

Segitiga proyek, sumber: http://www.getacoder.com

Setelah itu ditambahkan pula aspek-aspek lain. Semua itu benar, namun ada satu hal yang tidak boleh terlupakan: aspek sosial ekonomi. Sehebat-hebatnya proyek jika tidak memperhatikan dampak dan manfaat kepada masyarakat sekitar maka proyek itu takkan berhasil atau setidaknya terhambat masalah.

Para kontraktor tidak bisa berkata, “itu bukan urusan kita” ketika mendengar keluhan atau protes.

Masalah ini sangat relevan terutama di wilayah Indonesia. Banyak terjadi masalah dalam proyek karena konflik antara pelaksana proyek dengan masyarakat sekitar. Entah berapa proyek yang gagal karena tidak memperkirakan hal tersebut. Pak Teguh dalam karirnya pernah menangani proyek terkait oil & gas senilai $ 700.000.000 (tujuh ratus juta dolar amerika, dan bicaranya lempeng saja) dengan pekerja hingga belasan ribu orang. Tentunya proyek tidak bisa digagalkan begitu saja. Langkah yang beliau lakukan adalah melakukan manajemen terhadap masyarakat sekitar secara sosio-ekonomi. Tujuan akhirnya adalah memperlancar jalannya proyek sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.

Bagaimana cara melakukan manajemen seperti itu? Berikut adalah 7 komponen sosio-ekonomi dalam proyek:

  1. Penggunaan dan akses lahan
  2. Manajemen stakeholder
  3. Kesadaran masyarakat dan Manajemen Isu
  4. Partisipasi bisnis
  5. Pemberdayaan tenaga kerja
  6. Wilayah budaya dan arkeologis
  7. Corporate Social Responsibility

Setiap komponen memiliki peran penting untuk mewujudkan kelancaran proyek. Penjelasannya dijabarkan satu per satu sebagai berikut. Baca lebih lanjut