Zakat dan Keadilan Ekonomi Masyarakat Islam

Pada akhir bulan Ramadhan, umat Islam selalu diingatkan untuk membayar zakat fitrah.  Sebagian muslim juga menghitung zakat mal yang dikeluarkannya pada bulan Ramadhan. Harta dalam jumlah besar mengalir pada masa seperti ini. Kita, umat muslim, memandang zakat sebagai syarat pembersihan harta sesuai Al-Qur’an dan sunnah. Saya tidak ahli bicara dari sisi dalil, jadi silakan mencari sendiri isinya. Yang bakal saya bahas adalah dampaknya di kehidupan masyarakat.

Seberapa besar harta yang kita bicarakan mengenai zakat ini? Sangat besar. Mari kita lakukan perhitungan kasar. Anggaplah penduduk Indonesia 250 juta jiwa dengan persentase 80% muslim. Itu setara 200 juta jiwa. Herru Widiatmanti lewat situs bppk.kemenkeu.go.id menyatakan kelas menengah Indonesia berjumlah 41,6 juta orang pada tahun 2012. Gaji minimum 3 juta per bulan. Saat ini sudah tahun 2017 dan anggap jumlahnya 50 juta jiwa. Apabila 80% nya muslim berarti ada 40 juta muslim, atau 10 juta keluarga muslim (empat anggota keluarga), yang wajib mengeluarkan zakat di Indonesia. Dengan asumsi harta rata-rata senilai 50 juta per keluarga, estimasi besaran zakat per tahun adalah 2,5% x Rp 50.000.000 x 10.000.000 keluarga wajib pajak = Rp 125.000.000.000. Wow, 125 triliun rupiah per tahun! Menurut Baznas, potensi zakat tahun 2015 mencapai 286 triliun. Saya berpendapat bahwa zakat di Indonesia biasanya dibayarkan per keluarga, sehingga hitungannya berbeda.

Saya sudah pernah bercerita bahwa secara alami, kekayaan di masyarakat tidak terdistribusi secara merata. Selalu ada orang kaya dan orang miskin. Masalahnya adalah seberapa besar kesenjangan antara keduanya. Sistem kapitalisme, yang mengutamakan kebebasan dalam berbisnis, mengakibatkan orang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Kalau kamu miskin itu akibat kebodohanmu sendiri, begitu kira-kira menurut penganut kapitalisme. Tidak ada tanggung jawab terhadap orang miskin. Hal ini menyakiti kehidupan bermasyarakat.

Islam adalah agama yang menekankan penghambaan terhadap Allah dan keadilan dalam bermasyarakat. Begitu banyak hukum yang mengatur urusan antarmanusia. Zakat adalah kombinasi keduanya. Bagi saya, hukum Islam sungguh hebat karena memasukkan konsep ekonomi yang adil. Bahkan, zakat ini begitu penting sampai menjadi pilar utama yaitu rukun Islam. Dalam Islam, harta adalah titipan. Ia kesenangan sekaligus ujian. Kemudian, ada hak orang lain dalam harta yang dititipkan. Konsep ini menimbulkan tanggung jawab ekonomi kepada orang lain. Yang mampu harus membantu yang tidak mampu. Hasilnya adalah dekatnya jarak antara orang kaya dan orang miskin. Ekonomi Islam itu proporsional, tidak melarang untuk mencari rezeki Allah di muka bumi, sekaligus membatasi keserakahan manusia.

Kemudian bayangkan uang 125 triliun tadi untuk kemaslahatan umat. Fakir miskin akan berkurang bebannya, yang terjerat hutang dapat kesempatan kedua, pejuang di jalan Allah akan dimudahkan jalannya. Kalau kita sadar pentingnya membayar zakat, masyarakat Islam akan semakin kuat.

penerimaan baznas

Penerimaan zakat yang tercatat Baznas tahun 2002-2016 (sumber: Outlook Zakat 2017 Puskasbaznas)

Banyak konsep bagus, tapi pelaksanaannya melempem. Zakat di Indonesia, dan mungkin belahan dunia lain, belum dapat dimaksimalkan. Masalah yang paling dasar adalah kurangnya kesadaran berzakat. Hukum Islam secara tegas melaknat muslim yang tidak membayar zakat. Namun tanpa sosialisasi dan peraturan khusus, saya rasa kesadaran itu belum akan muncul. Menurut Badan Amil Zakat Nasional, penerimaan zakat di tahun 2015 ‘hanya’ sebesar 3,7 triliun. Penyalurannya pun hanya terserap 61%. Belum lagi masalah optimalisasi penggunaan dana zakat.

pertumbuhan zakat indonesia

Pertumbuhan penerimaan zakat bertumbuh positif (sumber: Outlook Zakat 2017 Puskasbaznas)

Meskipun di Indonesia jalannya masih panjang, saya yakin zakat bisa menjadi pintu gerbang kemakmuran. Meskipun jauh dari potensinya, penerimaan zakat di Indonesia masih terus bertambah. Jadi, ayo berzakatlah para muslim. Untuk kebersihan harta, kemaslahatan umat, dan amalan di akhirat.

 

Bacaan lanjutan:

Pusat Kajian Strategis Baznas. Outlook Zakat Indonesia 2017. 2016. http://www.puskasbaznas.com/images/outlook/ OUTLOOK_ZAKAT_2017_PUSKASBAZNAS.pdf