Kita Mendiskriminasi Tarif Turis Asing dan Ini Gawat Bagi Pariwisata Indonesia

Pemerintah Indonesia menggalakkan sektor pariwisata sebagai sumber pemasukan di masa depan. Mengingat kekayaan alam dan budaya Indonesia demikian melimpah, hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Pemerintah kemudian menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memudahkan akses ke tempat wisata tersebut. Dengan begitu, turis lokal maupun mancanegara akan nyaman mengunjungi berbagai tempat wisata Indonesia. So far so good.

Hanya saja, ada satu masalah yang jarang disorot: kesiapan kita, pelaku industri pariwisata dan masyarakat umum, untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata yang menyenangkan. Terutama bagi turis mancanegara. Saya nggak mau muluk-muluk. Kali ini cukup bahas satu hal dulu: tarif.

Kisah Diskriminasi Tarif Turis Asing

Akhir tahun 2016 lalu, saya berwisata ke Banyuwangi bersama istri. Kami menginap di sebuah homestay paling terkenal di Banyuwangi menurut Airbnb. Karena Airbnb itu platform yang berbasis luar negeri, homestay itu dipenuhi dengan turis asing. Tamu dari Indonesia cuma saya dan istri saya loh. Nah, jadilah saya lebih banyak ngobrol dengan turis-turis asing itu. Mereka biasanya berkelompok 4-5 orang atau berpasangan 2 orang. Kita bertukar informasi dan pengalaman menjelajah Banyuwangi. Nah, di antara sekian kelompok yang kami ajak ngobrol, ada sepasang turis dari Cologne, Jerman yang tujuannya sama dengan kami: Kawah Ijen. Namanya Michael dan Barbara. Setelah ngobrol, akhirnya kami sepakat berangkat bersama supaya nggak nyasar.

Setelah perjalanan bersama, kami berempat sampai di pintu masuk wisata Kawah Ijen. Kemudian saya diberi tahu penjaga kalau loket bagi turis asing dan turis lokal dibedakan. Terus saya baru tahu lagi kalau beda harganya jauh. Rp 7.500 untuk turis lokal dan Rp 150.000 untuk turis mancanegara. Sudah begitu, kami (baik yang lokal maupun mancanegara) harus membayar Rp 50.000 untuk masker gas. Begitu tahu informasi tarif itu, Michael protes, “Mengapa kami harus membayar sangat mahal sementara kalian tidak?”

Wajar saja dia dongkol, pikir saya. Bedanya saja 20 kali lipat. Sudah begitu masih membayar masker gas pula. Sementara mereka tidak mendapat fasilitas tambahan. Saya waktu itu tidak bisa menjawab pertanyaan Michael. Mau bilang itu sudah ketetapan pemerintah [1]? Itu jawaban tidak berpendidikan, mengambinghitamkan pihak lain. Dan itu tidak memperbaiki penilaian Michael terhadap pariwisata negeri ini. Jadi saya mencoba menghibur mereka dengan mengajak minum kopi di warung terdekat. Selanjutnya saya malah tahu kalau mereka sudah beberapa kali dimintai tarif yang tidak masuk akal untuk biaya transportasi atau makan. Yah, minimal dia tidak dimintai banyak untuk ngopi karena ada saya (itu pun dengan meyakinkan pemilik warung bahwa kita temenan).

Untunglah Michael dan Barbara merasa senang dengan perjalanannya ke Kawah Ijen. Tapi pertanyaan Michael menghantui saya sampai sekarang. Mengapa tarif turis lokal dan mancanegara harus dibedakan?

Akar Masalah

Setelah melaukan penelitian kecil, saya menemukan satu alasan pokok. Bangsa kita menganggap orang asing, terutama ‘bule’, lebih makmur daripada pribumi. Ini semacam sindrom inferior bawaan, pada skala negeri. Perlu diketahui bahwa kebijakan diskriminasi tarif ini umum terjadi di negara berkembang: Indonesia, India, Thailand, Iran, Yordania. Gawatnya, alasan ini yang jadi justifikasi untuk membuat orang-orang merasa sah saja menaikkan tarif bagi turis asing. (ada tulisan satir berkualitas yang ditulis pelancong ‘kaya’ di sini)

Ada beberapa argumentasi yang mendukung perbedaan tarif antara turis lokal dan mancanegara [2] [3] [4]:

  1. Turis lokal telah membayar pajak atau disubsidi oleh pemerintah sehingga tanggungan untuk membayar berkurang.
  2. Standar pendapatan yang berbeda antara turis lokal (yang biasanya lebih rendah) dibanding turis mancanegara (biasanya lebih tinggi).
  3. Penggunaan uang untuk biaya pemeliharaan tempat wisata dan subsidi silang.
  4. Ada tempat yang biasanya sering dikunjungi warga lokal, seperti tempat ibadah, dan tidak pantas untuk ditarik banyak tarif. Sementara wisata mancanegara datang pada satu saat saja.
  5. Mendukung turis lokal untuk menghargai kekayaan alam/budaya apabila tarifnya murah.

Semua alasan tersebut masuk akal. Namun, para turis asing itu juga manusia. Mereka punya pikiran dan perasaan. Tak mungkin mereka diam saja saat harus membayar lebih banyak. Itu perasaan diskriminasi yang nyata dan mempengaruhi pengalaman mereka berlibur.

Selain itu, alasan di atas belum tentu akan memuaskan mereka. Uang mereka akan dipakai untuk perawatan? Seorang pelancong dengan skeptis memotret sampah bertebaran di tempat wisata untuk menggulingkan argumen itu [4]. Memang betul bahwa tarifnya tergolong murah bagi wisatawan mancanegara, namun kalau tidak diiringi dengan fasilitas yang memadai, mereka akan protes keras.

survey-dual pricing

Poling di telegraph.co.uk soal diskriminasi tarif bagi turis asing

Perubahan Karakter Turis Asing

Dulu, berwisata ke luar negeri itu tergolong sangat mewah. Makanya hanya golongan orang mampu (menurut standar barat loh) yang bisa berwisata ke luar negeri. Sekarang, bepergian ke luar negeri adalah hal lumrah. Generasi muda saat ini mulai mendominasi jumlah pelancong global [5]. Karakteristik turis generasi ini antara lain [6] [7]:

  1. Lebih suka menghabiskan uang untuk pengalaman baru daripada membeli barang.
  2. Suka menggunakan aplikasi dan mengharapkan kemudahan akses informasi.
  3. Suka membaca ulasan terkait tempat wisata.
  4. Aktif menyebarkan berita dan rekomendasi kepada lingkarannya, terutama lewat media sosial.
  5. Berkantong pas-pasan, punya banyak waktu luang.

Karakter turis seperti ini mendukung viralnya tempat wisata berkualitas, namun di sisi lain juga mematikan tempat wisata yang buruk (dalam berbagai hal) dengan cepat. Setiap rekomendasi baik mengundang orang datang. Apabila orang yang datang ikut puas, mereka juga akan memberikan rekomendasi baik. Demikian pula rekomendasi buruk membuat turis lain enggan mendatangi tempat wisata. Sistem rekomendasi lewat platform aplikasi dan media sosial inilah yang jadi acuan sebagian besar turis mancanegara.

Sekarang, apa alasan turis mancanegara datang ke Indonesia? Alam yang bagus, alam yang kaya? Mungkin. Tapi di kalangan turis mancanegara ada satu hal yang pasti: biaya wisatanya lebih murah daripada di tempat lain. Memang wilayah Asia Tenggara ongkos hidupnya bisa dibilang paling murah [8]. Itu jadi sebab turis mancanegara berbondong-bondong kemari.

Apa yang mungkin terjadi kalau kita masih bersifat diskriminatif soal tarif sementara turis yang datang berharap biaya murah? Ekspektasi mereka akan timpang dengan realita. Akibatnya pengalaman liburan mereka terganggu. Hal terburuknya, ulasan buruk soal pariwisata di Indonesia akan menyebar dan turis lain enggan mendatangi Indonesia.

Harga Tiket Turis Asing

Saran

Tentu kita tak mau hal terburuk terjadi. Saya menulis ini karena saya peduli dengan kondisi pariwisata Indonesia. Saya awam soal industri pariwisata, tapi saya paham soal tren dan teknologi. Perkembangan teknologi yang pesat membuat banyak disrupsi. Situasi ini harus kita pahami dan antisipasi. Kita masih bisa menarik biaya dari turis tanpa membebani. Misalnya dengan menerapkan sistem paket. Turis asing dikenakan tarif biasa, namun apabila ingin fasilitas seperti pemandu, harus membayar lagi. Atau bisa dengan memberlakukan tarif khusus lokal pada hari tertentu, sisanya tarif tinggi.

Kuncinya adalah kebijakan yang tidak mendiskriminasi turis, atau hukuman dikucilkan dari daftar tempat wisata pilihan pelancong global. Pilihan ada di tangan kita.

Referensi

[1] https://tnrawku.wordpress.com/2014/06/10/penyesuaian-tarif-pnbp-di-kawasan-taman-nasional-tahun-2014/
[2] http://www.telegraph.co.uk/travel/news/Should-foreign-tourists-pay-more-than-locals/
[3] https://www.quora.com/Why-do-we-over-charge-foreigners-at-tourist-places-in-India
[4] https://www.lostwithpurpose.com/dual-pricing/
[5] http://groupstoday.com/business/404-travel-trends-by-age-demographic
[6] https://www.forbes.com/sites/micahsolomon/2014/12/29/5-traits-that-define-the-80-million-millennial-customers-coming-your-way/#66b08d2725e5
[7] https://www.veinteractive.com/blog/4-key-traits-millennial-traveller-need-target/
[8] https://www.priceoftravel.com/2060/asia-backpacker-index/

Iklan