Mengapa Ada Orang Kaya dan Miskin?

Di muka bumi ini, dari Sabang sampai Merauke, dari Los Angeles sampai Tokyo, selalu ada golongan kaya dan miskin. Ada yang berlindung dibawah kardus, ada yang atapnya berpualam dihiasi chandelier. Ada yang banting tulang untuk makan besok, dan ada yang mempekerjakan 12 koki untuk sepiring kecil hidangan istimewa. Dua ujung ekstrem kekayaan ada dimanapun, dari dulu hingga sekarang. Mengapa begitu? Apakah ini hal alami? Mungkinkah ini konspirasi bankir global dan kaum zionis?

distribusi kekayaan

Saya memperoleh inspirasi ketika membaca status senior di kampus ITB bernama Okihita Hasiholan Sihaloho. Di bidang teknologi informasi, kami sering membuat analisis skenario. “Apa yang akan terjadi jika kita melakukan X?”, “Bagaimana dampak aspek Y terhadap kegiatan ini?” Jadi, saya ajak pembaca menganalisis satu skenario dalam rangka menjawab pertanyaan, “Mengapa ada orang kaya dan orang miskin?”

Pertama, kita andaikan semua orang di muka bumi awalnya sama persis jumlah harta bendanya. Tak ada yang kelebihan atau kekurangan. Kemudian setiap orang diberi satu ekor ayam (betina). Nah, apa yang terjadi selanjutnya?

Di sini kita bermain analisis skenario. Apakah semua orang akan bahagia? Ya, pada awalnya. Mereka dapat ayam secara cuma-cuma. Tapi selanjutnya kebutuhan muncul. Orang harus makan. Tentu ayam yang didapat dadakan jadi perhatian. Mayoritas (75% menurut Okihita) sadar bahwa ayam itu bisa dijual untuk uang atau dimasak jadi makanan. Mayoritas ini telah memenuhi kebutuhan mereka untuk satu hari. Sayangnya mereka melupakan esok hari. Akhirnya, mereka harus berusaha lagi untuk kepentingan hari esok.

Kemudian sebagian kecil (24% menurut Okihita) menyadari bahwa ayam (betina) dapat menghasilkan telur. Dengan telur itu, mereka dapat memenuhi kebutuhan makan sehari. Telur dapat dihasilkan ayam (betina) tiap hari, namun tidak untuk selamanya. Orang-orang ini bertahan lebih lama daripada mayoritas, namun suatu saat kemampuan ayam bertelur akan habis. Mereka harus berusaha lagi memenuhi kebutuhan setelahnya.

Hanya sebagian terkecil (1% menurut Okihita) yang menyadari bahwa ayam (betina) dapat dikawinkan dengan pejantan dan menghasilkan lebih banyak ayam. Nantinya ayam itu akan tumbuh sampai bisa dijual, dimakan, atau dikawinkan dan berketurunan lagi. Kelompok terkecil inilah yang takkan kehabisan ayam untuk memenuhi kebutuhan makannya.

Perlu dicatat bahwa “ayam” di sini hanyalah simbol dari segala sumber daya yang kita miliki. Modal, waktu, kecerdasan, koneksi. dan lain-lain. Pada hakikatnya, orang kaya lebih pandai mengelola sumber daya daripada orang miskin. Kemampuan mengelola itulah yang hanya dimiliki segelintir orang. Banyak orang yang berpikir untuk hari ini, sebagian yang berpikir untuk sebulan mendatang, tapi sedikit sekali yang berpikir untuk 10 tahun ke depan. Demikianlah fitrah manusia.

Jadi, mengapa ada orang kaya dan orang miskin? Karena ada perbedaan fitrah dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Apakah adanya orang kaya dan miskin itu alami? Ya, itu alami. Yang jadi masalah adalah seberapa besar jarak antara orang kaya dan orang miskin. Tapi itu topik untuk hari lain 🙂