Mempercayai Janji Allah

Ketika sedang makan bersama istri di sebuah restoran, saya melihat ada keluarga kecil duduk tak jauh dari meja kami. Keluarga kecil itu nampak ramai. Ada tiga anak balita, dengan selisih sekitar setahun menurut saya. Sementara orangtuanya pun masih muda. Sang ayah dan ibu masing-masing menggendong satu anak dan anak tertua bermain di sekelilling meja. Sang ayah dengan jenggot lebatnya mencoba menenangkan, sementara sang ibu yang berjilbab penuh tersenyum sambil berkata sesuatu kepada anaknya.
image

Saya tergelitik dan menoleh kepada istri, “lihat di sana. Masih muda anaknya sudah banyak ya.” Lalu istri menjawab, “Iya, loh. Tipe mereka itu biasanya anaknya banyak. Dan sama sekali nggak khawatir kenapa-kenapa,” Saya sahut, “Yang betul?” Dijawab lagi, “Aku pernah tanya kepada teman yang anaknya sudah banyak. Jawabnya, dia nggak khawatir karena rezeki tiap manusia itu sudah dijamin Allah.”

Allah telah menjamin kecukupan rezeki makhluk-Nya*. Ini sepotong jaminan yang mulai dilupakan masyarakat muslim zaman sekarang. Seorang muslim idealnya percaya dulu atas jaminan Allah, baru berusaha untuk meraihnya. Patutlah kita tanya diri sendiri, apakah kita cari rezeki karena yakin sudah dijamin Allah, atau karena kita takut hidup kekurangan?

Keluarga kecil tadi adalah contoh bagus tentang keyakinan atas rezeki Allah. Bayangkan tahun ini berapa biaya persalinan dan kebutuhan sandang pangan anak. Belum lagi biaya sekolah yang mahal. Dikali 3 pula. Secara matematis, kita akan melakukan estimasi berapa gaji minimum yang dibutuhkan. Bisa 7-8 juta angkanya. Padahal gaji riil hanya sepersekian dari estimasi kebutuhan. Memang di atas kertas tidak logis, dan itu yang mendorong sebagian besar keluarga muda untuk beranak sedikit saja. Nyatanya keluarga yang saya lihat tadi nampak berkecukupan (lagipula makan di luar pasti lebih mahal daripada masak sendiri), anak-anaknya nampak sehat dan terawat. Istri saya pun mengonfirmasi hal yang sama dari teman-temannya. Betul bahwa ini berisiko tinggi, tapi dengan percaya atas jaminan rezeki Allah diiringi usaha, keluarga yang banyak anaknya dapat hidup layak.

Jujur saya iri dengan kadar keimanan orang seperti itu. Secara pribadi, pikiran logis masih menghantui saya. Bagaimana kalau tak ada uang buat kebutuhan? Apakah pendapatan saya bisa selalu mencukupi? Tidak jarang pikiran ini menghalangi rasa percaya atas jaminan Allah. Padahal jaminan itu tertera pada kitab suci. Sungguh jempol untuk orang-orang yang percaya akan jaminan Allah.

Sekarang saatnya mulai percaya. Tak mudah untuk yakin, karena sebagai manusia kita benci ketidakpastian apalagi soal rezeki. Tapi sebagai muslim, masihkah kita beriman kalau janji Allah saja kita ragukan? Padahal Dia zat yang Maha Menepati Janji.

Semoga kita semua belajar.

*QS Hud: 6

Iklan

Tebang Pilih Berita Palsu (Hoax)

Hoax alias berita palsu akhir-akhir ini menjadi senjata berbahaya. Ampuh dalam perang opini di media sosial dan jejaring komunikasi. Pihak-pihak yang berseberangan saling lempar isu untuk menjatuhkan. Sampai tak jelas siapa benar atau salah. Seperti menentukan siapa paling bersih antara dua orang yang bergulat dalam lumpur.

Sebagai manusia, kita punya pilihan untuk menerima atau menolak opini orang lain. Kita juga punya pilihan untuk mendukung pihak yang sesuai dengan diri. Masalahnya, saya lihat di Indonesia, kedua pilihan tersebut tak diiringi dengan nalar sehat. Hanya karena sejalan dengan pemahamannya, lantas orang membela pendapat suatu pihak secara membabi buta. Pihak yang lain malah dicaci. Padahal semuanya sama saja, kasih hoax. Akibatnya adalah tebang pilih hoax/berita bohong.

Hoax yang berasal dari pihaknya sendiri diabaikan. Alasannya, yang penting niatnya baik. Tidak ada sumber validnya tidak apa-apa, yang penting ada pelajaran moral yang menginspirasi. Kalau hoax datang dari pihak lain langsung terpicu. Bilang ini penghinaan, konspirasi, dan semacamnya.

Bukankah bersikap demikian itu tidak adil?

Banyak contohnya bertebaran di linimasa. Perang opini pendukung calon pemimpin daerah, komunitas flat earth lawan komunitas saintifik, pro-NKRI lawan pro-revolusi, muslim garis keras lawan liberal sarkastik, dan beragam lagi. Anda merasa jengah melihat kebodohan merajalela? Saya sih iya.

Membela seseorang bukan berarti menutup mata atas kesalahannya. Toh yang dibela adalah manusia juga. Yang lebih penting adalah sikap objektif atas sebuah peristiwa. Kita boleh saja memihak asalkan adil. Kritik saya dalam postingan ini ada pada inkonsistensi sebagian masyarakat, bukan melarang mendukung dan memihak suatu kubu.

Poin yang ingin saya tekankan, berita palsu ya palsu. Entah kita suka atau tidak. Walaupun isinya bagus, kalau beritanya palsu ya jangan disebarkan. Saya melihat contohnya banyak sekali, terutama di grup WA. Ada kisah nabi atau sahabat yang terdengar sangat indah, namun tidak dicantumkan sumbernya. Setelah dicek ulang, ternyata tidak ada dasar hadist atau kitab. Walau menginspirasi, tetap saja namanya hoax. Kalau suatu saat kebohongan besar mendatangkan bencana dan anda ikut menyebarkannya, anda punya andil dalam mempertanggungjawabkan. Saat ini atau nanti.

Menurut saya ada 2 langkah penting untuk terhindar dari hasutan hoax.
1. Verifikasi atau tabayyun atas segala pemberitaan yang dibaca.
Cara verifikasinya adalah dengan melihat sumber tulisan. Harus terang nama atau instansi. Anda patut ragu kalau ada berita berisi, “menurut penelitian”, “menurut ilmuwan”, “menurut ulama”. Bahkan kalau ada namanya pun harus beserta buku atau publikasi yang jadi rujukan. Atau sekalian konfirmasi kepada sumber tersebut. Seperti yang dilakukan tabiin untuk mengumpulkan dan menyaring hadist Rasulullah yang shahih.
2. Jangan share berita kecuali anda sudah lakukan tahap 1 dan yakin beritanya bermanfaat bagi orang lain yang membaca.
Tombol share itu memungkinkan berita jadi viral dalam hitungan jam. Jadi pastikan anda yakin berita yang ingin anda sebarkan itu benar DAN bermanfaat. Kalau benar tapi tak bermanfaat, disimpan saja dulu. Kalau bohong tapi bermanfaat, tetap saja hoax seperti yang saya jabarkan di atas.

Mulai sekarang, mari berperan aktif menghilangkan hoax. Mari bertabayyun, belajar, dan tetap objektif dalam berpihak dan menyebarkan berita. Hoax adalah senjata, maka hindari.