Prioritas Tempat Duduk: Antara Hak dan Kewajiban

Suatu sore, saya pulang kerja menuju stasiun KRL. Dalam kondisi lelah, lecek, dan habis kena gerimis, saya menunggu kereta jurusan pulang. Beberapa saat kemudian keretanya datang. Pintu dibuka dan saya masuk santai (saya bukan tipe yang menghambur rebutan tempat duduk). Kebetulan ada tempat kosong di kursi biasa (bukan prioritas). Saya pun duduk. Pas punggung menyentuh bantalan kursi, rasanya beban saya terangkat. Jarang-jarang dapat tempat di jam pulang. Secercah surga itu rasanya. Orang-orang yang terbiasa komuter bakal mengerti.

Beberapa stasiun kemudian masuklah ibu-ibu paruh baya di kereta yang sudah penuh. Dia berdiri di depan tempat saya. Sesaat saya tahu kalau ibu ini masih kuat untuk berdiri karena postur bagus, namun tampak juga kalau dia hampir-hampir di kategori “harus diprioritaskan” karena usia. Karena dia berdiri di depan saya, otomatis ada dorongan moral untuk kasih tempat duduk. Di sisi lain, saya capek banget dan belum tentu bisa duduk selama 40 menit ke depan. Lalu, apa yang harusnya saya lakukan?

* * *

Konflik Hak dan Kewajiban

Itu sepenggal kisah yang terjadi belum lama. Saya pun yakin bukan satu-satunya yang merasakan hal sama. Baik di kendaraan atau tempat umum. Saya kepikiran sampai sekarang. Benturan “hak” dan “kewajiban” dalam contoh sederhana sehari-hari. Kenapa dua kata tersebut dikasih tanda petik? Karena dalam konteks ini kita belum punya definisi baku antara hak dan kewajiban. Kita memerlukannya untuk menjawab pertanyaan berikut:

  1. Andai ibu paruh baya masuk kategori prioritas, siapa yang lebih berhak atas tempat duduk, saya atau ibu-ibu tersebut?
  2. Apakah saya wajib memberikan tempat saya? Kalau ya, mengapa? Kalau tidak, siapa yang punya kewajiban itu?

Baca lebih lanjut

Iklan