Jalan-jalan Sore di Masjid Raya Al-Azhom

Minggu sore dan tidak ada yang dilakukan. Kipas angin di kamar menderu sambil mendatangkan sedikit kesejukan. Di luar, matahari menyengat sementara udara lembab. Keringat membuat badan lengket. Karena nggak tahan, saya pun memutuskan keluar. Meskipun tetap berkeringat, penat bisa hilang sambil jalan-jalan.

Saya belum tahu banyak soal Tangerang tapi tidak tertarik eksplorasi. Alasannya ada beberapa:

  1. Panas dan udara kurang menyenangkan
  2. Lalu lintas bikin kesal (meski tak segila Jakarta)
  3. Wisata yang tersedia didominasi nuansa kapitalis seperti mall, water boom, dan sejenisnya. Saya tak suka wisata begitu karena menghabiskan uang hanya untuk hiburan buatan.
  4. Tidak ada makanan khas yang menarik (saya sudah coba laksa Tangerang dan kurang cocok)

Lalu saya ingat ada dua objek yang ingin saya lihat dari dekat di Tangerang: Pintu Air Sepuluh dan Masjid Raya Al-Azhom. Lalu saya melakukan sedikit riset di Google Maps. Di Taman Pintu Air, saya bisa mendapatkan pemandangan Sungai Cisadene yang bagus. Kebetulan tempat itu dekat dengan Masjid Al-Azhom. Saya putuskan berangkat, nanti sekalian sholat ashar di sana.

Ternyata arus lalu lintas yang ditunjukkan Google Maps agak beda dengan kondisi riil. Ini agak tricky, tapi saya berhasil lewat di jalur yang benar. Sayangnya entah mata saya kurang awas atau gimana, Taman Pintu Air gagal saya temukan. Saya lihat daerah rimbun di tepian sungai Cisadene dan banyak angkot ngetem, tapi tak lihat tulisan Taman Pintu Air. Saya malah lihat Taman Pramuka. Karena malas kembali, saya lanjutkan ke Masjid Al Azhom.

Masjid Al-Azhom ini memang tampak megah seperti nampak di foto. Hanya saja halamannya lebih sempit dari yang saya bayangkan. Letaknya berada di pusat pemerintahan Kota Tangerang. Pastinya ramai pada jam kerja, namun Minggu sore ini kebanyakan yang datang adalah keluarga atau pasangan yang mampir sholat dan berfoto ria.

Masjid Al Azhom-outside 1

Terasa megahnya apabila dipotret dari depan begini. Foto dari luar ini diambil lebih sore daripada foto di bagian dalam masjid. Dengan demikian nuansa masjid di kala senja lebih tampak.

 

Masjid Al Azhom-outside

Masjid Raya Tangerang di kala senja

Masjid Al Azhom-outside 2

Pintu masuk utama Masjid Al Azhom

Masjid Al Azhom ini diklaim memiliki kubah masjid terbesar di Asia Tenggara. Benar atau tidak, saya kurang tahu. Cuma, saya bisa bilang kalau kubahnya memang besar. Makin terasa kalau dilihat dari dalam sambil mendongak.

DCIM100MEDIA

Empat kubah kecil di tepi, satu kubah besar di tengah. Seluruhnya berhiaskan kaligrafi keemasan yang mengkilat.

Saya tiba sekitar setengah jam setelah adzan ashar. Sudah ketinggalan jamaah pertama. Tapi gelombang kecil sholat jamaah tak pernah habis di masjid jami seperti ini. Saya tunaikan dulu kewajiban, baru menuntaskan foto-foto. Karena pencahayaan yang menarik, saya bereksperimen foto diri sendiri di salah satu sudut masjid.

DCIM100MEDIA

Jajaran shaf terdepan yang dihiasi tiga jam bandul dan kaligrafi Allah & Muhammad. Tentunya foto ini diambil setelah saya beres sholat 🙂

DCIM100MEDIA

Leyeh-leyeh sore hari di lantai yang dingin sungguh nikmat

DCIM100MEDIA

Sisi masjid dengan pencahayaan yang menarik

 

DCIM100MEDIA

Foto eksperimen. Saya suka pencahayaannya.

Masjid Al Azhom-inside 1

Semakin sore, semakin sepi.

Puas berfoto, saya berkeliling sedikit di pusat pemerintahan. Biasanya di kota/kabupaten dari Serang sampai Banyuwangi tipikalnya sama di pusat kota: pusat pemerintahan, masjid jami, alun-alun. Saya jadi bertanya, apakah di pusat pemerintahan Tangerang ini ada alun-alun? Sebab saya tidak lihat ada hamparan rumput atau taman hijau luas di sekitarnya. Saya cuma lihat area berbentuk persegi dipaving merah dengan ornamen. Terlalu kecil untuk disebut alun-alun sih 😛

Syukurlah bosan saya terusir dengan jalan-jalan ini. Semoga bosan pembaca juga hilang dengan baca postingan dan lihat foto-foto ini.

Iklan

6 thoughts on “Jalan-jalan Sore di Masjid Raya Al-Azhom

  1. Rifqy Faiza Rahman berkata:

    Di tempat manapun, masjid selalu memberikan keteduhan. Jika di kota yang panas, masuk masjid rasanya teduh. Jika kotanya dingin, masuk masjid juga hangat. *mendadak religius* 😀

    Suka

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s