Menjawab Spontan dan Berkesan

Beberapa orang menganggap saya pemikir yang masuk akal tapi nyeleneh. Dan saya sadar memang nyeleneh. Bentuk terjelas dari sifat ini adalah jawaban saya kalau ditanya. Biasanya saya menjawab spontan, baik lisan atau tertulis. Nah, spontanitas itulah yang bikin saya geleng-geleng sendiri pas baca riwayat chat di aplikasi.

“Keren juga ya omonganku ini, padahal nggak pakai mikir” #songong

Tapi lewat jawaban spontan dan nyeleneh inilah saya kadang dikenal. Nah, meskipun spontan, saya cenderung punya kekhasan dalam ngomong atau menulis. Bisa dibilang ini tips untuk ngomong nyeleneh tapi masuk ingatan orang lain hehe.

Tiap orang punya karakter dan cara bicara. Tapi dengan sedikit pembelajaran, anda bisa mengeluarkan kalimat yang menarik. Mungkin berguna juga untuk menulis novel. Inilah empat tips menjawab spontan dan berkesan.

  1. Pakai kalimat berima atau berpola
  2. Gunakan Analogi
  3. Gunakan Penyampaian yang Tidak Biasa
  4. Tambahkan Hiperbola Secukupnya

Penasaran? Simaklah cara ngomong spontan dan berkesan ala Yogi.

Kalimat Berima atau Berpola

Saya suka pola. Rima adalah fitur bahasa yang mengikuti pola. Kalau dengar kalimat dengan suku kata sinkron di akhir bikin telinga adem hehe. Karya sastra lama juga ketat dalam aturan rima untuk menciptakan harmoni.

Contoh:

Obrolan saya dan Riri di WhatsApp
Y : Kamu hari ini dari mana?
R : Aku habis dari diskusi di Fisipol, tentang agama perlawanan.
Y : Wah kamu diskusi di Fisipol bisa mumet pol.
R : Hahaha, memang iya.

Saya juga suka kalimat berpola. Tidak harus berima, yang penting mirip di bagian awal dan akhir.

Contoh:

  • Kita harus duduk sepaket supaya sepakat.
  • Scrum di pagi hari, kram di sore hari. (rada lokal, bahasa agile software development)

Menggunakan Analogi

Analogi adalah fitur bahasa yang hebat. Analogi mempermudah orang dalam menyampaikan maksud. Terutama bila obrolannya konseptual. Saya tipe ENTJ, doyan ngomong konsep. Biar orang lain mengerti, saya sering pakai analogi. Jenis analogi beragam, yang terpenting pastikan bahasanya dipahami lawan bicara.

Contoh:

Saya mengantar saudara bermotor ria ke stasiun KRL. Saat itu habis hujan lebat dan ada genangan air. Kita sama-sama tahu baiknya melambatkan laju kendaraan supaya selamat dan nggak nyiprat kemana-mana. Nah setiap ada yang melalui genangan selalu ada yang mengklakson di belakang.

Saudara, yang notabene jarang2 ke Jakarta bertanya keheranan,

S : Kenapa sih itu klakson terus?
Y : Mereka mengklakson untuk menyuarakan ego. Macam anak teriak-teriak minta giliran.

Masih dengan latar tokoh serupa, saya dan saudara saya. Cuma tempatnya di dalam KRL. Kami berdiri sambil ngobrol. Makin mendekati stasiun tujuan, makin banyak orang lewat menuju bagian depan. Saya ngomong ke saudara saya,

Y : Kamu tahu kenapa orang-orang pada pindah ke depan?
S : Nggak. Memangnya kenapa?
Saya bilang supaya tunggu sebentar, lalu kereta sampai dan kami turun. Dari situ nampak manusia membludak di bagian depan.
Y : Supaya mereka kebagian turun dan keluar stasiun duluan.
S : Ya ampun…
Y : Di sini persaingan keras. Macam balapan aja, mendesaki orang demi lebih cepat beberapa menit.

Kata yang Tidak Biasa

Kita bisa memutarbalik diksi, padahal maksud kalimatnya sama. Ada yang langsung, ada yang persuasif, sementara saya lebih suka memilih diksi yang nyeleneh. Orang lain akan paham, tapi itu bukan kata yang didengar sehari-hari.

Contoh perbedaan penyampaian dengan maksud sama: mengajak teman ke pantai tanggal 20.
Langsung: Kita berencana ke pantai tanggal 20. Mau ikut?
Persuasif: Ke pantai yuk tanggal 20 bareng anak-anak. Pasti seru nih.
Saya: Kasihan dirimu dianggurin pas liburan. Mending buat ke pantai bareng-bareng tanggal 20.

Gunakan imajinasi untuk membuat skenario yang membuat lawan bicara tertarik. Lama kelamaan proses mengubah diksi menjadi otomatis.

Contoh:

Saya dikontak sama teman SMP, sebut saja D. Tetiba dia tanya apakah saya di Jakarta.
Y : Kok tahu aku di Jakarta?
D : Ya tahu aja
Y : Jangan-jangan kita papasan, atau kamu bakal jadi bosku?
D : Haha, nggak kok. Kamu kerja bagian apa di jakarta?
Y : Aku mencari pengalaman berbonus uang. (Niatnya basa-basi. Tapi saya jadi tertarik sendiri sama jawaban saya. Karena tujuan utamanya memang cari pengalaman, realistis sekaligus optimis)

Hiperbola Secukupnya

Hiperbola atau melebih-lebihkan sesuatu adalah bumbu dalam kalimat. Seperti semua bumbu, kalau kebanyakan akan merusak hidangan kalimat utama. Sementara kalau terlalu sedikit, kalimat terasa kurang dahsyat. Berilah hiperbola secukupnya untuk kalimat opini yang ingin ditekankan. Peringatan, jangan menambah hiperbola pada kalimat fakta.

Contoh:

Masih ngobrol dengan teman masa SMP.
Y : Siapa lagi anak Ponorogo angkatan kita yang terdampar di Jakarta?
D : Ada si A yang di Jakarta.
Y : Oh iya. Si A udah lama di Jakarta. Aku masih kuliah dia udah jadi preman kopaja.
D : Haha, bisa aja sampeyan

Kasus lain, dimana ibu saya bertanya berapa lama Mas Ton, kakak saya, sudah tinggal di kosan yang sama selama hidup di Surabaya.
I : Le, mase sudah berapa lama ngekos di Keputih?
Y : Udah lama banget. Dedemitnya aja kalah. Harus izin Mas Ton dulu.
(Semua orang ngakak)
Jadi kakak saya itu memang rambutnya panjang sepunggung, terus di gimbal dreadlocks. Level sangarnya maksimal.

***

Demikianlah tips membuat kalimat spontan dan berkesan. Bermanfaat atau nggak urusan belakangan. Semoga anda menikmati bacanya 😀 .Mengutip penutup Dalang Parto dalam acaranya di Stasiun TV,

Di sini gunung, di sana gunung. Di tengah-tengahnya Pulau Jawa
Yang baca bingung, yang nulis lebih bingung yang penting bisa ketawa

Salam.

Iklan

7 thoughts on “Menjawab Spontan dan Berkesan

  1. Penggunaan kalimat-kalimat yang berpola dengan beraneka kekhasannya pasti harus didukung hobi baca untuk memperkaya pilihan kata ya Mas? saya kok susah rasanya kalo seperti itu. Huehehehe. Apalagi spontan 😛

    Suka

    • Saya akui perlu punya referensi. Bisa buku atau serial televisi yang bagus.
      Yang nggak kalah penting adalah praktik mas. Seperti orang berlatih untuk presentasi di rapat atau ruang publik, menjawab seperti itu perlu dibiasakan hehehe.

      Suka

  2. Oh jadi begini ya cara menjawab yang hebat dan bernas :hihi. Saya setuju bahwa pembicaraan seseorang itu mencerminkan buku-buku apa yang ia baca. Tapi kalau saya lebih cenderung agar semua itu mempengaruhi secara tidak sadar–kalau saya menjawab sesuatu yang penting si penanya menangkap poinnya sama dengan apa yang saya maksudkan, itu sudah cukup :)).

    Disukai oleh 1 orang

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s