Bukan Lebih Pandai, Cuma Tahu Duluan

 

Bayangkan skenario ini: Eka seorang software engineer lulusan S1 dari universitas terkenal. Dia belajar dari mata kuliah, praktikum, oprek secara pribadi, dan sesekali ikut proyek menghasilkan perangkat lunak. Dia menguasai teknik pembuatan perangkat lunak serta berbagai bahasa pemrograman. Bisa dibilang Eka jagoan software engineering. Kemudian dia punya anak buah untuk mengerjakan berbagai proyek. Lewat delegasi tugas tersebut, beban Eka jadi lebih ringan. Dia lebih santai dan bisa mengurus hal lain.

Di sisi lain ada Dwi. Dia adalah orang muda yang direkrut Eka untuk mengerjakan proyek. Dalam tahap ini kemampuan Dwi dalam bidang software engineering lebih rendah daripada Eka. Untuk mengejar ketertinggalannya, Dwi belajar. Dia tidak sekolah setinggi Eka, jadi dia mencoba metode lain. Kursus online, mencontek Stack Overflow, mencoba framework baru, berdiskusi dengan rekan yang lebih ahli. Di saat Eka berhenti belajar karena status dan kenyamanan, Dwi berkembang.

Tibalah saat dimana keahlian Dwi diakui lebih tinggi daripada Eka. Nah, bagaimana Eka seharusnya menanggapi hal ini?

Kalau Eka berpikiran jadul, dia akan menyangkal Dwi dan menggunakan statusnya sebagai pertahanan. Kalimat yang umum diucapkan seperti ini, “Saya di sini lebih lama daripada Dwi atau semua orang di sini. Pengalaman saya lebih banyak. Jelas semua ikut ilmu saya. Lulusan sarjana…dst…dst”.

Kalau Eka berpikiran modern, yang paling pertama disadari Eka adalah kekhilafannya dalam belajar sebab statusnya sudah tinggi. Kemudian Eka mengakui Dwi sebagai orang yang lebih ahli. Eka tidak perlu merasa kecil karena dia bisa mengejar ketertinggalannya.

***

Kenapa saya menulis ini? Sebab menurut saya di zaman ini informasi begitu mudah diperoleh. Saking mudahnya dosen saya Iwan Pranoto pernah berkata kurang lebih , “Lebih sulit untuk tidak mengetahui sesuatu daripada mengetahuinya”. Lalu apa dampaknya? Lebih susah untuk mengaku the smartest guy/girl in the room. Semuanya bisa dipelajari asal ada waktu dan kemauan. Jadi tidak ada namanya orang yang lebih pandai. Adanya orang yang tahu lebih dulu.

Quote-Lebih pandai

Saya suka melakukan sharing dengan orang. Memberi dan menerima ide. Sebelum sharing, saya selalu mencamkan quote di atas. Mengapa? Supaya tidak merasa paling jago. Bahkan ketika yang saya ajak sharing adalah junior di kampus. Saya tahu apa yang mereka belum tahu, sementara mereka punya perspektif yang belum kepikiran bagi saya. Efeknya adalah pertukaran pengetahuan atau pengalaman. Itulah prinsip sharing.

Apapun pekerjaan seseorang: akuntan, arsitek, wiraswasta, sales, musisi, petani, pilot, developer, penulis, jangan pernah merasa lebih superior hanya karena lebih dahulu berkecimpung di suatu bidang. Zaman ini bergerak cepat. Bukan barang langka lagi CEO perusahaan umur 30-an. Dengan dibukanya akses terhadap informasi, kesempatan orang untuk tahu lebih banyak semakin terbuka. Jadilah Dwi, atau Eka yang berpikiran modern.

***

Tulisan ini sifatnya filosofis. Ngomongnya besar. Setuju atau nggak, boleh berpendapat. Ini adalah pendapat dari satu sisi dimana orang muda berkesempatan menjadi game changer. Inisiator perubahan. Di sisi lain saya setuju bahwa orang muda tetap perlu respek/hormat kepada yang lebih senior. Itu akan dibahas pada kesempatan lain.

Lihat tag Kofi alias Kompilasi Filosofi untuk tulisan saya yang berat macam begini.

Iklan

12 thoughts on “Bukan Lebih Pandai, Cuma Tahu Duluan

  1. Setuju sih karena sekarang emang gitu kenyataannya. Dengan kemampuannya, orang seperti Dwi malah bisa cabut dan bikin perusahaan sendiri dengan bekal kemampuan teknisnya selama dia juga punya kemampun manajerial seperti yang dimiliki Eka.

    Suka

  2. alvian berkata:

    Kalo soal SE sangat dinamis mas, bisa jadi yang sangat pro dulu sekarang sudah enggak. Soalnya kan dunia persilatan terus berubah, Android aja udah M, dan WordPress aja udah 4.4 😀

    Suka

  3. Ah iya setuju banget, dan sudah lama punya prinsip yang sama. Beberapa tahun lalu punya teman kerja, yang sudah mulai berkarir sejak masa-masa Orba sedang Berjaya. Ketika kami yang masih muda-muda masuk, si Bapak tersebut merasa insecure, dan melindungi dirinya dengan ‘kesenioran’ meski dia tau kalau secara kompetensi mulai tertandingi oleh yang muda-muda. Sayangnya dia tetap memakai prinsip Eka yang jadul, sementara kami-kami pada akhirnya berpikiran bahwa apa yang dia kuasai sebelumnya hanya karena tau lebih dulu, bukan karena lebih pandai.

    Disukai oleh 1 orang

    • Saya juga biasanya lihat gejala seperti itu di institusi yang besar, dimana lingkungannya cenderung jenuh. Biasanya status yg utama. Beda kalau lingkungannya cenderung kolaboratif, biasanya digagas yang masih muda.

      Harapannya sih, mumpung masih muda dikembangkan mindset ini 🙂

      Disukai oleh 1 orang

  4. jadi ingat istilah, ‘kepintaran seorang guru hanya berjarak satu malam dengan gurunya’. Dulu, krn murid pd malas mempelajari apa yg akan dibahas esok di sekolah, sedang guru mempersiapkan apa yg mau diajarkannya pd malam hari *emak2 malah nambah perumpamaan baru*

    Suka

  5. Muhammad Anugrah berkata:

    blognya seru mas, mantap euy, kalau gak keberatan mampir nyok mas di blog saya hehehe mhdanugrah.wordpress.com 🙂

    Suka

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s