Hidup Adalah Rangkaian Kebingungan

Kebingungan menghinggapi hidup manusia. Selalu berganti tanpa henti. Lepas satu kebingungan, muncul kebingungan lain. Jadinya dalam hidup selalu ada saja yang dibingungkan.

Waktu bayi, manusia bingung cara bertahan hidup. Jadinya cuma bisa menangis, menunggu ayah ibunya memberi perhatian.

Jadi bocah bingungnya waktu bola tersangkut di atap atau mainannya terselip di kolong kasur. Kalau bocah zaman sekarang bisa juga bingung pas baterai smartphone orangtuanya habis.

Mulai masuk sekolah bingungnya karena menghadapi dunia baru dengan ruang kelas, guru, dan teman sebaya.

Makin lama sekolah makin bingung karena pelajaran makin sulit dan tugas makin banyak.

Menjelang akhir sekolah bingung karena harus belajar supaya lulus ujian nasional dan ujian sekolah.

Setelah dinyatakan lulus, kini bingung mau melanjutkan sekolah ke mana. Dari SD sampai SMA kebingungan itu berulang-ulang.

Yang pendidikannya tidak selesai bingung bagaimana harus melanjutkan hidup dan memenuhi kebutuhan.

Yang pendidikannya sampai SMA selesai pun masih bingung menentukan mau kuliah di mana.

Mencoba masuk kuliah pun bingung karena ujian masuk sulit dan biayanya tidak murah.

Yang sudah berhasil diterima di perguruan tinggi bingung karena tugas lebih banyak dan standar hidup menurun.

Yang sudah lama berkuliah bingung karena skripsi tak kunjung selesai.

Yang baru lulus bingung menentukan masa depan. Bingung menentukan karir apa yang diinginkan.

Makin lama kerja muncul kebingungan karena muncul keinginan mencari pasangan hidup.

Setelah menikah muncul kebingungan bagaimana membayar tagihan, cicilan rumah, dan memenuhi tuntutan sosial. Tidak lupa kebingungan menantikan datangnya keturunan.

Setelah anggota keluarga bertambah, muncul kebingungan membagi waktu untuk kerja dan keluarga.

Setelah anak-anak makin besar, muncul kebingungan bagaimana mencukupi kebutuhan yang makin bertambah.

Mulai memasuki usia pensiun, bingung bagaimana jaminan kehidupannya kelak.

Ketika kesehatan menurun karena pengaruh usia, bingung dengan rasa sakit yang diderita.

Ketika sudah menjadi uzur, akhirnya orang sadar: mengapa hidupku aku gunakan buat memikirkan perkara hidup yang tak habis-habis? Terlalu banyak waktu dihabiskan untuk bingung. Tak sempat menikmati hidup sampai akhirnya terlambat. Tak sempat berbuat manfaat dalam hidup sampai akhirnya tak lagi kuat.

Masalah akan mendatangi setiap insan. Tantangan hidup tak ada selesainya. Wajarlah kalau menganggap hidup ini kesulitan. Tapi setelah kesulitan selalu ada kemudahan. Kalau percaya akan hal tersebut, tak perlu memikirkan kebingungan hidup.

Bagi saya, hidup selalu ada tantangannya. Seperti kalau bertinju, bersiaplah untuk dipukul. Setidaknya tidak bakal bingung ketika pukulan itu datang. Bingung hanya menghabiskan energi dan membuat diri kehilangan sisi positif hidup. Kalau bingung, jangan hidup. Kalau hidup, jangan bingung.

NB: Postingan ini didedikasikan untuk diri sendiri dan teman-teman sekampus ITB yang baru diwisuda menjadi sarjana. Semangat semuanya.

Iklan

8 thoughts on “Hidup Adalah Rangkaian Kebingungan

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s