Sebuah Opini: Perlukah Wajib Bela Negara?

Hangatnya berita soal wajib bela negara bagi penduduk Indonesia membuat saya tertarik. Benarkah Indonesia membutuhkan program bela negara? Lewat tulisan ini, saya mengupas aktivitas yang dilakukan dalam bela negara dan relevansinya dengan masalah yang dihadapi bangsa ini.

Pendahuluan

Bela negara berbeda dengan wajib militer meskipun dasarnya sama. Konsep induk keduanya adalah melindungi eksistensi negara. Wajib militer merupakan usaha untuk memperoleh dukungan militer dari rakyat sipil. Apabila negara dalam kondisi darurat (misalnya perang), rakyat sipil yang telah terlatih dapat diterjunkan untuk kepentingan militer. Israel, Korea Selatan, dan Singapura menerapkan kebijakan ini untuk melindungi negara mereka. Sementara bela negara lebih menekankan pada sikap dan kesadaran untuk menjaga eksistensi suatu bangsa.

Ryamirzad, Menteri Pertahanan RI, menyatakan bahwa kesadaran masyarakat terhadap Pancasila sudah menurun. Hal tersebut membuat kesadaran berbangsa menjadi lemah. Indonesia dipandang rentan dari berbagai segi. Untuk itu beliau merumuskan program wajib bela negara sebagai bentuk penguatan bangsa Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, beliau menargetkan Indonesia memiliki 100 juta kader bela negara dalam jangka 10 tahun.

Piramida penduduk Indonesia 2015

Untuk mencapai 100 juta kader bela negara, warga negara di bawah umur 50 tahun diwajibkan ikut. Piramida ini menunjukkan betapa besar elemen tersebut. (Gambar: Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 [Bappenas])

Pro dan Kontra

Kalau dilihat dari niat memperkuat negara Indonesia, alasan program ini nampak logis. Tapi memangnya sedemikian rentan terhadap ancaman sampai memerlukan 100 juta kader bela negara? Bukankah dalam bela negara cuma ada latihan baris-berbaris, pengetahuan pancasila, dan dasar kemiliteran? Padahal ancaman masa kini lebih banyak dari segi ekonomi, budaya, informasi, dan sebagainya. Berarti bela negara kan tidak relevan untuk kehidupan zaman ini.

Paragraf di atas adalah contoh argumentasi pihak yang kontra terhadap bela negara. Saya bilang, nanti dulu. Mari kita menyelami apa yang sesungguhnya bakal dipelajari dalam bela negara.

Menurut teori, tujuan bela negara adalah mewujudkan warga negara Indonesia yang memiliki tekad, sikap, dan tindakan yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut guna meniadakan setiap ancaman baik dari luar maupun dari dalam negeri yang membahayakan Kemerdekaan dan Kedaulatan Negara, kesatuan dan Persatuan Bangsa, keutuhan wilayah dan yurisdiksi nasional serta nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Oke. Itu memang panjang. Juga redundan dan njelimet. Kalau nanti masuk ke dalam materi dan jadi ujian, mungkin saya langsung melambaikan tangan ke kamera. Yang paling sederhana, kita disuruh ikut bela negara supaya mau dan mampu membela Indonesia. Lalu bagaimana langkah membuat 100 juta rakyat mau dan mampu melakukan bela negara? Di situlah letak pertanyaan sebenarnya.

Sekolah saya dulu memiliki kurikulum bela negara yang kemungkinan besar (menurut saya) akan menjadi contoh kurikulum pelatihan bela negara nasional. Dulu kurikulum tersebut meliputi mata pelajaran dan mata kegiatan. Mata pelajarannya meliputi teori tentang ideologi Pancasila, wawasan nusantara, serta pelajaran kepemimpinan. Menurut saya seperti pelajaran Kewarganegaraan. Bisa juga seperti P4, bagi yang pernah mengalami. Mata kegiatannya meliputi baris-berbaris, kegiatan harian dengan pengawasan ketat (bayangkan mandi dalam 2 menit), outbond (bukan outbond hura-hura), kegiatan di masyarakat, serta pemutaran video atau talkshow dengan tokoh.

Setelah menjalani kurikulum itu selama tiga tahun, saya jujur merasa pemahaman saya terhadap cinta tanah air dan nasionalisme berkembang tanpa disadari. Lebih baik dibandingkan teman yang belum pernah menerima pengajaran serupa. Respon pertama saya mendengar isu wajib militer adalah “mengapa tidak?”. Padahal saya juga tidak ngefans banget sama pemahaman Pancasila. Cukup berbuat yang bermanfaat ketimbang merugikan. Lalu coba berkontribusi pada masyarakat. Itulah hebatnya Pancasila. Apapun perbuatan baik yang kita lakukan kayaknya bisa dihubung-hubungkan dengan Pancasila 😛

Lalu, apakah saya contoh sukses dari pendidikan bela negara? Untuk menjawabnya perlu indikator sebagai bahan pembanding. Indikator kesuksesan bela negara adalah sebagai berikut.

  1. Kecintaan kepada tanah air
  2. Kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia
  3. Keyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai ideologi negara
  4. Kerelaan berkorban untuk negara
  5. Memiliki kemampuan awal bela negara

Saya rasa untuk indikator nomor 1 dan 2 saya cukup bagus walaupun interpretasi kedua indikator tersebut bisa ambigu. Indikator nomor 3 menurut saya terlalu mengawang dan bahkan saya tidak mengerti apa makna Pancasila itu sakti. Nilai saya jelek di situ. Untuk indikator nomor 4 saya juga cukup bagus. Untuk indikator nomor 5 ini juga sedikit aneh karena yang dimaksud dengan kemampuan awal bela negara adalah sehat jasmani dan rohani. Ya alhamdulilah sih sehat dua-duanya. Tapi kan tak pakai bela negara pun bisa diwujudkan.

Jadi bisa dibilang indikator kesuksesannya kacau. Mengapa? Karena interpretasi bela negara itu ambigu. Definisi dasar bela negara mengacu pada usaha untuk mempertahankan eksistensi negara. Sampai saat ini terjemahan yang paling gampang adalah lewat pertahanan dan keamanan alias kekuatan militer. Definisi bela negara yang lebih luas belum sempat terjamah. Apabila kita ingin mengusir semua perusahaan tambang milik asing yang ngendon di Indonesia dan menjadikannya milik nasional, apakah itu contoh bela negara? Secara teori harusnya iya. Ternyata belum ada yang melakukannya. Apakah perusahaan Indonesia yang sahamnya dibeli asing itu mencerminkan perbuatan bela negara? Secara teori bukan. Namun nyatanya banyak perusahaan Indonesia yang dibeli asing. Kadang saya sedih kalau saya memikirkan air yang saya minum, berasal dari tanah sendiri, diolah rakyat sendiri, uangnya pindah ke negeri jauh sana.

Chris John: mantan juara dunia yang mengharumkan nama Indonesia (Sumber: bengkulupost.com)

Mobil listrik Selo buatan Ricky Elson. Dia memberikan karya untuk Indonesia. Mobil listrik adalah satu di antara sekian. kalau perbuatan Ricky Elson mencerminkan bela negara, mengapa tak ada yang mendukung? (Sumber: nkri.web.id)

Kontingen Indonesia meraih medali di ajang olimpiade sains tingkat internasional (Sumber: padmanaba.or.id)

Hackathon merdeka, acara kolaborasi pembuatan solusi untuk permasalahan di Indonesia. Ini adalah kontribusi para pemuda di bidang Teknologi Informasi. (Sumber: hackathonmerdeka.id)

Program Kelas Inspirasi dicetuskan untuk memberikan inspirasi kepada anak sekolah supaya mau bercita-cita dan bekerja keras mencapai cita-citanya. Bentuk bela negara yang amat mulia. (Sumber: donnaimelda.com)

Saya mengumpulkan berbagai gambar yang menunjukkan bela dalam berbagai interpretasinya. Semua orang berkesempatan melakukan bela negara sesuai posisi dan kemampuannya. Saya berani bertaruh bahwa tidak satupun dari orang dalam gambar di atas harus menghafalkan isi Pancasila sebelum memulai kegiatannya. Mereka melakukan yang terbaik menurut mereka dan pada akhirnya Indonesia bertambah baik dengan aksi mereka. Pada tataran ini Pancasila merupakan nilai yang abstrak. Tidak relevan. Memberikan pendidikan ala militer seperti masa Orde Baru bisa gagal apabila materi yang diberikan hanya berkutat pada hal yang abstrak.

Gambaran Ideal Bela Negara

Kalau anda jadi pasien di RS, lalu suster cuma mengatakan “Anda harus cepat sembuh. Anda harus cepat sembuh” terus menerus kan bisa bikin gila. Kalau susternya mengatakan, “diminum obatnya, perbaiki posisi tidur, hindari makan gorengan, kondisi anda makin membaik” dan hal lain yang mendukung penyembuhan pasien, niscaya pemulihan anda bakal lebih cepat. Sebagian pemimpin masih percaya apabila masyarakat diberi pendidikan pendalaman Pancasila dan latihan kedisiplinan, mental mereka akan membaik untuk mendukung kepentingan negara. Cara ini bisa benar, tapi menurut saya bakal banyak melesetnya. Yang diperlukan adalah pengejawantahan Pancasila yang konkret untuk berbagai bidang dan dorongan untuk mewujudkannya.

Bela Negara bukan didominasi oleh Departemen Pertahanan. Bela Negara adalah untuk negara, artinya untuk rakyat itu sendiri. Peran negara adalah menentukan isu apa yang harus dijadikan fokus dalam 5 tahun ke depan, kemudian menyusun langkah nasional dan menyebarkannya lewat masyarakat supaya bisa mendukungnya. Isu tersebut bisa meliputi ekonomi, pertahanan dan keamanan, sosial budaya, dan sebagainya. Itulah bela negara yang membangun dan terfokus. Saya sendiri berpendapat inilah isu yang harus dimasukkan ke dalam wajib bela negara mendatang:

  1. Isu MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)
  2. Isu terorisme dan separatisme
  3. Isu ekonomi global
  4. Isu era informasi global

Dengan tim ahli perencana, isu-isu ini kemudian dijadikan materi yang matang untuk diberikan kepada masyarakat Indonesia. Masyarakat dibekali pengetahuan terkait ancaman nasional dan langkah kontribusi yang mungkin. Masyarakat juga dibekali pengembangan karakter untuk mewujudkan rasa displin. Dalam rangka mewujudkan ini, saya setuju dengan pelatihan kedisiplinan ala militer. Latihan fisik yang demikian berat justru membuat tubuh lebih cepat mengingat materi yang diajarkan. Entah mengapa, tapi saya merasakannya sendiri.

Bela negara adalah sesuatu yang baik. Terutama apabila memang diniatkan untuk kebaikan bangsa Indonesia. Saya berbicara sebagai orang yang pernah merasakan bela negara. Saya mengakui bahwa konsep bela negara saat ini masih kuno. Solusinya adalah bela negara yang lebih terarah.

Bacaan Lebih Lanjut

Pengaruh Hasil Belajar Pendidikan Bela Negara Terhadap Sikap Cinta Tanah Air Pada Siswa Kelas XI SMA Taruna Nusantara Magelang Tahun Pelajaran 2010/2011 – Wiji Widyastuti (link pdf)

Iklan

5 thoughts on “Sebuah Opini: Perlukah Wajib Bela Negara?

  1. Dulu pas jaman Suharto ada yg namanya penataran P4 dan itu wajib bg mahasiswa dan pelajar ajaran baru. Inti dan tujuannya nyaris sama dgn model bela negara Jokowi hanya gak diatur militer. Terusterang ide Bela Negara ini semakin mengarah ke pemahaman jaman OrBa. Dan belakangan ini sentimen xenophobia jg meningkat.

    Suka

    • Kalau bela negara ini materinya cuma ikut-ikut penataran P4, saya setuju kalau ini cuma mengulang kehidupan zaman Orde Baru. Makanya menurut saya nggak berguna kalau cuma menuruti metode lama, padahal zaman berubah.

      Terus kalau xenophobia saya belum punya pandangan umum. Di lingkungan saya rata-rata open minded. Kalau sentimennya menurut saya karena orang Indonesia belum siap bersaing jadi cara tergampang ya bersikap anti.

      Suka

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s