Kisah Penjual Bendera Agustusan

Matahari sudah mau pamit di ufuk barat Bumi Parahyangan. Cahaya oranye dan siluet permukiman nampak dari tempat saya duduk di gerbong ekonomi. Di latar belakang nampak jajaran bukit yang menjulang. Sesaat kemudian kereta api berhenti di stasiun. Masuklah satu pria paruh baya dan anaknya yang masih balita.

Pria paruh baya itu tergopoh-gopoh membawa dua tas carrier dan satu tas biasa. Ketiganya padat berisi. Saking penuhnya bagasi di gerbong ekonomi, tas itu dijejalkan di bawah tempat duduk. Lalu mereka duduk. Kami saling menyapa. Berbasa-basi sebentar soal tujuan masing-masing. Tahulah saya bapak-anak ini hendak ke Kutoarjo.

Suasana hening sejenak. Si anak yang lucu (saya bertaruh ibunya cantik sekali) mulai ngantuk. Sang bapak menjadikan dirinya sandaran tidur si anak. Sambil meninabobokan, kita ngobrol lagi.
S (Saya): Mau perlu apa di Kutoarjo, pak?
B (si Bapak): Ini mau ketemu neneknya, sambil saya jualan bendera.

Percakapan berlanjut sampai saling cerita lebih dalam. Terus saya diam lagi. Tanpa sadar, kata “jualan bendera” memantik pikiran. Oh iya, ini awal Agustus. Oh iya, para penjual bendera ini biasanya dari Jawa Barat. Oh iya, sang bapak naik dari daerah Garut pinggiran. Baru ngeh kalau si bapak ini berniat jualan bendera seperti yang biasa kita temui menjelang 17 Agustus. Saya jadi ingin tahu lebih dalam.

S: “Oh, jadi di dalam tas bapak ini semuanya bendera yg mau dijual?”
B: “Iya, ini saya bawa buat dagangan dek.”
S: “Sampai kapan pak jualan benderanya?”
B: “Ya sampai tanggal 17. Kan lewat dari itu udah nggak laku lagi” (saya meringis, dalam hati mikir iya juga ya)
S: “Pantas kalau saya tanya penjual bendera itu asalnya dari Bandung atau Tasik. Saya pikir itu rombongan.”
B: “Ada yang rombongan, ada juga yang sendiri. Kalau saya mah sendiri. Soalnya modalnya kecil. Kalau adek mau jual dan misalnya bermodal besar, itu bisa ambil anak buah. Teman saya ada yang anak buahnya sampai 10, ke Jawa semua. Nanti bagi-bagi keuntungan.”
S: “Itu merantaunya cuma ke Jawa ya pak?”
B: “Macam-macam. Paling banyak ke Jawa. Ada juga ke Sumatra sama Kalimantan. Malah ada yang berani sampai ke Papua. Ya ampun dek, itu yang ke Papua perginya lebih lama lagi. Naik kapal laut hampir seminggu. Capek di jalan. Tapi di sana untungnya besar. Kalau di Jawa harga bendera 15ribu, di sana bisa sampai 100ribu. Orang-orang masih beli juga. Kalau nggak pasang, nanti dikira OPM. Nanti pulangnya bisa gaya, naik pesawat.” (kita ketawa bareng)
S: “Gitu ya. Jadi hasil semuanya udah cukup dipotong transportasi dan lain-lain.”
B: “Alhamdulilah semua cukup. Rata-rata aman bisa dapat bersih 2,5 juta. Kalau mau lebih ya yang lebih jauh kaya Papua tadi.”

Demi penghasilan tambahan, banyak orang dari Jawa Barat (terutama daerah kabupaten) merantau untuk berjualan bendera ke pelosok negeri. Berminggu-minggu mereka meninggalkan keluarga dan kehidupan normal. Tentu bukan perjuangan mudah. Saya sangat respek dengan langkah perjuangan mereka.

Iklan

13 thoughts on “Kisah Penjual Bendera Agustusan

  1. Berat bgt perjuangan mereka ya, Mas. Apalagi yg ke Papua itu, walaupun harga benderanya bisa lbh mahal, tapi kan… Ah, salut deh buat mereka.

    Suka

  2. Gara berkata:

    Namanya usaha cari sesuap nasi ya Mas, selama itu halal maka pasti akan dilakukan, sejauh apa pun. Apalagi dengan bencana kekeringan yang kini sedang melanda, maka pekerjaan tambahan di luar sektor pertanian akan sangat diminati :)).
    Ngomong-ngomong, saya agak susah memulai percakapan dengan orang di atas kereta :haha. Mungkin karena saya terlalu curigaan *lah, malah curhat :haha*.

    Disukai oleh 1 orang

    • Ah tergantung orang di sebelah juga Gar. Uniknya orang-orang dari gerbong ekonomi lebih gampang diajak ngobrol daripada gerbong bisnis, apalagi eksekutif. Itu berdasarkan pengalaman pribadiku naik kereta puluhan kali.

      Disukai oleh 1 orang

      • Gara berkata:

        Oh, itu tentu saja… saya dulu naik kereta ekonomi di saat bulan puasa, saat berbuka mendadak satu gerbong sudah jadi keluarga besar :hehe.

        Disukai oleh 1 orang

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s