Sampingan

Saya Kembali ke Alam Blog

Rasanya lama sekali saya meninggalkan blogosphere. Meninggalkan cerita hebat dari sesama blogger. Meninggalkan hasrat menulis ide yang melintas di kepala. Meninggalkan berkomentar dan menjawab komentar. Sedikit menyebalkan meninggalkan itu. Yah, saya harus meninggalkannya sejenak.

Memangnya saya ngapain?

Well, saya perlu memindahkan fokus pikiran ke alam lain. Perlu beberapa minggu intensif untuk menyelesaikan semuanya. But in the end, hard work pays.

Itu masih belum menjawan sebenarnya saya ngapain.

Biarkan foto yang diambil tadi siang bersaksi deh.

sidang TA S1 ITB

Ekspresi pasca sidang Tugas Akhir

Teman-teman yang mendukung

Teman-teman yang mendukung

The Sarjanas: Empat orang bersidang Tugas Akhir di hari yang sama.

The Sarjanas: Empat orang bersidang Tugas Akhir di hari yang sama.

Saya berhasil sidang TA hari ini. Hasilnya lulus dengan revisi dokumen TA. Alhamdulilah, itu sudah umum di kalangan anak-anak STI. Tantangan terbesar yang saya hadapi sebagai mahasiswa sudah terpenuhi. Rasanya lega dan senang pas pertama kali dinyatakan lulus (bersyarat) oleh dosen penguji. Teman-teman pun langsung memberi selamat.

Sekarang rasa girang masih tersisa, namun ada satu perasaan yang mendominasi. Seperti ada kekosongan setelah berhasil menapaki puncak akademik. Dalam kekosongan itu, suara hati berbisik: sekarang mau apa?

Pertanyaan itu mungkin bakal menyertai selama beberapa hari ke depan. Ya sudahlah, yang penting dengan berlalunya masa pengerjaan dan sidang TA itu saya bisa beralih lagi ke alam blog 🙂

Kisah Penjual Bendera Agustusan

Matahari sudah mau pamit di ufuk barat Bumi Parahyangan. Cahaya oranye dan siluet permukiman nampak dari tempat saya duduk di gerbong ekonomi. Di latar belakang nampak jajaran bukit yang menjulang. Sesaat kemudian kereta api berhenti di stasiun. Masuklah satu pria paruh baya dan anaknya yang masih balita.

Pria paruh baya itu tergopoh-gopoh membawa dua tas carrier dan satu tas biasa. Ketiganya padat berisi. Saking penuhnya bagasi di gerbong ekonomi, tas itu dijejalkan di bawah tempat duduk. Lalu mereka duduk. Kami saling menyapa. Berbasa-basi sebentar soal tujuan masing-masing. Tahulah saya bapak-anak ini hendak ke Kutoarjo.

Suasana hening sejenak. Si anak yang lucu (saya bertaruh ibunya cantik sekali) mulai ngantuk. Sang bapak menjadikan dirinya sandaran tidur si anak. Sambil meninabobokan, kita ngobrol lagi.
S (Saya): Mau perlu apa di Kutoarjo, pak?
B (si Bapak): Ini mau ketemu neneknya, sambil saya jualan bendera.

Percakapan berlanjut sampai saling cerita lebih dalam. Terus saya diam lagi. Tanpa sadar, kata “jualan bendera” memantik pikiran. Oh iya, ini awal Agustus. Oh iya, para penjual bendera ini biasanya dari Jawa Barat. Oh iya, sang bapak naik dari daerah Garut pinggiran. Baru ngeh kalau si bapak ini berniat jualan bendera seperti yang biasa kita temui menjelang 17 Agustus. Saya jadi ingin tahu lebih dalam.

S: “Oh, jadi di dalam tas bapak ini semuanya bendera yg mau dijual?”
B: “Iya, ini saya bawa buat dagangan dek.”
S: “Sampai kapan pak jualan benderanya?”
B: “Ya sampai tanggal 17. Kan lewat dari itu udah nggak laku lagi” (saya meringis, dalam hati mikir iya juga ya)
S: “Pantas kalau saya tanya penjual bendera itu asalnya dari Bandung atau Tasik. Saya pikir itu rombongan.”
B: “Ada yang rombongan, ada juga yang sendiri. Kalau saya mah sendiri. Soalnya modalnya kecil. Kalau adek mau jual dan misalnya bermodal besar, itu bisa ambil anak buah. Teman saya ada yang anak buahnya sampai 10, ke Jawa semua. Nanti bagi-bagi keuntungan.”
S: “Itu merantaunya cuma ke Jawa ya pak?”
B: “Macam-macam. Paling banyak ke Jawa. Ada juga ke Sumatra sama Kalimantan. Malah ada yang berani sampai ke Papua. Ya ampun dek, itu yang ke Papua perginya lebih lama lagi. Naik kapal laut hampir seminggu. Capek di jalan. Tapi di sana untungnya besar. Kalau di Jawa harga bendera 15ribu, di sana bisa sampai 100ribu. Orang-orang masih beli juga. Kalau nggak pasang, nanti dikira OPM. Nanti pulangnya bisa gaya, naik pesawat.” (kita ketawa bareng)
S: “Gitu ya. Jadi hasil semuanya udah cukup dipotong transportasi dan lain-lain.”
B: “Alhamdulilah semua cukup. Rata-rata aman bisa dapat bersih 2,5 juta. Kalau mau lebih ya yang lebih jauh kaya Papua tadi.”

Demi penghasilan tambahan, banyak orang dari Jawa Barat (terutama daerah kabupaten) merantau untuk berjualan bendera ke pelosok negeri. Berminggu-minggu mereka meninggalkan keluarga dan kehidupan normal. Tentu bukan perjuangan mudah. Saya sangat respek dengan langkah perjuangan mereka.

Balada bahasa indonesia Yogi Saputro

Uji Kosakata: Lawan Kata

Apa lawan kata dari nyata? Jangan dijawab ‘tidak nyata’ ya. Nanti kalah dari anak SD hehehe. Tergantung konteksnya, lawan dari nyata yaitu khayal atau maya. Mungkin bisa juga gaib.

Oke. Terus?

Salah satu fitur dalam bahasa adalah ekspresi yang menunjukkan dua hal yang berlawanan. Dalam Bahasa Indonesia pun ada. Hitam-putih, positif-negatif, bersih-kotor, ujung-pangkal, primitif-modern, dan sebagainya. Ekspresi tersebut terutama dipakai untuk membandingkan dua hal secara ekstrem. Kita menghindari kata ‘tidak’ dan memberi kata khusus sebagai lawan.

Yang seperti ini kan sudah dipelajari di SD. Tapi ini adalah Balada Bahasa Indonesia di blog saya. Target saya adalah membuat kita mengagumi kekayaan bahasa sendiri. Minimal ada peningkatan pengetahuan setelah membaca tulisan ini. Jadi saya membuat tes kecil-kecilan. Namanya Uji Kosakata. Lewat Uji Kosakata ini, saya memperkenalkan beberapa kata yang sebenarnya umum kita dengar namun cukup sulit untuk dicari lawannya. Sedikit lebih susah daripada soal anak SD…mungkin.

Perlu saya tambahkan bahwa jawaban terbaik adalah jawaban dengan makna paling spesifik. Contohnya, lawan sederhana adalah kompleks/rumit bukan sulit. Mengapa? Sebab lawan sulit adalah mudah, sementara makna sederhana dan mudah tidak sama.

Di sisi lain, lawan kata yang tepat pun tergantung dari konteks. Contohnya, apa lawan kata dari sempit? Dalam Bahasa Indonesia, ada dua konteks. Pertama berkaitan dengan celah. Dalam kasus ini, lawan sempit adalah lebar. Kedua berkaitan dengan luas. Kali ini, lawan sempit adalah luas.

Soal uji kosakata Bahasa Indonesia untuk umum

Uji Kosakata: Lawan kata.

Silakan menjawab di bagian komentar atau membaginya lewat media sosial biar teman-teman pusing. Jangan kalah sama anak SD. Selamat berjuang 😀

Mau tahu dan belajar lebih banyak tentang Bahasa Indonesia? Klik Balada Bahasa Indonesia.
Untuk memperoleh lebih banyak Uji Kosakata, klik tag Uji Kosakata.