Membangun Keberdayaan Sosial (Part 2): Menanggulangi Kemiskinan

Ini adalah serial postingan hasil kunjungan saya dan teman-teman Himpunan Mahasiswa Informatika ITB ke IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan). Di sana kami diberikan arahan oleh Bapak Iskandar Kutoadji, pencetus IBEKA Foundation, tentang idealisme pemberdayaan masyarakat.

IBEKA foundation Sri Mumpuni

Bapak Iskandar Kutoadji memberikan pengarahan

Part 1: Komposisi Sosial Indonesia

Kemiskinan

Menurut Pak Iskandar, kemiskinan merupakan akibat dari pembangunan yang tidak tepat. Kok bisa tidak tepat? Karena ada elemen masyarakat yang menginginkan keuntungan pribadi tanpa melihat orang lain (lihat part 1). Bagaimana makna tidak tepat itu? Pembangunan yang tidak tepat mengakibatkan terputusnya hubungan antara masyarakat lokal dan sumber daya lokal. Suatu masyarakat itu biasanya memiliki sumber daya di sekitar lingkungannya. Sumber daya tersebut menjadi tumpuan kehidupan. Makan, minum, mata pencaharian, hiburan, tergantung dari sumber daya lokal. Kalau sumber daya tersebut direnggut dari masyarakat lokal, mereka bisa apa?

Contoh penolakan pencaplokan sumber daya alam

Aksi menolak pabrik semen merupakan upaya untuk mempertahankan sumber daya lokal

Memang ironis, namun itulah yang seringkali terjadi dalam masyarakat. Ada banyak perusahaan besar yang berniat memperoleh sumber daya tanpa memperhatikan aspek masyarakatnya. Dampaknya adalah penggunaan sumber daya alam untuk kepentingan pihak tertentu. Produktivitas bertambah, sumber daya alam dieksploitasi, namun masyarakat tidak bisa menikmatinya. Padahal sumber daya alam itu asalnya milik mereka. Tidak ada yang bisa dilakukan masyarakat. Ujung-ujungnya adalah memprotes pihak pengguna sumber daya alam atau menjadi pekerja.

Konsep Pemanfaatan Sumber Daya

Sekarang, mari mengenal konsep pemanfaatan sumber daya secara lebih dalam. Di zaman modern ini, kekuatan dan kekuasaan terletak pada pemodal. Elemen terpenting yang dimiliki ketiganya adalah manajemen, teknologi, dan finansial.

Diagram modal masyarakat

Kepemilikan pemodal dan masyarakat

Para pemodal mencari hasil yang lebih dan keuntungan lebih. Mereka membutuhkan sumber daya. Nanti larinya ke sumber daya milik masyarakat. Itu merupakan sebuah keniscayaan.

Pemodal dan sumber daya

Sumber daya selalu dicari pemodal

Seperti halnya pemodal memiliki tiga aspek yang melekat sebagai milik mereka, sumber daya merupakan bagian yang melekat milik masyarakat lokal. Mengapa? Sederhana saja. Mereka tinggal di situ, mencari penghidupan di situ, bertahan di situ dari generasi ke genarasi. Mereka yang memanfaatkan sekaligus merawat lingkungan sendiri. Apapun yang terjadi pada sumber daya lokal, masyarakat terkena dampaknya.

Sekarang sudah jelas bahwa usaha pemodal untuk memperoleh sumber daya akan berpengaruh kepada masyarakat lokal. Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana pemodal menangani keterlibatan masyarakat terkait sumber daya tersebut? Menurut Pak Iskandar ada dua cara.

konsep ideal masyarakat, sumber daya, dan pemodal

Pemanfaatan secara ideal melibatkan sumber daya sekaligus dengan masyarakatnya

1. Pemanfaatan sumber daya lokal dengan melibatkan masyarakat sebagai stakeholder. Ini adalah konsep ideal dari membangun keberdayaan sosial. Apabila masyarakat ikut dilibatkan, diberi dukungan dari tiga elemen milik pemodal, otomatis kemampuan masyarakat akan meningkat. Kesenjangan antara pemodal (sebagai orang kaya) dan masyarakat (sebagai orang biasa) dapat diminimalkan. Hal ini akan memberikan keuntungan untuk jangka panjang. Bahkan apabila pemanfaatan sumber daya dilakukan dengan cara ini, CSR pun tidak diperlukan.

Penyebab konflik masyarakat dan perusahaan

Pemanfaatan secara tidak ideal namun praktikal adalah memisahkan masyarakat dari sumber daya lokal

2. Pemanfaatan sumber daya dengan eksploitasi tanpa melibatkan peran masyarakat. Pendekatan ini menimbulkan kerugian masyarakat. Sayangnya pendekatan ini lebih sering dilakukan daripada yang pertama. Alasannya adalah cara ini lebih menguntungkan. Memberdayakan masyarakat memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Alasan efisiensi biaya memberikan justifikasi. Caranya beragam, mulai dari paksaan hingga menyuap pemerintah. Ini cukup frontal, tapi sebenarnya rahasia umum. Cara inilah yang memperbesar jarak antara pemodal dan masyarakat. Tanpa sumber daya, masyarakat menjadi miskin.

Cara Menanggulangi Kemiskinan

Kini kita telah sadar soal konsep mana yang baik untuk mewujudkan keberdayaan sosial. Acuan yang baik telah disebutkan sebelumnya juga. Pak Iskandar melanjutkan bahwa ada 2 hal dasar yang perlu dilakukan untuk membangun masyarakat.

1. Menghubungkan sumber daya lokal dengan komunitas lokal. Hal tersebut banyak tahapnya. Mulai dari mengidentifikasi sumber daya lokal, melihat kemampuan komunitas lokal, meminta persetujuan bersama untuk melakukan pengembangan sumber daya, hingga merancang program untuk meningkatkan kemampuan komunitas lokal.

Banyak jalur untuk mewujudkan hal ini. IBEKA menggunakan pendekatan teknologi dengan membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Dalam pendekatan teknologi, masyarakat harus didorong untuk melek teknologi beberapa tingkat. Dengan kesadaran atas pemanfaatan pembangkit listrik, kemandirian masyarakat di bidang energi pun terwujud. Hal tersebut mendorong pembiayaan dan manajemen yang lebih baik. Pada akhirnya pembangkit listrik tersebut dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.

2. Mendorong masyarakat untuk melakukan pengembangan diri. Sekeren apapun rencana untuk membangun masyarakat, keberdayaan sosial takkan terwujud apabila masyarakatnya tidak mau berkembang. Menurut saya, masyarakat perlu disadarkan atas pengaruh globalisasi. Semua orang, bahkan dari negeri yang jauh, bersaing untuk bertahan hidup. Apabila tidak berkembang, masyarakat tidak akan bertahan. Dengan adanya semangat mengembangkan diri, masyarakat akan lebih berupaya untuk membangun diri. Harapannya, keberdayaan masyarakat bisa lebih cepat terwujud.

(Bersambung)

Baca series Membangun Keberdayaan Sosial di post berikut.

Iklan

6 thoughts on “Membangun Keberdayaan Sosial (Part 2): Menanggulangi Kemiskinan

  1. Gara berkata:

    Intinya masyarakat sekitar harus dilibatkan ya Bro, supaya sama-sama mendapat manfaat. Balik lagi ke kesadaran dari pemodalnya sih. Kalau tidak ada kesadaran, jangan salahkan penduduk yang menentang proyek yang mereka lakukan :hehe.

    Disukai oleh 1 orang

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s