I LOVE Deadline. Do You?

Sudah beberapa hari belakangan saya tidak mempedulikan dunia sekitar. Bukan karena sedang apatis atau galau, melainkan karena sibuk dengan suatu kerjaan. Kompetisi lebih tepatnya. Kompetisi dalam satu kelompok. Yang namanya kompetisi kan pasti ada deadline. Sebagai mahasiswa pula sudah terbiasa dengan deadline. Tapi yang satu ini ceritanya spesial.

Tenggat waktu deadline

Pada pukul segini, saya sedang terjebak mendengar penjelasan pra-UAS.

Deadline pengumpulan berkas dan dokumen lomba adalah hari ini, pukul 12:00 tadi. Karena kesibukan masing-masing anggota, pengerjaan dokumen lomba baru dimulai hari Sabtu. Kita bekerja dengan rajin. Sayangnya entah kenapa yang kita kerjakan panjang sekali. Belum selesai ketika hari sudah berganti Selasa.

Saya tipe orang yang menjadi intense ketika deadline mendekat. Bagi saya, deadline itu sesuai namanya. Past the line and you are dead. Saya bangun pukul empat pagi, menyelesaikan bagian-bagian yang belum selesai. Sejak pagi itu, saya merasa adrenalin berpacu. Waktu terasa berjalan lebih lambat. Saya menulis, menulis, dan menulis. Rasanya seperti bisa terselesaikan. Tapi memang ada hal yang harus dibereskan oleh kelompok. Jadi mau tidak mau harus kumpul. Kita bekerja keras sampai pukul 11.

Ada satu lagi hambatan lain. Pukul 11 siang ada UAS. Sebenarnya sih UAS model take home, tapi dosennya terkenal tak bisa ditebak. Pukul 11 itu statusnya dokumen sudah selesai tapi belum dicetak (pengumpulannya softcopy dan hardcopy). “Tunaikan dulu kewajiban, nanti setelah ambil soal bisa langsung nge-print“, demikian pikir saya. SALAH BESAR! Dosennya bercerita dulu panjang lebar soal sesuatu yang nggak saya pahami. Dan waktu itu saya sudah nggak mau tahu lagi. Di dalam kelas saya cuma tertarik pada jarum jam yang terus berputar.

Jarum jam menunjukkan pukul 11:40. Saya belum nge-print, ya ampun. Di saat itulah muncul malaikat dalam wujud teman yang mengacungkan tangan. “Bu, boleh saya tanda tangan duluan? Saya ada ujian jam 12”. Sang dosen mempersilakan dan bertanya, “Ada lagi?”. Spontan saya langsung angkat tangan dan ikut tanda tangan duluan. Saya keluar kelas, dan menutup pintu dengan tenang. Setelah itu saya lari.

Kira-kira 500 meter saya lari mencari tempat print dalam kampus yang sedang lowong. Ngos-ngosan sekali, siang bolong lari-lari sambil bawa tas berisi laptop. Alhamdulilah bertemu satu tempat print strategis. Tanpa basa basi langsung saya cetak. Alasan saya takut itu sebenarnya karena dokumen saya 60 halaman tebalnya. Berwarna pula. Tidak bisa dicetak dan dijilid dalam waktu singkat. Karena desperate, akhirnya diputuskan cetak hitam-putih kecuali cover. Selesai mencetak, saya lari lagi ke tempat pengumpulan berkas lomba.

Sampai di tempat pengumpulan berkas, saya bertemu dengan panitia pada akhirnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lebih, untungnya mereka masih berbaik hati menerima berkas saya. Terus ada satu teman sefakultas juga nampak ngos-ngosan menuju meja panitia. Dia lebih kocak lagi: masih pakai helm, celana pendek, dan bersandal. Terus si panitia, yang notabene teman sefakultas juga, menanggapi dengan tawa, “Santai aja. Kita masih di sini sampai jam 1 kok.”

Mendengar hal itu, saya terbelalak.

Mau dongkol, tapi masih terlalu capek. Saya tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan. Tak lama kemudian teman sekelompok pun menyusul. Mereka masih berbaik hati menunggu dosen bicara di depan kelas tadi, mungkin. Yang jelas kita saling minta maaf dan berterimakasih. Tak lupa berharap bisa lolos ke babak selanjutnya.

Di saat inilah rasa lega muncul menggantikan rasa tegang yang menekan otak dan jantung. Rasanya damai sekali. Seperti berhasil mendaki gunung. Menaklukkan tantangan untuk diri sendiri. Itu pula sebabnya saya suka deadline. Anda bagaimana?

Iklan

18 thoughts on “I LOVE Deadline. Do You?

    • Kalo di kerjaan tim, perlu rasa percaya sama jaga ekspektasi mbak. Kalo saya sih nggak pernah merasa kerja paling banyak, terus mengatakan terus terang apa yg saya harapkan. Kalau nggak ada dua hal itu bawaannya stres sama tim sendiri.

      Suka

  1. Gara berkata:

    Good luck buat lombanya, semoga lolos ke babak-babak selanjutnya dan bisa jadi juara :amin. Kalau saya… gabungan antara antisipasi, prokrastinasi, dan the power of kepepet Mas :haha.

    Suka

  2. Deadline memang adalah the best motivator 🙂 . Masalahnya ya adalah deg-degan dan paniknya itu kalau lewat deadline, haha 😛 .

    Suka

  3. Kalau saya sih gak bisa bilang suka atau gak, jujur saya gak suka deadline. Dengarnya aja udah nyeremin haha. Tapi, yang namanya power of kepepet itu benar-benar ada.

    Justru pas menjelang akhir, biasanya energinya lancar. Sambil panik juga sih ngerjainnya haha..

    Suka

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s