Seminar CSR dari MTI ITB

Bagi saya, kegiatan yang bersifat memperkuat masyarakat itu keren. Apalagi bila dilakukan oleh pihak yang memiliki modal dan kekuasaan. Mengapa? Karena dengan adanya dua faktor itu, menfaatnya akan jauh lebih besar daripada sekedar kegiatan pemberdayaan yang digagas secara sporadis. CSR (Corporate Social Responsibility) adalah manifestasi nyata dari usaha perusahaan (salah satu contoh pihak dengan kuasa dan modal) untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Itulah yang membuat saya mengagumi perusahaan dengan CSR terarah dan konsisten.

Seminar tentang CSR ini adalah yang pertama kali saya dengar di ITB, bahkan termasuk early adopter di Indonesia. Belum banyak stakeholder yang memahami peran CSR. Mungkin juga tidak tahu kalau CSR itu bukan hanya pemberdayaan masyarakat seperti pandangan umum. Lantas seperti apa CSR itu sebenarnya? Keep reading 🙂

Seminar CSR ini dilaksanakan di Ruang Seminar Gedung TI, Institut Teknologi Bandung, tanggal 14 Februari 2015. Narasumbernya ada dua: PT. Paragon Technology & Innovation dan KIIC (Karawang International Industrial City).

Sesi 1: PT. Paragon Innovation & Technology

Cerita diawali dari perbandingan antara Bill Gates dan Steve Jobs. Menurut Anda, siapa yang lebih dermawan, atau istilah asingnya philanthropist? Kalau sering dengar kisah persaingan keduanya, seharusnya tahu bahwa jawabannya adalah Bill Gates. Dia dan istrinya Melinda mendirikan yayasan bernama Gates Foundation, ditujukan untuk membiayai riset atas masalah kemiskinan, kesehatan, dan hal kompleks lain di seluruh dunia.

Berangkat dari hal tersebut, Paragon memulai untuk berorientasi kepada peran terhadap masyarakat. Contoh program CSR yang telah dilakukan Paragon adalah:

  1. Bidang pendidikan – beasiswa untuk pegawai, beasiswa untuk keluarga pegawai, beasiswa untuk mahasiswa berprestasi
  2. Bidang kesehatan – pembiayaan untuk yayasan kanker, pembiayaan riset, kegiatan kesehatan masyarakat
  3. Spesial bulan Ramadhan – Ramadhan Jazz Festival, buka dan sahur gratis
  4. Bantuan bencana alam – Bencana Banjarnegara, banjir Aceh, bencana Gunung Sinabung
  5. Bantuan Kurban – penyaluran daging ke daerah terpencil
  6. Bidang Parenting – seminar pengasuhan anak
  7. Kolaborasi dengan lembaga lain – Dompet Dhuafa, Palang Merah Indonesia

Hal penting yang perlu dipahami adalah memulai CSR dari internal perusahaan. Alasannya, jangan sampai perusahaan itu nampak melakukan usaha yang dermawan namun pegawainya sendiri berkata, “Wah itu cuma di depan doang,” atau “Mahasiswa di luar saja diperhatikan, tapi karyawannya tidak.” Untuk itu, Paragon memulai dengan memberikan berbagai fasilitas untuk karyawan maupun keluarganya. Setelah seluruh elemen perusahaan memiliki visi yang sama untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, barulah CSR dapat terlaksana dengan baik.

Ketika berhadapan dengan pemilik atau pemegang saham, biasanya muncul pertanyaan berikut, “Bagaimana ROI (Return on Investment) dari program CSR ini?” Hal tersebut pada umumnya memang sulit untuk dijelaskan, sebab CSR tidak memberikan manfaat langsung bagi perusahaan. Berikan penjelasan kepada stakeholder terkait bahwa CSR memiliki efek baik bagi perusahaan dalam jangka panjang. Efek tersebut dapat berupa citra di masyarakat, sarana promosi brand, dan perluasan kesempatan yang menguntungkan bagi perusahaan.

Agar CSR dapat memberikan dampak maksimum, buatlah event yang bersifat winwin bagi pihak yang terlibat. Salah satu program CSR sukses dari Paragon adalah Ramadhan Jazz Festival. Dalam program tersebut, Paragon akan dapat menggalang dana untuk didermakan selama Ramadhan, sementara musisi jazz mendapat wadah untuk tampil dengan jumlah penonton yang tidak sedikit.

Penghargaan Charta Peduli 2014

Wardah Cosmetics (Salah satu merek dari Paragon) memperoleh penghargaan Charta Peduli 2014

Banyak perusahaan yang mengadakan program sosial, namun kurang tepat sasaran. Contohnya, ada satu panti yang sering mendapat bantuan sosial karena gedungnya bersih, anak-anaknya banyak tersenyum, kesehatan penghuni terjaga, dan seterusnya. Sementara terdapat panti lain yang tidak jauh, namun tidak terlalu bersih dan nyaman. Justru yang terakhir itulah yang seharusnya mendapat perhatian lebih. Paragon menyadari hal tersebut dan mencoba menjangkau wilayah lebih terpencil dimana bantuan lebih dibutuhkan.

Ungkapan “Ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tak mengetahui” mungkin tidak berlaku lagi dalam konteks CSR. Kita ingin menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Namun kita juga tetap memegang prinsip dasar: tidak hitung-hitungan, tidak ribet, dan tulus. Jangan sampai CSR ini jadi ajang persaingan antara perusahaan untuk menunjukkan siapa yang paling dermawan. Nantinya masyarakat justru menjadi antipati.

Apakah kita selalu memberikan program CSR kepada masyarakat berdasarkan rasa kedermawanan saja? Tentunya tidak. Ada perhitungan kuantitatif atas biaya yang diperlukan. Nasihat ini berguna terutama apabila ada mahasiswa akan mengajukan proposal kegiatan sosial. Misalkan Anda mau membuat rumah baca. Untuk bangunannya saja memerlukan biaya sekian. Dari biaya mendirikan bangunan itu, lebih dari setengah bagian biasanya untuk biaya tukang. Mengapa tidak membangun sendiri? Biayanya jadi lebih murah. Namun tidak berhenti sampai di situ. Berikan tawaran untuk mengunggah foto pembuatan di Twitter atau Instagram. Setiap kali mengunggah akan dilihat oleh banyak pengguna online dan dihitung sebagai promosi. Artinya setiap kali mengunggah akan dibayar. Demikian seterusnya. Ada perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan selama prosesnya.

Terakhir, coba aplikasikan enam poin berikut agar mahasiswa atau generasi muda dapat memulai hal yang berdampak bagi lingkungan:

  1. Mulai dari sekitarmu, mulai dari yang paling sederhana
  2. Berikan pendampingan dari awal hingga selesai
  3. Berikan pengajaran terkait bidang fokus agar bisa mandiri setelah ditinggalkan
  4. Sumbang desain dan pemikiran, dua hal itu tidak mudah hilang
  5. Unggah pemikiran lewat media sosial: Youtube, Twitter, Facebook, Blog, Instagram, dan sebagainya.
  6. Mulai dari bidang keahlian kamu

Sesi 2: KIIC (Karawang International Industrial City)

Sebagai awal, diperkenalkan KIIC sebagai sebuah area industri di Karawang dengan luas sekitar 1200 hektar dan berisi lebih dari 130 pabrik skala nasional maupun internasional. Total pegawai mencapai 60.000 orang. Kawasan ini telah memperoleh sertifikasi nasional untuk manufaktur dan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Dapat diamati bahwa KIIC merupakan objek yang menarik untuk studi, termasuk dalam CSR.

Tidak terhitung banyaknya ragam kegiatan CSR yang telah dilakukan di KIIC. Budidaya ikan air tawar, jamur, sayuran, itik, buah, bibit pohon kayu, termasuk pelatihan dan pendanaan untuk petani/peternak, semua sudah dilakukan. Juga usaha untuk mendukung terjaganya kualitas tanah seperti pembuatan biopori dan pupuk kompos. Kegiatan kesehatan, rekreasi, dan pendidikan pun sudah dilaksanakan di KIIC. Spektrum kegiatan sangat luas, namun ada satu fokus yang menjadikan CSR di KIIC istimewa. Namanya adalah Desa Telaga: Agro-enviro Educational Park.

Sebelum melangkah lebih jauh, diceritakan oleh narasumber bahwa CSR itu tidak sama dengan community development. Banyak pihak yang tidak menyadari konsep ini. Bahkan direksi pun belum tentu memahaminya. CSR adalah program yang ditujukan untuk memberikan balas budi kepada stakeholder perusahaan. Poin selanjutnya seperti pada sesi sebelumnya, CSR itu harus ditujukan kepada karyawan terlebih dahulu baru kepada masyarakat luas.

Diterangkan bahwa kebutuhan dasar masyarakat umum ada 3:

  1. Pendidikan
  2. Kesehatan
  3. Kesempatan kerja

CSR yang dilaksanakan KIIC didukung oleh berbagai stakeholder, termasuk pemerintah daerah

KIIC lewat program CSR selalu mengutamakan tiga kebutuhan di atas. Pendidikan dan kesehatan dapat diusahakan secara langsung, namun bagaimana dengan kesempatan kerja? Tidak semua masyarakat sekitar dapat bekerja di pabrik yang mensyaratkan keahlian khusus. Jalan keluarnya, adalah dibuatkan wadah untuk dapat berpenghasilan. Desa Telaga pun menjadi jawaban universal atas masalah yang muncul.

Desa Telaga dikembangkan secara berkelanjutan untuk memberikan manfaat. Tidak hanya bagi masyarakat sekitar di KIIC. Banyak pihak yang ingin melakukan studi di Desa Telaga. Misalnya dari universitas-universitas di daerah Jakarta dan Jawa Barat. Pernah juga menerima kunjungan dari kelompok konservasi hutan internasional. Hebatnya, KIIC tidak memungut biaya dan tetap melayani dengan baik. yang diperlukan hanyalah proposal. Desa Telaga juga siap menyediakan bibit pohon berkayu untuk keperluan penghijauan. Sekali lagi, gratis.

Pembahasan berlanjut lagi kepada aspek pokok CSR. Tidak semua perusahaan mau mengikuti program CSR yang digagas KIIC. Dari ratusan perusahaan yang ada, hanya 29 yang bersedia membiayai kegiatan CSR di bawah naungan KIIC. Mengapa ada yang tidak mau? Sebab perusahaan itu berorientasi profit. Karakter perusahaan pun beragam. Perbuatan baik tidak bisa dipaksa, bahkan meskipun ada peraturan pemerintah yang mewajibkan pelaksanaan CSR.

Di sisi lain, banyak program CSR yang gagal. Ini adalah fakta yang jarang diketahui. Alasannya sederhana. CSR adalah program yang melibatkan berbagai stakeholder dengan kepentingan berbeda. Banyak stakeholder berarti banyak kepentingan. Banyak kepentingan itu rawan benturan. Meskipun demikian, jangan putus asa. Kita menjalankan hal baik. Kemudian jangan memikirkan keuntungan yang bakal diperoleh. Pasti bakal rugi (setidaknya di awal).

Untuk para mahasiswa dan generasi muda, langkah yang dapat dilakukan adalah terus belajar dan memberikan kontribusi berupa analisis dan perbaikan di masa mendatang.

Iklan

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s