Seminar Gema Aksara: Generasi Manusia Indonesia 2045

Ini adalah ringkasan dari Seminar Gema Aksara yang dilaksanakan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung hari Sabtu, 24 Januari 2015. Tema yang dibawa dalam seminar ini adalah Generasi Manusia Indonesia 2045. Pembicara dalam seminar ini adalah:

Sebenarnya menurut poster direncanakan Menteri Pendidikan Indonesia, Anies Baswedan, ikut mengisi seminar. Namun beliau tidak dapat menyanggupi undangan tersebut.

Seminar dimulai pukul 09:00. Formatnya berupa talkshow dimana moderator dan narasumber duduk bersama di atas panggung dan membicarakan materi.

Inisiatif Global Studi Anak Tidak Sekolah (Studi Kasus: Indonesia)

Materi pertama ini dibawakan oleh Ibu Eni. Studi ini diprakarsai oleh UNICEF untuk mengetahui profil anak putus sekolah di berbagai belahan dunia. Isu ini dianggap penting terutama karena besarnya jumlah anak putus sekolah. Di seluruh dunia tercatat 75 juta anak putus sekolah. Setelah mengetahui profil, studi ini juga menganalisis penyebab munculnya anak putus sekolah di Indonesia. Setelah itu dilakukan analisis lebih lanjut untuk mengajukan solusi pengurangan jumlah anak putus sekolah. Proses studi dilakukan secara kualitatif. Data yang digunakan adalah data tahun 2009 dan 2012.

Anak tidak sekolah (ATS) tergolong menjadi lima dimensi:

  1. Anak usia di bawah 6 tahun yang belum sekolah
  2. Anak usia 7-12 tahun yang drop out, telat sekolah, atau tidak sekolah sama sekali
  3. Anak usia 13-15 tahun yang drop out, telat sekolah, atau tidak sekolah sama sekali
  4. Anak usia 7-12 tahun yang terancam drop out
  5. Anak usia 13-15 tahun yang terancam drop out

Jumlah ATS usia 7-15 tahun mencapai 2 juta anak pada tahun 2012 atau 4% dari populasi Indonesia. Dari jumlah tersebut, 600 ribu ada pada usia SD, sementara sisanya pada usia SMP. Banyak dari kasus ATS ini adalah anak SD yang tidak melanjutkan ke SMP.

Secara statistik nampak bahwa makin tinggi golongan usia, makin besar persentase jumlah ATS. Sehingga jumlah ATS di SMP lebih besar daripada di SD, serta SMA lebih besar daripada SMP. Dari segi gender sendiri keseimbangannya relatif baik. Pada usia hingga 15 tahun, kebanyakan ATS adalah laki-laki. Sebabnya terutama karena harus bekerja. Bisa jadi untuk membantu orangtua, atau justru orangtuanya meninggal sehingga harus bekerja untuk menggantikan peran mencari nafkah. Sementara pada usia 16-18 tahun, kebanyakan ATS adalah perempuan. Alasan? Tentu saja menikah.

Terdapat beberapa pengamatan kualitatif lain. Namun secara garis besar yang ditemukan dari studi ini antara lain:

  • Anak dengan tempat tinggal jauh dari sekolah cenderung menjadi ATS. Penyebab: biaya menjadi semakin mahal, dan orangtua kadang tidak rela anaknya bersusah payah menempuh jarak jauh. Perlu diketahui pula bahwa di Indonesia umumnya yang berlaku adalah satu SD per dusun, satu SMP per kelurahan, 1 SMA per kecamatan.
  • Anak dengan ibu yang berpendidikan tinggi 20 kali lebih berpeluang meneruskan pendidikannya daripada anak dengan ibu berpendidikan rendah (Komentar: hal ini menunjukkan pentingnya peran pendidikan dari sisi ibu, sebab secara mengejutkan pendidikan ayah tidak disebutkan memberi pengaruh besar)
  • Anak yang berasal dari keluarga kurang mampu lebih cenderung menjadi ATS
  • Anak dengan kebutuhan khusus lebih cenderung menjadi ATS. Penyebab: di Indonesia pada umumnya tiap kabupaten hanya memiliki satu SLB. Lalu masalahnya kembali lagi ke jarak.

Persepsi yang berlaku di masyarakat Indonesia, terutama daerah pedesaan, tentang pendidikan adalah tidak ada nilai tambah dari mengenyam pendidikan tinggi. Asal bisa baca dan tulis umumnya sudah cukup.

(Komentar: di sini muncul pertanyaan besar yang harus diterangkan kepada masyarakat secara umum. Apa timbal balik yang kita peroleh dengan menjadi terdidik?)

Selanjutnya dipaparkan hambatan yang menyebabkan tingginya jumlah ATS. Ada dua sebab utama: aspek sosial budaya dan aspek biaya pendidikan.

Aspek sosial budaya meliputi:

  • Banyaknya orang yang bekerja sebagai TKI, tidak membutuhkan keterampilan dan pendidikan tinggi namun dapat memperoleh pendapatan menggiurkan. Prospek tersebut dinilai menjanjikan oleh sebagian besar masyarakat
  • Keretakan keluarga yang menyebabkan masa depan anak terbengkalai
  • Pernikahan dini. Perlu diketahui bahwa usia rata-rata orang  yang menikah di Indonesia adalah 16-19 tahun. Tentunya sangat sulit untuk melanjutkan pendidikan sambil berumahtangga
  • Hukum adat yang lebih utama. Banyak kasus dimana ketentuan adat lebih diprioritaskan daripada masalah pendidikan
  • Anak berkebutuhan khusus. Tidak semua sekolah mampu menangani anak berkebutuhan khusus. Sementara sekolah yang dapat menangani jumlahnya terbatas dan memerlukan biaya tambahan
  • Berkembangnya biaya persyaratan tambahan dari sekolah. Banyak terjadi di sekolah-sekolah favorit yang mensyaratkan kemampuan tertentu (misalnya Bahasa Inggris) serta biaya tambahan yang sebenarnya tidak sah.

Aspek biaya pendidikan sudah jelas. Adapun biaya yang dimaksud bisa bermacam-macam. Ada yang biaya sekolahnya memang mahal, ada pula yang karena jaraknya jauh sehingga harus menyediakan biaya ekstra untuk transportasi. Pada akhirnya tetap jadi mahal dan memberatkan. Alasan biaya ini masih menjadi penyebab utama putusnya anak dari pendidikan.

Solusi yang ditawarkan antara lain:

  • Menambah jumlah sekolah. Solusi ini mahal dan tidak bisa diimplementasikan dengan cepat.
  • Sekolah satu atap dan sekolah terbuka. Solusi ini dipandang lebih mungkin dengan distribusi sekolah yang ada saat ini.
  • Beasiswa
  • Dana BOS. (Komentar: lebih tepatnya Dana BOS yang lebih merata dan tepat sasaran)
  • Peningkatan kualitas sekolah. Contohnya adalah tunjangan sertifikasi guru, tunjangan daerah terpencil, dan sebagainya.
  • Perlindungan sosial. Di sini yang dimaksud meliputi BPJS, bantuan kepada rakyat miskin, dan semacamnya. Dengan lebih terjaminnya kondisi keluarga, maka dana untuk pendidikan anak akan tersedia (Komentar: ini kurang kuat dalam menjamin pendidikan anak. Sebab tidak semua masyarakat memprioritaskan pengeluaran pendidikan dalam keluarga)

U-Report Indonesia

Inti yang disampaikan Kak Saskia adalah adanya U-Report Indonesia di Twitter sebagai sarana untuk memberikan aspirasi langsung. U-Report Indonesia ini merupakan inisiasi dari UNICEF. Kerennya U-Report Indonesia ini akan memroses jawaban dari tweet pengguna dan menghasilkan data yang siap digunakan untuk proses advokasi. Data tersebutlah yang akan disampaikan kepada pemerintah dan partner terkait untuk membantu menyelesaikan masalah di Indonesia. Silakan langung follow @UReport_id untuk mengetahui lebih lanjut.

Membangkitkan Gerakan dalam Pendidikan

(Komentar: Dari Kak Herry tidak terdapat judul materi yang disampaikan. Saya menulis judul di atas berdasarkan konten yang disampaikan)

Penjelasan Kak Herry dimulai terkait Indonesia Mengajar. Filosofi yang mengawali Indonesia Mengajar adalah pendidikan sebagai sebuah gerakan. Pada zaman ini yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah orang yang menyalakan lilin, bukan sekedar meneriaki kegelapan. Kak Herry menyebut ciri khas gerakan sebagai berikut:

Gerakan berawal dari keresahan dan berkembang menjadi sebuah gagasan

Sehingga seminar ini bisa dikatakan berhasil kalau Secara global tujuan Indonesia Mengajar adalah:

  1. Meratakan distribusi guru di Indonesia
  2. Mencetak pemimpin yang mengerti sudut pandang grassroot dan berkompetensi world-class

Pengajar Muda akan ditempatkan di daerah yang jauh dari peradaban utama. Di sana selama satu tahun mereka akan mengajar di sekolah dasar. Meskipun secara utuh ada 4 tugas yang diemban Pengajar Muda:

  1. Intrakurikuler
  2. Ekstrakurikuler
  3. Pemberdayaan Masyarakat bidang pendidikan
  4. Advokasi pendidikan

Sambil membenarkan fakta yang diceritakan Ibu Eni, Kak Herry menceritakan kisah Pengajar Muda di Rote, NTT. Pada awalnya di sana sedikit sekali anak yang mencapai pendidikan tinggi. Sebabnya adalah banyaknya kebutuhan yang lain. Tradisi yang utama adalah ikut memberikan sumbangan untuk pernikahan anggota masyarakat lokal. Dengan pembicaraan dengan masyarakat, akhirnya Pengajar Muda dapat mengajukan usul baru: memberikan sumbangan untuk anggota masyarakat yang akan berangkat kuliah. Dengan demikian anak yang akan berangkat kuliah dapat merasa lebih bertanggungjawab karena dia dibiayai orang sekampungnya.

Dengan gerakan, masalah yang ditemui pun lebih beragam karena menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Ini berbeda dengan pendekatan yang dihasilkan dari studi. Sebagai Pengajar Muda pun yang ditemui tidak melulu pengalaman menyenangkan. Justru dalam kondisi nyata inilah kenyataan yang pahit ditemui.

Kak Herry pernah membina salah satu siswanya untuk mengikuti perlombaan. Tahapan lombanya per wilayah, mulai seleksi sekolah, kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten, dan seterusnya. Anak didiknya berhasil menembus seleksi kabupaten dan berhak menuju seleksi selanjutnya di Pontianak bersama dua siswa. Namun ternyata dia tidak dipanggil. Yang berangkat selanjutnya adalah siswa lain yang memiliki hubungan kerabat dengan pejabat maupun petinggi dinas pendidikan.

Di akhir masa mengajar satu tahun, Pengajar Muda diberi wejangan terakhir, “Setelah melihat kondisi pendidikan di Indonesia ini, hanya ada dua pilihan untuk kalian. Pertama, menjadi pesimis dan merasa tidak perlu melakukan apa-apa. Kedua, menjadi makin semangat dan terpacu untuk memperbaikinya.”

Yang terakhir, sekedar gerakan tidak dapat memberikan dampak yang besar. Harus ada tindak lanjut dalam bentuk yang legal dan formal. Gerakan dengan ribuan orang masih kalah dengan pengaruh menteri atau pejabat. Sebab tanda tangan menteri atau pejabat dapat mempengaruhi ribuan orang dan instansi dalam sekejap.

Acara Ekstra

Dalam acara ekstra ini disuguhkan penampilan kesenian dari anak didik Skhole yang berkolaborasi dengan KM-ITB.

Di samping seminar pendidikan, dalam acara hari ini terdapat Wahana Cipta Karya. Isinya adalah pembuatan 1000 alat peraga untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah serta pameran foto dan profil rumah belajar dan bentuk pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan di ITB.

Iklan

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s