Kunjungan Religi Malang: Masjid Turen

Kepada muda mudi mohon menjaga sikapnya. Ini pondok pesantren bukan tempat wisata. Dilarang bergandengan tangan dan berduaan selama di kompleks pesantren.

Kurang lebih demikianlah satu diantara banyak petunjuk dan peringatan yang tertampang di dalam Masjid Turen, Malang. Dengan alasan itu pula, saya tidak menuliskan “wisata” dalam judulnya. Masjid ini sangat keren dalam artian tampilan dan fungsinya. Masjid Turen telah menjadi ikon wisata, ikon pondok pesantren, sekaligus membangkitkan kegiatan ekonomi di lingkungan sekitarnya.

Menara Biru di bagian belakang adalah gerbang pintu masuk. Sementara Menara Merah yang di depan mungkin ada makna lain.

Menara Biru di bagian belakang adalah gerbang pintu masuk. Sementara Menara Merah yang di depan mungkin ada makna lain.

Sejarah

Apa yang disebut Masjid Tiban (artinya: Tiba-tiba muncul), Masjid ajaib, atau Masjid Turen ini sesungguhnya merupakan bagian dari pondok pesantren. Namanya adalah Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah. Masjid ini dibangun oleh Romo Kiai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam. Lebih tepatnya sih para santrinya dan warga lingkungan pondok. Namun masjid dengan desain nyentrik ini tidak dibuat dengan rancangan arsitek. Seluruh desain pembangunannya merupakan hasil istikharah beliau. Pembangunannya telah berlangsung sejak tahun 1978 dan sekarang masih berlangsung. Orang-orang menyebutnya Masjid Tiban, buatan jin, karena merasa tiba-tiba masjid itu muncul tanpa ada tanda proyek, bahan bangunan, pekerja luar, dan alat berat.

Inilah eksterior Masjid Tiban Ajaib dilihat dari dekat

Inilah eksterior Masjid Tiban Ajaib dilihat dari dekat

Tidak semua bagian sudah dicat atau diukir. Ini adalah salah satu sudut kompleks pondok yang masih tampak batu batanya. Nampaknya pembangunan Masjid Turen adalah proyek abadi.

Tidak semua bagian sudah dicat atau diukir. Ini adalah salah satu sudut kompleks pondok yang masih tampak batu batanya. Nampaknya pembangunan Masjid Turen adalah proyek abadi.

Perjalanan

Karena tak begitu mengerti jelimetnya daerah Malang, saya tidak bisa memberikan gambaran yang baik. Lagipula dalam perjalanan ini saya berangkat sekeluarga. Terima beres saja, tiba-tiba sampai tujuan.
Yang jelas masjid ini berada di Turen, arah selatan Malang. Perjalanan dengan mobil rata-rata membutuhkan waktu 30 menit. Namun karena libur akhir tahun, jalanan macet dan perjalanan saya molor hingga lebih dari sejam.

Jalan yang ditempuh tidak terlalu sulit. Namun tidak ada papan penunjuk lokasi Masjid Turen ini. Gunakan Google Map atau bertanyalah kepada penduduk sekitar, “Nuwun sewu, manawi badhe teng Masjid Tiban lewat pundi?”

Perlu diketahui juga bahwa Masjid Turen banyak didatangi peziarah maupun wisatawan. Yang datang bermobil-mobil, bahkan berbis-bis. Makanya kalau di jalan bertemu dengan bis pariwisata, mungkin saja itu menuju Masjid Turen. Bisa dijadikan patokan juga hehehe.

Lokasi Kejadian

Ini hari libur, tapi saya tak mengira tempatnya sangat padat. Jalan yang hanya cukup untuk dua mobil itu padat. Semuanya menuju arah sama. Di balik padatnya permukiman dan pepohonan rimbun perlahan tampak menara menjulang. Warna putih dan biru sungguh mencolok dibandingkan lingkungan sekitarnya. Pucuk-pucuk kubah berjumlah banyak, tinggi dan lancip. Mirip kuil di Bangkok. Kemudian mobil berbelok ke jalan masuk yang lebih sempit (cuma muat satu mobil). Di ujung jalan nampak Masjid Turen yang megah dan berhiaskan pola indah dari lantai sampai ujung atap.

Pelayanan tempat ini pun hebat. Toilet ada di tempat strategis (bahkan di tiap tingkat masjid tersedia). Parkir luas, walau penuh juga pas liburan. Ada petugas parkirnya juga. Oh ya, saya belum menyebutkan kalau parkirnya bebas biaya. Ada tempat peristirahatan. Ada kantin. Pantas saja selalu ramai. Tempat ini memanjakan pengunjung.

Kantin Masjid Turen, tempat melepas penat setelah jalan berlantai-lantai. Dinding kantin pun berukir.

Kantin Masjid Turen, tempat melepas penat setelah jalan berlantai-lantai. Dinding kantin pun berukir.

Untuk masuk pun bebas biaya, namun perlu mengambil tanda masuk di Ruang Informasi 2. Lokasinya di sebelah salah satu pintu masuk (sangat tidak andal informasinya hehehe). Sulit menerangkannya karena masjid ini besar dengan banyak pintu. Namun bertanya pada petugas parkir atau mengikuti arus keramaian akan membawa Anda pada jalan yang benar.

Ruang Informasi 2

Ruang Informasi 2, tempat mengambil tanda masuk. Saya sengaja ambil gambar langit-langit yang indah. Sebab kalau saya ambil gambar lebih bawah, yang tampak hanya kerumunan manusia

Setelah dapat tanda masuk boleh langsung masuk ke dalam. Syaratnya: lepas alas kaki. Jadi sekedar tips, minimal bawalah kresek untuk menampung sepatu atau sandal Anda.

Eksterior Masjid Turen yang bergaya campuran kuil Thailand dan Istana India

Eksterior Masjid Turen yang bergaya campuran kuil Thailand dan Istana India

Kalau dari luar kubahnya bergaya Thailand, eksterior dan interiornya seperti Istana Raja Mughal di India. Ukiran bertema Islam menghiasi dinding masjid. Jangan ditanya bagus tidaknya. Saya sempat tidak percaya orang di tempat terpencil begini memiliki kehalusan tangan untuk membuat karya seni yang agung dan rumit. Seperti herannya kaum penjajah ketika pertama kali melihat candi-candi di Indonesia.

Ukiran yang banyak dijumpai di eksterior Masjid Turen. Kaligrafi bertuliskan kalimat syahadat.

Ukiran yang banyak dijumpai di eksterior Masjid Turen. Payahnya saya tak tahu kaligrafi ini bertuliskan apa.

Ukiran yang serupa di interior Masjid

Ukiran yang serupa di interior Masjid

Ukiran bertema buah-buahan juga ada di sini. Ruangan tempat ukiran ini memiliki banyak kursi dan meja santai. Mungkin melambangkan taman firdaus. Mungkin saja loh...

Ukiran bertema buah-buahan juga ada di sini. Ruangan tempat ukiran ini memiliki banyak kursi dan meja santai. Mungkin melambangkan taman firdaus. Mungkin saja loh…

Pagar berukir yang mengelilingi taman di Masjid Turen. Yang berwarna hitam bukan retakan, melainkan sejenis noda.

Pagar berukir yang mengelilingi taman di Masjid Turen. Yang berwarna hitam bukan retakan, melainkan sejenis noda.

Ukiran yang menghiasi tangga. Di Masjid Turen tangganya sempit sehingga orang berdesak-desakan untuk naik maupun turun.

Ukiran yang menghiasi tangga. Di Masjid Turen tangganya sempit sehingga orang berdesak-desakan untuk naik maupun turun.

Ruang santai dengan dinding ukiran bunga.

Ruang santai dengan dinding ukiran bunga.

Bangunan ini menjulang tinggi hingga 10 lantai. Fiturnya lengkap, mulai dari ruang pertemuan, tempat wudhu, ruang istirahat, mimbar, ruang santai, taman, pendopo, menara. Jangan heran juga kalau di sini ada studio foto, pertokoan, akuarium, kolam renang, kolam ikan, mungkin masih banyak lagi yang lain. Jangan heran, toh ini masih dalam satu komplek pondok pesantren. Santri juga manusia, butuh hiburan.

Saya tidak mengunjungi sampai lantai paling atas. Saya berhenti ketika di lantai sebelum pertokoan. Lalu turun lagi. Sebabnya tangga untuk naik turun dijejali penuh oleh pengunjung lain.Sampai atas nanti tidak sebanding capeknya. Jadi saya tidak bisa melihat meupun memotret puncak masjid yang disebut ‘Pegunungan’.

Kolam ini terletak di luar Masjid Turen.

Kolam ini terletak di luar Masjid Turen.

Seorang bapak-bapak bersantai di taman Masjid Turen

Seorang bapak-bapak bersantai di taman Masjid Turen. Oh ya, tamannya ada di lantai 2.

Akuarium dalam masjid! Banyak pula, hingga ada akuarium lantai 2. Pemilik wahana bermain di Malang dan sekitarnya perlu studi banding.

Akuarium dalam masjid! Banyak pula, hingga ada akuarium lantai 2. Pemilik wahana bermain di Malang dan sekitarnya perlu studi banding.

Singgasana maharaja? Bukan. Ini mimbar.

Singgasana maharaja? Bukan. Ini mimbar.

Sebagai sebuah pondok pesantren yang dipimpin orang bijak, segala sesuatu dalam Masjid Turen ini memiliki makna. Arsitektur bangunan tidak pernah bohong. Maka dalam kunjungan ini saya lebih banyak mengamati ukiran dan lekukan bangunan saja. Tentu banyak ajakan berfoto sama keluarga. Namun saya tidak bisa berhenti kagum dari tempat ini. Tentunya masih banyak rahasia di balik pembangunan Masjid Turen yang tidak tampak oleh orang awam. Semoga saya bisa bertambah bijak dengan mengunjungi tempat ini hahaha.

Saran penutup, tempat ini sangat oke untuk jadi tempat wisata. Lebih oke lagi kalau Anda mau mengambil nafas sejenak, melihat-lihat dengan mata maupun makna. Tempatnya indah untuk diabadikan lewat foto maupun pikiran. Jadinya saya terlalu filosofis hehehe. Terserah Anda untuk menikmati dengan cara manapun.

Iklan

3 thoughts on “Kunjungan Religi Malang: Masjid Turen

    • Burj Khalifa, bangunan tertinggi di dunia yang terletak di Dubai, dibangun dalam waktu 6 tahun.Skalanya jauh lebih besar daripada masjid ini.

      Di Sulawesi Selatan, terdapat perkampungan pembuat kapal phinisi. mereka dapat membangun kapal yang rumit tanpa desain sama sekali. Konstruksinya diakui oleh dunia.

      Masjid Turen ini dibangun selama lebih dari 30 tahun. Kemudian bukan mustahil kalau ada yang berbakat secara alamiah di bidang arsitektur, atau karena memperoleh hidayah setelah mengalami proses yang panjang. Masjid seperti ini bisa dibangun manusia asalkan istiqomah.

      Suka

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s