Kisah Pemahat Batu dari Jepang

Kisah ini saya temukan ketika membaca buku Max Havelaar (saya membuat ulasan Goodreads dari buku tersebut). Sebuah cerita dalam cerita. Kisahnya pendek, mudah dimengerti, dan memiliki nilai moral eksplisit. Cocok sebagai referensi kisah anak-anak. Juga kisah pengantar tidur.

Kisahnya adalah sebagai berikut:

Zaman dahulu kala di wilayah pegunungan Jepang hidup seorang pemahat batu. Dia tinggal di rumah sederhana. Sehari-hari dia mengangkut batu dari gunung kemudian memahatnya menjadi berbagai bentuk yang indah. Pekerjaannya berat, dia juga rajin bekerja, namun upahnya selalu kecil. Hal terebut membuat dia tidak puas.

Suatu ketika dia menghela nafas dan mengeluh, “Seandainya aku kaya, aku bisa beristirahat di balai-balai dengan kelambu dari sutra.” Perkataannya ternyata didengarkan. Beberapa saat setelahnya datanglah sesosok malaikat dari langit. Malaikat tersebut berkata,”Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Lalu dia menjadi kaya. Di sungguh dapat beristirahat di balai-balai dengan kelambu dari sutra merah.

Kemudian raja negeri itu melintas, dengan paara pasukan berkuda di depan keretanya. Payung emas melingkupi di atas kepala raja tersebut. Ketika melihat sang raja, pemahat yang menjadi kaya itu kembali merasa jengkel. Tidak ada payung emas yang melindunginya. Hal tersebut membuatnya merasa tidak puas.

Dia menghela nafas dan menjerit,” Saya berharap saya adalah seorang raja.” Lagi-lagi permohonan tersebut didengar. Malaikat turun dari langit dan berkata,”Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Lalu dia menjadi raja. Di depannya ada pasukan berkuda. DI belakangnya juga beriring pasukan berkuda. Kepalanya dilindungi oleh payung emas.

Suatu ketika matahari bersinar terik, seolah menghanguskan bumi. Rerumputan menjadi layu. Pemahat yang jadi raja mengeluh karena sinar matahari membakar wajahnya. Ada kekuatan yang lebih besar dari raja,dan dia tak puas karenanya.

Dia menghela nafas dan menjerit,” Saya berharap saya adalah matahari.” Permohonan tersebut didengar. Malaikat turun dari langit dan berkata,”Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Maka dia menjadi matahari. Dia memancarkan sinarnya ke atas, ke bawah, ke segala arah. Kemudian dia menghanguskan bumi dan wajah semua raja yang ada di bumi.

Kemudian muncul awan yang menghalanginya dari bumi. Awan tersebut memantulkan sinar matahari. Dia gusar karena kekuatannya ditahan. Dia merasa awan itu memiliki kekuatan yang lebih besar dari matahari. Dia tak puas karenanya.

Dia menghela nafas dan menjerit,” Saya berharap saya menjadi awan.” Permohonan tersebut didengar. Malaikat turun dari langit dan berkata,”Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Maka dia menjadi awan. Dia menempatkan diri di antara matahari dan bumi, menghalangi sinar matahari sehingga rerumputan tumbuh menghijau.Kemudian dia menurunkan hujan ke bumi dan membuat sungai meluap.Akibatnya banjir menyapu apapun. Kawanan hewan, ladang, rumah, hilang semua.

Kemudian dia melihat batu yang tidak bergerak. Dia menurunkan hujan, namun batu itu masih berada di tempatnya. Sekali lagi dia merasa tidak puas.

Dia menjerit,” Pada batu itu terdapat kekuatan yang lebih besar daripada punyaku! Aku berharap aku adalah batu itu.” Permohonan tersebut didengar. Malaikat turun dari langit dan berkata,”Jadilah seperti apa yang telah kau katakan.”

Akhirnya dia menjadi batu. Sama sekali tidak bergerak ketika matahari menyengat atau hujan deras melanda.

Suatu ketika datanglah seorang pria dengan beliung dan pahat tajam serta palu yang berat. Pria tersebut memecahkan batu dan mengangkutnya.¬†Batu itu terkejut dan berkata,”Apa ini, manusia ini memiliki kekuatan di atas saya, dia mampu memecahkan dadaku?” Dan dia merasa tidak puas

Seketika saja dia berteriak,” Saya lebih lemah dari orang ini. Saya harap saya adalah orang ini…”

Akhirnya jadilah dia pemahat batu kembali. Sejak saat itu dia bekerja lebih keras meskipun dengan upah yang masih sedikit. Dia merasa puas atas hidupnya.

Iklan

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s