Manajemen Sosio-ekonomi dalam Proyek

Tulisan ini merupakan intisari dari kuliah keprofesian STI pada tanggal 2 Desember 2014 di Institut Teknologi Bandung. Kuliah diisi oleh pembicara eksternal, Bapak Teguh Haryono. Beliau saat ini adalah CEO PT. Indika Logistic and Support Services, salah satu perusahaan bidang oil & gas (ITB banget yah). Judul presentasi beliau sama dengan judul postingan ini. Saya dan teman sekelas benar-benar kagum selama kuliah tersebut. Sungguh sangat disayangkan kalau ilmu yang memukau itu tertahan saja di kepala atau dinding kelas. Jadi saya mencoba untuk menyampaikan ulang materi dari Pak Teguh lewat postingan ini. Penjelasannya panjang, tapi saya jamin bermanfaat.

———————————————————————————————–

Apa yang menentukan keberhasilan proyek?

Kalimat tersebut langsung dilontarkan pada awal presentasi. Kami yang sudah belajar manajemen proyek konvensional langsung saja menjawab, “cost, time, scope, quality

Segitiga proyek, sumber: http://www.getacoder.com

Setelah itu ditambahkan pula aspek-aspek lain. Semua itu benar, namun ada satu hal yang tidak boleh terlupakan: aspek sosial ekonomi. Sehebat-hebatnya proyek jika tidak memperhatikan dampak dan manfaat kepada masyarakat sekitar maka proyek itu takkan berhasil atau setidaknya terhambat masalah.

Para kontraktor tidak bisa berkata, “itu bukan urusan kita” ketika mendengar keluhan atau protes.

Masalah ini sangat relevan terutama di wilayah Indonesia. Banyak terjadi masalah dalam proyek karena konflik antara pelaksana proyek dengan masyarakat sekitar. Entah berapa proyek yang gagal karena tidak memperkirakan hal tersebut. Pak Teguh dalam karirnya pernah menangani proyek terkait oil & gas senilai $ 700.000.000 (tujuh ratus juta dolar amerika, dan bicaranya lempeng saja) dengan pekerja hingga belasan ribu orang. Tentunya proyek tidak bisa digagalkan begitu saja. Langkah yang beliau lakukan adalah melakukan manajemen terhadap masyarakat sekitar secara sosio-ekonomi. Tujuan akhirnya adalah memperlancar jalannya proyek sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.

Bagaimana cara melakukan manajemen seperti itu? Berikut adalah 7 komponen sosio-ekonomi dalam proyek:

  1. Penggunaan dan akses lahan
  2. Manajemen stakeholder
  3. Kesadaran masyarakat dan Manajemen Isu
  4. Partisipasi bisnis
  5. Pemberdayaan tenaga kerja
  6. Wilayah budaya dan arkeologis
  7. Corporate Social Responsibility

Setiap komponen memiliki peran penting untuk mewujudkan kelancaran proyek. Penjelasannya dijabarkan satu per satu sebagai berikut.

1. Penggunaan dan Akses Lahan

Lahan yang digunakan untuk proyek, bagaimana dampaknya bagi eks pemilik? Sumber: http://sidraphariini.blogspot.com

Tantangan

Pemilik lahan susah cari kerja — Apabila lahan yang dibebaskan merupakan satu-satunya mata pencaharian pemilik lahan, entah sawah atau bengkel atau yang lain, mau kemana lagi perginya? Tentunya ada sejumlah uang ganti rugi (ganti yang bikin rugi maksud beliau), namun tidak cukup untuk membantu eks pemilik lahan bertahan. Pada akhirnya akan muncul pengangguran baru. Perlu diperhatikan bahwa lahan yang dibebaskan bukan milik dua-tiga orang. Ratusan bahkan ribuan jiwa akan terkena dampak.

Biaya tanah meningkat, mempersulit eks pemilik lahan — Dengan adanya proyek, umumnya nilai tanah di sekitarnya akan meningkat. Eks pemilik lahan bisa saja tidak mampu untuk memperoleh tanah di sekitar situ lagi. Mereka tinggal lebih jauh sehingga memerlukan biaya transportasi lebih tinggi. Hal tersebut tentu saja merugikan masyarakat eks pemilik lahan.

Perencanaan

Komunikasikan dengan pemerintah dan tokoh lokal — Cari jalan keluar dengan bantuan pemerintah setempat. Jangan sampai eks pemilik lahan merasa tidak diperhatikan oleh kontraktor maupun pemerintah. Di sisi lain, perhatikan juga tokoh lokal yang opininya berpengaruh. Opini yang menyulut kemarahan massa akan membuat situasi tidak terkendali. Komunikasikan secara baik-baik dengan orang tersebut agar tidak menimbulkan komentar negatif.

Monitor berkala — Pantau kondisi eks pemilik lahan. Apabila masih ada yang kesulitan karena belum dapat kerja misalnya, segera komunikasikan lagi dengan pemerintah lokal. Hal tersebut menunjukkan komitmen pelaksana proyek.

2. Manajemen Stakeholder

Penjelasan untuk bagian ini spesial karena banyak ceritanya.

Stakeholder (bahasa Indonesia yang paling mendekati adalah pemangku kepentingan, tapi terasa kurang pas sebab kesannya bermakna sempit, jadi saya tetap pakai kata aslinya) adalah orang yang terkait dengan proyek. Yang terlibat, yang digusur, yang bekerja, yang terkena imbas untung/rugi proyek, yang membiayai, yang membuat peraturan, semuanya termasuk dalam stakeholder. pada dasarnya ada empat jenis stakeholder berdasarkan power (kuasa yang dimiliki) dan interest (ketertarikan terhadap proyek).

Pemetaan stakeholder berdasarkan power dan interest. Sumber: https://publicwiki.deltares.nl

  1. Kuasa tinggi, ketertarikan tinggi — dekati tipe ini. Dialah pemulus jalan.
  2. Kuasa tinggi, ketertarikan rendah — jaga tipe ini. Jangan sampai bermasalah dengannya, namun tidak perlu terlalu dekat
  3. Kuasa rendah, ketertarikan tinggi —peluk erat tipe ini. Tipe inilah yang akan stand up untuk membantu ketika proyek bermasalah (bahkan ketika tipe pertama sudah angkat tangan)
  4. Kuasa rendah, ketertarikan rendah — ikhlaskan saja. Biarkan tipe ini berkeliaran

Pak Teguh menceritakan kisah menarik terkait penanganan stakeholder (nama dan tempat sengaja disamarkan).

Ketika saya akan menjalankan sebuah proyek di suatu daerah, saya mencoba menghubungi bupatinya. Bagaimana saya melakukannya? Pertama saya selidiki dulu asalnya. Dia dari sekolah ini, teman SMA nya si ini. Nah kebetulan saya ada kenalan dan menghubungi dia dulu.

“Pak, saya sedang butuh bantuan. Boleh saya dikenalkan kepada bupati?”

Singkatnya, dengan bantuan itu saya berhasil bertemu bupati. Akhirnya saya menjelaskan proyek. Tapi tentunya bupati minta sesuatu dong. Nah, saya menolak untuk langsung memberikan kepada beliau. Korupsi tidak akan terjadi tanpa akad korupsi, bukan? 

Saya menawarkan program kepada bupati, “Pak nanti kita buatkan festival, lomba anak-anak, senam pagi, pokoknya semua untuk hiburan rakyat. Nanti kita sampaikan bahwa acara ini diprakarsai oleh Bapak.”

Dengan demikian bupati ikut senang, uang memang keluar tapi bermanfaat buat masyarakat. Saya kipas-kipas saja di belakang.

Masih ada lagi cerita, kali ini terkait dengan stakeholder dengan kuasa rendah/low power. Meskipun bukan berarti itu masalah kecil.

Saya pernah didemo warga sebanyak empat ribu orang. Mereka menuntut proyek bubar dan macam-macam seharian. Saya belum tahu siapa penyebab semua itu, tapi saya sudah bisa menebak datangnya mereka. Bagaimana caranya? Saya punya orang-orang kecil yang peduli dengan proyek yang saya bawa.

Mereka melapor, “Mas, kayaknya mau ada demo.”

“Tahu dari mana?”

“Ada yang pesan kaos sablon, sama truk-truk saya disewa untuk rombongan”

Dengan demikian saya bisa mengantisipasi. Kemudian saya bertemu dengan pimpinan demo. Pihak mereka agak terkejut,”Ternyata gampang ya kalau mau ketemu Bapak”

“Jadi kamu demo sebanyak ini cuma mau ketemu saya?”

“Iya, pak.”

“J****k…” (misuh beneran, maklum saja dunia perproyekan memang keras)

Setelah itu kita ngobrol. Kita cari akar masalahnya. Sebenarnya mereka berdemo hanya karena merasa tidak dipedulikan atau diberdayakan. Sesederhana itu. Tapi lihat efeknya. Kita tidak boleh meremehkan.

3. Kesadaran Masyarakat dan Manajemen Isu

Tantangan

Mengumpulkan komentar dan komplain masyarakat — Jangan sampai ada isu aneh-aneh. masyarakat mudah termakan isu. Sebab perception is more important than reality. Komentar masyarakat baik yang mendukung atau menentang harus dikumpulkan. Pak Teguh pernah ditentang karena dikira bagian dari rezim Soeharto (waktu itu proyek berjalan di era reformasi). Kalu tidak diluruskan bisa ribut.

Memitigasi komentar dan komplain secara konsisten — Jangan bosan meluruskan pendapat masyarakat dan memberikan sosialisasi

Memastikan ketersampaian pesan kepada masyarakat — Terkait dengan hal sebelumnya juga. Itikad baik tidak cukup. Harus ada langkah dari pelaksana proyek untuk memberikan manfaat dan menyebarkannya ke masyarakat.

Perception is more important than reality

Perencanaan

Kumpulkan, catat, mitigasi, selesaikan, tutup — Tuntaskan permasalahan terkait isu dan jangan sampai muncul lagi di belakang.

Proaktif kepada stakeholder terkait — Jangan menunggu muncul demo atau gangguan. Dekati stakeholder, ambil pendapatnya, selesaikan permasalahannya.

Tentunya melakukan hal di atas tidak mudah. Namun ada cerita yang menarik dari beliau tentang bagaimana menyebarkan pesan positif terkait proyek.

Saya harus melakukan sosialisasi proyek di suatu wilayah. Kalau saya kumpulkan bapak-bapak di balai desa tidak akan efektif. Sudah capek, mahal, dan bapak-bapak biasanya nggak cerita ke istri sama anaknya. Kalau begitu saya bikin aja sosialisasi tentang safety ke sekolah dasar di sana. Saya ajak polisi untuk memberikan materi safety diselingi awareness tentang proyek. Nanti anak-anak akan cerita ke ibu. Terus ibu cerita ke bapak. Ibu-ibu juga bakal saling bercerita. Beres. Saya santai saja di belakang.

Yang penting jangan menunggu, jangan biarkan isu menjadi liar.

4. Business Participation

Berdayakan bisnis lokal

Tantangan

Ekspektasi bisnis lokal — Kalau ada proyek besar, terutama dari perusahaan oil & gas yang banyak duitnya, kontraktor dan vendor lokal itu sudah berharap akan memperoleh bagian. Hal tersebut harus diakomodasi oleh pelaksana proyek.

Namun masalahnya tidak semudah itu. Perusahaan oil & gas punya standar tinggi dalam berhubungan dengan kontraktor dan vendor yang dibuktikan dengan sertifikat. Pak Teguh bercerita, banyak yang mau ketika ditawari sekian ratus juta (rupiah). Kemudian ditanya sertifikatnya dan jawabnya, “belum ada”. Hal tersebut menimbulkan dilema. Sebab beliau harus mempertanggungjawabkan kesepakatan kepada perusahaan (dengan standar perusahaan yang tinggi), di sisi lain tetap memberdayakan bisnis lokal.

Program yang memiliki manfaat langsung ke komunitas — ini nantinya terkait dengan CSR.

Perencanaan

Memaksimalkan kontribusi vendor lokal — Sediakan slot kebutuhan proyek yang harus diisi oleh lokal. Dengan demikian ketersediaan jatah bagi lokal terjamin.

Adakan prekualifikasi dan rencana yang melibatkan lokal — Contoh langkah ekstrem yang pernah dilakukan Pak Teguh adalah mendesain ulang rangkaian pengerjaan proyek. Sebagai lanjutan poin sebelumnya, manajemen proyek harus menyesuaikan kerja agar komponen lokal dapat digunakan.

Sosialisasi ke bisnis — Pastikan pesan tersampaikan dengan efektif dan diketahui semua, agar tidak ada pihak yang merasa ‘tak kebagian’.

5. Pemberdayaan Tenaga Kerja

Manfaatkan pekerja lokal

Tantangan

Identifikasi kapabilitas lokal — Kalau di daerah sekitar kaya akan batu, berdayakanlah tukang batu lokal. Kalau banyak tukang kayu ahli, berdayakan mereka. Pada umumnya seperti itu. Harus ada pemetaan yang jelas agar dapat dimaksimalkan penggunaannya.

Keterlibatan kelompok pekerja dan pemerintah lokal — Harus ada dukungan dari kedua pihak tersebut. Ini terkait dengan manajemen stakeholder.

Menangani pemogokan dan demonstrasi pekerja — Ini juga terkait manajemen stakeholder. Intinya adalah menjaga kepuasan para pekerja dan bersikap transparan. Apabila masalah muncul, harus diselesaikan kedua belah pihak secara bersama.

Perencanaan

Pemetaan tenaga kerja — Jumlah, usia, pendidikan, keahlian, persebaran lokasi, semua perlu dipetakan.

Patuhi peraturan pemerintah — untuk menghindari konflik dengan pemerintah dan meningkatkan nilai proyek di mata stakeholder.

Pastikan transparansi kerja— Menumbuhkan kepercayaan bagi tenaga kerja maupun stakeholder lain.

Laksanakan program pelatihan yang baik — Pak Teguh bercerita pernah melakukan training untuk ratusan tukang batu di sekitar wilayah proyek. Tujuannya agar para pekerja memperoleh sertifikat standar yang dicari perusahaan. Apabila proyeknya sudah selesai, sertifikat tersebut masih dapat dipakai para tukang batu untuk mencari pekerjaan lain. Tentu manfaatnya besar bagi tenaga kerja seperti mereka.

6. Wilayah Budaya dan Arkeologis

Yang beginian jangan sembarangan digusur

Tidak banyak yang diceritakan dari wilayah budaya dan arkeologis ini. Yang jelas dalam pelaksanaan proyek harus memperhatikan apabila ada tempat bersejarah atau tempat yang dinilai penting bagi masyarakat.

Contoh kasus paling umum adalah kuburan. Seringkali orang datang kepada Pak Teguh melapor, “Pak di wilayah ini ada kuburan yang keramat. Kalau mau dibongkar harus diberi sesajen dulu. Sesajennya terdiri atas ini yang diberi uang sekian sekian…” Nah jatuhnya di uang juga.

7. Corporate Social Responsibility

Pastikan untuk selalu memberi manfaat secara sosial dan lingkungan

Proyek suatu perusahaan tentu harus memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat dan lingkungan. Pada bagian ini Pak Teguh memberikan cerita luar biasa tentang pemberdayaan masyarakat sekaligus memberikan awareness tentang proyek.

Saya pernah menangani proyek di wilayah seluas 350 hektar. Meninjau keseluruhannya saja memakan waktu pagi hingga sore. Untuk memberdayakan masyarakat di wilayah itu, saya langsung membuat Badan Usaha Unit Desa di beberapa wilayah. Badan tersebut saya tugaskan untuk membuat pagar sepanjang 15 km. Dengan demikian warga ada kegiatan ekonomi.

Selanjutnya saya ajak pemuda karang taruna untuk membuat usaha juga. Mereka membuat gerobak sayur untuk jualannya pedagang sayur. Nantinya akan muncul juga orang yang membeli gerobak dan jadi pedagang sayur. Nah, pedagang sayur ini kan pelanggannya ibu-ibu yang sering ngobrol kesana kemari. Kita sudah melatih para pedagang sayur mengenai awareness proyek. Sehingga lewat jual beli sayur tadi obrolan tentang proyek menyebar.

“Bu, hati-hati nanti bakal ada truk keluar masuk. Anaknya dijaga jangan main terlalu jauh”

“Bu nanti bakal ada suara ribut malam hari. Sabar saja, paling cuma 2-3 bulan”

Masyarakat dapat kerja, pemuda ada kegiatan, ekonomi berjalan, proyek jalan lancar. Saya senang-senang saja. Bisa tidur nyenyak.

Penutup

Beliau menambahkan dasarnya ITB itu memang sifatnya pemikir besar namun nggak beres-beres. Selain itu egonya juga besar. Sebagian besar anak ITB itu pintar, jadi mereka menganggap remeh orang lain yang kurang. Hal tersebut harus diubah. Jangan meninggalkan orang yang bodoh karena itu bukan kemauan mereka.

Kalimat terakhir sungguh berkesan bagi saya. Secara umum saya tulis kembali

Jangan tinggalkan orang yang kurang beruntung karena itu bukan kemauan mereka.

Iklan

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s