Video

Kaderisasi 2014 di 4 Kampus Indonesia: Potret Kemahasiswaan yang Riang

“Dek, Lari Dek! yang di belakang kepanasan” – Sebuah suara yang muncul ketika mobilisasi

Melihat dokumentasi ospek jurusan himpunan sendiri –which was surprisingly fun in implementation, saya jadi tertarik buat kepo seperti apa kaderisasi di kampus-kampus masa kini. Akhirnya saya nemu video dokumentasi ospek mahasiswa baru di 4 universitas terkemuka di Indonesia: UI, ITB, ITS, dan UGM.

1. Universitas Indonesia – OKK UI 2014

2.Institut Teknologi Bandung – OSKM ITB 2014

3. Institut Teknologi Sepuluh November – GERIGI ITS 2014

4. Universitas Gajah Mada – PPSMB Palapa UGM 2014

Kesamaan dari keempatnya? Mereka berkumpul dan membuat pola yang indah. Itu bentuk kesenangan. Masih banyak lagi ekspresi kesenangan yang bisa ditemui. Permainan, seminar, pertunjukan perkumpulan mahasiswa. Semuanya membangkitkan minat para mahasiswa baru untuk berkecimpung di kampus.

Kini setelah jadi dedengkot di tingkat 4 saya baru sadar satu hal. Muncul pergeseran paradigma yang makin kuat. Kegiatan mahasiswa dahulu diisi dengan kekerasan untuk membentuk barisan mahasiswa yang tangguh. Tahan banting menghadapi penguasa yang menekan. Kekeluargaan internal dirajut dengan kuat. Para senior meminta loyalitas total juniornya. Itu tujuan awalnya. Disebabkan tuntutan zaman. Tidak ada hal yang buruk di sini.

Nah, saat ini kebutuhan berorganisasi dalam mahasiswa muncul dari mindset “keinginan untuk terlibat dan berkontribusi”, bukan lagi “keinginan mencari keluarga”,”membentuk BEM yang begini begitu”. Cuma ingin membuat sesuatu. It’s simple.

Tidak perlu memaksakan kehendak. Kalau kita suka, akan kita jalani. Kalau tidak suka, kita tinggalkan. Itu yang ada dalam kepala mereka.

Keinginan itu banyak muncul di setiap pemuda masa kini. Namun dunia ini cukup kejam. Tidak ada bentuk dukungan atau encouragement untuk niat berkarya tersebut. Akhirnya terpendam begitu saja. Menimbulkan kesan apatis atas generasi kita. Saya ingin kasih video dari TED yang berjudul The Antidote to Apathy oleh Dave Meslin. Ini akan membantu kita untuk menghilangkan penghalang berkarya. Penting untuk meningkatkan keterlibatan anak muda zaman sekarang.

Semoga tren kemahasiswaan yang riang ini memberikan arti positif bagi dunia kemahasiswaan Indonesia.

Iklan

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s