Hambatan Pelaksanaan Teknologi Informasi di Pedesaan

Di kalangan mahasiswa, nama PKM dan Pimnas sudah tersohor. Seperti tanah suci bagi mahasiswa yang punya keinginan untuk berkarya. Barusan Pimnas telah selesai (saya mengakui performa ITB sedang payah) dan PKM 2014 telah dibuka. Biasanya saya menanggapi berita seperti ini biasa saja. Namun tahun ini beda. Entah kenapa dada saya berdebar ketika membaca guidebook nya. Saya merasa kalau saya harus ikut. Turut serta berlaga dalam panggung besar.

Jurusan saya adalah Sistem dan Teknologi Informasi. Bidang yang melingkupi pelaksanaan teknologi informasi dalam lingkup organisasi. Abstrak dan lebih pada level strategis, bukan teknis. Sementara minat saya ada pada kegiatan sosial, memberdayakan masyarakat untuk memberikan value lebih. Kalau keduanya dihubungkan, hal yang terlintas adalah: Implementasi Teknologi Informasi di Wilayah Pedesaan. Menarik, pikir saya.

Lalu muncul pertanyaan, untuk apa IT di pedesaan? Apakah masyarakat pedesaan sudah membutuhkannya? Oke, jangan langsung menyangkal dengan jawaban seperti, “Tentu saja butuh. Kan buat cari informasi dan pengetahuan”. Saya akan coba jelaskan secara sistematis.

maslow model

Piramida Kebutuhan Maslow

Gambar diatas merupakan model Piramida Kebutuhan Manusia dari Maslow. Pada pokoknya terdapat lima tingkatan kebutuhan manusia: fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri. Jenis kebutuhan yang berada di bawah secara naluriah selalu dipenuhi lebih dahulu dibanding jenis kebutuhan di atasnya. Dapat dimengerti, bukan?

Sekarang saya hubungkan dengan pertanyaan di awal, dimana peran IT dalam memenuhi kebutuhan manusia? 

Berdasarkan analisis saya, berikut adalah area kebutuhan yang dapat dilingkupi dengan IT.

human needs-IT

Kebutuhan manusia yang dilingkupi IT

Secara gampangnya, kita dapat melakukan evaluasi terhadap setiap jenis kebutuhan dalam piramida kebutuhan Maslow. Apakah IT dapat mengenyangkan kita, membantu melancarkan nafas, memuaskan hasrat seksual(yang ini masih ambigu)? Tidak. Apakah IT dapat memberikan lingkungan yang aman, tempat tinggal memadai? Tidak. Apakah IT dapat membantu kita terhubung dengan keluarga atau teman? Bisa. Dengan media sosial misalnya. Dan seterusnya sampai level paling atas. Akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa IT dapat membantu di kebutuhan sosial/kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri.

Di sinilah masalahnya. Alasan seperti mencari pengetahuan dan informasi merupakan kebutuhan paling akhir (aktualisasi diri) bagi manusia. Bagaimana mau memakai IT kalau makan saja masih susah, tempat tinggal masih seadanya. Belum lagi kebutuhan infrastruktur seperti listrik dan jaringan internet. Di sini poin yang saya tekankan adalah pentingnya peningkatan standar hidup sebelum masyarakat siap untuk menggunakan IT. Sebab teknologi informasi baru dapat diimplementasikan dengan baik ketika manusianya sudah tidak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar. 

Teknologi informasi baru dapat diimplementasikan dengan baik ketika manusianya sudah tidak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar. 

Maka dari itu, analisis kesiapan masyarakat harus dilaksanakan ketika akan melakukan implementasi teknologi informasi. Tentu saja kita ingin Indonesia maju. Masyarakat dapat menikmati kemudahan yang disajikan dengan IT dan internet. Tantangan pemenuhan kebutuhan dasar inilah yang perlu dipikirkan. Apabila berhasil diatasi, perkembangan internet hingga ke pelosok desa bukan khayalan.

Iklan

Silakan berkomentar di sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s